
Dr. Adrien masih memeriksa dan melakukan observasi pada respon Ikhsan. Ia lalu mengangguk dan memberikan senyum pada Yrene. Dr. Adrien mengabarkan ada peningkatan yang sangat baik pada nilai GCS (Glasglow Coma Scale). Tampaknya bahkan sebelum pagi, ada kemungkinan Ikhsan akan sadar.
Dengan pandangan kosong, Maya mengigiti jempolnya, membuat perhatian Dr. Adrien gagal fokus saat menjelaskan kondisi Ikhsan. Yrene menangkap lirikan mata Dr. Adrien yang berkali-kali menatap Maya. Ia akhirnya sadar bahwa Maya tak lagi mendengarkan penjelasan Dr. Adrien.
Yrene lalu memutuskan untuk mengajak bicara Maya berdua saja setelah Dr. Adrien pergi bersama perawat-perawatnya. "Maya, lo kenapa? Pasti ada yang lagi lo pikirin ya?" tanya Yrene sambil menepuk sofa menandakan ajakan duduk pada Maya.
Menghela nafas panjang, Maya duduk di samping Yrene. "Rene, ada hal jujur tentang gue yang lo juga harus tau," ucap Maya setelah diam selama beberapa saat.
Yrene mengangguk, ia akan mendengarkan apapun yang Maya katakan. "Gue tahu ini juga pasti berat buat lo."
"Lo bilang seandainya gue terima Ikhsan, maka sebaiknya pernikahan segera dilaksanakan? Lo tau kan itu artinya kita," Maya menelan ludah karena begitu berat bahkan hanya untuk sekedar mengucapkan, "kita akan berbagi kehidupan."
Maya menggelengkan kepalanya, ia harus mengatakannya dengan jujur segala yang ia bingungkan. "Bagaimana kita bisa berbagi, Rene? Gue gak bisa membayangkan hal itu. Belum lagi, posisi gue, tidak akan bisa di daftarkan untuk jadi istri sah sesuai peraturan perundangan. Gue juga takut di gunjingkan orang lain. Dan yang paling penting, bagaimana gue harus berhadapan dengan Ianvs nanti?"
Yrene menghembuskan nafas keras-keras dan menjatuhkan dirinya pada sandaran sofa. "Lo benar, May."
"Apa yang lo butuh dari Ikhsan selain dirinya?" tanya Yrene lagi.
Maya mencoba memikirkan beberapa hal namun akhirnya menggeleng, "Gak ada. Selama ini gue bisa menghidupi diri gue sendiri."
"Gue juga punya usaha sendiri, May. Tapi Ikhsan juga harus adil seandainya dia juga memperistri lo. Gue gak merasa begitu terganggu jika Ikhsan juga punya tanggungjawab finansial pada lo dan anak-anak lo nanti."
"Gue mungkin tidak begitu masalah untuk hal itu. Hanya saja, lo punya hak 24 jam sebab Ikhsan adalah suami lo dan lo adalah istri sahnya. Gue merasa terganggu memikirkan bahwa ada waktu yang nantinya tidak lagi lo miliki dari Ikhsan," lirih Maya.
"Mungkin gue bisa menganggap Ikhsan sedang tugas ke luar kota saat dia tidak ada di rumah, seperti saat itu ketika kalian bertemu," ucap Yrene asal dengan nada lemah.
Pandangan Yrene mengawang menatap langi-langit kamar rawat Ikhsan. "May, nantinya, keadaan sulit bukan hanya menerpa gue. Lo juga akan menghadapi situasi yang sama sulitnya. Berhentilah mengkhawatirkan gue dan Ianvs. Pertimbangkanlah kebahagiaan lo sendiri."
Maya mengangguk, Yrene benar. Bukan hanya Yrene yang nantinya akan merasakan sulitnya hubungan ini, Maya juga harus mempertimbangkan dengan baik kebahagiaannya.
"Rene, apa lo yakin lo akan bahagia? Kenapa lo sampai rela melakukan hal sejauh ini?" tanya Maya kemudian.
Yrene menoleh dan memberikan pandangan lesu pada Maya. "Apa yang akan lebih membahagiakan untuk gue selain melihat orang yang gue cintai dan telah hampir 20 tahun bersama, bahagia juga?"
