The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
A Goodbye Hug



"In another world, I wish I could be your girl" ucap Maya sambil terus menatap dalam mata Ikhsan.


Kata-kata itu sudah meluncur dari mulutnya. Biarkan Tuhan dan hatinya yang menuntun dirinya melalui  situasi ini.


Perkara Yrene, ah Maaf Yrene... saat ini adalah tentang perasaan kami saja. Perasaan yang sama-sama dipendam dalam diam. Tidak ada kamu diantara kami.


Biarkan ini menjadi perkara kami.


Biarkan kami menyelesaikannya, gumam Maya dalam lubuk hatinya.


"Sama seperti lo, di pertemuan wawancara di perpus itu juga meninggalkan kesan buat gue.


Juga di setiap pertemuan-pertemuan berikutnya.


Gue juga suka sama lo, San.


Benar-benar suka.


Suka sampai rasanya mau mati" Maya mengucapkan kalimat terakhirnya dengan suara bergetar karena bersungguh-sungguh.


"Tapi, gue juga bukan orang yang selalu ada buat lo. Bukan orang yang memperjuangkan perasaan ini.


Bukan orang yang sepenuh hati berusahan untuk mendampingi lo.


Gue cuma orang yang terus menerus suka sama lo.


Dan hanya cukup berhenti disitu. Gak pernah melangkah lebih jauh.


Bahkan untuk sekedar ingin tahu apakah lo punya perasaan yang sama terhadap gue.


Di hari pernikahan itu, hari terberat yang pernah gue alami.


I wish I could be sit next to you, be your bride instead of only a bridesmaid.


Gue merasa menjadi sahabat dan bridesmaid paling jahat, sekaligus manusia paling sedih.


15 tahun, dan perasaan itu masih ada.


Semua yang gue suka tentang lo, gue masih suka.


But, Ikhsan.


What can we do, now?


What can we do about our feeling, now?" Maya menghela nafas panjang.


Di depannya, Ikhsan berusaha tetap kokoh menatap Maya.


Menguatkan diri dan hatinya mendengar pernyataan sedih dari gadis yang ia sukai dalam diam.


"I love you" ucap Ikhsan lirih.


"I love you too" balas Maya sambil tersenyum.


***


Angin laut kembali bertiup pelan menyapu tipis-tipis rambut Maya.


Hening tak kunjung pecah, ada enggan diantara mereka.


Tapi kalimat cinta yang baru saja terucap dari bibir mereka berdua tidak boleh dibiarkan menggantung begitu saja. Tentu harus ada akhir dari pembicaraan mereka.


Ikhsan menelan ludahnya kemudian bersiap membuka suara.


"Thank you" ucap Maya dan Ikhsan bersamaan. Mereka saling bertatapan sedikit terkejut lalu tertawa.


"Selama ini gue penasaran kenapa lo selalu menjauh. Pasti berat melihat keadaan gue saat-saat itu, ya?"


Maya menggeleng, "Toh gue bisa bertahan sampai saat ini. Justru gimana lo bisa bertahan? Mencintai orang lain saat lo seharusnya mencintai satu hati?"


Ikhsan langsung terbatuk mendengar pertanyaan Maya yang menohok.


"Uhk Uhuk! Ehem, Hm.. Hm.."


Maya tersenyum melihat Ikhsan salah tingkah. Tentu saja tawaran menjadi madu alias istri kedua yang pernah Galang ceritakan tidak akan terlontar dari mulut pria baik seperti Ikhsan.


"Itu, itu.. panjang ceritanya, May.


Tapi yang jelas, benar seperti kata lo.


Setelah gue sadari sulit bagi gue untuk berjuang menggapai lo, gue menjadi lebih realistis.


Yrene tidak pernah membuat gue menunggu, dia sangat perduli dan menjaga gue dengan baik.


Menjadi orang paling suportif sedunia buat gue. Dan itu sangat berharga.


Setelah merasa gagal menggapai lo, gue gak pernah mau merasa sebagai pecundang lagi jika menyia-nyiakan Yrene.


Tapi meski sekarang gue harus mencintai satu hati, ada rasa yang mengganjal.


Gue pikir, ini adalah saatnya gue melepaskan lo, May" walau sedih, ada nada tenang dalam ucapan Ikhsan.


Meski merasa seperti sedang tidak dipilih, Maya juga merasa bahwa Ikhsan tidak berhak memilih.


Baik Yrene ataupun dirinya, bukanlah pilihan.


