
Senja perlahan turun menjemput malam di kota, membuat lampu-lampu jalanan mulai bertugas untuk menyala dan menerangi. Namun sayang, ada hati yang tampaknya masih kesulitan mencari cahaya untuk jalan hidup menuju kebahagiaan yang kini terasa semakin menyempit. Yrene, menghela nafasnya saat meletakkan Ianvs yang terlelat di baby box. Entah kenapa rasanya berat sekali berpisah tidur dengan Ianvs. Seingatnya, ini pertama kali ia tidak tidur bersama Ianvs.
Agenda Yrene malam ini adalah menemani Ikhsan, suaminya. Ia harus menginap di rumah sakit sekaligus menjaga ayah dari Ianvs itu. Meski Yrene sudah mulai merasa tenang karena kondisi Ikhsan sudah semakin baik, tetapi sakit di kepala dan hatinya belum juga berkurang. Ia enggan mengakui bahwa keputusan Ikhsan untuk benar-benar akan menikahi Maya merupakan penyebab utama gelisah hatinya. Yrene hanya terus melakukan sugesti pada dirinya bahwa ia hanya merasa lelah akibat bolak-balik ke rumah sakit mengurus Ikhsan dan sekaligus mengurus bayinya.
Setelah selesai mengepak tasnya, Yrene memutuskan untuk membawa mobil saja kali ini. Ia khawatir jika tengah malam atau sewaktu-waktu harus pulang jika terjadi sesuatu pada Ianvs. Ini akan memudahkannya jika ia menyetir sendiri. Selesai berpamitan pada orang di rumah, Yrene menekan pedal gas mobilnya menuju rumah sakit. Ujung matanya sempat melirik notifikasi group chat 'The Bitces' yang sedari tadi muncul di ujung atas ponselnya. Menelan ludah, Yrene tau bahwa mereka sedang merayakan Bridal Shower* untuk Maya. Tania diam-diam memberi tahunya. Ini merupakan momen yang tepat untuk merayakan malam lajang bagi Maya, mumpung Yrene juga sedang ada agenda menemani Ikhsan. Sehingga absennya kehadiran Yrene merupakan hal yang sangat wajar.
Sesampainya di depan parkiran rumah sakit, tangan Yrene mencengkram setir kemudi erat. Ia tidak dapat menahan godaan untuk melirik isi group chat yang terus menerus membagi foto-foto. Sebenanrya Tania sudah menawarkan pada Yrene agar dirinya dikeluarkan dari Group Chat. Tapi Yrene menolak, ia bilang bahwa ia akan baik-baik saja dan mungkin dapat menahan godaan untuk tidak melihat isi group chat itu. Nyatanya? Jemari Yrene saat ini sedang bergerak men-scroll foto-foto yang dibagikan disana.
Menahan nafasnya, awalnya Yrene merasa sesak. Hati kecilnya terasa ngilu membayangkan bahwa sahabatnya merayakan hari dimana seorang gadis akna menjadi madu suaminya. Tetapi, melihat ada senyum dan tawa mereka disana, juga senyum Maya... perlahan bibir Yrene ikut terangkat. Berkumpul disana merayakan hari spesial bagi Maya, pasti sangat menyenangkan. Tentu saja Yrene berharap ikut merayakan jika seandainya alasan dibalik kejadian ini bukanlah pernikahan kedua suaminya.
Jemari Yrene mengetuk sebuah kiriman video, membuat video itu berputar. Dibalik heboh dan berisik tawa sahabatnya yang sedang mendandani Maya dengan lipstik di wajah, ada suara tanya jawab dari Adel, Nina dan Virsa di background.
Nina: Lo yaki lo masih perawan ting-ting May? 31 tahun? Ting-ting?
Maya: Yakiiinn, gila lo ya. Gue ga sebangsat kalian.
Jawaban Maya mengundang tawa dari semuanya. Lalu Adel mengalihkan dengan gilirannya bertanya.
Adel: Lo kan ga pernah pacaran sama calon suami lo ini. Dan lagi ehem, calon suami lo kan udah pasti pengalaman nih. Menurut lo malam pertama lo bakal gimana nih? Mana lo udah nge-fans sejak SMA pula!
Maya: Malam pertama jidat lo, doi lagi sekarat di rumah sakit! Abis nikah paling banter nih, cuma pandang-pandangan doang! Puas lo?!
Lagi-lagi jawaban Maya mengundang tawa heboh dari sahabat-sahabatnya.
