
Suara lift yang berdenting menandakan Maya telah sampai pada lantai dasar. Dengan tangan yang lemah, ia mencopot sepatu hak tingginya dan mengangkat gaunnya hingga lutut, bersiap untuk beranjak dari lift. Baru lima langkah Maya keluar dari lift, betapa terkejutnya ia ketika mendapati Yrene yang tengah berjalan terburu-buru. Yrene, dengan baju berwarna peach yang tak lain merupakan baju para bridesmaid.
Tak kalah terkejutnya pula Yrene yang berpaspasan dengan Maya. Sahabatnya yang tengah berbalut baju pengantin dan make-up yang sedikit luntur. Yrene menutup mulut dengan dua telapak tangan saking terkejutnya.
"Maya?! Oh my god, lo lagi apa disini? Astaga!" pekik Yrene sambil terburu-buru menghampiri Maya dan dengan sigap mengeluarkan tissue untuk mengelap luntur make-up pada wajah Maya
"Rene," lirih Maya. Tangan Maya kemudian menghentikan Yrene. Membuat istri dari Ikhsan itu tak putus rasa bingung.
"Yrene, maafin gue. Gue baru saja membatalkan pernikahan gue dan Ikhsan. Maaf, Rene. Gue gak sanggup, gue gak kuat melanjutkan komitmen hidup bersama Ikhsan." Tidak ada jawaban dari Yrene melainkan hanya tatapan heran dengan alis dan kening yang berkerut.
Maya memaksakan sebuah senyuman lemah sambil tangannya menyentuh pipi Yrene. "After all this time, it's you who deserve him, Rene. Lo tulus bagaikan malaikat. Cinta pertama lo pada Ikhsan hingga detik ini pun membuat lo bahkan rela menerima gue di hati suami lo. Love makes you a strong woman, dan Tuhan memang adil, lo sungguh pantas mendapatkan surga yang sangat sulit dirindukan seorang wanita beristri." Tangan Maya kemudian melepas pelan genggaman Yrene.
"Tunggu, Maya! Ikhsan akan sangat kecewa dengan keputusan lo ini," ucap Yrene dengan nada suara bergetar.
Dengan anggukan lemah Maya menjawab, "Benar. Hanya lo yang bisa menolong dia saat ini, kan? Dan, Rene. Terimakasih atas kesempatan yang lo berikan dengan seluruh pengorbanan. Akhirnya gue menyadari, cinta yang gue pendam ini memang tidak di restui Tuhan. Hati gue sulit menerima pernikahan ini. Maka disinilah gue berhenti. Sampaikan permohonan maaf dan penyesalan gue pada semua orang yang terluka, please."
"May," desah Yrene yang sudah meneteskan air mata. Ia tidak menyangka akan menghadapi situasi seperti ini. Mendadak semua begitu kacau dan semakin kacau di pikirannya. Yrene tak mampu berkata-kata, ia hanya terdiam menatap Maya yang mulai melangkah menjauh.
"Maya, Tunggu! Tunggu!" teriak seseorang dari arah sebrang lobby. Sudah sedari tadi semua mata menatap sosok Maya yang tepat seperti perkiraan orang-orang, 'That runaway bride.' Sekarang, teriakan barusan itu menambah seru babak drama gratis bagi para tamu hotel di lobby.
Maya sebenarnya sudah sangat ingin menghilang saja dari eksistensi hari ini di muka bumi, tetapi menghindari begitu saja teriakan dari suara yang ia kenali saat itu tentu saja menambah sengit kekacauan hari ini.
Galang tersegsa-gesa menghampiri Maya. Kemejanya yang berwarna biru muda sudah basah kuyup, membuat kain bajunya itu menempel pada bidang dada pemilik TechnoMedia Corp. Dasi Galang bahkan telah longgar sepenuhnya, seperti telah di tarik paksa saat si empunya turun terburu-buru dari tangga darurat mengejar Maya.
