The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Hurted



Ponsel Maya kembali bergetar, berulang kali, lagi dan lagi. Tetapi gadis itu tetap masih terlelap. Hembus nafasnya teratur. Dia benar-benar lelah. Dan mungkin, sangat mungkin, bahwa saat ini sedang hilang arah. Layarnya menunjukkan nama Rayyan. Lelaki di seberang ponsel itu ingin menanyakan kabar Maya agar saat Galang terbangun, ia punya informasi itu. Sayang, telepon itu tak kunjung di angkat.


Matahari yang pongah dengan panasnya perlahan meluncur mundur dari peraduaannya. Di jemput oleh hangatnya sore dan langit yang menguning. Di kamar hotel yang sangat sepi, sunyi masih juga mendekap Maya dalam tidurnya. Nafas Maya, seirama. Seirama dengan detak pada layar monitor yang ada di ruang bedah Rumah Sakit Dharma Akhsana. Dimana Ikhsan sedang terbaring dengan tertutupi oleh kain hijau didampingi oleh 3 orang dokter yang membedah kepalanya.


Sementara itu di sofa ruang rawat inap yang sudah disediakan untuk Ikhsan, Yrene tengah berbaring dipangkuan mamanya. Sang Mama mengelus lembut kepala putrinya. Memberikan segala dukungan yang saat ini putrinya butuhkan. Terpisah berdiri di lorong depan ruang bedah, Ayah dan Ibu Ikhsan menatap penuh harap ke satu arah dimana dokter akan keluar dan mengabarkan keluarga pasien.


***


Sebuah derap langkah terdengar dan kemudian pintu ruang inap yang diperuntukkan untuk Ikhsan terbuka. Yrene bangkit dari posisi tidurnya dan manik matanya membesar. Sebuah tempat tidur pasien di dorong pelan memasuki ruangan.


"His doing great in the OR table, Rene!" ucap Dr. Bimo yang ikut mendorong tempat tidur Ikhsan bersama 2 orang perawat.


Yrene menutup mulutnya, menahan tangisannya yang akan sudah meledak. Dengan cepat ia berlari menuju tempat tidur Ikhsan. Dari penampilannya, Ikhsan memang tampak tidak jauh lebih baik. Hanya saja bengkak di wajahnya sudah jauh berkurang meski bebat perban di kepalanya terlihat lebih seperti mumi dengan kepala yang sudah jelas di botak. Beberapa alat bantu (life support) juga sudah di lepas, termasuk selang ventilator.


Pandangan Yrene mulai mengabur oleh air mata. Ia kemudian mengalihkan pandangan pada Bimo dan memeluknya. "Can't say thank you enough to you, Mo! Thank you! Makin gede aja rasa iri gue ke elo! Iri banget sama otak pinter dan skill hebat lo itu!" ucap Yrene di sela isak tangisnya.


Bimo hanya menepuk pundak Yrene. "Syukurlah kondisi Ikhsan mengalami kemajuan pesat begini. Kita semua juga merasa senang operasinya berjalan lancar."


Bimo lalu mengambil posisi disamping tempat tidur, membantu perawat untuk mengecek kondisi Ikhsan pasca operasi. Setelah puas melakukan observasi, Bimo kemudian menghadap pada Yrene.


"Panggil Dr. Adrien jika lo butuh sesuatu soal keadaan Ikhsan. Saat ini kondisi Ikhsan stabil dan harapannya dapat memberikan respon yang baik pasca operasi ini," jelas Bimo pada Yrene.


Yrene menghela nafas, " Apakah akan ada operasi lanjutan?"


Bimo yang baru saja membalikkan badan menjawab, "Mudah-mudahan tidak ada." Bimo lalu mengangguk pamit pada Ibu Yrene dan kedua orangtua Ikhsan. Kedua perawat keluar setelah memastikan instalasi infus Ikhsan dan bantuan selang pernafasan pada Ikhsan sudat terpasang dengan baik.


