The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Closer



Malam terasa lebih cepat datang semenjak musim telah berganti di penghujung tahun. Hujan sudah turun sejak senja tenggelam dalam pelukan temaram. Dan ditengah kembalinya manusia-manusia kantor ke rumah mereka yang hangat, sebuah gelak tawa terdengar dari kamar lantai atas rumah nomor 17.


"Ayo Ian, kamu pasti bisa, ayo balik lagi ke Ayah," ujar Ikhsan pada Ian yang tengah berusaha membalikkan badannya ke arah kanan. Ian tampak berusaha sekuat tenaga, ia sampai bergumam geram karena menggerakkan tubuhnya terasa sedikit berat dan susah. Setelah mencoba selama 2 menit, Ian menyerah.


"Jyah, hahaha!" gelak tawa Ikhsan dan Yrene pecah bersamaan saat bayi laki-laki gemuk itu akhirnya lagi-lagi berbalik ke arah kiri, dimana sang ibu telah menungu dengan tawa puas dan pelukan gemas. Mendapati gelak orangtuanya, Ian ikut tertawa dan berteriak senang. Air liurnya menetes dari ujung bibirnya, membuat kedua orangtuanya seketika bergidik dan heboh mencari celemek kain ke seluruh penjuru tempat tidur.


Puas bermain, Ianvs mulai mengucek matanya dan menguap. Yrene menggerling ke arah Ikhsan memberi sinyal bahwa pangeran kecil mereka sudah mulai mengantuk dan bersiap untuk ditidurkan. Ikhsan memahami masksud dari pandangan mata istrinya. Ia lalu perlahan beranjak pergi dan mematikan lampu kamar.


Tak lama kemudian, baby Ian yang telah berusia 7 bulan itu sudah terlelap. Yrene menarik tubuhnya sepelan mungkin dan mulai memasang pagar tempat tidur diam-diam.  Setelah memastikan Ian aman untuk ditinggal, Yrene meninggalkan kamar perlahan tanpa menutup pintu sepenuhnya. Sebab ia ingin memastikan tangis Ian terdengar kalau-kalau anaknya terbangun dari tidur.


Yrene berjalan menuju balkon teras belakang lantai atas, ia sudah hapal bahwa sudah berbulan-bulan ini menjadi tempat favorit suaminya untuk menenangkan pikiran. Dan benar saja, begitu sampai disana, Ikhsan tengah menyeruput kopinya.


"Belum makan kok udah ngopi sih, yang?" tanya Yrene dengan alis berkerut.


Ikhsan menyelesaikan tegukannya lalu menjawab, "kenyang, Yang. Tadi di kantor sore-sore ada yang bagi-bagi pizza. Sorry. Kamu makan sendiri, ya? Aku temenin aja?"


Yrene mengangguk tapi kemudian ia berubah pikiran. "Nanti deh, aku juga belum lapar banget. Sambil nonton serial film aja." Yrene lalu menyusul dan duduk disamping Ikhsan.


Mendadak, Ikhsan berbaring dan meletakkan kepalanya di pangkuan Yrene. Ia lalu berbisik, "Thank you for always be there for me and Ianvs. Terimakasih udah tercipta di dunia ini, Yrene. Terimakasih sudah menjadi tempat ternyaman untuk kembali."


Menyentuh lembut pipi suaminya yang terasa basah, Yrene tersenyum pada Ikhsan yang sedang memejamkan matanya. Kalimat yang ia dengar tadi adalah kalimat yang setiap malam Ikhsan ucapkan semenjak tragedi yang menyayat hati semua orang 6 bulan lalu. Yrene selalu menjawab dengan senyuman tanpa kata. Ia tak mampu merespon kalimat Ikhsan yang selalu diucapkan dengan sungguh-sungguh itu. Kalimat itu selalu menjadi penawar bagi luka di hatinya yang terkadang masih terbuka karena omongan manusia-manusia tanpa hati yang terkadang muncul di hari yang menenangkan.


Yrene lalu menyandarkan punggungnya pada kursi sambil tangannya terus membelai rambut Ikhsan. Kembali bekerja di klinik hewan juga sangat membantu kewarasan Yrene. Kembali sibuk menjalani hari dan berkutat dengan hal yang ia sukai justru ternyata membuat Yrene lebih cepat sembuh dari perasaan sakit dihatinya. Ia senang Ikhsan tak berkeberatan dengan kembalinya ia bekerja. Meski itu artinya terkadang Ikhsan harus menggantikan Yrene berada di rumah jika kondisi Ian sedang tidak sehat atau jika Yrene mendadak harus melakukan operasi urgent pada hewan di klinik.


Sambil memejamkan mata, Yrene diam-diam berharap. Bahwa ujian rumah tangga yang pernah melanda dirinya dan Ikhsan akan membuat pernikahan mereka lebih kuat dan hubungan mereka lebih dekat lagi. Akan menyadarkan Ikhsan agar ia lebih mensyukuri apa-apa yang ia miliki sekarang. Dan kepada dirinya, Yrene berjanji untuk menjadi pendamping yang lebih baik lagi, lebih kuat, lebih jujur, sekaligus lebih menjadi dirinya sendiri saat mencintai Ikhsan.


