The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
{Season Dua} Bagian 80 - Buku sihir



Gelap...


Itu adalah kata yg cocok untuk tempat yg aku masuki, hanya bisa meraba-raba saja saat masuk.


Untungnya ruangan ini tidak menurun hanya lurus saja, jadi bukankah akan aman di sini?


"Gelap sekali disini..." ujar Agnasia.


'Pasti ada lentera atau apalah itu yg bisa menerangi jalan'


"Sudahlah... aku tidak mau kembali lagi dan ini lumayan jauh juga"


Agnasia dengan hati-hati melangkah, sambil memprediksi keadaan sekitarnya melalui gambaran ekspektasi yg dia buat dalam benaknya.


Namun saat melangkah lagi, kepalanya terbentur cukup keras sampai suara benturan menggema.


"Aduh! Sakit sekali... apa ini?"


Dia mengerakan tangannya menyentuh permukaan yg keras di depannya.


"Jangan bilang ini buntu?"


'Mungkin buntu'


"Haa... sudah pergi sedalam ini tapi buntu?"


Agnasia menghentakkan kakinya kelantai seketika seluruh penjuru ruangan bergetar hebat membuat dirinya seketika takut.


'Apa yg kau lakukan?'


"Aku tidak melakukan apa-apa!" Bentaknya balik.


Setelah bentakan itu, ruangan kembali normal Agnasia sedikit mengeluarkan nafas lega ternyata bangunan ini tidak runtuh seperti yg di pikirkannya.


Tiba-tiba tembok di belakang tubuhnya bergeser membuat Agnasia terkejut untuk kesekian kalinya.


"Tempat ini menakutkan"


Ucapnya sembari berjalan masuk kedalam ruangan yg baru lagi, dan masih saja dia tidak bisa melihat apa-apa, nasip yg buruk.


"Sekarang apa--"


Tembok yg tadi tiba-tiba menutup cepat jalan keluar Agnasia, wanita itu bahkan tidak dapat berkata-kata lagi, jangan bilang kita terjebak selamanya disini.


'Kita terjebak'


Mendengar perkataan Tears, Agnasia menunduk pasrah.


"Tidak, jika bisa masuk pasti bisa keluar, aku yakin"


Jawabannya menolak pemikiran Tears.


Dia kembali meraba-raba seperti orang buta yg tanpa tongkat mencari sesuatu untuk di pegang, di langkah selanjutnya tangannya meraih sesuatu yg keras.


"Apa ini?"


'Oh Agnasia jangan menyentuh sembarang'


"Maaf tapi terlambat"


Yang dia tahu itu adalah tuas dan itu memiliki tombol di atasnya. Karena penasaran juga Agnasia menekan tombol tersebut tadi.


Seketika ada percikkan api yg menyeruak keluar di sudut ruangan dan itu adalah tempat perapian ternyata.


Ruangan yg gelap sedikit demi sedikit menjadi terang dengan bantuan api tersebut, beruntung sekali dia menekan tombol pada tuas itu.


Agnasia mendekat mengambil beberapa lilin dan obor yg ada di dalam ruangan, memasangnya agar lebih terang untuk mengakses keadaan sekitar.


Setelah selesai betapa terkejutnya dia, ini adalah ruangan kerja yg di sembunyikan, tapi milik siapa?


Agnasia mendekat kearah meja kerja yg masih terlihat bagus itu dan menyentuhnya perlahan. Tempat ini lumayan nyaman juga.


'Bisa ku tebak ini adalah ruangan sihir'


"Eh apa maksud mu?"


'Kau lihat kayu yg terbakar itu dia tidak menjadi abu walau sudah di lahap api, dan sebelum masuk kesini pintu keluar kita di tutup, jika di buka aliran sihir yg ada di lapisan tembok tidak bisa bekerja dengan baik'


Jelas Tears panjang lebar yg membuat satu tanda tanya besar dalam kepala Agnasia.


"Bagaimana kau tahu?"


'Energi di sini berbeda, kau tidak merasakannya? Seperti kejadian pertama kali kita masuk? Padahal disini energinya lebih kuat'


Agnasia mengeleng sekali lagi, tempat ini cukup hangat menurutnya dan tidak terasa seperti sesuatu hal yg berbeda seperti waktu itu.


Tears mengusir semua pemikiran yg Agnasia pikirkan karena mendengar perkataannya barusan. Dia lalu membuka beberapa laci meja yg ternyata kosong di dalamnya.


