The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Grape and Mayonnaise



Hari sudah menjelang sore, tetapi pria sweater kuning dengan rambut berantakan itu belum juga makan siang.


Tangannya sibuk membalas email dan mereview dokumen yang datang silih berganti serta menandatangani berulang kali dengan tambahan kata "Sign for Galang Rahardja".


Saat menyadari hampir semua to-do-list nya sudah tercoret, pria itu akhirnya meraih ponselnya dan membuka aplikasi pesan antar makanan online.


Akun pesan antar online itu menunjukkan nama Rayyan Akhmad dengan tampilan foto profil yang sangat necis.


Sungguh sangat berbeda dengan penampilannya sekarang.


Ia bagaikan korban dari penyakit hempasan angin puyuh dengan rambut yang berantakan, wajah pucat dan kelelahan.


Tapi ia segera menepuk pipinya untuk memberi semangat pada dirinya sendiri.


"Sabar Ray, lo harus sabar. Your effort will be paid off. Galang bakalan utang Baccarat Rouge 540 ke gue! Kebetulan parfum lo juga udah mau abis kan, Ray. Tahan... Tahan..." ujar Rayyan sambil kembali duduk tegak dan melanjutkan pekerjaannya.


Sekilas ia melihat aplikasi chat dengan akun Galang. Pesannya masih juga centang satu.


Galang benar-benar mematikan ponselnya.


Dalam hati, Rayyan mengutuk.


"Awas aja kalo lo berdua sampai jadian. Bayar mahal lo berdua ke gue. Gue korban dari waktu bolos kerja kalian ya!"


"Hatchi!" Galang merasakan gatal diujung hidungnya lalu bersin dengan tiba-tiba.


"Bless you!" sahut Maya.


"Lo gak papa? Masuk angin ya? Udahan yuk cabut aja?" tanya Maya lagi seraya mengambil handuk kecil yang tergeletak disampingnya.


Mereka berdua sedang duduk dan merendam kaki dibawah aliran air sungai di resto tempat Galang dan Maya makan siang.


Usai makan siang tadi, Maya penasaran apakah pihak restoran memperbolehkan jika ia bermain air diujung sungai buatan tersebut.


Ada tangga batu yang seolah membuat air terjun mini dari aliran air sungai menuju kolam.


Dengan suasana yang tenang dan air jernih yang tampaknya sejuk, Maya benar-benar tegoda untuk main air.


Setelah ternyata diperbolehkan dan justru diberi bonus handuk untuk lap tangan dan kaki, Galang malah ikut memesan snack dan minuman untuk cemilan bermain air.


Meski merasa geli dan konyol, pada akhirnya Maya dan Galang malah lupa waktu.


"Gak papa kok gue, May. Iya cabut yuk, udah jam segini aja ternyata" jawab Galang sambil menunjukkan jam tangannya.


"Eh iya ya?" Maya juga sedikit terkejut, walaupun sebenarnya ia sungguh menikmati waktu bersama Galang dengan bermain air.


Maya merasa sangat beruntung hari ini.


Pilihan menu makan siang yang tepat, suasana restoran yang tenang, juga saat-saat santai bermain air yang sungguh menenangkan.


"Makasih ya Lang, I feel so much better today" ucap Maya saat mereka sudah berada di mobil Galang.


"Berarti utang gue lunas ya? Kan lo juga pernah gue repotin sampai bawa-bawa ke IGD segala"


"Gue gak pernah menganggap itu utang kok, Lang"


"Bercanda gue. Ok, shall we?" tanya Galang sambil menghidupkan mesin mobil.


Sesampainya di lobby parkiran apartement Maya, suasana menjadi hening di dalam mobil.


Maya tiba-tiba merasa bibirnya kelu, begitu juga sendi tubuhnya terasa kaku.


Ia seharusnya tinggal mengucap terimakasih atas kebaikan Galang selama 2 hari ini dan berjanji akan masuk kembali ke kantor lalu pamit keluar dari mobil.


Tapi apa daya, ia malah bingung memilih kata. Yang terbayang di benaknya sekarang adalah pria yang disampingnya ini adalah bukan sekedar teman melainkan bos nya.


Pikirannya juga terbayang apa yang harus ia lakukan saat masuk kantor besok, akan ada gosip yang beredar dan sudah pasti harus di klarifikasi demi kebaikan profil profesionalitas mereka berdua.


