
Pagi ini kantor terasa sepi, Galang sampai harus keluar dari ruangannya untuk mengecek apa benar keadaan memang sepi.
Resah dan gelisah, Galang memperhatikan jam tangannya.
09:10 Pagi.
Seharusnya sudah banyak karyawannya yang sibuk kesana-kemari, mengangkat telfon dan berkumpul di ruang meeting.
Galang melonggarkan dasinya sedikit lalu mulai membuka tumpukan dokumen untuk ia tandatangani.
Lima belas menit berlalu dan tampaknya masih tidak ada pergerakan di kantor. Keadaan tetap senyap dan tenang.
Sampai tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan Galang dengan kencang.
Brakk!
"Galang?!"
Galang mengangkat kepalanya dan bersiap marah atas perilaku penggebrakan pintu ruangannya namun cepat-cepat menelan amarahnya.
Ya, karena yang membuka pintu dengan sewot tadi adalah korban bolosnya Galang kemarin.
Rayyan dengan segera duduk di depan meja Galang dengan melipat tangannya.
Dengan kesal, ia lalu meniup poninya.
"Iye, sorry Ray!" tukas Galang tanpa melihat Rayyan. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya dan tidak memperdulikan Rayyan.
"You owe me a sorry, not just a sorry, I demand expensive sorry" Rayyan menaikkan dagunya.
"Tau gue, musti parfume berkarat mahal lo itu kan?" tanya Galang dengan tenang.
"Baccarat Rouge 540!"
"Iya, pesan sana! Biar gue yang bayar."
"Serius lo?"
"Serius, Rayyan" Galang meletakkan penanya dan menatap Galang dengan mimik wajah serius.
"Oh my god. What did Maya do to you?" Rayyan membuka mulutnya, ternganga heran oleh sikap Galang.
"I shoud've ask you a ferrari instead" bisik Rayyan pada dirinya sendiri.
"Nih ya, gue udah turutin mau lo. Sekarang, lo cek semua kenapa nih kantor berasa kuburan. Pada kemana orang-orang."
"Oh, itu" Rayyan tampak santai menjawab.
"Itu?" alis Galang berkerut.
"Lagi heboh taruhan di pantry kantor.
Lo udah sembuh dari trauma jatuh cinta dan bakal jadian sama Maya dalam beberapa minggu atau mungkin bulan depan" jawab Rayyan santai.
Mendengar jawaban Rayyan, Galang dengan segera beranjak dari kursi dan berjalan dengan cepat menuju pantry.
Saat berjalan ke pantry, Galang melewati ruangan Maya dan sempat melirik sekilas.
Maya tampak serius menatap layar komputernya dan ia tidak ingin mengganggu Maya.
Beberapa langkah mendekati pantry, Galang dikejutkan oleh Sisil si karyawan magang yang baru keluar dari pantry dengan segelas air putih dingin.
"Astaga Pak Galang!" pekiknya.
Galang yang juga kaget hampir saja mengeluarkan kata-kata kasar.
Sedetik kemudian keluarlah selusin karyawan Galang dari pantry dan lari terbirit-birit menuju meja mereka masing-masing, meninggalkan Sisil yang berdiri membeku di depan Galang.
"Sisil, kamu ke ruangan saya sekarang!" perintah Galang.
"Saya gak ikutan, Pak! Saya cuma ngisi aer doang!" rintih Sisil sambil menoleh ke arah belakang berharap ada yang menolongnya.
Namun sayang, lusinan orang tadi sudah memasang wajah serius menghadap komputer dan dokumen masing-masing.
Tak berapa lama terdengar bunyi keras suara pintu tertutup dari ruangan Galang, terdengar celetukan dari salah satu meja.
"Wah kacau guys! Yang punya power tolongin Sisil gih!"
"Tolongin Sisil? Udah, berdoa aja supaya Sisil gak beberin percakapan kita tadi gilak!" sahut yang lainnya lagi.
Sahut-sahutan ini terdengar oleh Abi yang baru saja turun dari lantai atas.
"Percakapan apaan nih?" tanya Abi dengan alis dinaikkan.
"Ah, sini Mas Abi! Gosip hangat ini!"
Dan perkumpulan itu mulai semangat melanjutkan gosip yang terputus di pantry tadi.
***
Sisil sedang meringkuk duduk di kursi yang berhadapan dengan mata elang Galang.
