
Yrene terbangun dengan kepala yang begitu sakit.
Matanya kabur terhadap cahaya dari jendela yang lebar. Sahut-sahut terdengar ada suara-suara khas yang ia hapal betul. Ya, suara ini adalah suara lalu lalang keramaian.
Ini, bukan kamar tidurnya.
Ini, kamar rumah sakit.
Yrene memegangi perutnya dan menyadari bahwa ia masih hamil dan belum melahirkan.
Perlahan Yrene ingat, ia pingsan saat sedang menata pakaian bayi nya.
Kehamilannya memasuki usia 37 minggu, dan sudah sangat dekat dengan hari perkiraan lahir.
Yrene mengingat-ingat kenapa ia kelelahan seperti ini.
2 hari yang lalu Yrene mengadakan baby shower dan mengumumkan bahwa bayi yang ia kandung adalah laki-laki. Setelah hari itu, malamnya ia melakukan maternity photoshoot.
Meski proses photoshoot tidak melelahkan baginya, tetapi tubuh Yrene tidak bisa diajak kompromi. Padahal masih banyak sekali agenda yang ada di to-do-list milik Yrene termasuk bertemu vendor untuk merekam proses lahiran nanti menjadi film cinematic yang akan ia kenang paha hari lahir putra pertamanya nanti.
Ikhsan yang sedang tertidur di sofa menyadari Yrene sudah terbangun.
"Hi sayang, gimana perasaan kamu?"
Yrene menggeleng. "Mereka bilang apa?"
Tentu maksud pertanyaan Yrene adalah tentang apa yang dokter katakan pada suaminya.
Yrene memahami kondisi kehamilannya. Sedari awal begitu banyak tantangan yang harus ia hadapi.
Ia mengalami komplikasi selama kehamilan dan menyebabkan gangguan kesehatan.
Kali ini pun, ia kembali terbaring di rumah sakit.
Ikhsan berdiri disamping Yrene dan mengelus rambutnya. Ikhsan merasa bersalah ia lagi-lagi tak mampu membantu banyak apa-apa yang dikerjakan Yrene. Sambil mengecup kening Yrene dengan lembut, tangan Ikhsan juga mengelus perut Yrene.
"Kamu butuh banyak istirahat. Mereka, dokter dan perawat akan melakukan yang terbaik untuk kamu dan bayi kita" ujar Ikhsan dengan suara serak.
Akhir-akhir ini sejujurnya Ikhsan juga merasa cukup kelelahan. Selain sibuk karena urusan pekerjaan, kegiatan persiapan lahiran juga banyak menyita energi dan perhatiannya.
"Iya, kamu juga. Jangan sakit ya, sayang. I need you. We need you" ucap Yrene sambil mengelus perutnya dan mengedipkan matanya, seolah ia dan bayinya berbicara.
Ikhsan tersenyum, ia lalu menunduk dan berbisik di perut Yrene.
"Iya, doain Ayah sehat-sehat dan kuat selalu ya sayang"
"Ayah?" tanya Yrene dengan waut wajah yang bingung.
Ikhsan mengangguk. "Iya, aku maunya dipanggil Ayah"
"Hm, terus aku dipanggil apa ya?" Yrene tiba-tiba bingung. Selama ini ia berasumsi panggilan yang akan mereka gunakan adalah mama-papa.
"Kamu harusnya dipanggil Ibu..." jawab Ikhsan.
"Ibu peri" lanjut Ikhsan dan mengundang Yrene ikut tertawa.
***
Yrene sedang berdiri di pintu kamar, ia baru saja kembali dari dapur memakan buah sebagai cemilan.
Ini sudah buah pear ke tiga yang ia makan. Ia benar-benar butuh banyak energi sebagai persiapak melahirkan nanti.
Sambil mengunyah buah pear, Yrene lekat-lekat memandangi Ikhsan yang juga sedang terdiam menatapi sebuah travel bag.
Ikhsan harus pergi keluar kota dan bertemu salah satu klien besar.
Beberapa rekan kerjanya bilang ini adalah kesempatan sangat baik, rejeki bayi kata mereka.
Tapi meski begitu, Ikhsan merasa sungguh berat meninggalkan kondisi Yrene yang saat ini sedang menunggu hari persalinan tiba.