"Hhh, hhh, Lo mau kemana, May?" tanya Galang mencoba menghirup sebanyak mungkin oksigen untuk mengisi dadanya yang sesak karena menuruni ratusan anak tangga tadi.
Maya bahkan tidak sanggup menoleh lagi, saat ini ia telah kehabisan rasa empati untuk Galang. Baginya, saat ini Galang hanya terus memperkeruh suasana. Sudah berulang kali ia berharap Galang menepi sejenak. Pria ini bahkan sudah sampai harus mendekam semalaman di ubin penjara. Galang sungguh harus berhenti.
"Lang, sudah cukup. Apa yang sekarang gue alami gak seharusnya melibatkan lo. Lo harus menjauh dari ini semua," ucap Maya pelan.
Galang menarik nafasnya dalam-dalam, "Okay. I will do whatever you want now. Tapi, sebelum lo pergi ada hal yang ingin gue sampaikan." Galang diam sejenak lalu melanjutkan, "Terimakasih karena sudah membatalkan pernikahan itu. Dan terimakasih sudah memberi gue kesempatan sekali lagi"
Mendengar kalimat Galang barusan, membuat Maya mendadak mendelik tajam pada bosnya itu. "Apa?"
Mengerjap kaget, Galang kahwatir ia salah ucap. Ia lalu mengulang lebih pelan lagi dengan nada suara sesopan yang ia mampu. "Terimakasih, karena tidak melanjutkan pernikahan yang memang tidak lo inginkan itu. Dan gue juga berterimakasih karena lo sudah memberikan gue kesempatan dengan mengabulkan permohonan gue, meminta Ikhsan untuk tidak memberikan keternagan yang memberatkan tuntutan pembebasan gue."
Memejamkan mata dan menghela nafasnya, Maya mengumpulkan energinya sekali lagi. "First, Gue memilih untuk tidak melanjutkan itu karena itu adalah sepenuhnya tanggungjawab gue terhadap hidup dan kebahagiaan gue sendiri. Lo gak perlu berterimakasih untuk itu, you are not part of it, yet. Dan yang kedua, I didn't do that. Maaf, saat itu gue tidak sempat mengatakan apapun pada Ikhsan soal permohonan lo."
Bagaikan di sambar petir pagi hari, manik mata Galang membuka lebar. Bukan hanya kata-kata Maya yang terasa pedih di telinganya. Tetapi juga fakta terakhir yang Maya sampaikan begitu menyakitkan.
Mendapati Galang yang terdiam membisu, Maya memutuskan untuk melangkah pergi. ia juga menyadari bahwa Rayyan baru saja akan bergabung dengan raut wajah lelah yang bercucuran keringat. Rayyan pasti tertinggal saat mengikuti langkah Galang untuk turun dari tangga darurat.
"How many times should I say good bye to you, Lang?" ucap Maya dingin lalu membalik tubuhnya.
Tap!
Galang menangkap pergelangan tangan Maya. "Lo berhutang seribu penjelasan pada gue, Maya. Dan jangan harap gue melepas lo begitu saja. Terakhir kali gue melihat perempuan gagal nikah, dia berakhir di batu nisan."
Cukup sudah, suara melengking Maya barusan sudah sukses membekukan perhatian semua orang. Dengan sisa-sisa energinya, Maya berlari ke arah luar lobi dan masuk kedalam sebuah mobil yang seolah tengah menunggu dirinya sedari tadi.
"Galang, cukup! Biarin Maya tenang dulu, okay?!" hardik Rayyan sambil menarik bahu Galang saat menyadari bahwa sepupunya itu hendak mengejar Maya.
"It was me," lirih sebuah suara dari arah belakang.
Galang dan Rayyan sontak menoleh, pada Yrene yang ternyata sedari tadi menyaksikan pertengkaran Galang dan Maya.
"Itu Gue. Gue yang bicara pada Ikhsan untuk tidak memperberat kesaksian untuk lo," ucap Yrene memperjelas. Raut wajah Yrene tak dapat tertebak. Pandangannya terlihat kosong.
