The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Love Drunk 2 (End)



Maya meremas gaunnya disisi kursi. Jadi benar, kini giliran Ikhsan yang merasakan perasaan terkutuk itu. Setelah Maya, Galang lalu Yrene, kini Ikhsan harus merasakan sendiri perihnya melihat pernikahan orang yang ia sayangi. Barang sedikitpun, Maya tak lagi berani mengangkat wajahnya memandangi Ikhsan yang terlihat sungguh-sungguh larut dalam lantunan lagu. Padahal, nyaris semua orang terpana menatap Ikhsan yang sedang menyanyi di panggung kecil itu.


Ketika Ikhsan selesai menyanyikan lagu yang sepertinya sangat mewakili perasaannya itu, hadirin bertepuk tangan heboh. Barulah Maya berani mengangkat pandangannya lagi. Denar dugaan Maya, wajah memerah pria itu emmang dikarenakan sedikit mabuk. Ia tampak sedikit terhuyung saat beranjak dari pianonya. Alih-alih turun menyudahi penampilannya, Ikhsan malah berbalik ke arah gitar. Ia lalu menunduk sambil menyetel gitarnya dan telihat tertawa sendiri.


Melangkah dengan terhuyung ke depan microphone, Ikhsan berdehem sekali lagi. "Thank you for the cheers, ladies and gentlemen!" ucapnya bak rockstar diatas panggung. Anehnya, hadirin malah semakin bertepuk tangan menikmati performa keahliaan musik Ikhsan.


"More Ikhsan, more!" teriak sebuah suara dari kerumunan belakang. Suara itu tak lain adalah suara Ronald. Pria tambun itu langsung terpukau oleh keahlian musik Ikhsan. Ia berencanan akan menawarkan Ikhsan untuk sesekali datang dan nge-jam di klub karaokenya. Tentu banyak yang akan tertarik datang melihat penampilan memikat Ikhsan. Tetapi, tentu saja, setelah dia dapat dukungan Virsa, istrinya agar bisa merayu ijin dari Yrene.


"Yup, don't worry. I still have one more song," ucap Ikhsan lagi masih sambil tersenyum lebar. Kentara betul ia mabuk berdiri sana. Ia lalu seperti memberi kode pada para anak muda yang berada dibalik alat musik band. Anak-anak muda pemain musik itu ikut tertawa riang dan semangat. Sepertinya kali ini Ikhsan tidak menyanyikan lagu melow.


Saat musik sudah mulai terdengar, orang-orang mulai bersorak. Kali ini musik yang Ikhsan dan para pemain band mainkan terdengar *catchy, *membuat para hadirin meletakkan minuman dari tangan mereka dan mulai berdansa.


"Yes, this song is very special, for our beautiful bride Maya and her fool but so damn husband, ups!" Ikhsan sedikit tertawa lalu kembali lagi asik dengan gitarnya.


Kali ini Maya yang tampak khawatir dengan Galang. Maya menelan ludah menyaksikan pandangan tajam Galang pada Ikhsan. Bahkan guratan dagu Galang terlihat sangat kaku menahan marah. Maya mengelus tangan Galang yang masih ia genggam dengan ibu jarinya. Berharap Galang tetap tenang, tidak ada gunanya bereaksi terhadap apa yang Ikhsan perbuat saat ini. Mungkin saja Ikhsan hanya sedang melampiaskan rasa sedihnya, jadi sebaiknya hiraukan saja Ikhsna dan perasaannya.


"I see you driving 'round town


With the girl I love


And I'm like forget you!


I guess the change in my pocket wasn't enough


I'm like forget you!


And forget her too!


Said, if I was richer, I'd still be with ya


Ha, now ain't that some ***?*


And although there's pain in my chest


I still wish you the best, With a forget you!


