The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Wedding Day



Hi Pembaca, untuk menikmati suasana cerita episode kali ini author menyarankan kalian untuk mendengarkan lagu romantis dari Tyler Shaw-With you.


Selamat membaca!


***


"For you, I would travel to outer space


Take a bullet to the heart just to keep you safe


For you, anything for you


With you, all the years just fade away


Like a dream in my arms, but I'm wide awake


With you, whenever I'm with you" With You by Tyler Shaw.


Di sebuah taman dekat danau buatan dari resort yang cukup mewah, terlihat sekelompok orang berkumpul disebuah wedding venue.


Wedding venue outdoor ini tampak classic dengan banyak sentuhan ornamen kayu dan warna kain yang lembut. Para undangan yang sudah hadir duduk memenuhi kursi-kursi tamu yang kosong.


Sayup terdengar musik yang melantunkan nada-nada akustik dari musisi di sudut venue.


Matahari bersinar hangat dan menyenangkan saat Ikhsan melangkahkan kakinya melewati wedding aisle.


Wedding aisle ini adalah setapak rumput hijau yang segar dengan pagar kayu dan bunga-bunga putih bersih. Seluruh tamu yang hadir pada pagi ini merupakan kerabat dekat saja, membuat suasana terasa sangat hangat dan dekat. Ikhsan berjalan melewati kursi para tamu yang memberinya senyuman haru. Beberapa groomsman yang juga merupakan sahabat serta rekan kantor Ikhsan memberi sinyal agar ia semangat dan tetap tenang.


Di ujung aisle ada sebuah meja dengan beberapa kursi. Tepat di depan sana ada 2 buah kursi dengan hiasan bunga berwarna cream dan merah muda memberi kesan lembut dengan pita putih yang mengikatnya.


Dua buah kursi itu salah satunya akan ia duduki dan tepat disebelahnya adalah kursi untuk ratu di hati Ikhsan.


Ikhsan memejamkan matanya seraya menyentuh kursi disampingnya. Di benaknya membayangkan jikalau ia menua dan di penghujung nafas kehidupan, yang ia inginkan hanyalah tetap selalu berdampingan dengan kekasihnya.  Berdampingan terus sampai maut memisahkan, sampai bersebelahan nisan.


Ikhsan mengambil nafas dan duduk di kursinya. Di depannya sudah ada seorang bapak penghulu yang tua dan dalam wajahnya. Di sebelah pak penghulu ada seorang bapak yang Ikhsan sangat segani, adalah Bapak Handoko yang alisnya sama persis seperti alis milik Yrene. Pak Handoko adalah seorang dokter yang telah menua. Ikhsan melemparkan senyum pada sang calon ayah mertua, tetapi wajah Pak Handoko tampak keras. Ikhsan meringis dalam hati. Wajah tegang ayah mertuanya bukan disebabkan ia tak suka pada senyum Ikhsan, melainkan ia justru sama bahkan mungkin lebih gugup dari pada Ikhsan. Sebab pagi ini, Pak Handoko akan menyerahkan hidup Yrene pada Ikhsan.


Pak Handoko memang sudah sangat lama mengenal Ikhsan. Kali pertama ia bertemu pria yang menawan hati putrinya adalah saat MOS SMP Yrene di hari ke tiga. Saat itu Pak Handoko mendapat telepon dari wali kelas yang mengabarkan agar ia segera menjemput Yrene yang tengah menangis di UKS sekolah. Pak Handoko ingat sekali wajah Ikhsan yang memar ketika ia menemui Yrene di UKS. Ya, bocah laki-laki itu ada bersama Yrene. Menemani Yrene yang menangis sesenggukan. Tidak ada anak perempuan disitu. Sebab anak perempuan lain iri pada kecantikan putrinya, juga sekaligus tidak mau berhubungan dengan Yrene dikarenakan putrinya itu buruan para senior. Yang berani membela putrinya hanya bocah dengan wajah memar itu. Bocah yang wajahnya dihajar para senior didepan Yrene.


