
"Mohon Tuhan, untuk kali ini saja.
Lancarkan lah hariku, hariku bersamanya.
Hariku bersamanya" - Hari Bersamanya by Sheila on 7
***
Maya menatap manik mata pria di depannya itu.
Sorot matanya masih teduh selayaknya dulu ia pertama kenal.
Ada gurat halus di ujung matanya, tanda ia mulai menua.
Pandangan mata Maya sebenarnya membuat Ikhsan ragu, entah itu pandangan benci atau pandangan ingin cepat pergi meninggalkan pertemuan mereka.
"Lo mau pesan apa?" tanya Ikhsan canggung.
Maya tersenyum, ia melambai pada si pelayan The Cabin yang dengan segera mendatangi mereka.
"Lo mau pesan apa?" Maya bertanya balik pada Ikhsan saat buku menu disodorkan oleh si pelayan.
Dengan cepat Ikhsan menutup buku menu nya dan menatap si pelayan.
"Saya order apa yang dia order, ya" ujarnya mantap.
Maya mengulum senyumnya.
Ia lalu mengangguk tanda setuju pada pelayan yang kemudian mencatat orderannya.
"Lo gak mesen apapun, May?" tanya Ikhsan, ia merasa tidak mendengar menu apapun disebutkan oleh Maya tetapi pelayan justru sudah mencatat dan pergi.
Maya hanya mengangkat bahunya. Lalu, ada hening diantara mereka.
Jujur saja, Maya merasa tidak mau pusing memikirkan untuk memulai topik pembicaraan.
Toh yang mengajak bertemu adalah Ikhsan.
Tetapi, seiring detik dan menit berlalu, Ikhsan tak kunjung buka mulut.
Ia hanya berulangkali melihat ke jendela dan menunduk.
"Lo mau bicarain apa, san?" Ah, akhirnya Maya mengalah untuk membuka topik duluan.
Mendengar suara Maya, Ikhsan langsung sumringah.
Seolah itu adalah tanda bahwa Maya menerima kehadirannya dan bukan merupakan keterpaksaan.
"Gue, sebenarnya... mau..."
"Mau?"
"Mau bilang, gue kaget banget ketemu lo di kantor Pak Galang, May"
"Terus?"
"Hmm terus..." Ikhsan tampak gelisah lalu menggaruk rambut belakangnya yang sedikit berkeringat.
Perlahan tangan kanannya meraba saku celananya hendak mengambil sesuatu.
Tring!
Sebuah cincin perak terjatuh di lantai dan menggelinding ke arah sepatu Maya.
Maya melirik saat cincin itu menabrak ujung sepatunya dan berhenti disitu.
"A.." Ikhsan menganga. Sebuah bom atom meledak di kepalanya.
"Ya?" tanya Maya sambil kembali menatap Ikhsan, tidak memperdulikan cincin yang ada di depan sepatunya itu.
Di ujung restaurant, Madame Sophie terpekik.
"Oh my god! Did he just propose our Maya?" tanya Madame Sophie sambil menarik-narik lengan baju si pelayan.
Sementara si pelayan sama gugupnya dengan Madame Sophie.
Ikhsan masih tidak bernafas. Tapi ia tampak tidak mau menyerah.
Tangannya merogoh kembali ke saku celananya.
Ia lalu mengeluarkan sebuah kertas dan membukanya.
"Gue, punya beberapa list pernyataan dan pertanyaan.
Biar gak lupa. Soalnya gue juga belum tau kapan bisa dapat kesempatan ketemu sama lo lagi" ujar Ikhsan tanpa jeda.
Maya menarik nafasnya, ia tidak menduga bahwa Ikhsan akan datang dengan cara seperti ini, menghubungi nya, meminta bertemu kembali dan mempersiapkan list yang entah apa isinya.
Jantung Maya berdegup, antara ingin dan tak ingin mendengar list dalam kertas itu.
"Tapi, sebelumnya... sorry" Ikhsan menunduk untuk mengambil cincinnya yang jatuh.
Dengan gugup Ikhsan mengambil cincin itu dan "Jdugg!"
