
Rayyan melonggarkan dasi yang ia kenakan dengan satu tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang kendali setir mobil. Kendaraannya baru saja keluar dari kantor pengadilan negeri untuk menyelesaikan beberapa urusan administrasi status pembebasan penahanan Galang. Ia dan sepupunya itu bahkan sukses melewatkan makan siang mereka. Itupun belum semua perkara selesai, Pak Haris masih harus tinggal disana mengurus sisanya. Kini, Rayyan dan Galang sudah sangat lapar dan berniat untuk mencari restaurant demi mengisi perut dan energi mereka kembali.
Sebenarnya, Rayyan merasa sedikit resah. Ia susah payah menahan bibirnya agar tidak memulai perdebatan dengan Galang. Rayyan mempunyai sejumlah agenda yang ia persiapkan bagi Galang sebelum pesawat mereka bertolak kembali ke kota dimana gedung TechnoMedia bediri gagah. Lain hal dengan Rayyan, Galang yang sudah sedari tadi jengah dengan incaran wartawan dan berita headline tentang namanya, justru sangat ingin segera pulang saja dari kota ini.
Agenda Rayyan sebenarnya juga ditunggangi oleh agenda bisnis. Yakni memastikan Galang mendapatkan kembali kepercayaan para pemegang saham atas kredibilitas dirinya. Yaitu dengan memberikan konferensi pers menjelaskan sekaligus meluruskan pemberitaan serta meminta maaf secara langsung dan pribadi pada Ikhsan. Hanya dua hal itu saja agendanya, tetapi Rayyan sudah sesak sekali memikirkan strategi mana yang paling tepat agar tujuannya berhasil. Semua ini juga ia lakukan demi keberlangsungan bisnis Galang, walaupun bos sekaligus sepupunya itu kekeuh bahwa ia tidak butuh persetujuan para tetuanya sebab ia akan tanggung sendiri kerugian perusahaan.
Untuk kesekian kalinya, Rayyan menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Ujung matanya melirik Galang yang sedang memandangi jendela dengan pemandangan jalan.
"Lang, lo emang udah baca bener-bener soal report claim dari client platform?" tanya Rayyan setelah berdehem.
Galang menoleh dan tersenyum sini, "Gue tahu nih kemana arah pembicaraan lo, man. Udah resah kan lo dari tadi? Udahlah, percaya sama gue. Let me handle this, watch my move."
Rayyan memutar bola matanya, tapi ia belum menyerah. "Lo tau gak, kalau lo beneran mau mengadakan konferensi pers sore ini, gue beneran hanya tinggal mencet satu tombol doang loh."
"Haha, udah kaya Happy lo! Asistennya si Iron Man! Canggih dan prepare banget. But no man, I am a man with principe. Satu-satunya orang yang gak akan gue tolak untuk temui hari ini adalah, yah, you know who, right?"
Merasa eneg dengan jawaban Galang, perut Rayyan yang keroncongan berbunyi.
Tetapi Rayyan tidak perduli, ia masih ingin memperjuangkan agendanya."Huh, disaat begini gue juga berharap ketemu sama Maya. Hanya Maya yang bisa marah-marah ke lo dan memaksa setiap pendapat-pendapat dia yang berbeda dari lo. May, May, samperin kita dong."
Galang terkekeh melihat Rayyan yang frustasi membujukanya melakukan konrefensi pers dan meminta maaf pada Ikhsan. Baru saja ia berniat untuk menepuk pundak Rayyan, tiba-tiba tubuhnya berayun kedepan karena hentakan keras dari belakang.
Brak!
Rayyan sontak menekan klakson mobil sambil menginjak rem. TIIIINNN !!
Sebuah mobil taksi menabrak mobil yang Rayyan kemudikan dari belakang. Padahal di belokan ini Rayyan jelas-jelas sudah memberi lampu sein dari jarak yang cukup jauh sebelum berbelok. Ia memang sungguh berhati-hati jika sedang mengendari di kota atau daerah lain. Rayyan pun menghentikan mobilnya di pinggir badan jalan, rupanya si penabrak tahu etika dengan mengikuti tindakannya.
Lapar dan dalam keadaan mood yang kacau, Rayyan turun dari mobil dan mendatangi si penabrak yang sudah keluar terlebih dahulu. Paling tidak si pengemudi ini ada iktikad baik untuk meminta maaf. Tapi ternyata, Rayyan butuh subjek pelampiasan kesal dirinya yang sedari tadi gagal membujuk Galang.
