
Senja sudah hadir di langit dengan pias oranye miliknya. Maya kini sudah berada di taksi menuju rumah sakit. Di tangannya ada sebuah bouquet bunga mawar putih untuk di letakkan dikamar Ikhsan. Menurut pesan dari Yrene, Ikhsan sudah melalui operasi dengan baik dan sekarang sudah ada di ruang rawat inap. Bunga ini mungkin bisa di letakkan di meja ruangan rawat Ikhsan.
Pandangan mata Maya sudah sembab, ia benar-benar sudah tak bisa lagi berargumen dengan logikanya. Dirinya terlalu lemah menghadapi situasi ini. Sebelum ia akhirnya memutuskan untuk menjenguk Ikhsan lagi, Maya sudah menghubungi seseorang yang ia percaya akan selalu memihaknya. Selalu ada mendukungnya seburuk apapun situasi yang sedang ia hadapi. Seseorang itu sedang menunggu Maya di kantin rumah sakit, tempat dimana mereka membuat janji.
Begitu sampai, Maya melangkahkan kakinya cepat untuk menemui seseorang yang sedang menunggu dirinya. Ia dapat dengan cepat mendapati sosok yang ia cari melalui rambut jigrak khas dan jaket hijau tua favoritnya.
"Arya!" sapa Maya dengan suara melengking saking senangnya.
Pria yang merasa dipanggil itu menolehkan kepalanya ke arah Maya yang tengah berlari dan menubruk tubuhnya. "Ayam ku!" balas pria itu sambil memeluk Maya erat lalu dengan sengaja mengangkat tubuh Maya tinggi-tinggi.
"Arya! Thanks for being here! I miss you to death!" ucap Maya dengan suara yang hampir tidak jelas sebab masih menenggelamkan wajahnya dalam pelukan pria yang dia panggil Arya itu.
"Ah! Kangen juga gue! Nyaris setahun gini kita gak ketemu! Sorry belum bisa ngunjungin lo ya dek!"
Maya melepas pelukannya dan menatap Arya, sang kakak sematawayangnya dengan sumringah. "It's okay. Harusnya gue yang nyempetin datangin lo."
Arya kembali duduk di kursi. "Kenapa sih ngajak ketemuannya di rumah sakit gini? Aneh banget."
Maya tak langsung menjawab, ia memesankan dua cangkir kopi susu hangat.
"Bunga?" tanya Arya lagi saat Maya meletakkan bunga yang ia bawa dan tasnya di atas meja.
"Arya, ada hal serius yang ingin gue bicarakan dengan lo," ucap Maya sambil menggenggam tangan Arya, membuat pria itu dengan segera menelan ludah menatap wajah serius adiknya tersayang.
Arya adalah kakak kandung Maya satu-satunya. Mereka tumbuh dengan baik dan sangat akrab meski usia mereka terpaut 10 tahun jaraknya. Sejak Maya masih duduk di kelas 2 SD, Ia telah menjadi yatim ditinggal Sang Ayah. Sejak itu pula, Arya menjadi lelaki yang selalu melindungi Maya dan bersama Sang Mama ia juga mendidik Maya menjadi perempuan tangguh serta mandiri.
Maya menarik nafasnya dalam-dalam. "Lo kenal Ikhsan, kan?" tanya Maya dan langsung dijawab dengan anggukan cepat oleh Arya.
"Kenal. Teman SMA lo dulu, yang jago moto? Gebetan lo dulu kan ya? Aw!" Arya langsung meringis saat maya meremas keras-keras tangannya.
"Dia lagi sakit, sempat koma dan sampai sekarang masih belum sadar." Begitu Maya menjelaskan keadaan Ikhsan, air muka Arya berubah menjadi simpati.
"I'm sorry to hear that, May. Dia kenapa, May?" tanya Arya pelan.
"Ya', janji sama gue jangan bicara apapun sampai gue mempersilahkan. Okay?"
***
Arya mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia tak perduli sudah berapa banyak tissue yang ia habiskan sebab berulang kali mengelap air matanya mendengar cerita sedih dari adiknya tersayang.