"Aw! Aw! Aw!" pekiknya sambil mengusap-usap kepalanya.
"Astaga, san! Hati-hati dong! Lo gak papa?" Maya terkejut juga dengan bunyi hentakan keras kepala Ikhsan yang menghantam meja kayu yang cukup tebal.
"Aw! Sakit! Kepala gue pusing May!" Ikhsan tampak masih memegang erat kepalanya.
Maya melemparkan pandangan ke sekekelilingnya berharap ada pertolongan namun suara kesakitan Ikhsan membuatnya gugup.
Ia lalu menghampiri dan berdiri disamping Ikhsan.
"Duh, Are you okay?" tanya Maya sambil merunduk menatap Ikhsan yang meringis kesakitan.
Sedetik kemudian, Ikhsan berhenti bersuara. Perlahan ia membuka satu mata kanannya dan melirik ke arah Maya yang berwajah khawatir. Mulutnya tiba-tiba tersenyum jahil.
"Bercanda, gue May" ucapnya santai dan langsung merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Mata Maya langsung membelalak dan mulutnya ternganga tak percaya bahwa ia baru saja di jahili Ikhsan.
Bagaimana mungkin pria ini malah bercanda di pertemuan serius dan canggung seperti ini.
Tak tahan dengan rasa kesalnya Maya langsung memukul bahu Ikhsan.
"Aw aduh! Sakit, tau May!"
"Ih Ikhsan! Lo ya, gak ada akhlak! Bisa-bisanya bercanda!" pekik Maya yang segera meninggalkan Ikhsan dan duduk kembali di meja nya dengan wajah cemberut.
"Haha, habisan May lo dingin banget sih. Sampai gugup dan keki gue.
Gue jadi gak tahu harus gimana, padahal udah seneng banget bisa ketemu sama lo kayak gini" ucap Ikhsan dengan senyum berlesung pipitnya.
Maya hanya mendengus kesal tidak menjawab. Ia lalu melirik Ikhsan.
"Beneran gak sakit itu kepala?"
"Hm, sakit dikit sih. Tapi gak papa lah, berhasil ngerjain elo juga hehe" Ikhsan menjawab dengan cengiran layaknya anak kecil yang suka dengan perhatian yang ia dapatkan.
Maya mau tidak mau ikut tersenyum, Ikhsan memang berhasil mencairkan suasana walau harus mengorbankan kepalanya terbentur meja.
Semoga saja Ikhsan memang bercanda dan tidak ada benjol dikepalanya.
"Lagian, siapa suruh pakai ngejatuhin cincin segala" ucapan Maya kali ini berusaha mempertegas suasana. Meski Maya ingin sekali tidak membahas cincin itu.
"Oh, iya sorry. Tadi sebelum kesini, tangan gue keringetan karena gugup.
Takut cincinnya meluncur karena licin, trus jatuh. Kalau hilang kan bahaya.
Gue juga kurusan, jari-jari gue mengecil May" ucap Ikhsan asal sambil menunjukkan jemarinya ke depan wajah Maya.
Maya menepuk jemari Ikhsan untuk menyisihkannya, sekarang Maya justru gemas dengan tingkah Ikhsan.
Pria ini benar-benar merasa sudah menguasai suasana.
"Apa kabar Yrene?"
Ikhsan tampak menyimpan cincin itu lagi, kini di dalam dompetnya.
"Yrene baik, mungkin bulan depan lahiran" jawab Ikhsan singkat.
"Ayo balik lagi ke sini" ucap Ikhsan lagi sambil menepuk kertas yang ada di meja.
Ah iya, benar juga. List pernyataan dan pertanyaan itu. Hampir saja Maya lupa.
Kalau Ikhsan menginginkan pembicaraan yang terarah sebab waktunya sebelum flight tak banyak, tentu itu alasan yang masuk akal. Maya menurut saja dan memutuskan untuk berhenti bertanya-tanya mencari kabar kehidupan Ikhsan yang justru sebenarnya tidak ingin ia ketahui.
"Ok, Kartika Kancanamaya bin Bapak Mahadi"
"What? Why? Kenapa menyebut-nyebut nama bokap gue?"