"Kata orang, yang sekarang lo lakukan adalah, meraih surga yang tak dirindukan," ucap Maya tanpa menoleh pada Yrene. Ia tak sanggup menatap wajah lemah sahabatnya itu.
"Tuhan sangat adil bukan? Menjanjikan surga sebagai balasan bagi pilihan yang sangat sulit untuk dilakukan," kata Yrene sambil memalingkan mukanya ke arah lain, menyembunyikan air mata yang mulai menetes tanpa ia bisa kendalikan.
Setelah hening beberapa saat, Yrene kembali berbicara. "Ada banyak hal yang harus kita pelajari dan diskusikan baik-baik. Tapi, sebelum itu semua, apakah lo udah yakin dengan pilihan lo?" Yrene kali ini bertanya dengan tulus. Jujur saja ia juga tahu bahwa dengan kondisi seperti ini, jika Maya benar akan menjadi istri Ikhsan maka akan begitu banyak urusan yang tidak mudah diselesaikan termasuk urusan administrasi kenegaraan dibandingkan dengan Yrene sebagai istri sah.
"Nyokap gue, belum yakin bahwa gue nantinya akan bahagia," jawab Maya sambil memejamkan matanya. Hal itu juga semakin memberatkan pundaknya untuk mengambil keputusan.
Yrene mengangguk, memahami bagaimana respon Ibu dari Maya. Seperti reaksi Mamanya sendiri, Yrene paham bahwa hal ini tentu sangat menyedihkan bagi para Ibu yang akan merelakan putrinya menjadi wanita kedua.
"May, kita harus bicarakan ini bersama dengan keluarga. Gimana kalau nanti lepas dinner kita kumpul? Ada orang yang bisa lo ajak? Kakak lo ada di kota ini kan?" pertanyaan Yrene dijawab anggukan oleh Maya.
"Gue harus pulang dulu, Ianvs butuh gue. Lo jagain Ikhsan dulu ya? Bokap nyokap gue sebentar lagi kesini juga," jelas Yrene.
Maya melepas kepergian Yrene sambil terus menatap punggung sahabatnya itu hingga menghilang dibalik pintu. Ia kemudian beranjak menghampiri dan duduk disamping tubuh Ikhsan.
Tangan Maya perlahan menyentuh lagi jemari Ikhsan. Sambil menggigit bibirnya ragu, Maya mencoba kembali berbisik. "Ikhsan, apa benar lo bisa denger suara gue?"
Srek!
Jari telunjuk Ikhsan tersentak, membuat Maya terkejut dan menahan nafas.
Maya menelan ludahnya dan mencoba mengajak Ikhsan berbicara lagi. Yrene bilang ini akan membantu merangsang otak Ikhsan untuk bekerja dan merespon kembali.
"Ikhsan? Lo bener-bener bisa denger gue, kan?" Ada tekanan pelan tapi Maya dapat rasakan dari jemari Ikhsan yang Maya genggam. Air mata mengalir di pipi Maya.
"San, Maaf. Gue belum sempat minta maaf. Semuanya jadi kacau. Lo harus menahan sakit seperti ini," isak Maya. Ia menundukkan kepala dan menyandarkannya pada punggung tangan Ikhsan.
"Kalau memang jawaban gue lah yang lo tunggu untuk bangun," Maya mengangkat wajahnya, "Bangunlah. Saat lo bangun, gue berharap... gue siap memberikan lo jawaban."
Gerak halus pada manik Ikhsan yang masih tertutup itu menyebab sebuah air mata mengalir dari ujung mata Ikhsan. Entah itu adalah sebuah reaksi obat, atau memang respon Ikhsan pada Maya.
Tangan Maya terjulur bergetar menghapus air mata itu. "Iya, gue akan bersabar menunggu lo bangun. Lo juga semangat ya berjuang untuk sadar," ucap Maya. Kali ini iya yakin benar bahwa Ikhsan memang merespon genggaman tangannya.
