The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
The Rooftop



Maya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan sebuah pena.


Ia kali ini sedang membaca surat cinta yang terakhir milik Mas Abi.


Hampir seluruh pengirim surat sudah diajak bertemu dan sudah Maya tolak dengan baik nan tegas.


Semuanya berjalan mulus sampai kandidat ke 4 sebagai yang terakhir, Mas Abi.


Jujur saja, kalau Maya tidak sedang trauma dalam urusan percintaan sudah pasti ia menerima Mas Abi. Kalau di pikir-pikir pun, Mas Abi juga sudah terlalu sering menolongnya. Beberapa momen bermunculan di kepala Maya. Tanpa Maya sadari, ujung bibirnya terangkat membaca kalimat-kalimat pada surat dari Mas Abi.


***


*Dear Maya,


Kubuka dengan Bismillah.


Dan satu-satunya tujuan tulisanku adalah memberimu sebuah kepastian bahwa, aku bersungguh-sungguh, menyukaimu.


Aku berniat baik untuk membangun cinta bersamamu.


Izinkan melalui surat ini ku nyatakan, aku mulai menyukaimu. Menyukai kamu yang lewat setiap hari didepan meja kerjaku. Menyukai parasmu meski terkadang galak pada Sisil si anak magang. Tapi terus jatuh cinta pada pandanganmu saat mengajar Sisil dengan wibawamu sebagai mentornya.


Aku ingin melabuhkan pencarian ku padamu. Menatap wajahmu setiap saat sebagai pendampingku. Tertawa saat wajahmu galak, dan tersenyum bangga ketika nanti kamu sedang mendidik anak-anak ku di masa depan.


Untaian rasa ini, May.


Semoga mampu meluluhkan hati wanita kuat sepertimu. Cobalah jalani denganku. Beri aku kesempatan, sekali saja. Cukup sekali. Jika kamu suka, mari berlayar bersama.


Jawablah aku di Rooftop kantor akhir minggu ini. Terimakasih, sudah hadir terlahir di Bumi dengan sangat memukau, Maya.


**


Sejenak kemudian Maya tersenyum. Ah, benar juga. Mas Abi sudah seperti seorang kakak bagi Maya.


Maya akhirnya mengangguk, ia tahu pendekatan paling tepat untuk menolak Mas Abi.


***


"Aruna Bhrata Ishaq"


Laki-laki yang baru sampai di rooftop rest area menoleh mencari sumber suara yang memanggil nama lengkapnya itu.


Ia lalu mendapati seorang gadis sedang duduk sendirian di sebuah kursi ayun.


Area rooftop sepi, hanya ada mereka berdua.


"Maya?" sapanya dengan alis berkerut.


Dengan ragu ia berjalan menghampiri Maya dan duduk disampingnya. Pikirannya langsung tertuju pada surat yang pernah ia sampaikan pada Maya beberapa hari yang lalu. Ah, tentu saja ini adalah momen Maya menjawab pernyataan cintanya di surat itu.


"Mas Abi, sehat?" tanya Maya dengan nada suara yang ia usahakan semanis mungkin.


Abi menghela nafasnya sebelum membuka suaranya. Kemarin ia sudah mendengar bahwa Maya telah memanggil dan mengajak bicara 3 orang sebelumnya yang mengirimkan Maya surat cinta juga.


"Aku udah dapat kabar dari 3 orang lainnya yang kamu tolak duluan, May. Kayaknya aku juga gak diberi kesempatan ya?" ucap Abi dengan suara yang berat dan dalam.


Abi sudah menduga jawaban apa yang akan keluar dari mulut Maya dari bagaimana ia menatapnya. Tatapannya tidak gugup, seolah sudah memiliki jawaban dan merasa aman pada pilihan hati yang sudah perempuan itu tetapkan. Abi mendesah lalu menghirup nafas panjang.


Maya hendak menjawab pertanyaan Mas Abi, tapi Mas Abi sudah kembali berbicara.


"Aku berbeda May dari mereka. Aku... belum pernah jatuh cinta seperti ini sebelumnya.


Kamu itu sangat tangguh, sampai-sampai aku berpikir... wanita sepertimu sudah pasti tak butuh pria."


