
Beberapa bulan yg lalu, ada berita yg cukup menghebohkan di kekaisaran Aegeus. seorang pendeta muda yg naik menjadi pemimpi di kuil suci, dia adalah pendeta agung Diego yg memiliki kemampuan menyucikan tanah Aegeus.
Bahkan Kekuatannya itu bisa terbilang kuat, dan umurnya pun baru berinjak tiga puluh tahun, beberapa pendeta serta bangsawan yg terkenal menghormati dia yg sudah membantu kekaisaran.
Namun tidak kami sangka orang itu adalah anak kecil, di lihat dari fisiknya sepertinya berumur sekitar lima tahun atau mungkin tujuh tahun.
Merry menunduk meminta maaf atas kelancangan yg di lakukannya tadi.
"Tidak apa-apa, anak muda seperti kalian bisa melakukan kesalahan bukan?"
"Kalau begitu saya undur diri terlebih dahulu"
Dengan cepat Merry berbalik dan pergi meninggalkan ku dengan pendeta Diego yg belum ku kenal.
"Jadi!"
"Oh ia!"
Sedikit aku berteriak karena kejutan yg dia berikan dengan nada suara, aku memegang tengkuk kepala dan sedikit tersenyum memberi salam.
"Mari ikuti aku"
Diego berbalik kearah yg berlawanan, dengan pelan ku ikuti dia dari belakang, kami melewati banyak ruangan serta pintu-pintu yg banyak, hingga berakhir di sebuah ruangan yg besar tapi tidak memiliki atap dan langit nampak dari bawah.
Dia berhenti dan berbalik melihat kearahku, detik berikutnya dia mengulurkan tangan kecilnya padaku, namun aku ragu tapi tiba-tiba dia menarik pergelangan tangan kiriku tepat munculnya tanda anugerah.
"Hmm aku baru pertama kali melihat tanda anugerah penyembuh. Ku dengar juga, kau tidak bisa memunculkan batu kekuatan?"
"Anda benar"
"Bicara yg santai saja aku tidak akan memakan mu"
"B-baiklah"
"Aku juga tidak terlalu tahu soal ini, tapi mungkin karena kau baru pertama kali mendapatkan anugerah, jadi batu kekuatan munculnya lebih lambat"
Jelasnya sambil melepas genggamannya padaku, aku mengangguk padanya mengerti namun entah kenapa itu seperti berita buruk untukku. Terdengar seperti anugerah yg cacat? Ahk seharusnya tidak boleh berfikir seperti itu, mungkin benar batu kekuatan lambat untuk diriku yg masih pemula.
"Jangan berkecil hati, anugerah ini juga sebuah anugerah langkah. Sekarang kemari dan duduk di tengah lingkaran ini"
Aku mendekat dan duduk di tengah lingkaran yg begitu aneh, untungnya hari ini aku memakai baju yg tidak terlalu ribet, hanya biasa saja jadi tidak terlalu sulit untuk duduk.
Aku menyilangkan kedua kakiku, kemudian menatapnya bertanya apa yg selanjutnya.
"Kita coba dulu, mengetahui apa benar batu ini lambat muncul karena kau masih pemula atau, kau sendiri yg tidak bisa mengeluarkannya"
Diego mendekat dan menutup mataku dengan kedua tangannya.
"Fokus"
...💐💐💐💐...
Dalam ruangan kerja, Dellion duduk sambil menggambar sesuatu di kertas putih kosong sedari tadi, sampai seseorang mengetuk pintu kerjanya dari luar memberitahu bahwa seseorang ingin bertemu dengannya.
Lelaki dengan rambut biru langit masuk dengan senyumannya, mendekat kearah Dellion dengan begitu semangat.
"Ada apa Anda memanggil ku?"
"Apa kau tahu ini apa?"
Dellion mengangkat kertas putih tadi menunjukan sebuah gambar pada Galen, lelaki itu memegang wajahnya dengan sebelah tangan sambil berfikir.
"Hmm yg saya tahu, ini adalah lambang kuno, hanya orang-orang tertentu yg tahu arti lambang ini, penjelasannya di buku pun hanya singkat mungkin ini lambang rahasia?"
Jelas Galen pada Dellion, dia sedikit membuang nafas kasarnya sembari membuka laci meja dan menyimpan kertas itu di dalam dan menguncinya.
"Memangnya kenapa?"
"Bukan, hanya saja aku penasaran"
"Oh begitu... hari ini Agnasia pergi ke kuil suci kan? Aku ingin sekali kesana tapi mungkin dia sudah pulang"
Selepas itu keduanya pun melanjutkan pembicaraan di ruangan yg berbeda.