Gemetar, Yrene menahan nafasnya lalu mematikan video itu dan segera menutup group chat. Benar juga, jika Ikhsan menikahi Maya, itu artinya Ikhsan dan Maya juga akan melakukan hubungan suami istri yang halal. Tapi mengingat kondisi Ikhsan, tidak mungkin mereka akan melakukan hubungan itu jika Ikhsan masih terbaring di tempat tidur rumah sakit. Atau, mungkin kah?
Ah, Yrene memijit kepalanya dengan tangan yang gemetar. Perlahan, manik mata hazelnya melirik jam tangan. Sudah 2 hari ini dirinya bebas dari nifas dan jika dihitung-hitung maka Ikhsan sudah hampir 40 hari tidak melakukan hubungan suami istri. Jika malam pertama Maya merupakan pelampiasan suaminya yang sudah lama tidak melakukan hubungan itu... Ah, Yrene mengigiti jarinya. Tiba-tiba ia terpikirkan sebuah ide yang cukup ekstrem. Yrene memejamkan matanya dan menelan ludah.
Perlahan, tangannya meraba kedalam tas dan mengambil sebuah parfum. Ia menyemprotkan parfum tersebuh ke leher jenjangnya dan mengolekan sedikit ke dada bagian tengah. Malam ini, bisa jadi malam terakhir Yrene berduaan dengan Ikhsan sebagai suaminya yang seutuhnya. Maka malam ini, seharusnya menjadi malam yang tak pernah Yrene lupakan. Ia memutuskan akan menjadi istri yang Ikhsan nantinya akan selalu rindukan di manapun dan kapanpun, termasuk di malam hari dan di ranjang manapun Ikhsan berada.
***
Yrene sekali lagi bercermin di kaca kotak bedaknya dan membuka kemejanya lebih ke bawah sebelum mengetuk pintu ruang rawat Ikhsan. Rambutnya sengaja ia biarkan terurai, dan ia sudah berpesan pada suster jaga bahwa Bapak Ikhsan Al-Hakim tidak menerima kunjungan tamu apapun setelah memastikan bahwa pemberian makan dan obat terakhir di jam 7 malam. Tadinya, Ikhsan sedang ditemani oleh Pak Jason, pengacara keluarga Yrene. Tetapi Pak Jason tersebut sudah pamit dari 30 menit yang lalu. Sekarang, Yrene harus bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Menarik nafas dalam-dalam, tangan Yrene perlahan membuka pintu kamar rawat Ikhsan. Setelah ia masuk, jemari Yrene memutar kenop pintu hingga terkunci. Saat itu Ikhsan tampaknya baru saja meletakkan berkas yang diberikan Pak Jason ke atas meja nakas. Ia tersenyum saat menyambut kehadiran Yrene. Yrene mengulum senyumnya saat ia yakin manik mata Ikhsan membesar melihat penampilannya.
"Yang? Kamu abis dari mana? Kok cantik banget?" tanpa sadar, Ikhsan memperbaiki posisi duduknya.
Segera setelah meletakkan peralatan dan tas yang ia bawa, Yrene menutup rapat tirai jendela yang masih sedikit terbuka.
"Hm? Kenapa? Emang aku ngga boleh dandan cantik saat mendatangi suami aku sendiri?" tanya Yrene seraya duduk diatas tempat tidur Ikhsan, sengaja memastikan Ikhsan juga mencium aroma tubuhnya.
Ikhsan menelan ludahnya, ia sebenarnya ingin menggaruk kepalanya yang merupakan kebiasaannya saat salah tingkah. Tapi mengingat kepalanya masih diperban, Ia hanya bisa tersenyum canggung.
"Bukan gitu, Yang, Tapi..." Ikhsan menghentikan kalimatnya saat ia menyadari wajah Yrene terlalu dekat. Bibir istrinya itu terlihat basah dan sangat menggoda.
Yrene menyentuh pelan tangan Ikhsan, seolah memberi sinyal seolah mengatakan pada suaminya bahwa 'It's okay, I want it too'.
Ikhsan meletakkan telapak tangannya pada pipi Yrene dan mulai mencium bibir istrinya itu. Nafas wanitanya terasa segar menyeruak kedalam kerongkongan Ikhsan yang kering, membuat Ikhsan sejenak mabuk dalam ******* bibir istrinya. Nafasnya sedikit memburu, untung kabel monitoring detak jantung sudah dilepas tadi sore, jika tidak mungkin garis deteksi pergerakannya akan sangat rapat dan meninggi.
Yrene melepas ciuman mereka dan menuruni leher Ikhsan yang kulitnya masih sedikit pucat. Baru saja jemarinya membuka kemeja turquoise rumah sakit yang Ikhsan kenakan, tangannya dihentikan oleh genggaman erat Ikhsan.