Galang yang juga diam sebenarnya sedang bingung, kenapa Maya justru diam dan bukan berpamitan keluar.


Sejujurnya Galang belum benar-benar rela melepas Maya.


Sebab ia masih menunggu sebuah momen.


Ya, momen itu.


Momen dimana ia mendapatkan kepercayaan Maya, dan Maya membuka dirinya.


***


Maya menabrakkan keningnya ke cermin toilet apartmentnya dan menutup matanya rapat-rapat.


Ia lalu menghembuskan nafasnya keras sehingga cermin toilet menjadi buram berembun.


Galang ada di apartementnya, sedang duduk di ruang tamu.


"Oh, Maya bodoh! What did you just do?" rintih Maya sambil mulai mengambil sikat gigi.


Pikiran Maya memang sedang tidak normal seperti biasanya, ia yakin bahwa saat ini ia belum sepenuhnya menjadi dirinya sendiri.


Tapi dikuping Maya, ada setan laknat yang berbisik dan memprovokasi Maya agar sikat gigi.


Hm, hal ini untuk antisipasi adegan yang tidak terduga seperti di film-film dimana seorang pria tiba-tiba mencium rekan kerja wanitanya.


Meski Maya mengutuki pikirannya, ia toh menyelesaikan sikat giginya juga.


Maya lalu duduk diatas bath tub sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Selain begitu asal menawarkan Galang untuk mampir ke apartmentnya, Maya juga sadar dia tidak punya makanan apapun untuk disuguhkan.


Kulkasnya hanya berisi cemilan berupa buah anggur dan air mineral dingin.


Lemari makanannya hanya ada beberapa bungkus mie instan saja.


Namun Maya sebenarnya tidak sepenuhnya merasa ceroboh mengundang Galang mampir.


Sudah sepantasnya ia berterimakasih pada Galang yang menemani Maya saat sedang depresi.


Ia lalu dengan cepat merapikan rambut dan mengoleskan pelembab bibir, lalu keluar toilet dan menuju dapur.


"Sorry ya, Lang. Gue gak punya makanan apa-apa nih, gak sempat nyetok makanan di kulkas" ujar Maya sambil menelan ludah.


Ditangannya, Maya membawa sepiring buah anggur hitam dan dua buah botol air mineral.


Galang sontak tertawa.


"Wah terimakasih atas hidangan sehatnya, Non"


Maya tidak menjawab, ia hanya bersungut-sungut sebab malu.


"Gue emang payah banget ya, Lang. Lo yang cowok aja ada tamu datang bisa menyajikan makanan enak, masak sendiri pula.


Gue, cewek malah cuma ngasih air mineral" ucap Maya sambil menjatuhkan dirinya ke sofa.


Lalu sedetik kemudian dia mengambil sebuah anggur.


"May, lo punya mayonnaise?"


Tanpa menjawab, Maya kembali ke kulkas dan mengambil sebuah toples kaca kecil berisi mayonnaise.


Galang membuka toples tersebut dan mencolek buah anggur ke mayonnaise lalu memakannya.


"Ew!" Maya berdigik melihat apa yang baru saja Galang lakukan.


"Hahaha, ini beneran enak! Cobain deh!" Galang mengambil kembali satu buah anggur, mencolek anggur ke mayonnaise dan memberikannya ke Maya.


Maya dengan enggan mengambil anggur dengan mayonnaise dan memasukkannya ke mulut.


"Hmm, not bad. Kaya makan salad juga kok ya" ucap Maya sambil mengunyah.


Galang tak menjawab, ia hanya menaikkan alisnya tanda bahwa pilihannya lagi-lagi tak salah.


"By the way, tadi gue sempetin lihat rak buku lo. Koleksi buku lo banyak juga ya. Beberapa buku-buku hebat malah!" Galang membuka pembicaraan sambil menyilangkan kakinya, sementara tangannya sibuk mencolek anggur ke dalam toples mayonnaise.


"Ini, gak nyangka gue lo juga suka. Bukunya si Ayah, Kang Pidi Baiq. Lengkap pula koleksi Drunken series lo. Haha..."


"Literasi Kang Pidi Baiq emang paling enak di baca dengan gaya tulis yang unik" jawab Maya menimpali.


Galang mengangguk setuju.


Rupanya selama Maya di toilet tadi, Galang sudah mengambil beberapa jenis buku dari rak buku Maya.