Mencintai Maya dalam diamnya Ikhsan adalah sebuah hal yang tak sanggup pria itu lakukan.


Sungguh berat mencintai dua insan sementara Ikhsan hanya memiliki satu hati untuk mencinta.


Maka dari itu, ia memilih untuk mengutarakan perasaannya lalu menyelesaikannya dengan melepas gadis itu.


"Apa lo akan baik-baik aja, May?" tanya Ikhsan kemudian.


"Lo sendiri yang bilang kalau gue itu kuat?" Maya justru bertanya balik.


"Gue gak tahu harus berbuat apa pada lo, May" Ikhsan akhirnya bersandar lemah di kursi setelah sedari tadi ia duduk tegap karena gugup.


"Gue cuma butuh doa dari lo, San.


Supaya gue juga bisa ikhlas melepas lo...


Gak seperti lo yang sudah punya tempat untuk mencintai, gue harus berjuang pulih sendiri.


Lo hanya tinggal fokus mencintai Yrene sepenuhnya. Please jaga dia baik-baik.


Gue juga sangat memahami perasaan Yrene yang sudah begitu lama menyukai dan mencintai lo.


Gue masih akan butuh banyak waktu untuk benar-benar pulih.


But I promise I will be okay" Maya akhirnya tersenyum lemah.


Ikhsan tampak ragu-ragu membuka suara, tapi akhirnya ia utarakan juga.


"You will need somebody" katanya.


"I will find somebody" jawab Maya.


***


Di pojok restaurant, Madame Sophie dan si pelayan terkulai lemas.


"Mereka bukan sedang lamaran, Jose" ucap Madame Sophie pada si pelayan.


"Menurutku juga begitu, Madame" jawab si pelayan dengan murung.


"Lebih parahnya, cincin itu jika bukan untuk our belle Maya, berarti itu milik si pria.


Oh dia sudah menikah? Apakah Maya terlibat hubungan cinta segitiga? Oh, Jose! Bagaimana ini?!" pekik Madame Sophie sambil memegangi pipinya.


Si pelayan yang dipanggil Jose itu juga terlihat bingung dan resah.


"Cepat! Cepat hantarkan makanan mereka dan cari tahu, curi dengar apa yang mereka bicarakan Jose!" perintah Madame Sophie sambil mendorong si pelayan.


Dengan terburu-buru si pelayan menghampiri Ikhsan dan Maya seraya membawa menu pesanan Maya.


"Maya, The Lasagna and your favorite red wine" ujar Jose, si pelayan sambil membuka penutup piring dan memperlihatkan lasagna yang menggoda.



Ikhsan yang merasa sedang di perhatikan oleh si Pelayan menatap Maya dengan bingung.


"Ada lagi, sir? tanya Maya yang juga bingung dengan sikap Jose.


"Nope, pardon me, My Lady. Siapa pria ini? Seperti bukan orang dari kota ini?" tanya Jose sambil memelintir kumis ala bangsawannya.


"Ah, dia..." Maya melirik Ikhsan sebentar lalu menjawab.


"Teman" jawab Ikhsan.


"No, Dia adalah cinta lamaku" jawab Maya mengkoreksi jawaban Ikhsan.


"Tapi dia sudah beristri" lanjut Maya lagi sambil mengangkat bahunya dan membuat mukanya berekspresi sedih.


Jose terkejut mendengar apa yang Maya ucapkan. Ia segera menatap Ikhsan dengan marah.


"Anda, pergilah kembali pada istri anda! Jangan ganggu Maya kami!" ucap Jose dengan tegas dan setengah berteriak.


"Jose, ada apa?" Madame Sophie kini menyusul, memperparah drama yang Maya tidak sengaja ciptakan.


Sementara Ikhsan, bingung bukan kepalang.


"Dia cuma mengunjungiku, Jose, Madame. Tidak ada yang perlu di khawatirkan" Maya menenangkan


Jose dan Madame Sophie.


Ikhsan tidak ada pilihan lain selain manggut-manggut saja dan tersenyum ramah.


"Baiklah! Kami permisi!" tukas Jose ketus sambil melirik Ikhsan tajam.


"See? Bahkan pelayan restaurant saja sampai begitu menyukai lo, May" ucap Ikhsan sambil geleng kepala.


Maya melambaikan tangan pada Madame Sophie dan Jose, si pelayan.


 "Yah begitulah. That's why gue bilang gue akan baik-baik saja" ujar Maya sambil tersenyum.