"Yang, hhh... kamu jangan godain aku dong, parah banget, ih iseng nya," lirih Ikhsan. Ia lalu mencium punggung tangan istrinya sambil menghembuskan nafas berat, melampiaskan sisa nafas yang ia tahan untuk mengendurkan otot kejantanannya yang mulai menegang.
Ikhsan menatap mata Yrene, tidak ada kebohongan disana. Ia lalu menoleh ke arah jam dinding dan pintu kamar, mengkhawatirkan suster yang akan masuk dan memberi obat karena ini sudah mendekati jam 7 malam. Tiba-tiba, pipinya ditarik oleh tangan Yrene.
"Aku udah pesan ke suster jaga, aku akan call suster jaganya kalau udah mau terima dinner dan obat untuk suamiku, Bapak Ikhsan Al-Hakim. Pintu juga udah aku kunci, jendela aman," ujar Yrene sambil ikut melirik ke arah pintu dan jendela.
"Tapi...," kalimat Ikhsan tidak ia selesaikan sebab Yrene sudah ******* kembali bibirnya. istrinya kini membuka kemejanya sendiri dan menindih Ikhsan.
"Yang, kamu udah selesai nifasnya?" tanya Ikhsan ditengah derus kecupan-kecupannya dan Yrene. Ia sedikit sebal dengan jarum infus yang masih terpasang di tangan kanannya. Seandainya jarum itu tidak berada ditangan kanannya, sudah pasti ia akan menggerayangi dua buah tonjolan empuk milik istrinya yang sedari tadi mengganggu fokusnya berbicara.
Yrene memegangi tangan kanan Ikhsan dan mengucinya ke atas tempat tidur dan dengan nafas terengah-engah ia menjawab, "Udah dari 2 hari yang lalu, sayang."
"Kok baru bilang?" tanyanya saat selimutnya ia tendang dan jatuh ke bawah tempat tidur.
"Kamu kan baru sadar!" ujar Yrene sambil terkekeh dan mengigit telinga Ikhsan. Membuat lelaki itu menahan nafasnya dan membalas dengan ciuman di ceruk leher istrinya yang menggoda.
"Yang, matiin lampunya," desah Ikhsan.
Yrene terpaksa turun dari tempat tidur, dan mematikan lampu. Saat Yrene kembali ke hadapan Ikhsan, ia sudah melepaskan bajunya dan mulai menurunkan celana rumah sakit yang Ikhsan kenakan. Yrene kembali menaiki tubuh suaminya, lalu menurunkan pinggulnya pada tegang pedang jantan milik Ikhsan.
Setelah sebuah lenguhan teratur, dan tetesan keringat di tubuh mereka berdua. Keduanya mulai menyatu lebih dekat dan lebih dalam lagi.
"Ah, sayang, I miss you," ucap Ikhsan di tengah bunyi derit tempat tidur rumah sakit. Tangan kirinya menegang memegangi pinggul Yrene yang menaiki tubuhnya.
"Mhm, I miss you too, Ah Sayang," balas Yrene, ia menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan Ikhsan. Tak kuat berlama-lama tegak menaiki badan suaminya itu. Maklum, sejak melahirkan ini baru pertama kalinya ia melakukan hubungan suami istri lagi.
Ikhsan menggoyangkan pinggulnya dengan hentakan lebih keras ke atas, membuat tubuh Yrene bergejolak dan semakin menegang. Sekian menit berlalu memadu kasih melampiaskan rindu, gerakan dan suara keduanya berhenti pada lenguhan panjang Ikhsan.
"Oh, Sayang, gimana caranya aku mandi," keluh Ikhsan yang membuat Yrene malah tertawa.
"Nanti aku bantu," jawabnya sambil menarik diri, takur berlama-lama menindih suaminya yang masih berselang infus itu.
"Hm, Yang. Rasanya beda gak setelah aku melahirkan?" tanya Yrene sambil mulai mengancingkan kemejanya lagi. Setelah lengkap mengancingi bajunya, ia mulai merapikan baju dan celana suaminya.
"Engga sih, masih se genuine yang aku ingat," jawab Ikhsan sambil mengedip.
Jawaban Ikhsan tadi mengundang tawa Yrene lagi. Ia kemudian menghambur pada tangan Ikhsan yang terbuka lalu memeluk erat suaminya itu. Sejenak, ia merasa bahwa pria yang ada dihadapannya ini hanya miliknya seorang. Seperti seminggu yang lalu sebelum semua badai datang bersamaan.
***
Halo pembaca yang baik!
Mohon dukungannya untuk selalu like, komen dan vote ya!
Terimakasih.
Love, Author.