The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Healing You



Maya baru saja menutup pintu kamar mamanya dengan mata yang sembab. Ia sudah menceritakan rencananya yang begitu dadakan dan meski ia benci betapa Galang begitu cepat mempengaruhi keputusannya, ia merasa kali ini pasrah. Begitu pasrah, seolah tak lagi punya nyali dan kekuatan untuk bertahan kuat sendiri.


"Assalamualaikum!" sahut sebuah suara dari arah pintu depan.


Jantung Maya mencelos begitu cepat. Suara itu, adalah suara yang baru ia dengar dari telepon setengah jam yang lalu. Mata Maya melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan waktu hampir tengah malam. Maya menahan nafasnya, berharap suara salam tadi tidak terdengar oleh mamanya. Segera Maya melangkahkan kakinya dan membuka pintu. Manik mata Maya membesar.


"Galang!" pekik Maya tertahan. Ia hampir saja meledak, melihat pria yang baru ia temui tadi sore itu sedang berdiri di depan pintu sambil meringkuk kedinginan. Maya sontak menarik lengan Galang masuk ke dalam rumah dan segera menutup pintu.


"Ngapain disini?" cecar Maya


Meniup telapak tangannya sendiri, Galang balik bertanya, "sori, aku cuma mau klarifikasi doang kok. Yang tadi kamu ucapkan di telepon itu benar, engga?"


Maya menahan nafasnya dengan gemas, "emang kalau ngga beneran itu namanya apaan?"


Senyum Galang mendadak terukir selebar yang ia bisa, "syukurlah. Aku pikir kalau itu ngga beneran tandanya aku udah ngga waras, May!"


Maya memutar bola matanya sebal. Mengutuk sikap Galang yang selalu begitu.


Mencondongkan tubuhnya memperhatikan wajah Maya, Galang beringsut mundur. "Marah ya? Maaf, Maya. Aku cuma mau memastikan itu kok. Tadinya aku udah menahan diri untuk datang, tapi penasaran banget. Aku mungkin bisa gila kalau besok pagi dateng ke rumah kamu berharap banyak ternyata cuma salah sangka atau salah dengar percakapan kamu di telepon," jelas Galang.


"Bisa gila? Waras aja kamu kayak gini. Gimana gila coba?" omel Maya.


"Iya iya, aku pulang ini," jawab Galang cepat sambil memegang kenop pintu.


"Eh tapi, May," Galang berbalik, "dingin banget di luar. Aku tadi kesini jalan kaki. Sepeda sudah aku kembalikan ke yang punya tadi sore sepulang dari sini. Boleh pinjem sweater?"


Maya menatap ke arah Galang melempar pandangan. Disitu ada sweater merah bata miliknya. Masih dengan ekspresi sebal, Maya berjalan lalu mengambil sweaternya, dan melempar pelan pada Galang. "Nih, cepet pulang sana, ketahuan orang ronda kan bisa panjang urusan!"


Memeluk sweater dari gadis didepannya itu, Galang tersenyum. "Iya, Makasih. Ah, kalau cuma Kang Apid tukang ronda mah gak takut aku, May. Sering aku temenin ngeronda kok dia mah kalau aku susah tidur kepikiran kamu."


Maya sebenernya ingin menanggapi celotehan Galang, tetapi ia masih berusaha berpikir logis. Jika ada gosip tidak baik tentang dirinya dan pria idola desa satu ini tentu akan meresahkan mamanya. Mamanya bisa juga jadi topik ghibah ibu lurah.


"Yaudah, gih cepet pulang. Hati-hati udah malem!" ucap Maya sambil mendekap tangan di dadanya dengan memasang tampang galak.


Pria yang masih berdiri di antara pintu tertutup dan Maya tampak mengigit bibirnya menahan diri untuk tidak mengucapkan sesuatu.


"Apalagi?" tanya Maya.


"Kamu udah packaging?" Galang balas bertanya.


Maya menggeleng, "belum. Setelah ini mau langsung packing. Makanya kamu cepetan pulang biar aku bisa packing!"


Tiba-tiba Galang malah berjalan melewati Maya dan duduk di kursi. "Aku gak mau pulang sebelum kamu selesai beberes dan packing, May. Nanti kamu jadi punya alasan gak jadi pergi sama aku karena belum siap packing."


Maya membelalakkan matanya, tak percaya dengan apa yang baru saja Galang katakan. Ia menyusul Galang duduk di kursi. Pria itu memasang tampang serius dengan dahi berkerut.


"Kamu serius ngomong gitu? Harus banget nih kita berantem tengah malem?"


"Aku bantuin ya? Please? Bawa aja semua barangnya kesini? Ya?" Galang berusaha mengalihkan pembicaraan, menghindari tatapan tajam Maya.


Maya melengos sebal dan berjalan menjauh lalu membuka pintu. "Pulang, Galang. Aku janji besok kita akan berangkat bareng. Okay?"


Galang menghembus nafas sebal, ia memang tidak akan menang menentang Maya. Dengan bahunya yang turun, Galang berdiri dan berjalan ke arah pintu. Wajahnya menunduk sedih.


Berjalan melewati Maya, dengan lesu Galang berkata, "padahal aku semangat banget mau bantuin kamu."


Galang mengalungkan sweater Maya di lehernya lalu mencium wangi rajutan yang biasanya membalut kulit perempuan didepannya. Ada wangi citrus segar dan menyenangkan disana. "Iya deh, tapi ada satu permintaan aku nih sebelum pulang."


Menyandarkan kepalanya pada pintu yang setengah tertutup, Maya menahan senyumnya dan masih mempertahankan wajah sebal. "Hm? Apa tuh?"