Pak Handoko menatap wajah calon menantunya itu. Ia sungguh merasa haru sebab sejak saat itu sosok Ikhsan selalu menjaga dan melindungi Yrene. Apapun, apapun yang terjadi pada Yrene, Pak Handoko bisa mempertanyakan pada Ikhsan. Dan pria ini pasti selalu bisa menjelaskan. Seakan ia selalu berada di dekat Yrene. Sekali waktu ia pernah pulang mengantar Yrene memakai sarung dari masjid sekolah. Ia rela memakai sarung dan meminta Yrene memakai celananya. Sebab saat itu Yrene mengalami menstruasi hari pertama dan darahnya tembus ke rok sekolah. Pak Handoko tak habis pikir, jika saja Yrene tak menikahi Ikhsan tentu lelaki ini dia akan anggap anak sendiri. Toh dia juga tidak punya anak laki-laki.


Pak Handoko tersadar saat bahunya disentuh lembut oleh bapak penghulu disampingnya.


"Siap Pak? Ikhsan Siap?"


"Siap!" jawab Pak Handoko dan Ikhsan bersamaan.


Dalam hati, Pak Handoko mengucap syukur dan melangitkan doa. Semoga kelak Ikhsan tak akan pernah membuat putrinya menyesal memilihnya.


Ikhsan duduk tegap saat pernyataan sakral yang merupakan janji nya pada Ayahnya Yrene, pada penghulu, pada para saksi dan hadirin pernikahan, pada bumi, pada langit dan semesta, dan pada Tuhan yang maha esa. Ia menarik nafas dan menatap lurus mata wajah Pak Handoko. Ikhsan tak dapat mendengar bisik-bisik gugup para hadirin saat akad akan ia ucapkan, yang ia dengar hanya deru nafas dan detak jantungnya.


Dan...


Dalam satu sentakan nafas, sebuah ikrar akad terucap mulus dari mulut Ikhsan menyisakan sebuah dengung sepi dan haru. Sedikit kemudian seluruh indra perasa Ikhsan yang tadi mati sesaat kini aktif kembali. Ia merasakan darahnya deras mengalir ke seluruh tubuh memberikan rasa hangat ke kaki dan mukanya yang memerah. Ramai pula terdengar amin yang serius dan bahagia dari semua tamu undangan. Sekilas Ikhsan menangkap dari sudut pandangannya, Ibunda Yrene sedang menangis haru ditenangkan oleh Ibu Ikhsan dan para bridesmaids.


Seusai doa dilantunkan, semua hadirin tampak berdiri menunggu kedatangan pengantin wanita. Tanpa aba-aba musisi mulai melantunkan lagu With you-Tyler Shaw membuat suasana semakin romantis.


Bak sebuah momen yang sangat mengharukan, semua kejadian itu terasa seperti momen slow motion.


Angin berhembus pelan saat Yrene berada di ujung wedding aisle didampingi dengan adik perempuannya, Cheyenne.


Beberapa orang menggumamkan suara terpana dengan kehadiran sang pengantin wanita yang begitu cantik.


Ikhsan berdiri mantap dan menatap kekasih yang sudah sah menjadi istrinya itu.


Saat manik mata mereka bertemu, Yrene menggigit bibirnya menahan tangis haru.


Ikhsan tersenyum sambil menyeka air yang mengalir disudut matanya.


Oh, sungguh ini pagi yang sangat haru dan bahagia.


Cinta yang mereka jaga, kini disatukan Tuhan.


Ikhsan mengulurkan tangan menjemput Yrene untuk duduk berdampingan dengannya.


Pak penghulu menyodorkan dua buah buku nikah untuk Ikhsan dan Yrene tandatangani.


Setelah proses administrasi selesai, berikutnya adalah acara pemasangan cincin nikah.


Sebelum memasangkan cincin pernikahan, Ikhsan mencium tangan istrinya membisikkan "I love you."


Yrene tertawa dan membalas tanpa suara, "I love you so much."


Di belakang Ikhsan, para groomsman berteriak lantang, "Cium! Cium! Cium!" diikuti oleh sorak sorai para tamu undangan lainnya.


Saat Ikhsan mencium bibir Yrene, para bridesmaids melemparkan confetti warna-warni yang jatuh berhamburan di langit pagi.



***


Hi pembaca yang baik 🙋


Mohon dukungannya atas karya author ini ya dengan like & comment 💞