The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 31



Di tempat berbeda, pengawal rahasia yg memantau keamanan segera pergi menghadap Pangeran dengan tergesa-gesa.


Pangeran melihat salah satu pengawal keamanan keluar dari persembunyiannya merasakan sesuatu yg aneh sedang terjadi begitu pula dengan Galen.


Mereka meninggalkan tempat itu setelah selesai memesan kamar.


"Yang Mulia kereta kuda yg di pakai tiba-tiba bergerak sendiri tanpa ada yg memandu! Dan Putri Agnasia masih ada di dalam kereta tersebut!"  Ucap pengawal itu pada Pangeran dengan cepat lelaki itu pergi.


"Sediakan kuda sekarang!" Teriak Galen, para prajurit yg bersembunyi pun segera memberikan kuda pada Pangeran bersama Galen.


"Galen! Kau pergi memotong jalan akhir dari kereta itu bersama yg lain, aku akan menyusul Agnasia." Ucap Pangeran lalu segera pergi.


...💐💐💐💐...


Dalam kereta kuda Agnasia tidak tahu harus bagaimana. Bahkan dua ekor kuda tadi sudah terlepas dari kereta kini tinggal dia sendiri saja yg ada di kereta.


'Keretanya berjalan terus, harusnya dia berhenti... apa mungkin karena jalannya menurun jadi dia tidak berhenti?' Pikir Agnasia.


"Apa aku akan berakhir di sini?! Tidak-tidak aku harus melakukan sesuatu! Ayo berfikir Agnasia berfikir" ucap Agnasia gemetaran, tapi tidak ada yg terlintas karena ketakutan sudah mengerogotinya.


Wanita itu menunduk takut, dia melihat ke arah depan dari jauh dia melihat batu besar yg ada di depannya, karena kereta kuda yang sudah tidak pada jalan yg benar.


'Lompat saja'


"Ya aku akan melompat!" Ucap Agnasia.


Seseorang yg sedang memantau kereta itu di atas puncak yg tinggi tersenyum.


"Benar, lompatlah dan Mati" ucap Pitter dengan senyuman dinginnya itu, dia harus segera membunuh Agnasia agar Kaisar Nick tidak membuangnya.


...💐💐💐💐...


Saat Agnasia akan melompat, tiba-tiba dari arah belakang Pangeran Dellion berteriak memanggil namanya.


"Agnasia!!! Apa yg kau lakukan! Jangan melompat tanpa pengamanan! Kau bisa terluka!" Mendengar teriakan Pangeran, Agnasia tersadar dan segera menatap Pangeran.


"Tolong aku!" Teriak histeris Agnasia sambil menetaskan air matanya itu. Pangeran lalu dengan cepat menyamakan lajunya kereta kuda setelah mendengar teriakan ketakutan Agnasia.


Sebentar lagi kereta itu akan berbenturan dengan batu besar.


Pangeran Dellion sekarang sudah ada di samping kereta kuda, dia mengulurkan tangannya pada Agnasia.


"Cepat melompat padaku, aku akan menangkap mu." Teriak Pangeran Dellion, Agnasia mengangguk walaupun tubuhnya gemetaran hebat, saat akan memegang tangan Pangeran, kereta kuda tiba-tiba bergetar hebat karena tanah bebatuan yg mereka lewati, Agnasia bahkan hampir jatuh karenanya.


"Ahkkk!!! Tidak! Ini Bahaya!" Teriak Agnasia dia sungguh sangat takut.


"Tidak, percaya saja pada ku! Aku tidak akan melepaskan mu!"  Teriak Pangeran, Agnasia lalu mengatur nafasnya, dan mulai meraih tangan Pangeran lagi.


...💐💐💐💐...


Di arah yg berbeda, Galen terkejut melihat kereta kuda yg ada akan menabrak batu besar itu.


"Kalian sediakan tempat pendaratan yg empuk untuk Pangeran dan Putri jika penyelamatnya gagal! Cepat!" Teriak Galen para prajurit lainnya pun mengangguk pergi mengambil barang yg di suruh.


Di sisi lain, Agnasia susah payah meraih tangan Pangeran.


"Cepat Agnasia! Kau pasti bisa!" Teriak Pangeran.


'Sepertinya aku akan mati'


Agnasia lalu sedikit tersenyum pada Pangeran.