*Huhuhu!" *


Ikhsan tampak mulai berdansa diatas panggung. Kancing atas kemejanya sudah terlepas dan keringat tipis di dari kirinya yang berkilau karena sinar matahari membuat penampilan Ikhsan semakin mempesona diatas panggung. Sorak sorai hadirin membuat pria itu dan pemain band semakin semangat memainkan musik mereka.


"Yeah I'm sorry, I can't afford a Ferrari,


But that don't mean I can't get you there.


I guess he's an Xbox and I'm more Atari,


About the way you play your game ain't fair.


I pity the fool that falls in love with you


Well, I've got some news for you


Yeah go run and tell your little boyfriend


I see you driving 'round town


With the girl I love


And I'm like forget you!


I guess the change in my pocket wasn't enough


I'm like forget you!


And forget her too!" - Forget You by Cee Lo Green.


Begitu menyelesaikan lagu keduanya, Ikhsan mengangkat gitarnya, membuat kemejanya terangkat dan memperlihatkan otot perutnya yang berkotak enam. Beberapa tamu gadis yang mungkin tidak tahu status pernikahan sang vokalis berteriak histeris seolah benar-benar berada di sebuah konser musik idolanya.


Tepukan riuh serta siulan para penonton membuat Ikhsan tersenyum puas sambil terengah-engah. Ikhsan yang setengah mabuk itu lalu melompat dari panggung dan menghampiri Yrene yang sedari tadi berdiri di depan panggung. Ikhsan lalu tiba-tiba menarik pinggang Yrene dan langsung mencium bibir istrinya itu dengan penuh gairah, membuat Yrene sangat kaget dan tidak siap hingga tak bisa menahan beban tubuh Ikhsan. Kedua pasang suami-istri itu berciuman ditengah tepuk riuh para penonton. Benar-benar mengalihakan dan mengubah mood acara pesta yang tenang.


Tidak hanya Maya, namun banyak orang yang lupa menutup mulut saking terkejutnya dengan aksi sang vokalis dadakan itu. Siulan dan tepukan mereda saat Yrene terlihat membantu Ikhsan pergi menuju jalan keluar dari arena pesta. Sementara Ikhsan masih sambil tertawa-tawa melambai pada para hadirin.


"Get a room and have a really nice night, both of you! What a drunk love birds!" teriak Ronald lagi yang diiringi tawa beberapa para hadirin.


Menyadari kemana perginya Yrene dan Ikhsan, Galang secepat kilat beranjak dari tempat ia duduk. Ia harus berbicara pada Ikhsan dan Yrene mengenai apa yang mereka lakukan di acaranya hari ini. Untung saja Galang masih sempat mengejar pasangan itu di area parkir. Yrene tampak sedang meminta kunci mobil setelah mendudukan Ianvs di carseat. Dan tanpa Galang sadari, Maya ikut menyusul langkahnya dan berdiam diri dibalik pagar mencuri dengar percakapan yang akan terjadi.


"Yrene, tunggu!" ucap Galang.


Menoleh dan menghela nafas lelah, Yrene memegangi kepalanya. "Galang, I'm so sorry. I didn't know that this will happened. Maaf banget. Gue dan Ikhsan udah janjian agar Ikhsan cukup menjaga Ianvs dan tidak perlu menemui lo dan Maya," ucap Yrene penuh sesal di wajahnya yang sejenak membuat Galang luluh ikut prihatin.


"Sstt! Stt! SStt! Shhhh, you don't need to say sorry, sayang!" ucap Ikhsan sambil terhuyung bangkit dari posisi bersandar di mobilnya.


"Kenapa, Galang? Lo marah?" tanya Ikhsan lagi. Ia hendak melangkah maju dengan sempoyongan tetapi ditahan oleh Yrene.


"Iya, gue tersinggung dengan lagu yang lo bawakan tadi," jawab Galang tanpa menoleh. Sebenarnya Galang tidak ingin mengkonfrontasi Ikhsan. Toh sedari tadi ia sudah menahan diri. Ia sedikit menyesal malah terpancing oleh sikap Ikhsan.