Menarik kursi yang ada disampingnya, Yrene menggenggam tangan Ikhsan lalu menempelkan pada pipinya. Air matanya menetes membasahi punggung tangan Ikhsan.


"Sakit ya sayang? Yang kuat ya, cepet sembuh. I miss you, Ianvs miss you," lirihnya.


***


Jam dinding menunjukkan pukul 4 sore. Manik mata Maya bergerak pelan dan perlahan membuka. Nafasnya yang tenang sewaktu tidur tadi kini berhembus lebih berat. Ia sudah sadar dan kembali ke dunia nyata.


Maya meraih ponselnya diatas meja dan menyadari selain daya yang sudah terisi penuh, ada begitu banyak panggilan tak terjawab dari Rayyan. Jari Maya mengetuk layar ponselnya dan langsung menghubungi Rayyan kembali. Sambil menunggu nada dering masuk, Maya mengigiti bibirnya. Seharusnya hari ini cutinya sudah berakhir dan harus kembali bekerja. Tetapi maya belum punya rencana untuk kembali ke kantor sebelum Ikhsan sadar. Ia memutar ide dikepalanya namun tak satupun ide alasan muncul hingga nada sambung berakhir tanda telepon diangkat.


"Halo, Ray?"


"May?" Itu, bukan suara Rayyan melainkan Galang.


"Lang, apa kabar?" Maya menelan ludahnya dengan susah payah. Tiba-tiba ingatannya memutar suara reportase presenter TV yang memberitakan perihal perseteruan Galang dengan Ikhsan, dimana kini Galang juga sedang dalam kondisi yang juga merugi.


"Hm, gue baik. Rayyan sudah mendatangkan dokter dan perawat ke rumah gue. Sekarang gue tahanan rumah sampai ada putusan pengadilan," jawab Galang dengan suara berat. "Gimana kabar Ikhsan? Dia udah sadar?" tanyanya.


Maya menghela nafas sebelum menjawab, "Belum. Sampai sekarang belum sadar. Tapi kondisinya sudah lebih baik, bahkan sudah bisa didaftarkan untuk melakukan operasi pembedahan kepalanya."


Di seberang telepon Galang mendecak prihatin sambil memejamkan matanya. Dapat ia bayangkan bahwa kepala Ikhsan sekarang sudah pasti diperban layaknya mumi. Ia menjadi menyesal sempat membandingkan  dan menganggap kondisi Ikhsan yang sekarat di rumah sakit lebih beruntung dari dirinya.


"Maafin gue, May. Gak pernah sekalipun gue berniat mencelakai Ikhsan. Gue gak snegaja mendorong Ikhsan saat panik melihat lo terjatuh karena siku gue. Gue juga takut banget kalau sampai menghilangkan nyawa seseorang. Seumur hidup baru kali ini membuat orang hampir mati ditangan gue," ucap Galang dengan nada menyesal.


"Iya, gue tahu lo gak sengaja. Gue melihat sendiri apa yang terjadi."


"Seharusnya dari awal gue gak perlu sok tegar melepas lo menghadapi Ikhsan sendirian. Gue pikir Ikhsan hanya akan mengajak lo berbicara. Gue kaget dan gak menduga saat Ikhsan tiba-tiba melamar lo, May. Selain menurut gue itu terlalu mendadak, gue khawatir lo saat itu berada dibawah tekanan, terpojok dan gak bisa menjawab dengan sadar sepenuhnyu," ujar Galang menjelaskan apa yang kala itu ia rasakan.


Maya tidak tahu harus merespon apa.Seandainya saja Galang tidak gegabah datang dan menyela, mungkin tidak perlu ada perkelahian.


"Jadi, kapan lo balik kesini? Apa mau gue jemput? Eh! Gue gak bisa. Rayyan yang jemput mau ya?" tanya Galang lembut.


Maya mengerutkan alisnya, "Gue gak tahu Lang." Ada hening sejenak, "Gue bahkan gak tahu apakah gue masih akan kembali ke TechnoMedia," lirih Maya.


