
Maya berjalan bolak-balik di ruangan cubicle kaca tempat ia bekerja, seperti sedang menunggu sesuatu. Terhitung hari ini, berarti lebih dari 3 bulan ia kembali lagi ke TechnoMedia, bekerja sebagai Chief Editor. Kembalinya ia ke TechnoMedia merupakan sebuah momen yang cukup mengharukan. Ia disambut dengan suka cita, karena kehadirannya berarti sebuah pertanda akan berakhirnya penderitaan mereka di bawah titah Galang yang sangat perfeksinis dalam hal penyajian konten. Tetapi, meski begitu, Maya tetap harus berjuang keras untuk tetap waras disini. Karena, mau tidak mau ia tetap menghadapi desas-desus negatif karena tragedi berbulan-bulan lalu itu.
Langkah Maya mendadak berhenti setelah melihat sebuah notifikasi email masuk. Ia lalu kembali lagi menatap layar laptopnya dan jemarinya menekan sebuah tombol print. Tak lama, printer yang ada di pojok mejanya mengeluarkan sebuah resep masakan. Tongseng Kambing.
"Mbak May, oke kan? Gampang kan?" ujar seorang gadis muda yang tiba-tiba muncul di pintu kacanya.
"He eh, makasih ya Tasya! Ini beneran gampang masaknya kan, ya?" tanya Maya yang dijawab dengan acungan jempol oleh gadis bernama Tasya tadi. gadis itu lalu berjalan riang sambil mengulum senyum menuju pantry. Tidak sabar bergosip tentang manajernya, Kartika Kancanamaya yang sudah menjalin hubungan asmara resmi dengan pemilik kantor media ini, Galang Rahardja.
Maya menggaruk kepalanya, memperhatikan dengan baik resep yang ada di tangannya. Setelah beberapa menit, ia lalu bersiap pulang dengan mengambil tas. Baru saja Maya menutup pintu ruangannya, ada seseorang yang meniup lehernya.
"Buru-buru amat, Neng? Mau masak apa hari ini?"
Terkejut tapi sempat menahan jeritan, Maya membalik badan dan mencubit bahu kekasihnya, Galang.
"Ih kamu, mah! Mana sini uang belanjanya?" Maya menyodorkan telapak tangan kanannya kepada Galang.
Mengerutkan alis, Galang berkilah, "apaan sih uang belanja? Kan ini giliran masak kamu, ya yang belanja kamu lah!"
Melengos sebal, Maya mengomel sambil berjalan ke arah koridor, "percuma deh punya pacar bos sendiri, udah numpang makan, dimasakin, ga dikasih uang belanja."
Di belakang Maya, Galang terkikik dan membalas dengan maksud bercanda, "ya kan masih pacar. Aku sebenanrya gak pelit. Tapi berhubung status kamu masih belum mau jadi istri ya gimana dong, aku juga harus tetap perhitungan."
Sejak masuk kembali ke kantor, Maya tetap harus memenuhi peraturan pemotongan gaji berupa 2.5 bulan. Meski memang gajinya baru saja dinaikkan dua kali lipat di bulan ini, Maya tetap saja telah mengorek cukup banyak tabungannya untuk memenuhi pembayaran cicilan bulanan apartmentnya. Hal ini membuat Maya menjadi lebih hemat dalam membiayai kehidupannya. Dan memasak, adalah ide Galang untuk menghemat biaya makan. Galang juga menawarkan bantuan dengan cara bergantian jadwal masak setiap 3 hari sekali. Jika salah seorang dari mereka mendapat giliran masak, maka yang lain akan datang ke rumah atau apartment penyedia masakan. Sejauh ini, tanggungjawab tersebut berjalan lancar dan lumayan membantu alur keuangan Maya.
Maya kemudian membalik badannya saat tiba di lobi dan telah mendapati sebuah mobil taksi online yang ia pesan. "Yaudah, aku pulang dulu ya. Rapat kamu sore ini selesai jam berapa?"
Melirik jam tangannya sekilas, Galang menjawab, "pokoknya, sebelum jam 7 aku pasti udah sampai di apartemen kamu."
Mengangguk puas sambil melambaikan tangannya untuk berpamitan pada Galang, Maya lalu melangkah pergi menuju pintu.
"Maya!" panggil Galang.
Saat Maya menoleh, Galang menarik nafasnya dan bertanya, "udah cinta sama aku belum?"
Maya menghela nafasnya sambil mengulum senyum. Sudah semenjak 3 bulan lalu pula, setiap ada momen perpisahan maka Galang tak pernah absen menanyakan perihal perasaan Maya. Konsisten dan persisten sekali pertanyaan itu di lontarkan oleh pria itu. Terkadang membuat Maya merasa tidak enak hati. Tetapi, menurut Galang, penting bagi Maya untuk selalu jujur menjawab pertanyaan itu. Sebab yang Galang ingin tahu dari pertanyaan-pertanyaannya itu adalah perkembangan perasaan Maya padanya. Bukan karena ia tidak sabar menunggu Maya.