...💐Kekaisaran Ango💐...
Kaisar Nick sedang duduk di ruangan makan bersama dengan Marques Cleon yg berdiri di sampingnya, keduanya sedang membicarakan rencana penting kedepannya.
"Benar, saat ini dia dalam perjalanan kesana mungkin besok siang dia sampai"
"Anda sudah merencanakannya dengan hebat, kita pasti akan mendapatkan batu itu"
Kaisar Nick tersenyum dengan licik mendengar perkataan dari Marques Cleon, tidak perlu di katakan semua rencananya pasti akan berhasil tanpa celah sedikit pun.
"Bagaimana dengan Pitter?"
"Dia tidak ada jawaban sama sekali Tuan, kalung sihir untuk berbicara dengannya diputuskan begitu saja"
"Ada apa dengan anak itu? Sepertinya sudah melenceng dari rencana tapi apa kau yakin dia masih hidup?"
"Benar Tuan"
"Kita harus melakukan sesuatu agar dia kembali kesini, hubungi Carin dan katakan dia harus menemukan anak nakal itu"
Ucap Kaisar Nick, Marques Cleon pun berbalik pergi ke luar menuju ruangan rahasia dan mulai menghubungi Carin.
...💐kediaman Alddes💐...
Setelah membersihkan tubuhnya, Agnasia pergi ke luar teras kamar sambil berpangku tangan menatap taman belakang yg di hiasi cahaya lampu-lampu kecil yg indah.
Udara malam ini cukup dingin, angin yg melewati kulitnya pun seperti ingin membuatnya Mati kedinginan, dia menatap pergelangan tangannya dengan sedih.
Mengingat perkataan pendeta Diego tadi cukup membuatnya terguncang. Helaan nafas pelan terdengar, seseorang dari belakang menyadari itu. Dia segera mendekat ke arah Agnasia dan mulai berbicara.
"Apa yg terjadi?"
Suaranya membuat Agnasia berbalik melihat kearah samping kanan tempat Snow berdiri, lelaki itu menatap Agnasia begitu dalam mungkin karena dia penasaran.
"Bukan apa-apa"
Agnasia tertawa sambil memeluk tubuhnya dengan kedua tangan, baju tidur lengan panjang yg dia pakai pun tidak bisa menghalau udara dingin malam ini.
"Kau berbohong kan? Katakan saja padaku"
Ucap Snow sambil menjentikan jarinya kemudian muncul mantel bulu berwarna putih di tangannya, Snow memakaikannya pada Agnasia yg terlihat akan membeku.
"Benar, aku baik-baik saja"
Tak
Snow menyentil kepala Agnasia dengan jarinya, perempuan itu memegang kepalanya karena sakit.
"Kau tahu, setiap ada yg tidak beres wajahmu akan berkerut seperti ini"
Snow mempraktikkan wajah Agnasia, melihat itu dia tertawa karena ekspresi wajah Snow yg begitu lucu.
"Kau memperhatikan ku ternyata"
"Sudah... katakan saja apa masalah mu mungkin bisa ku bantu"
Agnasia menunduk, menatap kebawah dia pun menceritakan kejadian tadi di kuil suci, Diego memberi tahu bahwa dia tidak ada dalam golongan pertama melainkan ke dua, yaitu tidak tahu cara mengeluarkan batu itu.
Mungkin karena lemah jadi kekuatan penyembuh yg di milikinya akan tertahan sampai dia bisa mengendalikan batu kekuatan keluar, ditambah itu begitu sulit kata Diego.
Lepas itu keduanya terdiam, sampai Snow angkat bicara memberi semangat pada Agnasia.
"Lemah bukan berarti tidak bisa kan?"
Ucapan Snow membuat Agnasia menatapnya dan itu tidak di sadari oleh Snow.
"Kau bisa, hanya saja pikiran mu yg negatif membuat mu berfikir tidak bisa. Sejauh ini aku sudah cukup mengenal mu, kau seorang wanita yg kuat. Jadi jika gagal kau harus mencobanya sampai bisa"
Ucapnya sambil melirik Agnasia yg ada di sampingnya.
Snow terhenti ketika melihat Agnasia tersenyum hangat kearahnya, seketika ada perasaan aneh dia rasakan.
"Ternyata kau sangat baik! Terima kasih sudah mau mendengarkan cerita ku, kalau begitu aku tidur dulu, selamat malam"
Agnasia berbalik pergi masuk kedalam sedangkan Snow hanya diam menatapnya tidak bersuara.
"Ma-manis"