"Pak, mohon maaf sekali Pak saya tidak sengaja. Saya tadi gagal fokus, Pak!" Ucap si penabrak tadi dengan kedua tangan yang ia tangkup di dada, tanda permohonan maaf.
Rayyan menaikkan alisnya dan berkacak pinggang saat melihat sebuah baret dan penyok kecil pada body belakang mobil yang ia sewa ini. Jelas saja ia akan membawar beberapa ratus ribu atau bahkan 2-3 jutaan. Sejenak Rayyan memandangi si penabrak dari ujung kaki ke ujung kepala. Ia tahu bahwa akan sangat kejam jika meminta ganti rugi. Tapi tidak apa-apa, gertak aja dulu. Biar tahu yang namanya bersyukur hari ini karena terhindari dari kesialan.
"Pak, gimana sih? Gagal fokus aja nabrak orang. Gimana kalau gagal jantung?"
"Yah, mati dong saya Pak. Pak mohon maaf Pak. Saya akan ganti rugi. Ini kartu identitas saya, mohon bapak hubungi saja CS dari jasa taksi online kita Pak. Nanti saya selesaikan melalui mediasi disitu," jelas si penabraj takut-takut.
"Pak, saya gak punya waktu untuk itu. Mending bapak langsung ikut saya saja, Pak!" Niat hati Rayyan ingin menyuruh si bapak itu untuk menunjukkan jalan ke arah restaurant dengan rekomendasi makanan enak di kota ini.
"Ke.. ke kantor polisi, Pak?! Yah, jangan dong, Pak. Mana saya ada pelanggan lagi, Pak. Itu di mobil. Cantik banget. Dia yang bikin saya gagal fokus nyetir, Pak."
Rayyan menggelengkan kepalanya, "Malah nyalahin orang nih, Pak? Mana sini panggil orangnya. Saya mau lihat secantik apa yang bikin bapak gagal fokus!"
Si bapak penabrak itu terlihat ragu-ragu namun ia akhirnya sedikit menunduk dan melambai ke arah mobilnya, memanggil sang penumpang alias Maya yang sedang menepuk jidatnya.
Mau tidak mau akhirnya Maya memaksa dirinya untuk keluar dari mobil. Bagai pepatah lama, pucuk dicinta ulam pun tiba.
"Ada apaan sih Ray, ayolah cabut aja!" Galang keluar dari mobil dan mendatangi Rayyan yang sedang berdebat dengan si bapak penabrak.
***
Galang memicingkan matanya tajam-tajam sampai punggungnya membengkok. Ada seorang perempuan baru saja keluar dari mobil yang menabrak mobilnya. Sosok itu seperti ia kenali, hanya saja... dengan make-up?
Menghampiri ke tiga pria yang ada di depannya, Maya tersenyum tipis, "Hi Ray, Lang. What a coincidence, ya."
"MAYA?!" pekik Rayyan dan Galang bersamaan.
"Iya, gue," jawab Maya sambil menolehkan wajahnya ke arah lain. Ia yakin reaksi kedua rekan kerjanya yang terkejut itu dikarenakan make-up yang sedang ia kenakan.
Rayyan langsung memejamkan mata. Ia tidak menyangka bahwa doanya langsung saja terkabul karena tidak sampai lima menit yang lalu ia berdoa menyebut nama Maya. Ia berencana mengadu pada Maya mengenai agenda bisnisnya yang di tolak oleh Galang. Tapi harapannya langsung hancur sedetik kemudian saat bos nya itu bergerak cepat melewati Rayyan dan justru menarik tangan Maya menjauh.
"Kok lo bisa ada disini? Lo dari mana? Kondangan? Kok lo kurusan? Lo sakit?"
Maya menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata demi mengendalikan emosinya yang diaduk-aduk sepanjang hari oleh semua orang.
Sementara itu, Rayyan yang mengerti keadaan menepuk pundak si bapak penabrak dan melambaikan pergelangan tangannya tanda menyuruh agar si bapak kembali ke dalam mobilnya lagi. Ia yang juga mendengar pertanyaan beruntun Galang segera memilih untuk kembali berjalan masuk dengan malas ke dalam mobilnya meninggalkan dua orang yang selalu membuatnya kesusahan itu.