"Gila ya, May! Bangga gue punya adik kaya lo. Gue sendiri mungkin akan bunuh diri, ga akan tahan gue menyimpan perasaan seperti itu. Apa rasanya hidup gak pernah bahagia karena cinta yang kita miliki sepenuhnya masih terpaut pada orang lain," lirih Arya.
Maya menghela nafas lagi dan lagi, "Itu lah sebabnya gue menyibukkan diri dengan karir dan numpuk harta gini." Maya menyesap lagi kopinya, menunggu Arya meneguk air mineral hingga kandas agar ia bisa bernafas normal kembali.
"Terus," Arya ragu ingin melanjutkan kalimatnya, ia takut menyinggung perasaan Maya.
"Gak papa, Lo gak perlu segan," Maya sudah tau pertanyaan apa yang Arya akan lontarkan.
"Lo, yakin udah dapat ijin dari Yrene dan keluarga besar mereka?"
Maya mengangguk sambil menunduk malu. Mendengar hal itu dari mulut kakaknya sendiri justru membuat Maya merasa lemah, tetapi ia tahu, hanya pada Arya lah ia bisa jujur tentang apa yang ia khawatirkan.
"May," Arya menyentuh dagu Maya dan mengangkat wajah adiknya itu. "Lalu? Apa yang memberatkan lo?"
"Gue khawatir banget dengan konflik yang mungkin terjadi jika gue salah ambil keputusan, Arya. Terutama gimana dengan pandangan orang lain?"
Arya tersenyum, "Hey? Sejak kapan lo perduli dengan omongan orang lain? Jelaskan ke gue, jika lo bahagia apakah mereka tahu? Jika lo sedih dan menderita apakah mereka juga tahu dan perduli?"
Arya memperbaiki postur tubuhnya, "Orang yang ngomongin kita dibelakang, itu artinya dia telah tertinggal jauh dibelakang kita. Selama langkah yang lo ambil itu benar dan bermoral, gue akan mendukung lo sampai kapanpun. Dan lo tahu itu." Arya dengan tegas menatap mata Maya.
"Tapi," ucap Arya lagi, "Tapi... lo tahu kan resiko seandaianya lo menjadi... the 2nd woman?"
Maya menggeleng, "Gue gak tahu apa resikonya. Gue juga gak tahu seandainya nanti gue hadapi apakah gue sanggup. Gue dilema, ini bukan hal yang mudah, Arya."
"Iya, gue tahu. Kita ngobrol sama Mama yuk. Gue temenin," ajak Arya sambil balik menggenggam tangan Maya.
"Gue malu menghadap Mama dengan masalah begini, Ya'. Mama juga akan malu punya anak perempuan seperti gue," lirih Maya dengan wajah memerah.
Arya menggeleng, "Masalah ini benar-benar sudah merusak mentalitas lo banget ya, May. Disituasi seperti ini, lo gak sedang merebut suami orang. Lo saat ini sedang harus memutuskan, akan menerima cinta dia atau tidak. Dan kalau memang seperti yang lo ceritakan, baik Yrene, keluarga Yrene dan Ikhsan sudah menerima keputusan Ikhsan ini, ya semua memang tinggal ada di putusan lo. Lo terima, akan gue bantu urusan lo, termasuk jadi wali nikah lo. Lo tolak, gue juga akan mendukung lo. Lo boleh kok tinggal di rumah gue buat self healing kalau perlu."
Arya menatap Maya yang pandangan matanya kosong. "May, kita telfon Mama ya?"
***
"Ma..." Mata Maya sudah basah. Mereka kini sedang berada di mobil Arya dan terhubung dengan Sang Mama di telepon. Sementara itu tangannya di genggam erat oleh Sang Kakak.
"Oh Sayang, Maafkan Mama yang tidak pernah tahu kesedihan kamu. Nak, pilihan yang akan kamu ambil itu sangat berat. Tidak mudah menjadi istri, apalagi menjadi istri ke dua," suara Sang Mama kini sudah serak sebab menangis hebat. Ya, hati seorang ibu mana yang tidak terluka perih mendapati anak nya harus menjadi wanita ke dua dalam hidupnya.
"Maya tahu, Ma. Maya juga takut, Maya takut banget Ma mengambil keputusan ini..."
"Nak, apakah cintamu pada Ikhsan begitu dalam? Tidak bisakah kamu menyerah saja? Apa tidak ada pilihan lain, Nak?"