Ikhsan lalu membalik tubuhnya dan melangkah masuk kedalam mobil. Ia duduk di samping kursi kemudia dan memberi sinyal pada Yrene untuk cepat berangkat. Yrene memberi tatapan maaf sekali lagi pada Galang dan beranjak pergi saat Galang mengangguk.


Menghela nafas, Galang kemudian berjalan kembali ke tempat acara sambil merenungkan apa yang Ikhsan bilang. Benar, akan lebih mudah bagi Ikhsan untuk mencoba membenci daripada terus menerus menyimpan harapan dan angan kosong. Perlahan, Galang tersenyum. Ah, bisa saja si Ikhsan itu! 'Thanks, man,' bisiknya dalam hati.


***


Di tengah perjalanan, Ikhsan membenarkan posisi dan membaringkan kursinya. Sejujurnya wine setengah botol yang ia tenggak tadi tidak benar-benar membuatnya mabuk. Tetapi reaksinya malah justru mulai ia rasakan. Ada perasaan mual yang mulai berputar-putar di perutnya.


"Are you okay, dear?" tanya Yrene. Tidak ada jawaban, Ikhsan malah hanya memberi sinyal untuk terus memperhatikan jalan.


"Yang, kamu serius dengan ucapan kamu ke Galang bahwa kamu akan membenci mereka?" tanya Yrene lagi saat mereka berhenti di lampu merah.


Ikhsan tertawa lalu berusaha duduk, "ya enggaklah. Itu mah biar dia ngelepasin kita aja. Males bicara sama dia, nanti ujung-ujungnya baku hantam lagi. Masuk ICU lagi nanti aku, hahaha!"


Sebab pembawaan Ikhsan yang lucu, Yrene malah ikut tertawa dan mencubit pelan paha suaminya itu. Yrene lalu pedal gasnya lagi, membawa keluarga kecilnya sampai di hotel penginapan.


Saat sampai di kamar, Ikhsan buru-buru berlari ke toilet dan memuntahkan isi makanan dari perutnya. 'Hoeek! Hoeeek!' lalu terdengar kucuran air kloset. Yrene hanya menggelengkan kepala dan mulai membawa Ianvs ke tempat tidur. Anehnya, Yrene malah tiba-tiba ikkut merasa mual. Ia lalu juga terburu-buru berlari ke kamar mandi dan melewati Ikhsan yang terduduk di lantai luar kamar mandi.


'Hoeek! Hoeek! Ugh," Yrene mengusap dadanya. Ia merasa mual namun tidak ada muntahan yang keluar. Ah, mungkin ini hanya pengaruh psikologis karena mendengar Ikhsan muntah.


"Kamu kenapa, yang? Kok malah ikutan?" tanya Ikhsan yang masih terduduk lemas dengan alis berkerut.


Mengangkat bahunya, Yrene menjawab, "entah. Tumben-tumbenan bisa ikutan gini."


"Iya sih, kamu kan orangnya gak jijikan ya," sahut Ikhsan lagi.


Ucapan Ikhsan sejenak membuat Yrene berpikir. Ah, benar juga, Sejak kapan dirinya bisa ikut-ikutan terpengaruh mual hanya karena mendengar orang lain muntah. Hal itu sangat aneh dan hampir tidak mungkin terjadi pada dirinya. beranjak keluar sambil memegangi pinggangnya yang sedikit pegal karena menggendong Ianvs, Yrene mengambil ponselnya untuk mengecek sesuatu. Tampaknya karena sibuk bekerja akhir-akhir ini, Yrene justru lupa kapan terakhir kali ia datang bulan.


Yrene membuka aplikasi kalender ovulasi yang ada di ponselnya dan menjerit tertahan, membuat Ikhsan cepat-cepat mendatangi istrinya itu.


