The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
{Season Dua} Bagian 74 - sihir



Pertama kali saat ayah bertemu dengan ibu tepat di musim semi beberapa tahun yg sudah sangat lama, saat itu ibu sedang berada di toko memilih beberapa bunga.


Pertemuan pertama mereka tidak begitu berjalan mulus, karena ayah di kira seorang perampok karena hari itu dia di tugaskan untuk memantau kota dengan diam-diam.


Untuk pertama kalinya seseorang memukul wajah ayah sampai memar dan itu cukup besar.


Mendengar itu, aku tertawa mungkin itu sangat sakit di rasakannya.


"Lalu apa yg terjadi selanjutnya?"


"Begitu mengetahui identitas ayah yg sebenarnya, wajahnya nampak terkejut."


Dari saat itu ibu sering mengunjungi kediaman ayah untuk memeriksa dan mengobati luka yg dia berikan saat itu.


Mediang kakek dan nenek juga begitu baik, mereka sangat menyukai ibu.


"Dan tepat saat malam bulan purnama ayah melamar Ibumu Mariana"


"Manis sekali... tapi, ayah. Apa tidak mengetahui identitas ibu? Hanya begitu saja?"


Tanya Agnasia sambil menuangkan teh kedalam cangkir dengan anggun.


Tuan duke nampak berfikir sambil menyeruput teh yg ada di dalam genggamannya.


"Soal keluarganya, hanya sekali dia membicarakannya"


"Apa itu?!"


"soal, kedua orang tuanya yg meninggal saat dia berinjak usia dewasa"


"Lalu? Apa marga ibu? Apakah ibu punya adik?!" Tanyaku tanpa henti.


"saat itu ayah pernah bertanya, tapi tidak di jawab sepertinya itu menyangkut pribadi"


Agnasia bernafas pasra sambil menunduk sedih. Tuan Duke yg melihat ekspresi wajah putrinya yg berbeda dari biasanya membuat pertanyaan besar muncul seketika dalam benaknya.


"Sebenarnya kenapa kau datang menanyakan itu?"


"Bukan apa-apa..."


Dengan cepat Agnasia segera menganti topik pembicaraan soal dia yg sudah mengeluarkan batu kekuatan dan sedang dalam proses melatih kekuatan tersebut.


Ayahnya bahkan sangat tidak percaya putrinya yg mendapatkan kekuatan itu.


"Ayah terkejut kau memiliki kekuatan itu dalam keluarga Alddes"


"Aku juga sama... ayah, aku berfikir apakah ini menyangkut dengan keluarga ibu?"


"Maksud mu?" Tanya Tuan Duke.


Saat akan menjawabnya, pintu di ketuk dari luar, kepala pasukan masuk memberi tahu perkembangan kota pada ayah.


Itu membuat pembicaraan kami terhenti, ayah pun menghampiri ku untuk berpamitan karena dia harus pergi segera.


...🌼🌼🌼🌼...


Aku berjalan sambil sesekali menunduk, apa yg harus di lakukan. Mana mungkin Agnasia mencari Carin dan bertanya, atau mungkin saja itu hanya taktiknya agar Agnasia tidak fokus.


Saat sedang melamun Agnasia bertabrakan dengan seorang pelayan saat itu, hingga alat bersih yg di bawah pun jatuh berserakan.


"Maafkan saya Nona, saya--"


"Tidak apa-apa... kau baik-baik saja?"


Aku balik bertanya padanya, dia hanya mengangguk dengan keadaan kepala menunduk melihat kearah lantai.


"Kau mau kemana?"


"Hari ini tugas saya untuk membersihkan mansion lama.."


"APA? Mansion lama?! " Kataku terkejut.


"Benar itu adalah tempat pertama yg di tempati Tuan Duke, setelah Mendiang duchess meninggal Tuan membuat mansion baru dan pindah kesini."


Cerita yg di katakan pelayan yg mungkin sudah bekerja cukup lama di sini membuat Agnasia tidak dapat berkata-kata.


Dia tidak tahu jika ada mansion lama kenapa Tuan Duke menyembunyikan ini?!


"Aku akan pergi bersama mu. Tuntun aku kesana"


Pelayan itu mengangguk sambil mengambil beberapa alat yg jatuh, kemudian dia memanggil Agnasia untuk pergi bersama-sama dengannya.


Di dekat kediaman Duke Alddes bagian barat di sana ada sebuah hutan yg mungkin jarang di masuki orang-orang.