Di sisinya ada Rayyan yang sudah jelas tidak akan memihak Sisil.
Mimpi apa Sisil harus berhadapan dengan CEO nya dalam keadaan terpojok pagi-pagi seperti ini.
"Ehem!"
Cicil langsung menciut.
"Jadi Sisil..." Galang menyilangkan jemari lalu menopang dagunya.
"Cerita apaan anak-anak tadi di pantry?" sahut Rayyan yang juga mencondongkan wajahnya ke Sisil.
Sisil menutup mata dan menelan ludah.
***
Galang membanting penanya ke meja.
Di depannya masih ada Rayyan namun Sisil sudah sedari tadi meninggalkan ruangan itu.
"Parah juga ya, masa iya image gue bisa runtuh gara-gara Maya doang?" Galang mengernyitkan dahinya.
"Ya habisan elo bawa Maya ke rumah lo sih malam-malam.
Coba lo bawa aja ke hotel, terus lo pulang deh ke rumah. Kan lo jadi punya alibi" tukas Rayyan sambil menggelengkan kepalanya.
Galang terdiam sesaat lalu mulai berbicara.
"Gue ada tugas buat lo..."
"No!" potong Rayyan tegas.
"Anak ini, berani-beraninya ya lo." protes Galang atas sikap Rayyan.
"Cukup gue gak mau terlibat dan jadi korban atas gosip ataupun hubungan lo sama Maya, unless.."
"Unless?" tanya Galang.
"Unless, siang ini gue terima Baccarat Rouge 540. Ini tokonya." Rayyan memberikan sebuah kartu nama sebuah toko.
Galang menarik nafas dalam-dalam bersiap mengumpat asisten yang juga sepupu jauhnya ini.
Tapi toh jadwal pagi ini sudah banyak di urus oleh Rayyan sejak kemarin. Beberapa pekerjaan sudah dikejar dan hanya menyisakan 1 agenda sederhana saja, yakni meeting final dengan team Ikhsan.
Galang akhirnya menelan amarahnya lalu mengambil kartu yang diberikan oleh Rayyan, meliriknya lalu menyimpannya di saku jas.
"Gak percaya gue, gue bisa diperdaya sama lo" tukas Galang dengan nada kesal yang tertahan.
Rayyan sudah siap membalas dengan cecaran tentang betapa ia menderita mengabdikan hidupnya mengurusi pekerjaan sebagai asisten ditambah menyelesaikan beberapa pekerjaan Galang.
Namun, ia teringat betapa Galang kaya dan dia bisa minta apa saja pada sang sepupu.
"Sebelum makan siang gue mau kemeja gue harum Baccarat Rouge 540, ya Lang."
Galang menggelengkan kepalanya dan beranjak keluar kantornya.
Sambil berjalan keluar, Galang berkata "Tugas lo, urusin tuh gosip. Bersihin nama gue! Gak ada lagi kumpul-kumpul di pantry!"
"Nama lo doang nih?" tanya Rayyan sambil menatap kukunya yang mulai butuh manicure.
"Dia juga" sahut Galang sebelum menutup pintu.
Rayyan hanya tersenyum geli menatap kepergian Galang.
***
Galang sudah menyalakan mobilnya di parkiran namun tak kunjung menjalankan Audi hitamnya.
Dengan sedikit gelisah, ia menatap jam tangan lalu meraih ponselnya.
Ia terhenti saat seseorang membuka pintu mobil di sampingnya.
"Apan sih Lang? Baru juga gue niat kerja." ucap Maya sewot.
"Rayyan ngambek karna gue bolos kemaren pas nemenin lo, May. Gue disuruh beli parfum karatan dia. Temenin lah, lo kan ikut andil dalam agenda bolos gue!" Galang segera memberikan kartu dari saku jas nya.
Maya mengambil kartu tersebut dan menatap Galang heran, "Parfum karatan?"
"Itu, Baccarat Rouge 540!"
Maya terkesima. "Beliin? Gratis?" tanyanya tak percaya.
"Wah! CEO gue udah tajir, baik banget pula. Sedekahnya parfum jutaan!" sahut Maya sambil menatap Galang tak percaya.
"Udah, buruan masuk! Nanti banyak orang yang lihat!" ucap Galang sambil menepuk-nepuk kursi di sampingnya.
Maya menurut saja, segera ia memasang seat belt.
"Gue..."
"Nope. Lo gak akan gue beliin." potong Galang tegas.