Mas Abi terdiam sebentar lalu melanjutkan, "Aku bilang pada diriku sendiri. Jangan sampai aku jatuh cinta pada si Maya.


Sudah pasti ditolak. Apa yang seorang Aruna Bhrata Ishaq punya takkan dibutuhkan oleh orang semandiri dan setegar kamu.


Tapi perlahan, pesona kamu, rasa percaya diri yang terpancar oleh kecerdasan dan kemampuan kamu memimpin..


Buatku, kamu adalah sosok yang sangat ideal sebagai seorang Ibu.


Kamu akan menjadi pengaruh yang kuat untuk menghasilkan sebuah keluarga dan anak-anak yang hebat.


Aku tunduk pada pesona kamu, May.


Dan..


Aku paham jika kamu menolakku.


Wanita tangguh seperti kamu, berhak menentukan pilihanmu sendiri dan mendapatkan yang terbaik.


Doakan aku May, supaya bertemu dengan wanita hebat seperti kamu yang mau jadi istriku."


Maya menelan ludah, rasanya seperti menelan jarum kering. Mendengar perkataan Mas Abi yang sarat akan kesedihan dan berakhir menyerah cukup menohok perasaannya. Tetapi Maya tak mampu memilih kata untuk sekedar bersuara dan merespon kalimat dari Abi.


Angin berhembus pelan membuat suara gemrisik dari daun-daun tanaman yang ada di rooftop. Angin itu membawa pias sejuk yang sedikit mendinginkan rasa panas pada wajah Abi. Sekuat tenaga ia tahan rasa sakit atas penolakan halus dari Maya. Ah, sungguh menyesakkan hati.


Setelah mampu menguasai diri dan suasana, Abi mengangkat wajahnya dan menatap manik mata Maya. Mata perempuan ini tidaklah sangat spesial, tapi Abi yakin akan satu hal. Mata itu lah yang sungguh telah memancarkan pesona kuat tapi juga yang meluluhlantakkan hatinya sore ini. Sekali lagi saja, untuk terakhir kalinya Abi menatap Mata itu dengan pandangan sendu dan kagum. Lain kali ia sudah harus merubah rasa pada pandangannya ke Maya, yaitu pandangan biasa tanpa rasa. Entahlah apa ia mampu, tapi mau tidak mau ia harus begitu.


Abi sudah siap berdiri saat tiba-tiba saja Galang muncul. Galang terlihat kaget mendapati Maya dan Abi sedang duduk di kursi ayun, ia menggaruk kepalanya dan tampak linglung.


***


"Ya lo gak bilang May!" Galang menghempaskan dirinya di sofa.


Tangan Galang gemetar mengurut-urut alisnya. "Kasih pesan apa kek gitu di meja, chat apa kek!"


Maya sebenarnya ingin menahan tawa, ia lalu ikut duduk disamping Galang. "Kan udah gue tulis di note yang gue tempel di layar, Don't look for me I'm in the rooftop!"


Galang meremas-remas jarinya. "Jam segini ke rooftop, pasti ga ada siapapun. Bahaya. Lagian kenapa di rooftop sih! Di note juga lu ga bilang kalau mau kesana sama Abi!" nada suara Galang masih gusar dan belum juga tenang. Tentu saja menulis sepanjang itu ga akan cukup di sebuah note.


Kejadian aneh tadi membuatnya gelisah. Selain merasa bersalah mengganggu momen sedih Mas Abi, ada rasa sakit kepala yang aneh serta detak jantung yang berdebar-debar tanpa alasan.


"Bahaya dimananya sih? Bahaya berduaan sama Mas Abi?" tanya Maya serius ingin tahu kenapa hal ini begitu mengganggu Galang.


Saat ini mereka ada di rumah Galang sebab Galang tiba-tiba merasa mual, pusing dan tidak enak badan sejak turun dari rooftop tadi. Galang memutuskan untuk pulang tapi Maya memaksa ikut. Maya merasa bertanggung jawab membuat Galang menjadi aneh seperti ini.


"Galang?" Tidak ada suara dari Galang.


Saat Maya menoleh, ia mendapati pria itu bersandar lemas di sofa.


Galang pingsan.


***


Hi pembaca yang baik 🙋


Mohon dukungannya terhadap karya author dengan klik like dan berikan komentar 💞