
D-Day (bahasa Indonesia: Hari-H) adalah istilah militer dalam bahasa Inggris yang digunakan sebagai hari dimulainya penyerangan atau operasi militer.
---
Terburu-buru, Galang dan Rayyan memasuki mobilnya. Sejumlah wartawan semakin heboh menyusul langkah mereka. Konferensi Pers yang baru saja Galang dan Rayyan lakukan selama 30 menit itu ternyata tidak juga memuaskan pertanyaan mereka. Galang sudah menduga, pertanyaan mereka juga sebagian besar adalah pertanyaan titipan. Menghindari lebih banyak judul headline berita yang akan semakin aneh tentang dirinya, Galang memutuskan untuk segera pergi saja.
Rayyan yang sudah menduga hal ini akan terjadi juga sudah menyiapkan rencana. Ia mengarahkan agar mobil mereka melaju ceoat ke sebuah hotel. Di parkiran hotel, mereka menukar mobil menjadi sebuah mobil family car biasa. Hal ini menyebabkan para wartawan itu kehilangan jejak. Dengan begini, Galang dan Rayyan bebas bertolak ke rumah sakit untuk melanjutkan rencana mereka menemui Ikhsan untuk meminta maaf secara langsung dan pribadi.
Tak memakan waktu lama, dua pria bersaudara itu sudah sampai di lobby rumah sakit. Sebenarnya, jam besuk dibuka masih 1 jam kemudian. Tetapi, dengan bantuan Bimo, Galang tetap bisa mendatangi kamar rawat Ikhsan di ruangan VIP.
Galang sempat melirik sejenak pada Rayyan yang mengangguk sebelum mengetuk pintu. Ketika ada jawaban 'Masuk!' Galang memutar kenop pintu dan masuk.
Manik mata Galang membesar saat melihat ruangan Ikhsan cukup ramai. Dan sejauh yang Galang kenali, dua diantara mereka adalah rekan kerja Ikhsan yang pernah datang ke gedung TechnoMedia. Lalu, yang lebih mengejutkan adalah Ikhsan tampaknya sudah akan pulang. Tangannya sudah tidak berselang infus serta beberapa barang terlihat sudah disipakan dalam tas dan siap dibawa.
"Permisi, Ikhsan. Mohon maaf mengganggu dan datang tidak di jam besuk. Ada yang ingin saya sampaikan," ucap Galang seraya menegakkan punggungnya. Di sampingnya, Rayyan juga berdiri tegak untuk memberi dukungan pada sang bos agar tidak gentar melakukan misi sore ini.
Ikhsan melirik orang-orang yang mengelilinginya, termasuk ayah dan ibunya. Ia lalu membisikkan sesuatu yang membuat kerumunan itu berangsur pergi, walaupun sempat Galang mendengar desis tajam yang membuatnya mengepalkan tangan sejenak dari salah satu orang. Ya, Galang saat ini memang dituduh sebagai 'Orang sok berkuasa yang bebas dari jeratan hukum karena kekuasaan dan kekayaannya.'
Ketika ruangan itu hanya berisi Ikhsan, Rayyan dan Galang, dengan tegap CEO TechnoMedia itu berjalan mendekat. Ia lalu mengulurkan tangannya pada Ikhsan.
"Ikhsan, gue mohon maaf atas perbuatan gue yang menyebabkan lo harus mengalami insiden ini. Insiden yang hampir merenggut nyawa lo. Gue memohon maaf sudah membuat lo dan keluarga serta teman-teman lo bersedih dan mengalami cukup banyak kerugian akibat perbuatan gue," ucap Galang dengan tenang. Pandangannya lurus menatap Ikhsan.
Ikhsan menarik nafasnya dalam, dan perlahan menyambut uluran tangan Galang. "Gue maafkan. Dan selamat sudah bebas dari tuntutan hukum."
Galang mengangguk, "Gue akan memberikan permohonan ganti rugi termasuk seluruh pembiyaan pengobatan lo hingga sembuh yang akan di urus oleh Rayyan. Mohon diterima sebagai bentuk penyesalan gue."
Saat namanya disebut, Rayyan mengangguk sopan.
Ikhsan tersenyum, sedikit kepayahan ia berusaha berdiri agar sejajar dengan Galang. Melihat hal itu, Galang dengan kaku ingin membantu tetapi Ikhsan memberi sinyal bahwa ia sudah mampu berdiri.
"Sudahlah, lo gak perlu melakukan itu. Gue juga udah ngomong ke team gue untuk tetap melanjutkan kerjasama. Hanya saja, gue gak bisa ikut kembali dalam team mengingat kondisi gue yang belum pulih. Sebaliknya, kerugian yang dialami TechnoMedia itu penyebabnya bukan di gue ataupun team gue. Ada orang yang sedang bermain kotor di perusahaan lo. Sebaiknya lo selidiki saja. Kita sama sekali tidak terlibat," ujar Ikhsan tenang.