Maya mengerutkan alis kemudian meletakkan telapak tangan kanan di dadanya. Seolah mengecek sesuatu disana. Ia lalu mengangguk seolah paham dan tersenyum jenaka.
"Sedikit!" jawab Maya sambil berbisik, seolah takut terdengar resepsionis yang sedang menonton sepasang kekasih itu.
Galang melonjak girang sambil meninju udara. Ini pertama kalinya ia mendengar jawaban baru dari Maya. Biasanya hanya 'belum' sambil tersenyum. Ketika Galang tersadar, Maya sudah melarikan diri dan masuk ke dalam mobil taksi yang telah menunggunya. Dengan senyum puas, Galang membalik tubuhnya untuk kembali bekerja. Ia sekarang menjadi tak sabar untuk cepat menyelesaikan rapat sore ini dan segera pulang untuk makan malam bersama. Mencicipi resep masakan baru yang akan di masak oleh kekasihnya.
"Psst, Pak! Kapan nikahnya sih Pak?" tanya Saidah, si resepsionis.
"Kenapa emang?" Galang balas bertanya.
"Ini sudah hari ke 99 loh sejak Mbak Maya kembali ke kantor. Masa bapak belum bisa juga meluluhkan dia?"
Galang sebenarnya merasa ada letupan emosi di dadanya. Tetapi ia memilih untuk tidak cepat merespon. Masih ada beberapa menit sebelum meetingnya di mulai. Ia lalu mendekati Saidah untuk mengorek informasi.
"Yah, dugaan gue sih Maya lagi benar-benar ingin mempersiapkan hatinya. Agar saat dia menerima gue, ya di udah siap langsung gue nikahin. Gitu," jawab Galang asal. Ia memperbaiki posisinya dengan menyandar santai pada meja resepsionis dan mulai melontarkan pertanyaan.
"Eh Dah, ada rumor apaan soal Maya? Masih topik yang kemaren-kemaren?" Untungnya rumor yang beredar adalah Maya yang hampir menikah dengan seorang konsultan tanpa mengetahui bahwa konsultan tersebut sudah punya istri. Dan Rayyan sudah bekerja dengan sangat keras untuk menghapus rumor itu.
"Itu, topiknya sekarang orang pada suka bingung Pak. Mbak Maya katanya sekarang jadi perhitungan. Kayak pelit gitu. Ga royal kayak dulu. Kenapa ya, Pak? Padahal kan pacaran sama bapak, masa kekurangan duit," jawab Saidah sambil ikut menopang dagunya santai, seperti posisi Galang.
Ini yang membuat Galang suka sama Saidah. Ia merupakan salah satu orang andalan Rayyan untuk mengorek dan menyebarkan informasi. Tampang polos, tidak berpihak serta jujur membuat Saidah masuk kedalam lingkaran gosip berbagai level.
"Oh itu, dia kan kudu bayar gajinya yang dipotong karena 2 bulan bolos kerja," jawab Galang jujur.
"Hah? dua bulan? Pantes. Makan apa di kota besar gini ga bergaji ya, Pak. Saya aja gajian tiap bulan, tengah bulan udah mulai engep," ucap Saidah sambil manggut-manggut.
"Terus apa lagi?" korek Galang lagi.
"Hmm, apa lagi, ya Pak," Saidah tampak berpikir sejenak lalu tiba-tiba bersemangat. "Itu, team dibawahnya Mbak Maya besok after lunch mau kasih surprise. Besok kan Mbak Maya ulang tahun!"
Tulang tangan kanan Galang bagai rapuh tiba-tiba. Ia sampai hampir menjatuhkan dagunya ke meja saking terkejut. Bagaimana bisa ia terlupa perihal penting ini. Yah walaupun ini juga merupakan ulang tahun pertama Maya yang akan ia rayakan.
Tersadar, Galang cepat-cepat beranjak pergi tanpa pamit pada Saidah. Tentu saja orang yang ia tuju adalah Rayyan.
Di sore yang tenang itu, Rayyan sedang memilih lokasi foto yang apik untuk sesi foto couple dirinya dan Kinasih. Ketenangannya itu tentu saja langsung dirusak oleh Galang yang mendadak datang dan menutup layar laptopnya.
"Lo kok bisa missed out ngasih tahu gue kalau besok ulang tahunnya Maya?!" cecar Galang sambil terengah-engah karena berlari dari resepsionis dan menaiki tangga ke lantai dua.
Hampir sama terkejutnya dengan Galang, Rayyan dengan cepat memeriksa data karyawan dengan akses khusus yang ia dapat dari Bu Titik, kepala administrasi. Tak lama, Rayyan juga menepuk jidatnya.
"****! Sorry Lang, gue juga kelewatan nih! Haduuuuh!" keluh Rayyan.
Rayyan langsung sibuk mengirim pesan pada toko kue langganan kantor. Ia baru bisa lega saat toko tersebut mengiyakan pesanan dadakannya itu. Rayyan lalu beralih pada Galang yang berjalan panik mondar-mandir.
"Tenang, udah gue pesen cake buat Maya," ucap Rayyan sambil menepuk pundak Galang.