***
Pintu kamar rawat Ikhsan perlahan terbuka, sebuah kepala menyembul ke dalam dan mengundang senyum Maya. Sang Kakak sudah hadir kembali untuk mendampinginya pada rapat yang bisa disebut sebagai rapat (calon) keluarga. Diam-diam Maya berterimakasih dikaruniai kakak yang sangat supportive. Dia tidak perlu terus-menerus mengusik dan hadir dalam kehidupan Maya, tapi saat dibutuhkan, kehadirannya benar-benar tulus dan sangat membantu. Hubungan persaudaraan seperti ini lebih Maya sukai dan hargai dibanding hubungan saudara yang akrab tapi saling iri dan dengki.
Arya menghampiri tempat tidur Ikhsan dan bergidik ngeri. Dengan bahasa isyarat tangannya, dia mengatakan pada Maya bahwa kepala Ikhsan membesar karena bengkak. Dan Ikhsan lebih mirip zombie daripada mumi. Membuat Maya mau tidak mau mengulum senyumnya, menahan tawa. Maya tahu bahwa Arya hanya ingin menghibur dirinya.
Berdiri disamping adiknya, Arya merangkul dan menepuk-nepuk pundak Maya. Dalam hati, Arya meringis pedih. Adiknya telah memendam perasaan cinta begitu lama, terus berusaha pergi dan melupakan cinta itu, tapi takdir membawanya justru kembali harus berhadapan dengan cinta yang sama itu lagi setelah jauh melangkah. Dan saat cinta itu merangkulnya, justru dalam kondisi yang tidak memberinya pilihan.
Tetapi, sejauh yang Arya tahu, Ikhsan memang sosok yang baik. Meski ia tak bisa menjamin apakah nantinya Ikhsan dapat memberikan kebahagian terlebih dikarenakan pria ini akan menjadikan adiknya sebagai istri kedua. Polemik yang Maya hadapi ini tidak mudah, maka yang bisa ia lakukan hanyalah menjadi pendukung yang selalu memberikan Maya bantuan apapun yang ia butuhkan.
"Hm, May. Gue boleh nanya satu hal gak?" pertanyaan Arya dijawab anggukan oleh Maya. Arya lalu menarik tangan Maya menjauh dari tempat tidur Ikhsan.
"Kenapa Yrene terburu-buru ya menawarkan pernikahan lo dan Ikhsan? Logika gue susah untuk menerima itu," kata Arya pelan, masih menjaga perasaan adiknya.
Maya menarik nafasnya, "Entahlah. Tapi menurut gue, akan sangat janggal juga jika pernikahan tidak segera dilangsungkan, kan?"
Arya baru terpikirkan, tidak mungkin juga mengulur waktu pernikahan. Penundaan justru akan membuat keadaan lebih runyam dan justru menimbulkan polemik sosial serta bertentangan dengan moral.
Maya memandang lemah wajah Arya, "Tell me, do I have choice? Kasih tau ke gue, pilihan apa yang gue punya."
"Apakah gue harus meninggalkan Ikhsan saat dia sadar, membuat dia hancur lagi sebab sudah berjuang sejauh ini dan bahkan setelah mendapat restu dari keluarganya? Bagaimana kalau dia kehilangan semangat dan kondisinya justru mengalami kemunduran? Apakah gue tega menjadi pembunuh orang yang sebenanrya gue cintai hanya karena ketakutan gue?"
Arya sudah memeluk Maya, membiarkan gadis itu kini berteriak dalam pelukannya. Arya mengatupkan rahangnya keras, menahan bendungan air matanya sebab gejolak emosi Maya.
"Tell me, Ya', Yrene bersedia terluka demi kebahagiaan Ikhsan, Ikhsan memperjuangkan segalanya demi mendapatkan penerimaan gue. Apakah gue pantas menyerah saat ini? Apakah ketakutan gue adalah alasan yang pantas untuk menyerah?" Maya meluapkan semua pertanyaan yang ada didalam kepalanya. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang selama ini ia pendam sendiri. Namun akhirnya harus lepas terucap dalam dekap Sang Kakak.
Tangan Arya mengelus puncak kepala Maya. Ia lalu memberikan kecupan lembut dan mempererat pelukannya. "I think you are ready now, right? You always have me. Melangkah dan hadapilah. Dan ingat," Arya menarik dagu adiknya itu, "Lo selalu punya pilihan, sebelum akad terucap, atau bahkan setelah akad terucap. Selamanya, lo akan selalu punya pilihan. Jangan berbicara seperti orang yang tak berdaya, Maya. Lo tumbuh sebagai wanita hebat. Lo berhak menentukan kebahagiaan lo juga."