Tangis Maya kembali pecah, Maya yakin pertanyaan mamanya terlontar disebabkan karena rasa sayangnya. Seandainya ia menyerah, ia tidak punya keberanian menghadapi Yrene yang justru sudah begitu tegar menghadapi siatuasi ini. Juga menghadapi dan mengkhianati cinta Ikhsan. Maya juga akan membohongi hatinya.
"Maya, kamu anak yang cerdas. Kamu akan tahu segala resiko kesulitan baik dimata hukum ataupun sosial. Yang Mama perdulikan hanya kebahagiaan kamu. Mama tidak akan ikhlas jika kamu menderita, Sayang," isak Sang Mama.
"Pikirkan lah sekali lagi. Mama akan memberi restu hanya jika kamu yakin kalau kamu akan bahagia dengan pilihan yang kamu ambil, Sayang."
Maya mengangguk, "Iya Ma, Maya mengerti."
Maya mengembalikan ponsel Arya setelah percakapan berakhir. Kedua kakak-beradik itu kini terdiam berdua dan hanya saling tatap.
Arya akhirnya bicara, "Biar gue ngomong lagi ke Mama. Kalau Mama mengenal sosok Ikhsan, dan mendengar lengkap cerita lo, Mama mungkin akan lebih memahami semua ini."
***
Maya sudah berada di lantai 6 tempat rawat inap kelas VIP dimana Ikhsan terbaring. Sebelum ia masuk ke kamar rawat inap Ikhsan, Maya membasuh wajahnya. Meski tak sepenuhnya menghapus bekas sembab di mukanya, paling tidak rona wajahnya kembali segar.
Baru saja Maya beranjak keluar dari kamar mandi, ia justru berhadapan dengan seseorang yang akan kembali menguras emosinya. Ibu dari Ikhsan.
"Kamu akan mengunjungi Ikhsan, kan?" tanyanya lembut. Air mukanya tampak semakin letih. Mungkin disebabkan setengah hari berdiri di lorong depan ruang operasi menunggu kabar Ikhsan.
"Tolong berikan semangat padanya, dia sudah berjuang keras di meja operasi, Nak! Bantu Bunda, bantu Yrene untuk membawa Ikhsan kembali," pinta Sang Bunda sambil menggenggam tangan Maya.
Maya menyentuh tangan perempuan tua didepannya itu. Ia lalu menjawab pelan, "Saya akan coba sebisa saya, Bunda."
Mereka lalu berjalan menyusuri koridor menuju ruangan rawat Ikhsan. Maya sebenarnya merasa sangat segan berada di dekat Ibu Ikhsan, ia merasa sepertinya Sang Bunda sangat menggantungkan harapan kesadaran Ikhsan melalui kehadiran Maya. Padahal, Maya sendiri tidak tahu harus berbuat atau berbicara apa di depan tubuh Ikhsan nanti.
***
Langkah kaki Maya memasuki ruangan rawat Ikhsan. Suasana disana begitu sepi, hanya ada Yrene yang sedang duduk disamping Ikhsan. Ibu Ikhsan sendiri tidak masuk dan hanya mengantarkan Maya saja ke ruangan Ikhsan. Menyadari kehadiran Ikhsan, Yrene menoleh dan tersenyum lemah.
"Thanks udah datang lagi, May," sapa Yrene, suaranya terdengar sedikit serah mungkin karena lelah menangis. Sudah lebih dari 24 jam Ikhsan belum juga sadarkan diri.
Bulu kuduk Maya meremang melihat penampakan Ikhsan pasca operasi. Tubuh itu masih saja pucat dan tidak tampak layaknya makhluk yang memang hidup. Kepala Ikhsan masih dibebat perban, dan hidungnya masih menggunakan selang oksigen. Tangan Ikhsan juga terlihat pucat, kukunya memutih dan lengannya banyak terdapat bekas suntikan obat dari perawat.
"San, Maya udah datang. Bangunlah..." ucap Yrene dengan bibir bergetar sambil terus menggenggam tangan Ikhsan. Namun, tubuh Ikhsan tetap diam tak bergeming. Tidak ada tanda-tanda respon. Yrene mengulang beberapa kali bahkan sekarang lebih dekat ke telinga Ikhsan. Nihil.
