The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Bonus Chapter: Interview with Ikhsan Al-Hakim



Author AYY: AYY


Ikhsan Al-Hakim: IA


AYY: Baiklah pembaca TBS sekalian yang baik hatinya. Kita akan mulai wawancara dengan tokoh yang penuh kontroversi selama puluhan episode TBS.


Err, apakah perlu cantumkan foto?


IA: Tidak perlu. Langsung saja ke intinya.


AYY: menarik nafas dalam-dalam.


Baik, pertanyaan pertama. Sibuk memilih mana saja pertanyaan soalnya banyakan hujatan.


Apa yang sebenarnya terjadi dulu saat SMA antara lo dengan Maya?


IA: Hm, baik. Dulu Maya adalah sosok gadis yang sangat sibuk dengan berbagai macam kegiatan. Tidak hanya berkutat di dunia ektrakurikuler media yang sangat ia sukai itu. Kegiatan dia banyak sekali. Jadi jika gue melihatnya atau kebetulan menjumpainya dalam keadaan sendiri, ya disitulah gue selalu berusaha mengesankan dia.


Meski pada akhirnya, keesokan harinya gue jumpai Maya, dia tampaknya sudah lupa dengan apa-apa usaha gue untuk dia di kesempatan itu.


AYY: kalau benar-benar suka apa susahnya sih nembak Maya? At least lo udah coba menyatakan perasaan lo gitu. At least Maya tahu. Dan kalaupun Maya nolak lo dan akhirnya menyesal, paling tidak dia gak perlu memendam rasa suka terus-menerus. Lebih baik dia memendam rasa penyesalan, dari pada rasa suka terus menerus kan?


IA: Seperti yang kalian tahu, tanpa kuasa gue, Maya dan Yrene sahabatan. Dan seperti yang kalian juga tahu, Yrene juga suka sama gue. Gak mungkin gue gak menyadari perasaan Yrene kepada gue. Dan kalau gue menyatakan perasaan gue pada Maya saat itu, terlalu banyak kekacauan yang mungkin terjadi.


Ini bukan pembelaan, gue hanya menceritakan situasi saat itu. Bayangkan jika gue nembak Maya dan katakanlah di tolak. Jelas hubungan persahabatan The ******s akan rusak dan Yrene akan sangat terluka mengetahui itu. Gue saat itu, gak siap menghadapi Yrene yang terluka.


AYY: *menelan ludah\, menahan nafas lagi*


IA: Kalau saja kalian bisa bayangkan posisi gue saat itu. Gue gak bisa bilang menyesal melewatkan momen dimana gue bisa menyatakan perasaan dulu. Karena, saat itu hati gue lebih memilih menjaga hati Yrene.


AYY: *memijit kepala*


Lalu, kenapa pula setelah bertemu sekian lama, lo malah menyatakan perasaan pada Maya? Lo yang berstatus calon ayah sekaligus suami dari sahabat Maya?


IA: Silahkan menilai sekejam apapun logika lo dan para pembaca. Tapi jika lo memahami posisi gue, lo pasti akan mengerti. Bagaimana rasanya melihat orang yang lo sukai sejak dulu masih sendiri? Bagaimana rasanya lo ingin sekali membantunya menjalani hari-hari yang pasti berat ia lalui sendirian?


Rasa bersalah, membuat gue harus menyatakan perasaan gue. Agar semua berakhir disitu. Gue tahu Maya akan sangat sedih, begitu juga dengan gue. Tapi paling tidak, Maya tahu bahwa perasaan gue pada dia adalah sama. Sama seperti bertahun-tahun yang lalu.


AYY: *memijit kepala lebih keras*


Lalu bagaimana bisa mencintai orang lain disaat lo juga mencintai istri lo, Yrene?


IA: Bagaimana? Coba aja lo bayangin orang yang selama ini lo cintai, suami lo, istri lo, detik ini juga, berhenti menjadi suami atau istri lo. Detik ini juga dia berstatus single, dan hidup sendiri. Dan justru lo telah menikah dengan orang lain. Bagaimana rasanya?


Apakah lo akan seketika berhenti mencintai pasangan resmi lo? Enggak kan? Apakah lo bisa seketika berhenti mencintai orang yang selama ini lo cintai? Engga juga, kan?


AYY: *menghela nafas dengan berat. Bisa dimengerti.


IA: Gue akui saat itu terbawa suasana. Tetapi gue benar- benar rasanya ingin melindungi dia saat itu. kenapa dia masih sendiri? Apakah dia begitu kesepian dan tersiksa? Haruskan gue menghadapi beratnya pilihan untuk menggapai dia agar dia tak sendiri lagi mengahdapi hidup?


AYY: Hufff. Baik. Next Question.


Kenapa saat bertemu Maya di The Cabin lo melepas cincin? Maya kan tahu lo adalah suami Yrene?


IA: *Diam sejenak*


Gue tahu gue salah menemui Maya tanpa sepengetahuan Yrene.