"Ssst!" Ikhsan hanya melirik Maya dan kembali fokus pada kertanya.
Pria itu lalu menarik nafas dalam-dalam.
Anehnya, wajahnya mulai memerah semerah tomat.
Dengan sadar, ia lalu menaikkan kertas yang ia baca hingga menutupi hampir seluruh wajahnya.
"Maya, gue ingin memberikan pernyataan.
Pertama-tama, mohon maaf karena sudah mengejutkan lo di pertemuan kita beberapa hari yang lalu.
Gue juga kaget, gue gak tahu lo kerja di kantor Pak Galang.
Seandainya gue tahu, gue pasti akan cari cara menghubungi lo duluan.
Walaupun gue gak tahu bisa dapat nomor lo dari mana"
"Dari Yrene?" potong Maya.
"Emh, gue gak kepikiran nanya Yrene" jawab Ikhsan singkat lagi.
Gue juga minta maaf ga menyapa atau memulai komunikasi sama lo saat meeting selesai.
Gue selain gugup, gue juga gak mau dikira sok kenal ke lo sama Pak Galang.
Jadi gue menyesali hari itu. Sorry"
"Apologize accepted" jawab Maya.
Ikhsan tersenyum, ia kembali fokus pada kertanya lagi.
"Pernyataan ke dua.
Gue seneng banget bisa ketemu sama lo setelah sekian lama gak punya kesempatan itu.
Yah, walaupun di hari pernikahan gue sempet ketemu sama lo sebentar.
Hmm... Di kamar bridesmaid...
Berdua...
Nge bantuin lo nge-ritsleting dress..
Dan mijitin bah, adduh!!"
Maya menendang tulang kering kaki Ikhsan, membuatnya meringis kesakitan.
"Gak usah diperjelas!" tukas Maya sewot, tentu saja ia masih ingat betul kejadian itu.
Dan justru jika sedang larut dalam pusara kenangan, Maya masih merasakan tangan lembut Ikhsan di bahunya. Mendengar Ikhsan yang megurai kejadian itu membuat kuping Maya panas saking malunya.
"Duhh.. Iya, Iya. Gue lanjutin nih, ya.
Tapi justru lo menghilang. Gue sadar ada yang salah antara gue dan elo.
Semenjak lulus SMA lo selalu menjauh. Dan justru menghilang setelah gue nikah sama Yrene.
Jadi, pernyataan ke dua adalah...
Gue merasa kehilangan lo dan sekarang senang banget bisa ketemu sama lo lagi" Ikhsan menghembuskan nafas lega dapat menyelesaikan pernyataan ke dua nya.
Kini, jantung Maya yang sedang mencelos.
Tiba-tiba ia merasa kakinya basah, seolah air laut sedang menenggelamkan dirinya.
Menyeretnya kembali pada pusaran perasaan yang ia pendam jauh dalam palung hatinya.
"Pernyataan ke tiga" suara Ikhsan perlahan menjadi lebih tenang meski seluruh wajahnya masih tertutup kertas.
Ikhsan membuka suaranya lagi,"Semenjak pertama kali ketemu lo di SMA, jujur gue kagum sama lo.
Bisa dibilang gue nge fans banget sama lo. Lo cantik, supel, cerdas, dan punya karakter yang kuat.
Gue bisa liat itu dari mata lo, raut wajah lo, dan merasakan itu dari percakapan pertama di perpus saat wawancara dulu, kalau lo masih inget." Ikhsan berhenti dan diam.
"I think since the day we met I have a crush on you" Ikhsan mengucapkan kalimatnya secara perlahan. Seolah memastikan Maya mendengar hal ini.
"Kalau kata David Archuleta...
Do you ever think
When you're all alone
All that we could be?
Where this thing could go?
Am I crazy or falling in love?
Is it real or just another crush?
Do you catch a breath
When I look at you?
Are you holding back
Like the way you do?
'Cause I'm trying, trying to walk away
But I know this crush ain't going away" (Crush-David Archuleta)
Setelah mengucapkan sepenggal lirik dari lagu Crush-David Archuleta, Ikhsan menghela nafas.
