
Agnasia berjalan sambil bersembunyi sampai dia tiba di taman, dia ingin masuk melewati jendela lagi tapi saat hendak mendekat kearah ruangan tamu seseorang menepuk punggungnya tiba-tiba.
Dia terperanjat kaget seperti tertangkap basah.
"Hei tenanglah ini aku"
Begitu mendengar suara yg familiar ada sedikit rasa tenang yg masuk kedalam tubuh Agnasia.
"Kenapa kau seterkejut itu?" Tanya Galen.
Agnasia berbalik kemudian menatapnya serius.
"Bagaimana tidak terkejut, kau menyentuhku tiba-tiba! Dan sedang apa kau disini"
Tidak menjawab Agnasia, Galen malahan terkejut melihat kulit yg membiru tercetak di dahi Agnasia dan itu cukup besar.
"Dari mana saja kau? Kenapa bisa membiru begini!"
Galen mendekat menyentuh permukaan kulit Agnasia memperhatikannya, kemudian pandangannya turun menatap bola mata hitam Agnasia dengan serius.
"Apa yg kau sembunyikan Agnasia? Dari kemarin gerak-gerik mu berbeda dari biasanya"
Dengan cepat Agnasia membuang pandangan kearah yg berlawanan, tidak mau menjawab Galen, akan tetapi pria itu memegang wajah Agnasia dengan kedua tangannya mengerakan kepalanya agar menatap dia.
"Sekarang jawab dengan jujur padaku"
"I-ini bukan urusan mu, jadi jangan tanya" jawabnya dengan menekan semua perkataan.
Galen kemudian melepas Agnasia dan menatap wanita itu sedih.
"Ku pikir kau bisa terbuka denganku, padahal kita sudah sejak lama bersahabat"
Agnasia tidak dapat berkutik lagi, dia menghembuskan nafas kasar dan langsung menarik Galen kedalam taman mencari tempat aman untuk berbicara.
Setelah sampai di kolam air mancur yg ada di tengah-tangah taman utama, Agnasia diam sejenak mengatur kata-kata yg tepat untuk menjelaskan semuanya dari awal.
Suara air yg ada di samping mereka serta bunga-bunga di taman adalah saksi bisu di mana raut wajah Galen yg berubah terkejut mendengar penjelasan Agnasia.
"Jadi hanya sebuah mimpi, kau terluka sejak kemarin?"
Agnasia mengangguk.
"Ini demi menyelidiki latar belakang Ibu juga, Galen." Ucapnya sedih
"Artinya kemarin itu kau berbohong padaku?" Tanyanya dan di angguki lagi oleh Agnasia perlahan.
Dia berfikir Galen akan marah karena sudah berbohong padanya, siap-siap saja akan terjadi omelan yg panjang di taman ini.
Tiba-tiba Agnasia terkejut karena Galen menarik dan memeluknya erat.
"Apa yg kau lakukan?"
"Harusnya kau minta tolong padaku, lihat sekarang kau terluka seperti ini hanya karna penyelidikan mu" ucapnya pelan sambil mengelus permukaan rambut ku.
Agnasia diam tidak berkata apapun.
"Sejak dulu kau selalu saja bekerja sendirian, dan tidak pernah meminta tolong padaku"
Memang benar, itu hal yg tidak bisa di pungkiri karena Agnasia tidak mau merepotkan orang lain.
"Maafkan aku..."
Mendengar itu Galen melepaskan pelukannya dan menatap dalam Agnasia.
"Tidak apa-apa kau juga sudah jujur padaku, sekarang apa yg dapat ku bantu?"
Agnasia sedikit berfikir kemudian mulai menjelaskan kembali apa yg harus di lakukannya kedepan.
...🌼🌼🌼🌼...
Malamnya, Agnasia duduk di samping ranjang sambil memegang buku yg dia dapatkan tadi, menurut penjelasan dari Tears yg mengatakan ini adalah buku sihir dan di gunakan untuk menulis rahasia, kuncinya mengunakan kekuatan sihir.
Artinya selain pemilik buku, yg lainnya tidak bisa di buka begitu saja.
"Sekarang bagaimana caranya membuka ini?"