Galang menelan kasar air ludahnya. Kata-kata Maya barusan seolah memberi tanda akan sesuatu yang tidak ingin ia dengar.


Maya memegang kepala dan menyisir rambutnya dengan jari. "Gue harus memberikan jawaban atas lamaran Ikhsan, kan?"


Galang mengepalkan tangannya, di dalam hati ia memaki kesal. Entah kesal kepada siapa.


"Jadi lo akan menunggu sampai Ikhsan bangun? Gak masalah. Take your time. Berapapun lama cuti lo, kapapun lo bisa kembali ke kantor TechnoMedia. Semua keahlian yang lo punya pasti akan selalu diterima disini."


Maya mendengus tertawa atas kata-kata pujian Galang. "Karena apa? Apakah karena lo adalah CEO jadi bisa memutuskan ketetapan seperti itu? Lo bahkan akan disidang sama dewan direksi, kan?"


"Ah, gaya-gaya an aja mereka itu. Jadi semakin kelihatan siapa yang ada di pihak gue diantara mereka semua. Salah-salah mereka bertindak, gak bakal ada kursi kesempatan di TechnoMedia yang bisa mereka duduki."


Alih-alih mengoda kuasa Galang, Maya tersenyum. Galang memang kuat, sebab itulah Maya yakin dia akan bangkit dari keterpurukan ini. Maya menghela nafasnya lega.


"May, memangnya..." Galang menggantung kalimatnya, "Memangnya lo udah nyiapin jawaban ke Ikhsan?"


Hening. Tidak ada jawaban dari Maya. Galang sampai harus mengecek layar ponsel Rayyan untuk memastikan telepon tidak terputus. "May?" sapanya lagi.


Galang menutup matanya, menelan saliva kering dan kembali membuka mulut meski jantungnya berdebar cepat. "I wish you a happy life. Please come back here, I will always accept you. Single, or Taken."


"Thank you, Lang. You always have been a good friend."


"Gue bisa lebih dari itu. Lebih dari teman, jika saja lo beri gue satu kesempatan. Seperti kesempatan yang lo berikan ke Ikhsan. Sekali lagi," lirih Galang.


Galang mendesah dan berbicara kembali, "Maaf, gue menyesal terlambat menyadari perasaan ini saat lo justru sudah kembali menghadapi cinta lama lo. Seharusnya, dari awal, dari awal gue membawa lo ke jalan hidup yang baru. Ke kehidupan baru bersama gue. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf-"


Maya menjauhkan ponsel dari telinganya dan mulai menangis. Tidak ada jalan kembali bagi Maya. Ia memang harus menghadapi Ikhsan. Meninggalkan Galang.


Ah hidup memang suka bercanda. Menghadapi cinta yang ia dambakan, Maya justru kini merasa tersiksa. Tetapi, ia masih sangat ingin melihat senyum Ikhsan lagi, pandangan teduh matanya. Melihat Ikhsan hidup kembali.


***


Telepon itu sudah berakhir tanpa kata penutup apapun diantara Maya dan Galang. Sekarang Galang sudah kembali membaringkan dirinya pada tempat tidur. Ia meletakkan lengan menutup matanya yang mulai terasa panas dan perlahan, air matanya menetes. Tadi ia masih mendengar jelas suara Maya yang menangis, membuatnya kini merasa tak punya daya upaya apapun untuk merengkuh gadis itu kembali seperti dulu, seperti saat Maya masih disini.


***


"Tak pernah aku menyangka sejauh ini aku melangkah


Tak pernah aku menyangka sedalam ini aku terluka


Jika hidup terus berputar, biarlah berputar


Akan ada harapan sekali lagi, seperti dulu."


Sekali lagi by Sheila on 7.


***


Mohon dukungannya dengan Like, Vote dan tinggalkan komentarnya ya.


Kali ini yang sedih Mas Galang, nih.


:')


Love, Author.