Yrene sebenernya sudah sangat well-prepared.
Semua keperluan lahiran dan keperluan bayi sudah lengkap tersedia.
Yrene bahkan membagi 2 tas koper yang sama lengkapnya.
Satu tas koper sudah tersedia di bagasi mobil, satu koper lagi ada di kamar.
Ikhsan juga sebenarnya sudah berulang kali menunda jadwal temu, dan berulang kali juga mendapat dukungan Yrene untuk pergi.
Meski kondisi Yrene beberapa hari ini sudah membaik dan kedua orang tua Yrene sudah tinggal dirumah mereka untuk beberapa waktu, Ikhsan masih belum lega untuk pergi.
Entah kenapa, firasatnya sangat berat sekali memutuskan.
Setelah menghabiskan buahnya, Yrene akhirnya menegur Ikhsan.
"Hey Dear, apa lagi sih yang buat kamu ragu? Cuma 3 hari juga?" tanya Yrene sambil memijat bahu Ikhsan.
Ikhsan memegang tangan Yrene, meremasnya dengan lembut lalu menciumnya.
"Aku cuma khawatir..."
"Kamu bakalan nemenin aku lahiran, kok. Aku yakin itu." potong Yrene.
Sebab itulah yang ia doakan di setiap malam.
Ikhsan menarik nafas panjang dan menoleh menatap Yrene dalam-dalam. "I love you. So much"
Hati Yrene mencelos, ada nada sedih dari kalimat Ikhsan.
"I love you, always" jawab Yrene kemudian.
***
Pagi kali ini begitu tenang.
Ikhsan sudah sarapan, mandi dan berpakaian rapi.
Travel bag miliknya sudah ada didalam bagasi mobil yang telah siap diparkir di depan rumah.
Ikhsan sudah me-rescedule jadwal keberangkatannya dengan pesawat sore.
Sebab apa?
Sebab kekasihnya saat ini masih tertidur lelap dan ia tidak ingin membangunkan bidadari cantiknya itu.
Ikhsan duduk di tepi jendela, di samping kanannya ada meja kecil dan sebuah nampan berisi sarapan.
Di sebelah kirinya, ada gitar yang akan ia mainkan saat Yrene terbangun nanti.
Saat matahari beranjak lebih tinggi sedikit, cahaya matahari menelusup masuk menerpa wajah Yrene.
Yrene mau tidak mau akhirnya bangun juga.
Sepanjang malam ia sulit sekali tertidur dengan posisi yang nyaman sebab perutnya sudah besar dan cukup mengganggu kenyamanan tidur.
Saat Yrene bangun, Ia cukup terkejut mendapati Ikhsan yang sudah berdiri dan berpakaian rapi.
"Astaga, your flight?" seru Yrene.
"It's okay. Aku gak telat kok" ujar Ikhsan dengan suara yang menenangkan.
"Kok?"
"Udah aku reschedule ke flight sore" tukas Ikhsan singkat, Ia lalu berjalan sambil membawa nampan sarapan ke tempat tidur.
"Breakfast in bed, and a very nice song for you" katanya sambil meletakkan nampan dan mengambil gitarnya.
"Oh, dear..." suara Yrene tercekat. Jelas saja ia begitu haru.
Mata Yrene menjadi sembab, ia bahkan harus menutup mulut dengan tangannya sebab bibirnya mulai bergetar.
Yrene tidak yakin perasaan ingin menangis ini dipengaruhi oleh mood kehamilannya, ini pastilah perasaan haru karena kasih sayang Ikhsan padanya.
Mendapati setetes air mata Yrene sudah meleleh dipipinya yang memerah, Ikhsan tersenyum.
Ia perlahan memetik gitarnya...
"*Congratulations, you've been pretending to be human So well
Might even fool the neighbors
Reading your Sunday papers
I won't tell
But I know better than to
Bring up the weather with you
And talk about the rain
After you fall asleep, I'll
Kiss both your eyes and cheeks
I know we're not the same
You're an angel
In disguise
You're an angel
In my eyes*"
- Angel by Finneas O'Connell
***
Hi pembaca yang baik 🙋
Mohon dukungannya terhadap karya author dengan klik like dan berikan komentar 💞