"May? Gue nanya baik-baik ini, jawab dong," Galang berusaha merendahkan nadanya. Ia tahu keantusiannya bertemu dengan Maya menyebabkan ia justru mencecar gadis itu dengan pertanyaan beruntun.
"Hm. Gue baik-baik aja. Gue barusan fitting baju," jawab Maya singkat, masih tidak menatap wajah Galang.
Alis Galang berkerut, "Sekaligus make-up trial?"
Maya mengangguk dengan ragu. Entah kenapa ia serasa sedang di hakimi oleh Galang saat ini.
"Kok udah make-up trial aja sih? Emang lo mau nikah kapan?"
Maya merasa ini adlaah saatnya ia ingin kabur dari Galang.
"May?" desak Galang.
"Lang, just stay out of this. Don't get any trouble," kilah Maya.
"Trouble apaan maksud lo, May?"
Galang tertawa sinis, "Tch, Gue cuma tanya emang kapan lo mau nikah. Kok lo malah berpikiran buruk ke gue sih?"
Maya mendecak kesal, Galang selamanya sepertinya tidak akan berubah. Dia selalu akan mendapatkan apa yang ia inginkan. "Besok! Puas?"
"HAH?! BESOK?! Kok bisa besok? BESOK BANGET?!"
Maya sampai harus menutup telinganya menghindar dari pekikan Galang. "Ya, mana gue gak tahu!" balas Maya sama kerasnya.
"Kok lo bisa gak tahu?! Trus, dimana lo akan nikah? Venuenya dimana?!"
"Lang! Gue udah bukan Chief Editor lo lagi. Stop shouting at me!"
Galang mengerjap beberapa kali, sedikit shock juga menyadari bahwa ia sudah kelepasan berteriak pada Maya.
"Sorry. Gue gak sadar, kaget banget sama info lo. Tapi gue harus ralat. Lo masih Chief Editor gue. Sampai kapanpun gak akan gue pecat," ujarnya tegas.
Maya mendelik tajam, "Gue resign!" Maya sebenarnya juga tidak tahu kenapa ia ikut terpancing emosi. Isi kepala dan moodnya sudah hancur berantakan. Ia merasa sedikit lagi akan meledak dan menangis.
"Gak akan gue approve," balas Galang lagi, kali ini dengan nada yang lebih lembut sebab Galang menyadari wajah Maya berubah memerah menahan amarah yang akan pecah menjadi tangis. "And please don't do that. I'm sorry, okay?"
Suara lembut Galang entah kenapa justru menyeret emosinya jatuh terhempaskan. Air mata Maya menetes di pipi. Cepat ia usap pipinya dengan tangan yang bergetar.
Galang membuka mulutnya terkejut. Apa yang ia khawatirkan barusan ternyata langsung terjadi. Ia merasa bersalah, tapi tidak sepenuhnya. Di pikirannya, ia menganalisa bahwa saat ini Maya pasti memang sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja meski tadi mulutnya berucap sebaliknya. Pasti, ada yang salah dengan Maya dan apa yang terjadi dengan hidupnya sekarang.
Perlahan, tangan Galang menyentuh pergelangan tangan Maya, "Sorry. I didn't mean to raise my voice. Are you okay?"
Maya menghempaskan tangannya, "Lo udah cukup banyak terlibat dalam masalah dan kehidupan gue, yang justru merugikan lo dan TechnoMedia. Lo gak seharusnya terlibat masalah hanya karena berusaha membantu gue, Lang. Please, just stay out of this."
Entah apa yang merasuki Galang, ia mendadak begitu emosi mendengar kalimat Maya barusan. Tidak Yrene, tidak Ikhsan, sekarang bahkan Maya pun ikut-ikutan berkata 'stay out of this' kepadanya. Memperlakukan ia selayaknya orang asing dalam kehidupan dan masalah ketiga orang itu.
"Urgh!" Galang menjambak rambutnya dengan satu tangan kanannya. Ia menendang bemper belakang mobil yang ia kendarai tadi untuk melampiaskan rasa kesalnya.