'Oke ternyata kosong, percuma kita kesini'


Agnasia melihat sekeliling lagi mencari sesuatu tapi tidak menemukannya, sepertinya ada yg aneh dengan ruangan ini tapi apa?


'Berhentilah dan cari jalan keluar' ujar Tears malas.


"Tidak tunggu sebentar"


Cegahnya mendekati meja kerja, membuka laci kembali sambil menatap kotak kosong tersebut.


'Apa lagi... di dalamnya tidak ada apa-apa'


"Sudah kuduga"


Agnasia tersenyum karena melihat sesuatu di dalamnya, perbedaan laci itu berbeda dengan yg lainnya. Dia lalu menekan permukaan laci tersebut seketika sesuatu terbuka dia bawahnya.


'Tidak mungkin bagaimana kau bisa tahu?'


"Tebak saja, seperti yg kau katakan ini adalah ruangan sihir mana mungkin tidak ada sesuatu, pasti ada dan itu tersembunyi"


Agnasia dengan senang mengambil sesuatu di bawah laci tersebut yg ternyata itu adalah sebuah buku kuno yg begitu aneh.


"Apa ini--"


'Itu buku sihir!'


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Dengan tenang Dellion duduk menikmati teh bersama dengan putri Sanha yg mengundang nya beberapa jam yg lalu, namun di luarnya saja pangeran tenang tapi dalam otaknya dia masih saja berfikir keras.


Hingga wanita di depan Dellion merasakan ada kejanggalan sedari tadi.


"sepertinya ada hal yg membuat pangeran tidak enak?" Tanya Sanha.


"Bukan apa-apa, jadi lanjutkan saja pembicaraannya"


Tujuan Dellion datang kesini bukan sekedar minum teh dengan putri Sanha, dia datang kesini ingin membicarakan beberapa kesepakatan soal permata yg bagus.


Setelah selesai berbicara dia juga berencana untuk jalan-jalan bersama Agnasia, karena kedepannya dia akan sibuk, tapi sudah terjadi pertengkaran.


Mereka pun memulai perbincangan, sampai-sampai waktu cepat berlalu.


"Ulang tahun kekaisaran akan segera tiba, pasti anda juga sibuk"


"benar, karna itu hari ini aku ingin istirahat sebelum memulai pekerjaan yg akan datang"


"Begitu ya... kenapa tidak bersama tunangan anda?"


Tanya Sanha dengan tawa yg dia tutupi di balik kipas putih di tangannya.


"Dia sibuk" balas Dellion dingin "Kalau begituย  saya pergi dulu"


Ulang Dellion sambil bangkit berdiri, putri Sanha berterima kasih dan mengantar pangeran sampai di gerbang depan kediamannya.


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Dalam keterkejutannya Agnasia hanya bisa diam saja, dia menatap buku yg lumayan tebal itu menunjukannya pada Tears yg berada tepat di mata kirinya.


'Sebelum menjelaskan lebih baik kita keluar dulu'


Ucapnya yg di angguki oleh Agnasia.


Dia lalu melihat sekeliling mendapati ada sesuatu yg ganjal di antar tembok belakang meja kerja.


Dengan hati-hati Agnasia menyentuhnya mencari kejanggalan yg dia rasakan dan ternyata ada, dia terletak terletak di barisan berikutnya.


Setelah menekan tombol itu seketika tempat dia berpijak berputar tiba-tiba dan Agnasia langsung muncul di lorong lantai dua yg tidak jauh dari kamarnya sewaktu kecil.


"Tunggu! Ruangan rahasia itu ada di dalam tembok! Bagaimana mungkin sekecil itu bisa menampung--"


'Jangan lupa itu adalah ruangan sihir, apapun bisakan'


Agnasia berhenti berteori sekarang, yg terpenting dia bisa keluar, dan waktunya dia pergi sebelum yg lainnya sadar bahwa dia menghilang.


Agnasia turun dengan cepat sambil memakan beberapa potong roti karena perutnya sudah keroncongan meminta makanan.


Dengan gesit dia masuk kedalam hutan, namun sepertinya dia harus beristirahat sejenak tidak baik makan sambil berjalan.


Agnasia mencari tempat untuk dia beristirahat, dan itu ada di depannya tepat di bawah pohon yg besar.


Dia duduk bersila dan mulai menikmati makan yg ada sampai habis, setelah selesai dia melanjutkan perjalanan kembali pulang ke kediaman.