Galang mengangguk, dan menatap Ikhsan berjalan pelan tertatih menuju pintu keluar. Rayyan mengedip pada Ikhsan, memberikan kode agar Galang menanyakan perihal venue akad Ikhsan dan Maya besok.
"Ikhsan, maaf. Tapi, besok adalah hari pernikahan lo dan Maya kan?" tanya Galang kemudian saat menyadari kode yang diberikan Rayyan.
Langkah Ikhsan terhenti dan ia membalik tubuhnya. Ia menatap Galang dengan alis berkerut.
"Dimana kalian akan nikah? Gue sempat berpikir akan di rumah sakit ini," ucap Galang santai seolah ia bertanya tanpa niatan apapun.
"Meskipun hanya akad tentu saja gue akan menjaga sebaik mungkin sakralnya pernikahan. Lo boleh datang kalau lo memang mau. Jam 9 Pagi di Hotel Royale."
Rayyan dan Galang saling melirik kebingungan. Reaksi Ikhsan sungguh membuat mereka heran. Ia bahkan mengundang Galang?
"Tapi ingat, Lang," lanjut Ikhsan lagi. "Menjauhlah dari kekacauan. Jangan bikin keributan. Percuma."
Ikhsan kemudian berbicara lagi, "You should know her if you love her. You should trust her if you really love her. Gue tahu Maya, dia tidak akan melakukan sesuatu jika bukan itu yang ia inginkan. Ia tidak akan menerima gue kembali jika ia tidak mengharapkan cinta yang gue punya untuknya. Berusaha menghentikan ini semua hanya akan membuat kekacauan lagi."
Di penghujung pintu dengan tangan di kenop, Ikhsan sekali lagi berucap, "Listen, You should let her go if you love her."
***
Di sepanjang perjalanan menuju hotel penginapan, Galang hanya diam. Rayyan bahkan tidak berani menegur atau bahkan sekedar bertanya. Ia dengan inisiatifnya membatalkan jadwal penerbangan pulang dan justru memesan kamar hotel untuk menginap.
"Lang, lo yakin mau datang besok?" tanya Rayyan akhirnya saat memarkin mobilnya di parkiran hotel yang telah ia pesan.
Galang diam, ia bahkan keluar dari mobil tanpa mengucapkan kata apapun. Rayyan tahu, saat ini Galang sedang tidak ingin berkata apapun. Jika keadaannya sudah seperti ini, biasanya Rayyan hanya akan diam saja dan menunggu Galang berbicara atau memerintah kembali.
Sejenak, biarkan Galang berpikir jernih. Ia tidak punya banyak waktu. Kali ini, benar-benar tidak ada waktu.
***
Malam semakin larut saat Maya tersadar pipinya disentuh oleh tangan yang lembut. Meski terasa sangat berat, akhirnya ia membuka matanya. Sang Mama sedang mengelus lembut puncak kepala putrinya yang tertidur kelelahan begitu pulang tadi sore.
"May, kamu belum makan malam. Makanlah, besok hari yang panjang dan besar. Jangan sampai tidak ada energi," lirih Mama Maya.
Bukan berniat mengabaikan, tetapi Maya sama sekali tidak berniat untuk memakan apapun setelah seharian perasaannya di kacaukan oleh banyak orang.
Mata membalikkan tubuh lalu menghadap mamanya, "Ma, kenapa semua ini tidak terasa nyata?"
Mamanya tersenyum, Ia lalu memeluk putrinya itu dengan erat. "Mama bukan orang yang pandai berkata-kata. Kemampuan bicara yang hebat kalian berasal dari Papa. Seandainya beliau masih hidup, mungkin hanya mendengar nasehatnya kamu bisa lebih tenang."
Menundukkan kepalanya, Maya menggigit bibir menahan air mata rindu pada sang Papa. "Benar. Tapi Mama selalu hebat dalam melimpahkan perasaan sayang Mama pada aku dan Arya."
Maya mengangkat kepalanya, teeingat sesuatu, "Katanya, kita bisa berdoa kan untuk memanggil orang yang sudah meninggal masuk ke dalam mimpi. Maya ingin sekali bertemu Papa malam ini di mimpi. Mendengarkan nasehatnya tentang perasaan resah dalam mengambil keputusan menikahi Ikhsan."
Mama Maya mengangguk, ia mencium kening lalu menyelimuti putrinya. "Tidurlah, Mama juga akan berdoa untuk hari besar esok. Pasrahkan semua pada Yang Maha Kuasa, May. Doakan agar hatimu mengetahui langkah mana yang tepat kamu ambil sebelum akad nanti."
Maya mengangguk dan memejamkan matanya. Setelah mamanya pergi, kantuk mulai hadir kembali di pelupuk matanya. Sebelum ia jatuh terlelap lagi, otaknya berbisik, "Sebelum akad?"
***
Halo pembaca yang baik?
Jangan lupa untuk selalu mendukung dengan like, komen dan vote nya ya!
Stay safe every time!
Love, Author.