Ini adalah tempat di mana penyerangan itu terjadi, pantas saja di kehidupan lalu Agnasia tidak dapat menemukan kamar ibu bahkan fotonya saja tidak terlihat.


Ternyata itu berada di tempat lain.


Pintu coklat tua di buka oleh pelayan tadi dengan hati-hati. Agnasia ikut masuk kedalam, keadaan yg dia dapati hanya keheningan saja dan beberapa model klasik dari ruangan mansion


Agnasia mengikuti arah pelayan yg naik ke atas, apa dia akan membersihkan semuanya sendiri?


Sampai dia melihat pelayan itu membuka satu ruangan dan masuk kedalam. Dengan cepat Agnasia menyusulnya, begitu dia memasuki ruangan yg adalah kamar, Agnasia terkejut.


Dia tidak mendapati siapa pun di sana. Hanya ruangan yg berdebu saja, bahkan pelayan tadi menghilang saat dia sampai.


"Pelayan! Pelayan!"


Agnasia berteriak sambil memutar tubuhnya kesembarangan arah, dia tidak mendapati pelayan itu.


Tiba-tiba suara yg lembut datang berbicara memenuhi ruangan Agnasia saat ini.


"Hanya sampai disini saja ku tunjukkan... anak pilihan ku"


"Hei! Siapa kau!"


Agnasia berteriak terus tapi tetap saja tidak ada jawaban. Jantungnya jadi berdegup kencang, dia menjadi takut sekarang.


"Apa kenapa--"


Sekejap Agnasia membuka matanya, karena mendengar seseorang memanggil dia.


Dia melihat sekeliling dengan takut ternyata yg tadi itu hanyalah mimpi, tadi setelah kepergian Tuan duke dia memutuskan untuk pergi keruang baca dan tanpa sadar tertidur.


"Agnasia? Ada apa dengan mu?"


"Oh Galen? Kenapa kau ada di sini?"


"Ah aku merindukan mu, jadi sekalian kesini. Ada hal juga yg ingin aku katakan"


Galen duduk di sampingku dengan buku tebal yg di pegangannya sedari tadi. Pasti dia sedang membacanya dan belum selesai


Pria itu menatap ku dia lalu meletakan telapak tangannya memeriksa suhu badanku. Aku terperanjat kaget tapi dia menahan ku untuk tidak bergerak.


"Suhu mu normal, tapi kenapa wajahmu dari kemarin nampak pucat?"


Katanya sambil menjauhkan tangannya dariku, aku memegang wajah ku kembali dan mengeleng pelan.


"Sebenarnya apa yg kau sembunyikan dariku sahabat mu ini hmm? Katakan, aku sangat khawatir terjadi sesuatu pada mu"


Galen mengelus rambut ku dengan lembut tatapannya menatap ku begitu khawatir. Memang benar, aku tidak bisa menyembunyikan sesuatu darinya seperti ini.


"Beberapa hari ini, aku bermimpi buruk. Dan begitu bangun seluruh tubuh ku menjadi berat"


Kataku sambil memegang kedua tanganku erat.


Galen menatap Agnasia sambil berfikir keras, menebak apakah Agnasia jujur atau tidak namun, dia tidak mendapati kebohongan yang di lontarkan Agnasia.


"Apa seseorang ingin mencelakai mu?"


"Bagaimana bisa kau berfikir seperti itu?"


Galen sedikit mendekat dia membuka buku tebal yg ada dihadapannya. Mengeluarkan selembar kertas putih di sana ada bentuk gambar yg aneh.


"Apa ini?"


"Dalam penyelidikan kebakaran, aku menemukan lambang berbentuk ini"


"Lalu? Apa hubungannyanya? Ini kan tidak di temui dalam tempat kejadian perkara" jelas Agnasia.


"Benar, tapi setelah di selidiki lambang ini ternyata ada dalam gendung yg terbakar juga. Ini adalah sihir"


Agnasia mengerutkan alisnya sihir? Kenapa bisa di temukan di wilayah kekuasaan Duke? Apa yg sebenarnya mereka rencanakan.


.


.


.


Hai para pembaca, maaf Arthor baru up... beberapa hari ini Arthor sibuk dan juga ada beberapa Novel baru yg Arthor buat, mohon maaf sekali lagi atas keterlambatannya... Kedepannya Arthor akan up lagi


Sampai nanti ♡️