***


Maya sedang berdiri menatap kalender yang ia lingkari. Setelah yakin dengan tanggal tersebut, ia lalu mencatat sebuah tanggal untuk appointment sesi konsultasi pasca trauma terakhir. Sesaat ada perasaan lega akhirnya ia bisa melalui semua sesi tahapan terapi dan konsultasi. Tetapi Maya masih belum benar-benar yakin ia bisa sepenuhnya berdamai dengan kejadian traumatis itu.


Terkadang, Maya masih bermimpi buruk. Di mimpi Maya, berulang kali ia harus berjalan di sebuah Aisle yang dipenuhi tatapan dingin para tamu. Belum lagi saat berdiri di depan meja penghulu, ia tak menemui siapapun di sana. Seolah tidak ada yang ingin mendampingi ia berdiri disana. Jika Maya terbangun dari mimpi buruk itu, biasanya ia akan menangis dan sekuat tenaga mengalihkan pikirannya. Pikiran dan suara-suara di dalam kepalanya yang berkata bahwa selamanya nama Maya tidak pantas berada di dalam ikrar suci pernikahan.


Baru saja Maya meletakkan semua receipt bukti pertemuan sesi-sesi konsultasi dan terapinya di laci, bel pintu apartemen Maya berbunyi. Ia tersenyum seraya melirik jam, merasa puas karena Galang selalu datang tepat waktu. Apalagi, kali ini Maya benar-benar sudah selesai menyiapkan makan malam dengan baik. Terlatih memasak selama 2 bulan terakhir membuatnya sekarang lebih sigap memasak dan menyiapkan makan malam. Dengan langkah riang ia berjalan menghampiri pintu.


"Hai!" sapa Galang, sedikit terkejut dengan ekspresi Maya yang begitu gembira saat pintu terbuka. "Lagi seneng banget kayaknya?"


 "Iya dong, hari ini kayaknya masakan aku enak!" jawab Maya dengan perasaan senang.


Menahan geli, Galang mengulum senyumnya, "wah kalau gitu besok aku harus jogging pagi nih!"


Mengerutkan alisnya sambil menepi mempersilahkan Galang masuk, Maya bertanya, "kenapa gitu?"


"Iya, kalau masakan kamu enak, aku bakal nambah porsi lah! Jadi harus dibakar besok paginya. Masa belum nikah perut udah buncit kayak bapak-bapak 3 anak. Kan gak lucu," jawab Galang sambil mencuci tangannya di westafel dapur. Setelah mengeringkan tangannya, ia bersiap duduk di kursi meja makan.


"By the way hari ini kamu keliatan seksi banget deh!"


"Hah?!"


Terkejut dengan reaksi Maya, Galang cepat-cepat meluruskan maksud kalimatnya, "eh, maksud aku, seksi in a good way. Dateng bukain pintu, masih pakai celemek masak dan menyambut aku dengan senyuman. Cantik dan seksi banget menurut aku."


Maya memutar bola matanya berpura-pura kesal, namun tetap tidak dapat menahan senyuman atas pujian Galang barusan. Ia lalu melepas celemek masak yang sedari tadi tak sadar masih ia kenakan lalu menyusul Galang di meja makan. Tak sabar mencicipi resep masakan yang ia dapat dari nenek Tasya, seorang juru masak khas Tongseng Kambing yang sudah cukup lama membuka warung makan tongseng di kampung halaman.


Begitu duduk dan melihat sajian makanan di meja, air liur Galang refleks berkumpul di mulutnya. tanpa sadar, ia berkomentar dengan mata berbinar, "wah..."



***


Seperti biasa, jika Maya yang memasak, maka giliran untuk mencuci piring jatuh pada Galang. Sejauh ini, kesepakatan ini berjalan damai. Dan setelah mencuci piring, Galang menghampiri Maya yang tengah membolak-balik halaman majalah rekanan TechnoMedia.


 "Layout-man baru mereka kayaknya cerdas banget ya, tampilannya jadi fresh banget," celetuk galang sambil menyerahkan semangkuk kecil anggur hijau dingin. Cemilan favorit Maya yang kini juga sudah menjadi cemilan favorit Galang.


Galang lalu sengaja mengambil majalah yang sedang Maya pegang, karena tampaknya gadis itu mulai melakukan penilaian terhadap beberapa artikel saat mengerutkan alisnya. Ia lalu menggelengkan kepala dan berbisik, "it can wait, but this quality time will not last".


Memahami protes dari Galang, Maya mengangguk dan tersenyum. "Ok, terus gimana rate makan malam kali ini?" tanya Maya antusias sambil memeluk bantal sofanya.