"Buat lo, gue mungkin cuma anak laki-laki yang suka gangguin elo.
Sorry, tapi gue gak pernah merasakan perasaan seperti itu dikala itu.
Gue gak tahu cara bersikap selain selalu tiba-tiba gangguin lo.
Gue gak punya bahan untuk ngedeketin cewek se-menarik dan se-berprestasi kaya lo.
Gue gak punya apapun untuk bisa gue banggakan dan berhadapan dengan lo.
Jadi, pernyataan ke tiga adalah. Maaf, gue telat ngomong ini.
Tapi... dulu gue suka banget sama lo.
Gue terlalu pengecut untuk make it happens, lo terlalu jauh untuk gue gapai, May" Ikhsan memberi jeda pada pernyataannya yang cukup panjang.
Maya dapat melihat tangan Ikhsan menggenggam erat kertas yang ia pegang.
Buku-buku jari pria itu mengeras tanda bahwa pernyataan itu tak mudah ia ucapkan.
"May, gak mudah buat gue untuk menyerah sama perasaan ini.
Terutama after all this time, sometimes, yang gue inget adalah...
Lo adalah subject terbaik yang pernah ada di kamera gue.
Membuat gue kadang takut untuk memulai motret lagi.
Takut subject yang gue cari hanya lo.
Jadi, karena ini adalah kesempatan yang mungkin Tuhan berikan pada gue.
Mungkin hanya ini kesempatannya. Jadi gue harus berusaha dengan baik menggunakan kesempatan itu.
Sekarang, gue akan ke list berikutnya.
Hanya ada 1 pertanyaan" Ikhsan kemudian terdiam.
"Kalau aja, dulu gue beranikan diri nyatain perasaan gue ke elo.
Will you laugh at me? Will you take it seriously? Will you look at me as a man? Will I have a chance?" Ikhsan menurunkan kertasnya dan memperlihatkan sendu pandang dari matanya.
Ada rasa perih yang hangat di mata Maya. Begitu pula rasa tercekat di tenggorokannya.
Sebelum air mata Maya jatuh, ia cepat-cepat menundukkan kepalanya.
Bagaimana bisa hari ini Maya mendengar sesuatu yang tak pernah ia bayangkan.
Bagaimana bisa ia tak pernah tahu akan perasaan Ikhsan tentangnya.
Bagaimana?
Tiba-tiba saja, terlintas kalimat yang Galang pernah sebutkan tentangnya...
"That's so typical of you. Too focus on only you. You're not the center of this life, Maya.
Yang punya perasaan dan pendapat bukan cuma lo.
Dan bukan begitu cara dunia bekerja"
Maya menghapus air matanya.
Bukankah ini semua sudah terlambat? Bukankah ini semua tidak akan ada artinya?
Rasa sesak menjalari dadanya, seolah ia akan tenggelam dan tersedak oleh air matanya sendiri.
Maya meremas tangannya dengan kencang, memberikan cukup kekuatan agar ia tetap tegar menghadapi kenyataan yang tak pernah ia duga.
Maya kemudian memutuskan untuk nanti saja meratapi kesedihannya, ia lalu memilih untuk menghadapi Ikhsan kali ini dengan lebih jujur. Ikhsan benar, mungkin waktu ini adalah satu-satunya kesempatan.
"You are a married man, Ikhsan.
What would you expect from me?" suara Maya lirih dan berat, membuat Ikhsan cepat-cepat menunduk juga.
Ada genang air mata di ujung mata yang Ikhsan jaga agar tak terjatuh.
"Ternyata benar. Gue yang salah.
Gue yang udah melewatkan kesempatan untuk mengejar lo saat itu.
Gue menyesal, May. Maafin gue..."
Maya menatap sosok Ikhsan yang kini menunduk dalam-dalam.
Tangannya masih meremas kertas putih itu.
"San, giliran gue" ucap Maya lirih.
Ikhsan mengangkat wajahnya dan manik mata mereka bertemu.
***
Hi pembaca yang baik!
Mohon dukungannya dengan selalu hadir di kolom komentar ya!
Komentar, Like, Vote dan Share kalian sangat membantu author untuk berkembang!