Kata-kata Arya barusan memberikan aliran hangat pada darah dan diri Maya. Membuatnya merasa sedikit lebih kuat memiliki dukungan seperti yang Arya katakan. Perlahan, Maya mengangguk, ia merasa bahwa langkahnya semakin dekat untuk menyambut kesadaran Ikhsan.
Suara pintu terbuka.
Yrene telah datang bersama kedua orangtuanya dan sang mertua. Dengan gugup Maya dan Arya segera melepas pelukan mereka. Tatapan aneh segera datang dan hampir saja menghakimi Maya sampai Yrene berbicara memperkenalkan bahwa Arya adalah kakak kandung Maya.
Suasana hening kini mengudara di ruang sofa tunggu kamar rawat Ikhsan. Belum satupun ada yang membuka pembicaraan. Sampai akhirnya Ayah Ikhsan meutuskan untuk bicara.
"Nak Maya, ijinkan saya berbicara. Di depan seluruh keluarga yang hadir saat ini, saya ingin mewakili anak saya Ikhsan untuk meminta kamu menjadi bagian dari keluarga ini. Saya dan istri saya, dan jika Tuhan masih," suara Ayah Ikhsan tercekat menahan sedih yang mengganjal di tenggorokannya, "dan jika Tuhan masih mengijinkan anak semata wayang saya hidup, kami berniat mendatangi orangtuamu."
Maya tak mampu menjawab, ia hanya bisa menunduk dan berharap Arya dapat menangani situasi seperti ini. Benar saja, Arya sudah mulai menegakkan punggungnya untuk bicara. "Sebagai kakak kandung Maya, saya ijin terlibat dalam pembicaraan ini. Mohon dimaklumi, Ayah saya sudah meninggal sejak kami kecil. Ibu kami membesarkan kami berdua seorang diri. Mendidik kami menjadi anak-anak yang bermoral. Jadi ijinkan saya berbicara atsa nama Almarhum Papa saya. Saya kenal sosok Ikhsan, dia pria yang baik. Juga Yrene, sahabat Maya."
Arya kemudian melanjutkan, "Saya dan Ibu saya sepakat bahwa keputusan memang hanya ada pada Maya. Kami adalah orang-orang yang paling mencintai Maya, akan menerimanya seutuhnya. Tetapi, tentu dari hubungan ini yang kami harapkan paling utama adalah kebahagiaan Maya. Apa yang bisa bapak, ibu, Yrene dan Ikhsan jaminkan untuk hidup Maya jika Maya masuk menjadi bagian keluarga kalian?"
"Seperti yang mungkin anda semua tahu. Posisi Maya jika dinikahi Ikhsan, tidak memenuhi persyaratan permohonan pada pengadilan untuk menjadi pernikahan sah dimata negara sesuai UU Pernikahan pasal 4 Ayat (2)*. Ini menyebabkan penikahan Maya nantinya tidak mendapatkan jaminan hukum, Tentu bukan sebuah masa depan yang menjanjikan bagi Maya dan anak-anaknya kelak," jelas Arya.
Pertanyaan yang dilontarkan Arya tegas. Membuat mereka yang hadir dalam pembicaraan itu menghembuskan nafas berat. Meski Arya merasa canggung, tetapi memang perannya saat ini untuk menjadi tameng posisi Maya inilah yang paling dibutuhkan adik sematawayangnya itu.
Yrene lalu angkat bicara, "Maya, boleh mengajukan tuntutan terhadap Ikhsan. Maya berhak menuntut haknya secara adil. Lalu, saya akan ajukan posnuptial agreement (perjanjian pasca nikah) untuk menjamin kestabilan financial Ikhsan pada Maya sebagai bagian dari tanggungjawabnya. Meski pernikahan Maya memang tidak bisa mendapat pengakuan hukum, tapi Maya akan memiliki pengakuan keluarga melalui kesepakatan kita disini."