"Bukan itu! Gue harus gimana, gue harus kasih hadiah apa?! Aduh udah jam segini lagi. Toko apa yang buka-"
"Sst.. ssst... tenang, bro! Tenang," potong Rayyan sambil menarik Galang untuk duduk di kursi.
"Tunda aja lah rapatnya! Gue mau keliling mall bentar!" tukas Galang saat terpaksa duduk.
Rayyan menggaruk alisnya, "ya gak gitu juga, kali! Gini deh," ujar Rayyan mengulur waktu, mencoba mencari ide di kepalanya tapi tak kunjung muncul.
"Wah kok lo jadi peduli banget sama urusan ulang tahun. Dulu ga gini deh sama Ratri," ucap Rayyan akhirnya setelah agak lama diam mencari ide.
"Ya beda lah, sekarang! People changes, okay? She made me a better man!"
Rayyan memutar bola matanya. Setiap hari dimaki jadi budak cinta oleh Galang, ternyata bos didepannya ini sama saja.
"Yaudah, sekarang gimana dong?" desak Galang lagi.
Rayyan mengeluh dalam hatinya. Siapa yang punya pacar, siapa yang disuruh mikir sekarang. Sejenak terdiam sambil memandangi arlojinya yang menunjukkan 10 menit menuju meeting dimulai, Rayyan lalu tersenyum puas.
Rayyan menepuk pundak Galang lalu mendekatkan tubuhnya. "Gimana sesi therapy nya Maya dengan dokter rekomendasi gue?"
"Lancar-lancar aja sih. Malah menurut gue perkembangan perasaan Maya jadi lebih baik. Tadi dia jawab mulai 'sedikit' mencintai gue. Gitu," jawab Galang, belum memahami kemana arah pembicaraan Rayyan.
"Nah itu, lo harus bertindak disitu, Lang!' ucap Rayyan semangat.
"Bertindak apaan?"
"Selama ini Maya kan udah sibuk banget tuh, hidupnya juga cukup menderita karena potongan gaji. Dan demi kemajuan perkembangan hasil therapy juga, ajak Maya short escape aja!"
Terkejut dengan ide gila Rayyan, Galang sedikit ragu. "Yakin lo?"
Rayyan mengangguk dengan semangat. "Gak ada hal di dunia ini yang di tolak wanita perkara 2 kegiatan: belanja dan berlibur. Yah anggap aja latihan buat honeymoon."
Kedua sepupu itu lalu kompak tertawa girang bersamaan.
"A short escape with Maya," bisik Galang. Ini sih bukan hanya hadiah buat Maya, tapi juga merupakan waktu istirahat sejenak dari lelahnya perjuangan 100 hari menunggu cintanya berbalas.
Galang lalu menepuk pundak Rayyan, diam-diam berjanji akan memberikan hadiah mewah jika Rayyan menikah nanti. Ia memasuki ruang meeting dengan wajah puas.
***
"Tan, besok ulang tahun Maya," kata Adel sambil melepas timun dari matanya.
Di sampingnya berjejer rapi Tania, Vira dan Nina yang juga sedang berbaring di tepi kolam renang. Mereka sedang menikmati sore sambil menggunakan masker wajah di halaman belakang rumah Tania.
"Iya, gue tahu," jawab Tania tanpa melepas timun dari matanya.
"Tapi kita harus gimana, udah hampir 6 bulan chat dan group kita ga pernah di notice sama Maya. Gue juga bingung kita harus gimana," lanjut Tania lagi.
Menghela nafas, Adel lalu kembali berbaring. "Maya udah baikan belum ya?"
"Menurut gue, kita harusnya sabar aja. Maya mungkin masih menyiapkan dirinya untuk kembali menjalani kehidupan seperti semula. Nanti saat semua sudah terasa mudah bagi Maya, dia pasti akan kembali pada kita," jelas Virsa menjawab pertanyaan Adel.
"Iya sih, tapi dibalik itu gue juga bersyukur. At least kita ga harus menghadapi konflik berlarut-larut soal rumah tangga Yrene. Dan yang juga penting, my baby Yrene sudah happy lagi. Seneng banget gue dia udah balik kerja lagi!" timpal Nina yang kini duduk dengan bersemangat.
"Oh iya? Di klinik mana?" tanya Adel.
"Dia udah buka praktek sendiri bahkan, menyibukkan diri. Dari pada harus menghadapi low situation juga, kan. Ntar kena baby blues lagi kan serem," kini Tania ikut menimpali.
"Eh si Ikhsan apa kabar?" tanya Virsa sambil membuka timun dari matanya. Saat ia sudah duduk dan melihat jelas, ia mendapati mata-mata sahabatnya yang melotot ke arahnya.
***
Halo pembaca yang baik 🙋
Jangan lupa like, komen dan votenya ya.
Maaf baru muncul ke permukaan lagi. Selain sibuk dan kondisi sedikit drop (batu pilek disaat pandemi gini jadi parno abis!), salah satu anggota keluarga saya terlibat suspect Covid-19, sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Jadi, semangat lagi ya menantikan kisah Maya.
Jaga kesehatan ya semuanya!
Love, author.