Galang membalik tubuhnya dengan perasaan tak menyangka. "But... why?"
Manik hazel Yrene perlahan terangkat, ada senyum tipis di wajahnya. "I think everybody deserves one more chance."
***
Yrene melangkahkan kakinya keluar dari lift dan terburu-buru masuk ke dalam venue dimana akad Ikhsan dan maya seharusnya terjadi. Keadaan masih cukup ramai dan masih terasa aura kekacauan. Beberapa orang saling berbicara dan saling menenangkan. Cepat mata Yrene menyisir semua wajah namun ia tidak menemukan sosok yang ia cari. Ia lalu membalik tubuhnya dan berlalu.
Sekarang, Yrene sudah berada didepan sebuah pintu kamar hotel. Kamar ini terletak di lantai VIP dengan pemandangan yang menyenangkan. Kamar ini, milik Ikhsan. Bukan, dipilihnya kamar ini untuk Ikhsan bukan karena Ikhsan akan bermalam pertama disini. Melainkan karena kamar ini memungkinkan untuk pemasangan peralatan medis yang Ikhsan sewaktu-waktu butuhkan.
Pintu kamar itu tidak terkunci, terkesan sekali sang pemilik kamar tengah asal masuk dan terlupa untuk menutup dengan benar. Pelan, Yrene mendoring pintu kamar itu.
Sebuah jas hitam keabuan dan sepasang sepatu tergelatk begitu saja tak jauh dari pintu. Ia lalu melihat tubuh suaminya duduk dilantai dan bersandar pada tempat tidur. Tangan Ikhsan meneteskan darah. Tampaknya selang infus tidak sengaja terlepas paksa saat Ikhsan melepas jas yang ia kenakan.
Mengigit bibirnya, Yrene menahan sesak dan air mata yang hendak meledak. Dengan cepat ia memeluk tubuh Ikhsan. Erat.
Tangis Yrene lalu pecah saat bibir Ikhsan lirih berbisik, "You came here to save me, didn't you?"
Yrene mengangguk masih sambil memeluk Ikhsan. Meski tangisnya semakin jadi, Yrene menyadari bahwa ia harus memastikan kondisi Ikhsan stabil. Ia lalu segera menarik tubuh Ikhsan sekuat tenaga ke atas tempat tidur. Perut bawah bekas dan bagian bekas jahitan lahirannya terasa sedikit ngilu tetapi tidak menghalangi tindakan Yrene.
Tangan Yrene cepat memasangkan alat bantu nafas pada mulut dan hidung Ikhsan. Ia lalu membuka sebuah tas koper berisi peralatan medis yang ada di samping meja nakas tempat tidur. Memastikan semua alat yang ia butuhkan disana, Yrene beranjak pergi ke wastafel untuk mencuci tangannya. Ikhsan tidak sempat lagi menyaksikan apa yang Yrene perbuat. Kepalanya terasa begitu berat dan matanya mengantuk.
Setelah memasangkan kembali selang infus Ikhsan yang terlepas dan mengganti jarumnya, Yrene kemudian merapikan jas dan sepatu milik Ikhsan serta mengunci pintu kamar. Yrene mengirimkan pesan pada beberapa orang untuk memastikan mereka tidak panik mencari keberadaan Ikhsan. Dan setelah memastikan denyut nadi Ikhsan mulai stabil, Yrene menghela nafas panjang.
Yrene lalu perlahan naik ke atas tempat tidur dan berbarik di samping Ikhsan. Ia memeluk lengan kiri suaminya dan menggenggam erat tangan cinta pertamanya itu. Hari yang begitu berat untuk Ikhsan berarti hari yang begitu berat juga untuknya. Menutup matanya perlahan-lahan, tubuh Yrene yang sedari tadi bergetar mulai merasa tenang. Dalam dua helaan nafas, Yrene akhirnya ikut tertidur.
***
Halo pembaca yang baik?
Jangan lupa berikan kesan komentar, like dan votenya ya!
Love, Author.