
Galang merasa sekujur tubuhnya hangat, ia merasa kegerahan dan berusaha membuka matanya.
Sinar terang lampu-lampu membuatnya terasa silau dan mulutnya mengeluarkan suara erangan.
Tangannya dan kakinya sedikit terasa kaku. Ia cepat menyadari bahwa ini bukan tempat tidurnya yang biasa.
Maya yang duduk tertidur sedikit terkejut saat mendapati Galang sudah bangun.
Ia buru-buru merapikan rambutnya. Mencuri waktu untuk bercermin di layar ponselnya yang mati.
"Kita di UGD?" tanya Galang dengan suara parau
Maya mengangguk. "Lu tadi lemas banget, seluruh badan berkeringat dan mata... mata lo nyaris putih semua"
Maya menatap Galang dalam-dalam, "Em.. Jadi gue coba call emergency number di HP lo, your dad answered"
"Kata bokap lo, lo punya panic disorder." Maya sengaja berhenti dan bicara pelan-pelan. Ia takut menyinggung perasaan Galang. salah-salah ia berucap, bukan hanya Galang yang marah tetapi Galang yang juga CEO perusahaan Techno Media ini bisa memecat jabatan kebangaan Maya sebagai Chef Editor.
Melihat Galang tidak bereaksi, Maya melanjutkan, "Jadi gue gak tahu harus berbuat apa, gue panggil aja ambulan dan bawa lo ke UGD. Sampai disini lo cuma dikasih oksigen dan dibiarkan istirahat.
So, are you okay now?"
Galang berdiam-diri selama beberapa saat. Ia memejamkan matanya sekaan sedang berpikir untuk memutuskan sesuatu. Selama beberapa saat kemudia ia lalu memutuskan untuk membuka suara.
"Ok Fine. You are now my best friend, Maya. Let's have a drink" Ujar Galang kemudian sambil duduk dan menepuk bahu Maya dengan suara yang mantap.
"Drink? Beer?" tanya Maya dengan aneh.
Apakah Galang sudah gila? dia baru saja sadar dan sudah mengajak maya untuk minum-minum? Ah apa mungkin minum beer justru adalah obat bagi bos nya yang freak ini?
Tanpa babibu, Galang berdiri dari tempat tidur dan segera beranjak keluar. Mendapati Maya yang sedikit terbengong di tengah pintu keluar RS, Galang cepat-cepat menarik tangan Maya.
Tak sampai 30 menit, Galang dan Maya sudah duduk disebuah restoran korea dengan dua buah botol bir dingin dan daging panggang yang hampir matang.
Suasana di restaurant tampak lengang. Hanya ada beberapa meja saja yang diisi tamu. Beberapa dari mereka sedang memanggang daging, suara daging segar yang juicy terpanggang bersahutan antar meja. Terkadang terdengar pula suara gelas beradu saat beberapa orang melakukan toast beer.
"Malam begini memang paling enak BBQ dan nge bir ya. Argghh..." ujar Galang seusai menenggak botol birnya dan mengaduk-aduk daging.
Jujur saja, Maya sedikit kelelahan hari ini. Baginya ini adalah hari yang cukup panjang.
Dimulai dari rencana yang ia pikir berjalan mulus untuk menolak Mas Abi, malah berakhir di ceramahi dengan kalimat menohok.
Dikepalanya terputar kembali kalimat Mas Abi.
"Apa yang seorang Aruna Bhrata Ishaq punya takkan dibutuhkan oleh orang semandiri dan setegar kamu"
Cih! Maya jadi mencibir. Itu adalah asumsi yang jahat. Kata siapa ia mandiri dan tegar?
ia hanya selalu menguatkan dirinya bahwa ia harus berpura-pura tegar dan mandiri.
Agar ia tak terus-menerus mengasihani dirinya sendiri, terus merasa kesepian dan merasa terpuruk.
"May?" tegur Galang, ia mendapati Maya dengan tatapan kosong.
"Eh ya?"
"Kenapa bengong?"
"Hm? Gak papa. Gue cuma sedikit capek aja. Hari yang panjang" kata Maya sambil meregangkan tangannya untuk melemaskan otot punggung.
Mendengar jawaban Maya, Galang menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan keras.
"Maaf ya, jadi ngebuat lu panik dan repot ngurusin gue sampai bawa-bawa ke UGD segala.
Gue, memang punya panic disorder. Udah lama banget gak pernah kambuh. Lama banget" ujar Galang membuka pembicaraan.
"Lo pernah kayak gini juga?"
Galang diam tak menjawab.