Dan gue tidak sampai hati menghianati pernikahan dan kepercayaan Yrene saat itu dengan tetap memakai cincin nikah saat menyatakan perasaan gue ke Maya.


AYY: Oh, I see.


Baik. Pertanyaan berikutnya.


IA: *menghela nafas.


Terserah. Hanya saja, menghadapi pilihan untuk menikah lagi bukanlah keputusan mudah. Dan gue tahu tanggungjawab apa yang akan gue ambil saat itu. Dan itu bukan tanggungjawab mudah. Gue tahu hidup gue gak akan semudah sebelumnya seandainya gue menjalani pernikahan kedua itu dengan Maya. Ada banyak hati yang harus gue jaga dan pertanggungjawabkan. Itu bukan pilihan mudah.


Dan untuk orang seperti gue berani mengambil keputusan berat itu, buat gue tuduhan nafsu dan ketamakan belaka adalah hal yang tidak relevan. Gue mencintai istri gue, dan tidak berniat melepasnya. Tapi gue juga merasa tidak tega membiarkan Maya terus menyendiri mencintai gue dalam hidupnya. Begitulah kira-kira konflik perasaan gue. Pilihan saat itu berat, sangat berat...


AYY:  Kalau lo diberi kesempatan di kehidupan kedua, akankah lo memilih Maya?


IA: Tentu saja.


Tapi terlebih dahulu, gue punya kewajiban untuk membenahi perasaan Yrene pada gue saat itu. Dan satu-satunya yang gue sesali adalah, gue yang tidak tegas pada perasaan Yrene. Dan meski menjadikan Yrene istri adalah pilihan terbaik pada kehidupan gue saat ini, gue yakin, jika seandainya gue memilih Maya... gue juga akan tetap menjaga Yrene saat itu dengan perasaan yang tegas bahwa gue adalah sekedar teman untuknya.


AYY: Bagaimana poligami menurut pandangan lo?


IA: Never in my life think that I will be involve in such as drama.


Gue gak pernah kepikiran akan menghadapi konflik semacam ini. Tapi gue yakin, tawaran Yrene pada gue saat itu adalah tujuannya untuk melihat gue bahagia, sebagaimana dia bahagia memiliki gue. Tetapi pada akhirnya pemilik hati gue sepenuhnya adalah istri gue. Dan gue mensyukuri hal itu dan tidak pernah sekalipun berniat untuk terlibat dengan hal semacam itu lagi. Kenapa? Ya karena hal itu sangat, sangat, sangat berat tanggungjawabnya.


AYY: Apakah lo merasa sangat berdosa pada Yrene setelah Yrene tahu tentang lo dan Maya?


IA: *diam tak menjawab


Setelah ini semua gue justru semakin cinta pada Yrene. Dia anugerah dalam hidup gue.


AYY: Lalu, pada saat momen akad lo dan Maya saat itu. Kenapa lo justru melibatkan Giska? Kena terkesan lo mempermainkan perasaan Maya? Mengajaknya menikah lalu menyuguhkan kisah Giska?


IA: Seperti yang udah terjadi, Maya harus tau keputusan apa yang dia ambil saat seandainya dia menikahi gue. Dia akan mendapatkan gue dan cinta gue, semua pertanyaan dan perasaan yang ia pendam selama ini dalam kesendiriannya akan terjawab. Tetapi, gue juga punya kehidupan lain yang tak bisa Maya miliki seutuhnya.


Jika dia ingin bahagia, Maya harus mengambil keputusan. Gue juga gak mau Maya salah mengambil keputusan saat itu. Jadi, gue harus melibatkan Giska. Memberinya pandangan seperti apa hidup sebagai istri kedua. Jika seandainya Maya bahagia dan rela menjalani kehidupan seperti Giska, maka itu adalah keputusan yang ia ambil dan harus pula gue pertanggungjawabkan.


AYY: Baik. Terimakasih sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.


Sebanarnya masih banyak yang ingin gue tanyakan. Mungkin lain kali.


Bye, sehat-sehat ya lo dan keluarga lo.


IA: Bye, Thank you juga udah membuat Maya bahagia meski bukan disisi gue.


***


AYY: *terdiam di pojokan menikmati semilir angin


Beruntunglah kalian kisah cintanya tak perlu semiris Ikhsan, guys :')


***


Hi !


*Author AYY disini!*


Saya telah mengeluarkan karya baru berjudul: The Ex's Mission.


Ceritanya tentang bagaimana seseorang menebus penyesalan cinta dan kehidupan yang pernah ia tinggalkan.


Menurut saya, membaca kisah ini akan membuat kita semakin mencintai apa-apa yang kita miliki sekarang. Membuat kita semakin cinta dengan pasangan sendiri, me-refresh rasa cinta itu sendiri.


So, Hadir ya di tiap episodenya!


Sampai jumpa di karya baru saya ya!