"Ada apa, Yang?" tanya Ikhsan yang datang tergopoh-gopoh sambil memegang botol air mineral. Tampaknya ia baru saja setengah meminum air dan memuntahkannya lagi karena terkejut dengan teriakan Yrene.


"Aku udah telat satu bulan!" pekik Yrene.


Alih-alih ikut terkejut, Ikhsan malah tertawa. "Hahaha! Wah! Ianvs punya adik dong!"


Tak menduga reaksi Ikhsan, Yrene malah kesal lalu mencubit pipi suaminya itu. "Kamu pasti udah sadar kan kalau aku belum dapet-dapet bulan ini?" Jujur saja, Ikhsan terkadang lebih hapal datangnya siklus bulanan Yrene daripada dirinya sendiri.


"Hahaha, aku udah curiga sih, soalnya akhir-akhir ini kamu suka banget beli makanan dari ojek online. Alasannya pengen cemilan, tapi aku curiga sih kamu memang lagi isi," ucap Ikhsan lagi lalu tertawa sambil memeluk Yrene yang kini ikut tersenyum geli, tidak menyangka bahwa bisa-bisanya ia melewatkan hal ini.


***


"Are you okay?" tanya Maya saat galang melewati pagar masuk.


"Hon? Kamu ih, ngagetin aja," sahut Galang. "Kamu dengar semuanya?" tanyanya kemudian.


Maya mengangguk dan menatap khawatir wajah suaminya.


Galang lalu tersenyum, "aku baik-baik aja kok. Yah, trauma juga kalau emosian naggepin Ikhsan. Bisa-bisa aku bermalam di ubin penjara kayak dulu lagi. Dari pada terpancing amarah dan bermalam di penjagar, lebih baik aku menahan diri dan sabar agar selalu bisa tidur malam sama istriku." Galang lalu menggendong istrinya dan sambil tertawa, membawa lagi Maya pada tempat acara.


Meski malu dan sedikit meronta, namun Galang tidak semata-mata melepaskan Maya. Kejadian masuknya pasnagan suami istri baru itu justru malah menarik perhatian hadirin. Ada siulan dan sorak godaan dari dari beberapa orang.


"Wah, what happened with these couples! Bikin keki dan jealous para single aja!" ucap seorang perempuan muda cantik sambil mengibas tangan pada wajahnya yang memerah.


"Loh, kamu kan gak single, beib?" tanya seorang lelaki yang langsung memeluk pinggang perempuan cantik itu.


"Ya kan di KTP atas nama Raden Kinasih Wijaya stautsnya masih single, beib. Belum married, tahu! Ngerti ga Mas Rayyan kekasihku?" perempuan cantik yang bernama Kinasih tadi itu lalu cemberut dan melepas pelukan kekasihnya.


Rayyan lalu mneggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menghela nafas. Tidak menduga bahwa Kinasih sangat jauh berbeda sengan sosok almarhum kakaknya yang sabar menunggu Galang untuk menikahinya saat itu. Berbeda dengan Ratri, Kinasih justru terus menerus minta dinikahi. Membuat Rayyan sedikit gemas. Mungkin memang lebih baik Rayyan segera mulai memikirkan perihal pernikahan.


"Beb, tunggu! Memangnya kamu mau nikahnya dimana?" tanya Rayyan sedikit berteriak sambil menyusul langkah Kinasih.


"Dimana aja, yang penting nikah!" jawab Kinasih asal sambil menahan senyuman.


End.


***


**Finally!


Big bunch of thank you untuk semua pembaca setia TBS (The Bridesmaids Secret)


Butuh waktu yang tak singkat dan berbulan-bulan lamanya untuk menamatkan novel ini ditengah kesibukan yang melanda hebat.


Namun karena dukungan dan semangat kalian semua, saya jadi punya energi untuk menamatkan kisah ini.


Nantikan sekuel bonus di episode berikutnya ya!


Sampai jumpa di karya AYY berikutnya!


Lots of love and happy weekend!


-Author**.