"Trigger nya apa sampai bisa kambuh Lang? Did I do something wrong?" tanya Maya tiba-tiba merasa tak enak. kalau-kalau dirinya membuat Galang pusing dan repot.
Galang menggeleng tapi tetap diam.
"Lo gak buat salah apapun. Rooftop, tempatnya. Gue punya kisah tragis di rooftop" Galang kemudian membuka kancing atas kemejanya lalu meraba sesuatu. Ia lalu mengeluarkan sebuah kalung dan... cincin?
Cincin itu tampak seperti cincin yang akan diberikan seorang pria pada wanita pilihannya. Sebab, ada kerling dari batu berlian yang tampaknya sangat indah dan tentu saja mahal.
"Namanya Ratri" ucap Galang sambil menatap nanar pada meja yang berisi pemanggang yang masih menyala. Tangan galang memelintir kalungnya dan mengusap batu permata di cincin.
"Dia bunuh diri, loncat dari rooftop sehari sebelum hari pernikahan kita."
Mendengar ini Maya bagai menelan batu.
"Dia hamil, one night stand sama salah satu teman lama gue. Mereka berdua mabuk, katanya.
Dan Ratri baru tahu kalau dia hamil sehari sebelum hari pernikahan.
Pendek cerita, si kawan yang hamilin Ratri ketakutan dengan berita dari Ratri kalau dia hamil.
Laki-laki brengsek itu kabur dan hari itu juga pindah kota atau negara, entahlah...
Menurut dia kematian Ratri bukan salah dia, tapi dikarenakan gue terus-terusan sibuk kerja dan membiarkan Ratri bergantung pada siapapun yang menawarkan bantuan.
Ratri pada malam mereka one night stand... sudah mempersiapkan kejutan di rooftop apartemen gue.
Mempersiapkan sebuah surprise yang manis, mengundang kerabat gue, sahabat dan teman lama gue.
Tapi gue ga bisa hadir. Gue saat itu benar-benar sedang diujung tanduk mempertahankan perusahaan ini.
Dia malu dan kecewa.
Laki-laki itu menemani dia sepanjang malam.
Paginya, gue datengin Ratri dan melamarnya. Gue bilang...
Please be my wife, your yes will be my greatest birthday gift.
Dia mengangguk dan kita menangis haru bersama.
Saat itu gue merasa menang, presentasi gue untuk menyelamatkan perusahaan di malam ulang tahun gue berhasil dan lamaran gue ke Ratri diterima.
Gue tenggelam dalam kebahagiaan gue dan lupa dengan perasaan Ratri.
Dia bahkan belum bilang kalau dia kesal karena acara surprise yang ia buat gagal. Bahwa itu melukai dia, membuat ia hilang arah dan justru terjerumus.
Gue sangat menyesal, gue selalu berbuat sesuka gue.
Gue gak pernah dengar kesedihan dia, karena dia selalu bilang kebahagiaan gue adalah sesuatu yang ia perjuangkan.
Yah, tidak sengaja mengandung anak orang lain membuatnya merasa gagal membahagiakan gue dan..."
Galang tak melanjutkan, ia menenggak banyak-banyak bir nya hingga kandas.
"Sore itu, gue ditelfon sama pihak security apartemen.
Gue udah kayak orang gila ngebut dan berlari menuju rooftop.
Hanya untuk mendapati Ratri menangis meraung-raung meminta maaf lalu, tanpa memberi kesempatan gue berbicara, dia..."
"Terbang ke langit" potong Maya sambil menyeka air matanya.
"Ratri pasti terbang ke langit, orang sebaik dia, harus terjerumus dan menopang malu... gak pantas.
Dia orang baik, mari kenang dia dengan pantas" Maya mengangkat bir nya mengundang Galang untuk sebuah tos.
"For Ratri" ujar mereka berdua saling melempar senyum haru.
"Gue gak salah merekrut lo May jadi rekan kerja gue, semoga lo betah ya jadi teman gue" ujar Galang sebelum meminum bir nya.
Teman? batin Maya.
Maya mulai merasa lapar, ia memegang sumpitnya untuk mengambil daging.
"Teman? Awas lu suka sama gue ya!" canda Maya sambil menyuapkan daging yang masih berasap ke mulutnya.
Galang tertawa sambil mengunyah.
"Gak akan. Gak bisa. Cinta gue seluruhnya di bawa terbang Ratri" ujar Galang dengan nada yang tenang.
***
Hi pembaca yang baik 🙋
Mohon dukungannya terhadap karya author dengan klik like dan berikan komentar 💞