"Stay out of this, stay out of this, stay out of this! Kenapa sih gue gak boleh terlibat? Gue mau membantu lo keluar dari lingkaran kesedihan itu! Gue gak mau lo terluka! Gue sayang sama lo, May! Gue gak mau kehilangan lo! And that's the only thing that matter to me!"
Manik mata Maya sudah basah tergenang air mata yang kini tumpah mengalir di pipinya. Ia sungguh tidak tahu harus berbuat apa. Dengan mengerahkan sisa-sisa energinya, Maya membalik tubuhnya dan berjalan cepat masuk ke dalam mobil taksi yang ia naiki tadi. Ia memerintahkan si supir untuk sesegera mungkin mengemudi dan hilang dari pandangan Galang.
Menyadari gadis yang baru saja berdebat dengannya melarikan diri. Galang langsung berlari masuk ke dalam mobil dan memerintahkan Rayyan agar segera mengikuti mobil taksi Maya. Di luar dugaan, Rayyan justru hanya memberi balasan wajah lempeng yang sudah mendekati pucat.
"Lang, please stop the drama. Lo lagi bucin parah, sumpah. Logika lo gak jalan. Ayo kita makan dulu dan tenangkan pikiran," ucap Rayyan dengan alis terangkat.
"Tapi,"
"Lagian mau kita kejar gimana? Lo mau kita kebut-kebutan di jalan dan ketangkep polisi lalu balik lagi ke sel tahanan?"
Kalimat Rayyan barusan sukses membuat Galang terdiam dan menyerah. ia menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi dan menutup wajah dengan kedua belah telapak tangannya.
"Gini amat, kisah cinta gue..." ucap Galang samar.
Rayyan menghela nafasnya, "Udah, sekarang kita tenang dulu, makan dulu. Okay?"
Galang tidak menjawab melainkan membuang wajahnya ke arah jendela dengan bahu yang jatuh lemas.
"Jyah, dia ngambek," lirih Rayyan. "Eh dengerin gue," lanjut Rayyan sambil menepuk bahu Galang. "Gue punya ide bagus banget ini."
Galang menepis tangan Rayyan tanpa melihat ke arah wajah sepupunya itu.
Rayyan sekuat tenaga menahan tawa dalam hatinya. Baru kali ini dia melihat Galang merajuk karena perempuan bagai bocah di mabuk cinta.
"Serius, ini ide gue brilian banget. Lo bilang lo niat banget, kan hadi di nikahan Maya dan Ikhsan untuk, ah entahlah lo mau ngapain disana terserah lo. Udah nyerah juga gue. Dan tadi lo, gue juga sih, shyok bahwa ternyata besok adalah hari pernikahan mereka. Lo mau tahu kan mereka akan nikah dimana?"
Kalimat Rayyan barusan sukses membuat Galang menoleh dan memperbaiki posisi duduknya. Hal ini membuat Rayyan mengucap syukur dalam hati. Akhirnya bosnya yang galak ini menurut juga dengan strategi dan agendanya. Diam-diam ia begitu bersyukur akan kehadiran Maya dan mengakui betapa sangat berpengaruhnya Maya pada kehidupan Galang.
"Maksud lo, gimana?" tanya Galang dengan suara parau.
"Ehem," Rayyan membenarkan posisi duduknya. "Maksud gue, jika kita tidak bisa mendapatkan informasi itu dari si calon pengantin wanita, kita harus bisa mendapatkan info itu ke calon pengantin pria. Iya kan? Nah satu-satunya cara mendapatkan informasi tersebut maka lo harus menemui Ikhsan. Agendakan saja lo mau minta maaf secara langsung, lalu korek informasi venue mereka. Lang, let me handle this, trust me!"
Menatap mata Rayyan dalam-dalam, akhirnya Galang mengangguk.
Dengan cepat Rayyan menekan tombol ponselnya dan menelepon seseorang, mengatur serta memberikan perintah. Lima menit kemudian, Rayyan memasang kembali sabuk pengaman dan mulai menginjak pedal gas.
"Gue akan selalu ada di pihak lo, Lang. And you can thank me later after all of this!" ucap Rayyan dengan yakin sambil menepuk pundak Galang.
"Thanks, Man! Let's do this," balas Galang dengan menepuk kembali pundak sepupu terbaiknya itu.
***
Halo pembaca yang baik?
Jangan lupa selalu dukung karya ini dengan like, komen dan votenya ya!
Stay safe!
Love, Author.