Papa Yrene yang sudah sedari tadi tampak gelisah kemudian berkata, "Saya hadir disini karena saya percaya dengan apa yang Yrene, anak saya katakan. Saya juga percaya Maya adalah anak yang baik juga. Hanya saja, berbagi rumah tangga tidak akan pernah mudah. Saya juga akan mengajukan permohonan. Jika seandainya pernikahan memang akan dilangsungkan, tinggallah berjauhan. Tepat seperti sekarang, tinggalah beda kota. Dengan begitu kestabilan emosional dari pengaruh sosial akan lebih baik, untuk Yrene dan anaknya juga untuk Maya nantinya."
Arya berdehem, "Baiklah, meski akan terlalu banyak hal yang harus kita luruskan. Saya mendapatkan kesan bahwa semua pihak menyetujui dengan baik iktikad Ikhsan. Sekarang keputusan benar ada pada Maya. Dan, Maya akan sampaikan sendiri pilihannya pada Ikhsan saat ia sadar nanti."
Pembicaraan sulit itu berlangsung tak kurang dari satu jam. Maya sendiri tak sanggup berbicara terutama dihadapan kedua orangtua Yrene. Hati Mama Maya mungkin terluka mendapati anak gadisnya akan dipersunting seorang lelaki namun dijadikan wanita kedua dalam hidup lelaki tersebut. Tetapi, hati Mama Yrene mungkin lebih tersayat lagi mendapati anaknya seolah diduakan oleh menantu yang ia sayangi tanpa bisa berbuat lebih.
"Baiklah. Saya akan bicara kembali pada Ibu saya. Sepertinya Ibu saya sulit untuk menerima kondisi dan situasi ini," ucap Arya mengakhiri pembicaraan.
"Nak, bawa kami ke ibumu. Biar Bunda meminta sendiri keikhlasannya," lirih Ibu Ikhsan. Sebagai sesama ibu, ia memahami kesedihan Ibu dari Maya untuk melepas anaknya. Tetapi, ia juga seorang Ibu, ia harus pula berjuang demi Ikhsan anaknya. Toh ia juga telah lama mengenal Maya sebagai anak yang baik dan dulu sangat dekat dengan Ikhsan. Demi bersatunya kedua cinta yang lama terpendam itu, ia memutuskan akan mengambil peran pula.
Arya mengangguk. "Baik, saya akan bawa bapak ibu Ikhsan menemui Ibu saya jika Maya sudah memberikan jawabannya pada Ikhsan."
***
Malam telah menjelang larut dan pertemuan itu telah berakhir 1 jam yang lalu. Maya pergi mengantar Arya setelah sebelumnya sedikit berbicara lebih dekat dengan kedua orangtua Ikhsan. Sementara itu, di ruang rawat Ikhsan, Yrene sendirian menemani Ikhsan.
Yrene berbisik ditelinga Ikhsan, "Sayang, Ianvs kangen sama kamu," lirihnya. Seperti yang Maya tadi kabarkan, Ikhsan mulai merespon melalui gerakan spontan pada jarinya.
Yrene mencoba lagi, "Semangat sembuh ya. Maaf aku gak bisa terus-menerus ada nemenin kamu disini, nemein kamu dimalam yang menyeramkan dengan semua alat-alat ini. Aku juga harus ada disamping Ian. Tiap malam aku dan Ian berdoa untuk kesadaran kamu, Sayang." Kini, ada air mata mengalir dari ujung kelopak mata Ikhsan.
Mulai terisak, Yrene mengelap lelehan air mata Ikhsan. "Iya, benar begitu. Ayo berjuang untuk sadar dan bangun, Yang. I will do whatever I can do to wake you up, just like what you did to help me when I fell."
Yrene menyudahi tangisnya saat Maya membuka pintu, ia juga harus bergegas pulang untuk Ianvs. Sebelum pamit pulang pada Maya, Yrene berbisik di telinga Ikhsan. "I love you, Let's spend more years until our hair is grey."
***
*Pasal 4 ayat (2) UU Perkawinan dijelaskan bahwa Pengadilan hanya akan memberikan izin kepada suami untuk beristeri lebih dari satu jika:
a. isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri;
b. isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan;
c. isteri tidak dapat melahirkan keturunan.
***
Halo pembaca yang baik.
Masih tahan dengan konfliknya atau jiwa sudah meronta-ronta?
Wkwkwkwk shabaaar, mau diajak naik ke puncak kebahagiaan ga nih?
The best view come after the hardest climb" - unknown
Love, Author.
Likenya, komennya, Votenya ditunggu!
.