"Biarkan saja aku, mungkin aku akan mati... bukankah ini lebih baik dari pada kau yg membunuh ku Dellion"  ucap Agnasia. Dia sudah sangat lemas sekarang, mungkin dia akan menemukan kehidupan yg lain, yang lebih bahagia.


Berbeda dengan Dellion, dia cukup tersentak mendengar kali pertama Agnasia menyebutkan namanya dengan perkataan aneh lainnya.


"Ck! Apa yg kau katakan!! Gurauan yg tidak masuk akal! Cepat melompat padaku!" Teriak Dellion. Tapi Agnasia hanya diam menatapnya


"Agnasia!! Sudah ku katakan aku tidak akan melepaskanmu! Dan aku tidak bisa melihat mu mati di depan ku Agnasiaaa!!" Teriak Dellion, Agnasia terkejut mendengarnya.


"Melompat padaku! Cepat!" Teriak Dellion.


Brakkkkkk!!!!


Kereta kuda hancur total karena kecepatan penuh itu, dari arah berlawanan para prajurit berserta Galen terkejut dengan apa yg mereka lihat.


"Agnasiaaa!!!!" Teriak Galen mendekat kearah kereta yg sudah hancur itu, dia membongkar tumpukan kayu itu mencari wanita yg dia sayangi.


"Agnasia! Dimana, dimana kau..." lelaki itu gemetar hingga meneteskan air matanya.


"Hei... apa yg kau cari di sana? Agnasia ada di sini" ucap Pangeran, Galen segera berbalik melihat wanita yg tertidur di dalam pelukan Dellion saat ini.


"Ba-bagimana bisa! Padahal aku melihat dia di dalam kereta tadi."


"Itu karena kau takut saja jadi melihat hal yg tidak-tidak, Agnasia melompat tepat waktu saat itu tapi, karena takut dia pingsan. Kita harus membawanya kedalam penginapan tadi." Ucap Pangeran Dellion, dia lalu berbalik sambil memeluk Agnasia erat, entah kenapa jika Agnasia tidak tepat waktu melompat saat itu....


"Jangan pergi" ucap Pangeran sambil menatap Agnasia yg tertidur tenang dalam pelukannya.


...💐💐💐💐...


Setelah sampai di penginapan mereka lalu membaringkan Agnasia keatas tempat tidur dan membiarkannya beristirahat.


"Sebentar lagi dokter akan datang, kau tunggu saja di sini." Ujar Pangeran pada Galen dia lalu keluar mengurus beberapa masalah serta penjagaan yg harus di perketat.


Galen lalu duduk di samping Agnasia, memegang tangan perempuan ini yg sangat lemah. Galen mencium tangan Agnasia dengan lembut, dia membayang betapa ketakutannya Agnasia saat itu, jika saja dia balik dengan cepat, Agnasia tidak akan seperti ini.


'Aku... aku takut, aku sangat takut jika aku menemukannya terbaring tidak bernyawa saat itu... jangan tinggalkan aku Agnasia' setitik air mata jatuh, dia tidak dapat membohongi perasaannya, Galen akan hancur jika terjadi hal buruk pada Agnasia.


Karena Agnasia adalah cinta pertamanya saat pertama kali dia bertemu dengan wanita ini di musim Panas dekat taman Kekaisaran, memang saat itu mereka masih sangat kecil bahkan Galen pikir itu hanyalah perasaan kagum sementara tapi ternyata tidak, perasaan itu tidak hilang.


Bahkan sampai saat dia mendengar bahwa Agnasia bertunangan dengan Pangeran pun rasanya sangat sakit, dia bahkan mencoba untuk melupakannya tapi sangat sulit.


Galen membuang nafas kasarnya sambil menghapus air mata yg ada di pipinya, pintu lalu di ketuk dari luar.


Ternyata itu adalah dokter yg akan memeriksa Agnasia, Galen lalu mempersilakan dokter itu memeriksa keadaan Agnasia.


...💐💐💐💐...


"Dia baik-baik saja, dia pingsan karena pukulan ketakutan saat itu, sebentar lagi dia akan bangun, berikan vitamin ini untuknya" Galen mengangguk mengerti lalu dia mengantar dokter itu keluar dan kembali lagi melihat Agnasia.


Dari arah yg berbeda, Pitter melihat wanita itu yg masih hidup, sangat marah.


"Sial! Aku gagal lagi!"