Detik berikutnya, Maya seperti patung es. Sekujur kakinya dingin dan waktu serasa melambat.


Tepat saat itu pula, Galang mengambil dan membuka buku jurnal tebal reportase saat Maya SMA.


Seperti sebuah momen slow motion, sebuah surat yang tak pernah terkirim terjatuh dari sela buku tersebut.


"Ups!"


Galang kaget ada sesuatu yang tergelincir dari buku yang ia buka.


Tangan Galang refleks menangkap benda yang ternyata adalah sebuah surat itu dan pada waktu yang bersamaan menangkap tangan Maya yang berusaha mengambil surat tersebut.


"Sorry! Maaf, May! Gak sengaja!" Galang dengan cepat menarik tangannya.


"Put that book back. Slowly, on the table" suara Maya terdengar sedikit mengancam.


Galang ingin tertawa dan menebak-nebak apakah Maya sedang bercanda atau apakah ini adalah sebuah buku diary.


Tetapi buku yang ia pegang ini terlalu tebal untuk sebuah diary. Meski penasaran, Galang menurut dan meletakkan buku tersebut di atas meja.


Maya menghela nafas dan berpindah duduk ke samping Galang.


"Lang?"


"Ya?"


"Lo bisa jaga rahasia sampai mati?" tanya Maya dengan ekspresi serius.


Galang menelan ludah, jantungnya mencelos. Pelan tapi terlihat, ia mengangguk.


This is it, this is the moment Maya will share her story.


***


Langit begitu gelap dan hujan mulai turun saat Galang berada di persimpangan jalan keluar dari area gedung apartment.


Lampu lalu lintas masih menyalakan warna merah, Galang menyempatkan untuk menyesap kopi yang ia beli dari kafetaria lantai dasar apartment.


Lampu berubah warna menjadi hijau, Galang kembali memacu mobilnya.


Sudah cukup malam tapi tampaknya Galang akan melewatkan makan malam. Ia sungguh tidak berselera makan.


Lagi pula sepanjang sore ia sudah menghabiskan sepiring buah anggur di apartment Maya.



Sepanjang jalan, Galang tak mampu memikirkan hal lain.


Ia benar-benar masih terpaut dalam cerita Maya.


Jika benar Maya menyukai orang yang sama sejak pertama kali kenal dan bertemu, berarti sudah hampir 15 tahun Maya menyimpan perasaannya.


Galang hampir tidak percaya bahwa Maya sudah melakukan berbagai cara untuk melupakan, pergi dan move on namun perasaan suka itu tetap masih ada.


Maya bahkan sudah mencoba untuk dekat dengan pria lain tapi hatinya bagai pintu mati, tak terbuka dan tak tersentuh sedikit pun.


Maya bilang, ia tak mungkin terus berpura-pura suka dan tertarik pada saat mencoba menjalin hubungan yang pada nyatanya hati Maya tidak pernah bisa mencoba menyayangi.


Galang akhirnya paham maksud kalimat Maya saat ia kesal dengan surat cinta 4 rekan kerja mereka.


Di memori Galang seakan terputar kembali momen dimana mereka cabut dari kantor dan menghabiskan waktu untuk tenang dengan makan es krim di restoran fast food dekat kantor.


"*Kenapa sih kayaknya lo marah banget?" Galang hati-hati memulai percakapan.


Maya menghela nafas.


"Gue lagi ga bisa buka hati, Lang*."


Benar. Mana mungkin hati Maya bisa tersentuh hanya dengan usaha sebulan dua bulan?


Sementara perasaan yang Maya pendam sudah berumur 15 tahun.


Dan, siapa tadi nama pria laki-laki yang Maya sebutkan?


Duh, Ia justru lupa. Untuk hal sedetail itu.


Galang mengerjapkan matanya. Ia teringat sesuatu.


Seluruh sel otaknya kini mengaitkan semua kejadian dengan cerita Maya sore tadi.


Penyebab Maya begitu sedih adalah ketika ia bertemu salah satu orang dari perusahaan IT consultan yang ia rekrut.


Galang mengerutkan alisnya berusaha mengingat. Ia mengigit bibirnya dan memiringkan kepala.


"Ikhsan? Si Ikhsan? Masa sih?"


***


Hi pembaca yang baik 🙋


Mohon dukungannya terhadap karya author dengan klik like dan berikan komentar 💞