"Izinkan aku menyukai kamu, mencintai kamu sepenuh hati aku, izinkan aku selalu ada di dekat kamu, jadikan aku orang yang bisa kamu andalkan. Dan on top of all of that, Izinkan aku menyembuhkan semua luka yang kamu pendam. Kamu ingat? Aku sangat berpengalaman dalam hal ini. Aku dulu juga, gagal nikah," ucap Galang sambil tersenyum.


Jantung Maya berhenti, ia bahkan lupa menghembuskan nafas yang ia tahan. Sudah seharian ini Galang terus-menerus mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan dirinya. Maya jadi bertanya-tanya, sudah seperti apa pria ini berjuang menahan ego dan perasaan dirinya pada Maya hingga akhirnya terungkap semua seharian ini?


Maya memijit dahinya, kewalahan dengan pernyataan Galang. Jika Galang masih menahan perasaannya lebih lama, mungkin benar pria ini akan jadi gila. Maya lalu bertanya-tanya, apakah memang benar ini adalah saatnya ia menerima Galang sepenuhnya?


"Jangan berpikir terlalu jauh, Maya. Yang aku butuhkan hanya izin dari kamu terhadap perasaan yang aku miliki. Adalah hak kamu jika ingin membalas. Aku janji aku tidak akan pernah menuntut. Tapi suatu saat nanti kamu sudah memiliki rasa sayang dan cinta sama aku, please jangan lari dari perasaan itu," kata Galang sambil menatap dalam-dalam wajah Maya yang kini menunduk.


Perlahan Maya merasakan wajahnya memanas. Setiap kalimat yang Galang ucapkan terasa seperti terucap dari mulut orang yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Ia tidak pernah mendapati sosok Galang yang seperti ini selama ia mengenal bos TechnoMedia itu.


"May," lirih Galang, "kamu punya waktu seluas samudera, ingat? Kamu akan selalu punya waktu dan aku akan selalu menunggu kamu. Tapi selama itu, beri aku izin mencintai kamu dan selalu ada di dekatmu. Hanya itu permintaanku."


Tidak tahu harus menjawab apa, Maya hanya mengangguk pelan. Dan menit berikutnya ia tersadar, sosok Galang sudah berjalan jauh di luar gerbang rumahnya. Punggung lelaki yang baru saja mengungkapkan perasaan cinta padanya itu perlahan menghilang di alam temaram malam.


Maya bersandar pada pintu yang baru saja ia tutup. Sambil memegangi dadanya yang berdegup keras, air mata yang hangat perlahan menetes di kedua pipinya. Jemari Maya bergetar menyentuh air mata yang jatuh.


Menatap nanar basah di ujung jarinya, bibir Maya bergetar lirih, "jadi gini ya rasanya dicintai sepenuh hati? Rasanya sangat hangat dan menenangkan."


Perlahan, Maya menunduk dan menyandarkan kepalanya pada lutut. Ia mulai terisak. Maya merasakan kehangatan di rongga dadanya. Seolah sayatan perih dihatinya sedang diselimuti oleh perasaan yang begitu menentramkan.


Puas menangis, Maya berjalan ke kamarnya. Ia mulai dengan cepat membereskan semua pakaian ke dalam koper. Barang yang ia punya tidak banyak sehingga proses packing lebih cepat dari dugaannya. Pilihannya tepat untuk tidak membiarkan Galang membantu proses packing yang tidak seberapa ini. Jika saja tadi Maya mengiyakan keinginan Galang untuk membantu proses packing, bisa-bisa pria itu bertingkah lebih aneh lagi untuk mencari alasan agar tidak disuruh pulang. Ada senyum lucu terukir di ujung bibir Maya membayangkan hal itu.


Sebuah nada pesan masuk terdengar dari ponsel Maya. Ia hampir sudah bisa menduga siapa pengirim pesan tersebut. Dan benar saja, pria itu lagi yang sudah menjadi trending topic seharian ini.


'May, udah belum packing nya? Barang kamu banyak? Kalau masih banyak yang mau di packing, habis shubuh aku kesana ya bantuin? atau kita berangkatnya siangan? sorean?'


Maya mengulum senyumnya. Ia lalu membalas pesan tersebut


'Udah selesai packingnya. Gih tidur, besok pagi jangan telat!'


Maya membaringkan tubuhnya dan menarik selimut. Ada bunyi pesan balasan tapi Maya lebih memilih untuk membiarkan saja. Khawatir ia semakin terjebak pada pembicaraan lebih lama dengan Galang. Padahal, waktu sudah berganti hari dan besok mereka akan beranjak pergi.


Sementara itu, di layar ponsel Maya ada sebuah pesan tak terbaca berisikan, 'Ok, selamat tidur, Say.'


Dan tak lama muncul lagi sebuah pesan, 'Eh! Selamat tidur, May. Sorry salah ketik!'


Diseberang sana, Galang sedang memaki jemarinya. Ia memperhatikan papan ketik huruf 'S' dan 'M' yang letaknya berjauhan. Jujur, Galang memang tadi tidak bermaksud menggunakan kata 'Say' pada pesan yang ia kirimkan pada Maya.


Dengan perasaan malu, Galang membanting tubuhnya ke tempat tidur dan menarik selimut. Dan perlahan, wangi citrus berasal dari sweater Maya yang masih Galang balut di lehernya mengantarkan ia pada tidur yang begitu menenangkan.


***


Halo, pembaca yang baik!


Selamat beraktifitas, selamat berakhir pekan!


Manfaat waktu di rumah dulu ya, staf safe from covid-19 and covidiot!


Love, Author.