Agnasia berbaring mengangkat buku itu keudara, melihat sudut buku yg aneh berbentuk bulat, dia lalu memasukkan jari telunjuknya di sana.
Seketika pengunci yg menahan buku itu agar tidak terbuka, terlepas dan itu membuat Agnasia terkejut kembali memproses semua yg terjadi.
"Kenapa bisa begini? Mustahil"
Agnasia menggeleng, mengerutkan alisnya tetapi tidak berlambat-lambat dia langsung membuka buku tersebut.
"Kosong?! Akh! Percuma saja membawa ini"
Tapi... jika kosong kenapa harus di sembunyikan? Itu terlintas lagi dalam benak Agnasia, dia memikirkan lagi, jika ini adalah buku sihir pasti tulisannya juga di sihir.
"Baiklah jika seperti itu, besok aku akan pergi ke tempat itu agar tahu apa isi dari buku ini"
Agnasia kembali menutup buku tersebut meletakannya di bawah bantal dan beristirahat untuk kepergiannya besok ke tempat yg sudah di rencanakan.
...🌼🌼🌼🌼...
Besok pagi, dia pergi makan bersama-sama dengan ayah dan kakaknya, sambil memijat kepalanya yg sakit, yg makin hari makin aneh saja.
"Nak? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Tuan Duke.
"Hanya sedikit sakit kepala ayah"
Agnasia tersenyum dan memotong sayuran yg ada di piring makan.
"Setelah selesai, kau harus di priksa"
"Tapi ayah.."
"Itu benar Agnasia... wajah mu beberapa hari ini pucat, padahal kau makan teratur, apa ada yg kau rasa tidak enak?"
Tanya Deondre, dia pun menuangkan segelas air kedalam gelas dan memberikannya padaku.
"Ini hanya sakit kepala biasa, tapi aku akan mengikuti perintah ayah jadi tenanglah jangan khawatir" ucap Agnasia.
Keduanya pun mengangguk melanjutkan aktifitas makan.
"Ku dengar kemarin di dapur sudah ada tikus yg mencuri beberapa roti" ucap Deondre.
Agnasia membulatkan matanya, dia tidak bisa mengatakan itu pada kedua pria di depannya.
"Menurut ayah itu seorang pelayan yg mengambilnya"
"Kenapa seperti itu?"
"Beberapa botol susu juga hilang, kata ketua pelayan."
Dengan berat Agnasia menelan makanan yg ada di dalam mulutnya, jika mereka tahu bahwa orang yg mereka bicarakan itu adalah aku bagaimana reaksinya ya?
"Ahahah dari pada membahas itu, bagaimana dengan perkembangan gedung yg terbakar?" Ucapnya mengahlikan pembicaraan.
"Soal itu, masih belum selesai namun pembangunannya sudah dilaksanakan sejak beberapa hari yg lalu" jelas Tuan Duke.
"Apa ayah tidak merasakan keanehan?"
"Untuk itu ayah tahu, karena beberapa penjelasan yg di katakan Galen serta tidak adanya bukti"
Agnasia mengerutkan alisnya, apa Galen tidak mengatakan soal lambang aneh yg muncul di permukaan jalan?
'Sepertinya dia menyembunyikannya'
Setelah selesai makan, Agnasia pergi menunggu di kamarnya karena dokter keluarga akan segera datang memeriksa keadaannya.
Mungkin hanya bersilang beberapa menit saja dia menunggu dokter pun akhirnya tiba, dia lalu memeriksa keadaan Agnasia dalam diam di temani oleh Merry serta Duke yg menunggu masih belum pergi.
"Bagaimana? Apa ada penyakit yg aneh?"
Tanya Tuan Duke setelah dokter selesai memeriksa keadaan Putrinya.
"Tubuhnya baik-baik saja, mungkin sakit kepala itu karena stress. Saya sarankan untuk dia bisa beristirahat teratur dan jangan banyak pikiran" ucap dokter.
Kemudian setelah selesai dokter pergi bersama dengan pengawal yg di suruh ayah, ayah juga berbicara beberapa kata tentang aku yg tidak perlu memikirkan hal yg memberatkan pikiran, lalu dia pergi.
Aku hanya bisa menerima semua yg di katakan mereka. Lalu aku mulai bersiap-siap untuk pergi keluar, bersama dengan Merry.