"Ish!" ucap Maya kesal.
Galang melirik Maya dan mengulum senyumnya.
***
Di toko yang terkesan mewah dengan interior serba putih, Maya dan Galang sedang menunggu sang pelayan membungkus parfum pesanan Rayyan.
Galang melirik jam tangannya lagi, "May lo tunggu disini dulu ya, gue mau beli kopi"
Maya mengangguk.
"Lo ice americano kan?"
Maya mengangguk lagi.
Galang tersenyum melihat tingkah Maya, ia tidak dapat menahan diri lalu menepuk kepala Maya layaknya seorang kakak pada adik kecilnya.
Selepas Galang pergi, Maya termenung heran.
"Dikata gue bocah?!" bisik Maya sambil mengusap kepalanya.
Sambil menatap etalase toko, Maya merasa sedikit bosan. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi chat.
Jempolnya terhenti pada sebuah nomor tak dikenal dengan 2 chat tak terbaca.
Biasanya, Maya tidak akan menggubris nomor-nomor tak dikenal.
Ia percaya, secara profesional jika penting orang tersebut akan menelpon dan memperkenalkan diri.
Bukan sok kenal sok dekat dengan memulai obrolan di aplikasi chat.
Dengan ragu, Maya mengetukkan jari telunjuknya dan membuka chat tersebut.
"May?"
"Eh! udah balik lang!"
"Kok lo kaget sih? Serius amat? Chat sama siapa?"
Maya menggeleng, "Bukan siapa-siapa."
Galang menyodorkan segelas medium kopi ice americano pada Maya, ditangannya sudah ada tas kertas berisi parfum Rayyan.
"Thanks" sahut Maya sambil menyeruput kopinya. Sedetik kemudian rasa dingin menjalari tenggorokannya membuat hatinya terasa ringan.
"Yuk, cabut!" tukas Galang sambil berjalan menuju lift ke parkiran.
Di dalam lift, Galang dan Maya sama-sama diam menikmati kopi mereka.
Setelah beberapa saat akhirnya Galang membuka suara.
"By the way, May. Lo berani juga yah natap pengantin pria dengan pemikiran '*Y*ou used to be my only one'" ucap Galang sambil menahan senyumnya.
Maya hampir saja tersedak kopinya.
Ia lalu meninju bahu Galang, meski ia melimpahkan tenaga yang cukup besar tapi tampaknya Galang tidak merasakan sensasi apapun.
"May, May. Apa rasanya ya seandainya saat gue nikah, gue punya bridesmaid yang juga mengharapkan gue jadi suaminya" lanjut Galang lagi.
Maya benar-benar tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Galang barusan.
Pikirannya segera pusing menduga apakah Galang sedang bercanda atau sedang mengolok-olok kisahnya.
"Gue gak lagi bercanda atau meremehkan curhatan elo kemarin kok.
Gue cuma berpikir, seandainya gue adalah Ikhsan dan gue tau Bridesmaid istri gue secinta itu sama gue...
Mungkin.." Galang terdiam sengaja menggantungkan kalimatnya.
"Mungkin?" tanya Maya penasaran.
Galang menarik nafas kemudian melanjutkan, "Mungkin gue akan berlutut dihadapan istri gue untuk minta ijin menikahi bridesmaid itu.
Setelah dapat ijin, gue akan berlutut di depan si bridesmaid dan memintanya jadi istri gue juga."
Mata Maya terbelalak mendengar jawaban Galang. Tepat saat itu juga pintu lift terbuka.
Maya lalu tertawa terbahak-bahak sambil berjalan keluar lift menuju mobil Galang.
"Sinting lo ya!" ucap Maya di tengah-tengah gelak tawanya.
"Kok sinting sih? Itu keputusan paling logis, May. Memiliki 2 istri bukan suatu tindakan yang melanggar hukum.
Poligami bukan hanya terjadi di jaman sekarang, sudah sejak jaman batu." tukas Galang memberikan pembelaan atas pendapatnya.
"Gue aja gak mau di madu, kenapa juga gue mau terima jadi istri ke dua" balas Maya.
"Yakin?" tanya Galang sambil membuka pintu. Disebrang sana, Maya juga membuka pintu mobil.
"Sinting lo" ucap Maya datar.
***
Hi pembaca yang baik 🙋
Mohon dukungannya terhadap karya author dengan klik like dan berikan komentar 💞