Yrene mengalihkan pandangannya ke Maya dan menggeleng, "Ikhsan seharusnya memberikan respon tanda-tanda kesadaran pasca operasi. Jika sampai besok Ikhsan belum juga sadar, mungkin akan perlu observasi dan tindakan lanjutan, May."
Maya menutup mulutnya untuk menahan tangis. Ia berjalan lebih dekat ke tubuh Ikhsan dengan kepala menunduk.
"May, Ikhsan masih punya satu keinginan yang dia ucapkan sebelum Ikhsan tidak sadarkan diri, dan lo tau dengan benar itu apa, kan?" tanya Yrene yang dijawab anggukan lemah Maya.
"Say it, May... Bangunkan Ikhsan lagi, beri dia kesempatan hidup untuk mengejar cintanya lagi," Yrene menatap lurus-lurus wajah Ikhsan, sangat merindukan saat-saat dimana mata itu terbuka lagi.
Ada hening menggantung di udara, namun kemudian Maya membuka bibirnya untuk berbicara.
"San, bangunlah. I can't give you my answer if you don't wake up," lirih Maya.
Ada embun nafas yang lebih banyak dari biasanya pada selang nafas Ikhsan, Yrene yang memahami tanda-tanda itu segera menatap angka pada layar monitor. Heart rate Ikhsan sedikit meningkat, artinya ada respon dari tubuh Ikhsan terhadap suara Maya.
"Maya! Coba lagi, louder!" perintah Yrene.
Maya menyentuh jemari dingin Ikhsan, "San, please wake up! Wake up, Ikhsan!"
***
Ikhsan membuka matanya, kali ini dia berada di sebuah tempat asing yang begitu dingin. Ia terbangun sebab ada cahaya kuning yang menuntunnya untuk membuka mata dari tidur yang terasa cukup lama. Ia kemudian duduk dan mencoba berdiri. Tubuhnya begitu ringan, tetapi kepalanya terasa berat. Saat Ikhsan menoleh, ia dapat melihat tubuhnya sendiri terbaring di tempat tidur.
Ikhsan mengangkat pandangannya dan mendapati Yrene yang terlihat resah dengan terus memandangi tubuh Ikhsan lalu beralih ke monitor, begitu berulang kali. Sementara disampingnya ada seseorang. Ikhsan tidak begitu mengenali sosok itu sebab ia terus menunduk sedih. Tetapi ketika sosok itu kembali membuka suaranya, ada senyum yang terukir di wajah Ikhsan.
Perlahan, Ikhsan mendekatkan wajahnya kepada wajah Maya. Ikhsan kemudian berbisik, "If I wake up, it's because you owe me an answer, dear."
***
Telinga Maya berdengung, sebuah angin dingin yang entah dari mana berhembus membuat rambut Maya sedikit bergerak. Yrene bahkan mendekap sikunya sebab ikut merasakan hawa dingin tersebut.
Kedua perempuan itu saling tatap tanpa suara. Yrene kemudia tersenyum, senyuman yang tulus dan begitu bahagia, "I think he hears you," lirihnya.
Manik mata Yrene semakin terbuka lebar saat melihat gerakan spontan pada bola mata Ikhsan. Dengan cepat, Yrene memencet sebuah tombol panggilan darurat pada perawat. Yrene butuh mengabarkan peningkatan kondisi kesadaran Ikhsan. Meski itu hanya sebuah gerakan bola mata, itu adalah pertanda otak Ikhsan sudah kembali bekerja dan merespon.
***
Soundtrack of this episode: Yellow by ColdPlay
"Look at the stars
Look how they shine for you
And everything you do
Yeah they were all yellow
I came along
I wrote a song for you
And all the things you do
And it was called "Yellow"
So then I took my turn
Oh what a thing to have done
And it was all yellow
Your skin
Oh yeah, your skin and bones
Turn into something beautiful
You know, you know I love you so
You know I love you so"
***
Mohon dukungannya ya untuk terus komen, komen, komen, like, like, like, vote, vote, vote!
Bergabung dan ngobrol lebih dekat bareng author di Group Chat yuk!
See you there!
Love, Author.