Galang yang duduk disamping Maya bersandar pada sofa dan meluruskan kakinya. "Enak banget! Resep dari mana?" Galang balas bertanya sambil mengelus perutnya yang terasa begitu kenyang. Benar saja, masakan kekasihnya kali ini suskes membuatnya makan malam dengan 2 porsi untuk pertama kalinya.


Terkikik sebentar karena senang, Maya lalu berbisik jenaka, "rahasia!"


"Dih," keluh Galang. "Parah ih kamu, sekalinya masak enak malah jadi enak banget sampai bikin orang lupa porsi."


"Yaudah sih, besok pagi kamu lari 10 putaran komplek rumah, deh. Pasti kalorinya kebakar semua."


Memiringkan badan ke arah kekasihnya, Galang dengan manja menyandarkan kepala pada bahu Maya. "Kamu ikut, ya? biar aku semangat!"


Cepat-cepat Maya menggelengkan kepalanya, "no, Thank you!" Lalu Maya duduk menghadap Galang dan mendekap kedua pipi pria yang sedang merajuk itu. "Run, Galang, run!" Maya terkekeh puas setelah mencontohkan dialog yang ada di film Forest Gump.


Psssh! Mendadak wajah Maya memerah. Bukan hanya karena kalimat Galang barusan, tetapi juga posisi tubuh dan wajah mereka yang sekarang jadi begitu dekat. Maya lalu melepas dekapan tangan Galang pada pipinya dan melengos malu. "Dih, kalau gitu aku jarang-jarang aja deh masak enaknya, Jadi kamu gak perlu susah bakar kalori karena makannya ga nambah porsi."


Galang terkekeh, ia lalu menarik dan mencium lembut punggung tangan kanan Maya. "Thank you for the dinner, dear."


"You're welcome," jawab Maya sambil tersenyum.


Ada hening sejenak menggantung di langit-langit. Kemudian Galang memutuskan untuk duduk lebih dekat pada Maya, membuat gadis itu menoleh sebentar dengan canggung.


"May, you have been worked very hard for the past 3 months, don't you wanna take a break?"


Maya tidak menjawab, ia hanya menghela nafas dan mengangkat bahu. Ia juga tidak tahu apakah sebenarnya ia merasa kelelahan atau justru merasa sepenuhnya teralihkan dari depresi yang menghantuinya.


Galang memutar tubuhnya dan kini berhadapan dengan Maya. Manik mata Galang dalam menatap wajah kekasihnya. "Let's take a rest for a while. Take a short escape with me, and get closer each other. Tomorrow, to celebrate your birthday, Will you?"


Maya membuka matanya lebar-lebar, sedikit terkejut bahwa ternyata besok adalah hari ulang tahunnya. Padahal sore tadi ia cukup lama memandangi kalender, tapi bisa benar-benar terlupa akan hari lahirnya sendiri. Maya merasa sedikit ngilu menyadari bahwa betapa ia sudah tidak memperhatikan dan menyangangi dirinya sendiri. Tawaran dari Galang, sungguh menggoda.


"I'm not sure, Lang. I'm 32 now. Not sure if I should have celebration or not," jawab Maya ragu-ragu.


"But with me?" coba Galang sekali lagi.


Wajah Maya memanas, ia bahkan merasa sangat malu menatap manik Galang yang berbinar penuh harap bagai mata anak kucing yang sedang meminta makanan. Dengan mengulum senyum Maya membuka bibirnya, "kita mau, kemana?"


Senyum Galang merekah, ia menarik Maya dalam pelukan erat lalu menggendong gadis itu berputar-putar di ruang tengah. Setelah beberapa kali putaran, Galang mulai terengah dan menurunkan Maya yang masih tertawa.


Begitu kaki kecil Maya stabil berdiri, Galang menarik pinggulnya. Membuat tubuh mereka kini tanpa jarak sedikitpun. Galang mendekatkan wajahnya pada sisi kanan pipi Maya dan berbisik, "I don't care if you are Thirty, Forty or Fifty. Together, we ain't ever getting older."


Maya memejamkan matanya dan sebelum pandangannya tertutup sempurna, Galang mendaratkan bibirnya pada bibir lembut gadis itu. Malam terasa sempurna bagi keduanya.


***


Halo pembaca yang baik 🙋


Soundtrack kali ini ada lagu: Closer by The Chainsmokers feat. Halsey.


Hey, I was doing just fine before I met you


I drink too much and that's an issue but I'm okay


Hey, you tell your friends it was nice to meet them


But I hope I never see them again


I know it breaks your heart


Moved to the city in a broke down car


And four years, no calls


Now you're looking pretty in a hotel bar


And I I I can't stop


No, I I I can't stop


So baby, pull me closer in the backseat of your Rover


That I know you can't afford


Bite that tattoo on your shoulder


Pull the sheets right off the corner


Of the mattress that you stole


From your roommate back in Boulder


We ain't ever getting older.


***


Stay safe from covid-19 and those covidiot out there, guys.


Love,


Author.