Benar, masih ada orang-orang yang akan tetap disisinya meski ia melepas Ikhsan dari semua mimpi dan rindu-rindunya. Salah satunya ada bos nya yang akan bersedia menemani Maya minum-minum.


Tanpa perlu repot harus terlibat urusan cinta yang melelahkan.


***


Maya sedang berdiri di geladak atas kapal restaurant. Ia menatap biru laut dan langit yang senada.


Keduanya sama-sama biru, senada dan selalu ada berdampingan.


Dari bumi, laut menatap langit. Dan dari angkasa, langit mengawasi laut.


Meski sama-sama biru, keduanya tak pernah menyatu.


Ia dan Ikhsan sudah menyelesaikan pembicaraan mereka.


Keduanya tidak ada membahas dan memperpanjang perasaan masing-masing.


Maya menduga, mereka berdua hanya terlalu shyok dengan fakta yang baru saja masing-masing dari mereka temukan jawabannya.


Maya juga tahu bahwa malam ini akan ia habiskan dengan menangis lagi.


Menangisi cinta yang ia pendam dan meski akhirnya berbalas, itu semua sudah tidak ada artinya.


Baik baginya, ataupun bagi Ikhsan.


Sementara Ikhsan ia harus melanjutkan cerita dan kisah hidupnya pada Yrene.


Sama seperti kisah Maya menyaksikan ciuman Ikhsan dan Yrene di saat pengumuman kelulusan, perasaan Maya kali ini pun tidak ditempatkan dimanapun, tidak dilanjutkan dan harus berhenti sampai disini.


Hidup kadang memang suka bercanda, bukan?


Cinta pertamanya sudah berakhir saat di SMA.


Lalu cinta yang ia simpan dan pendam bertahun-tahun lamanya pun tetap tidak mendapatkan akhir yang bahagia.


Akhir yang justru lebih menyesakkan dari pada mencintai tak berbalas.


Yaitu saling mencintai tapi tak bisa memiliki.


Lalu mereka bisa apa?


Tuhan sudah menggariskan ini semua.


Ikhsan yang disandingkan dengan Yrene.


Dan Maya yang masih sendiri.


Maya merasa ada kehampaan yang begitu besar di ruang hatinya.


Dulu, disitu ia menyimpan perasaan dan setiap harapan pada cinta yang ia mimpikan.


Jika harus mengikhlaskan kepergian cinta ini...


Ah, kenapa dengan mengikhlaskan cinta ini Maya justru merasa semakin rapuh?


Apakah karena ia kehilangan harapan?


"May?" suara Ikhsan saup terbawa angin. Pria itu berdiri di samping tangga dari lantai bawah.


Tadi Ikhsan ijin ke kamar mandi saat selesai makan.


Maya memutuskan untuk mengambil udara segar di geladak atas kapal.


Ikhsan berjalan perlahan menghampiri Maya.


"How we should end this?" tanyanya masih dengan pandangan sendu. Membuat Maya makin merasa tercabik-cabik hatinya.


Pria di depannya ini mencintai Maya, membalas cintanya.


Dan kini ia juga sama sedihnya dengan Maya, harus mengakhiri perasaan mereka masing-masing.


Seandainya bisa, ia ingin sekali memeluk Ikhsan.


Untuk yang pertama dan terakhir kalinya.


Sebuah pelukan perpisahan.


Apakah itu boleh?


"Do you want... a hug? a goodbye hug?" suara Maya sangat pelan tapi angin cukup baik menghantarkan itu di telinga Ikhsan.


Ikhsan mengangguk.


Ia kemudian memegang tangan kanan Maya, menarik tubuh Maya dalam pelukannya.


Dekat, jarak mereka begitu dekat.


Dekap, Maya dan Ikhsan kali ini saling mendekap tubuh dan perasaan mereka masing-masing.


"I will miss you so bad" ucap Maya sambil menahan tangis.


"I will miss you too" suara Ikhsan juga begitu berat dengan nafas yang tercekat. Kalau saja ia tidak dihadapan Maya, dia tentu akan ikut menangisi sedihnya kisah mereka.


Deru ombak menelan semua perasaan mereka di sore ini.


Langit dan laut menjadi saksi bahwa ada cinta yang tak bisa bersatu.


Semesta pun memutuskan untuk ikut larut dalam sendu.


Perpisahan mereka diiringi dengan temaram sore dan gerimissyahdu.



***


Hi pembaca yang baik!


Mohon dukungannya dengan selalu hadir di kolom komentar ya!


Komentar, Like, Vote dan Share kalian sangat membantu author untuk berkembang!