
Malam tampaknya belum mengundang rasa kantuk pada mata Galang.
Ia justru sedang berada di dapur menyeduh kopi dan membuat camilan french toast.
Sambil menunggu suhu panas kopinya turun, Galang menyisir rambutnya yang masih basah sehabis mandi tadi.
Ia kemudian menyesap pelan kopinya. Merasa mantap dengan cita rasa racikannya ia lalu membawa kopi dan french toastnya ke meja makan.
Galang meletakkan camilannya tepat disamping tabletnya yang menyala.
Tampilan layarnya menunjukkan sebuah profil sosial media profesional bernama Ikhsan Al-Hakim.
Sembari melirik layar dan membaca profil Ikhsan, Galang berbisik.
"Terkutuk lah gue, laki-laki tapi kepoin suami orang malam-malam gini" ucapnya pada dirinya sendiri sambil menyuap satu potongan besar french toast yang manis menggugah selera.
***
Maya baru saja selesai membersihkan diri, ia menggerai rambutnya dan mematut diri di cermin.
Jemarinya memijat-mijat bagian bawah matanya yang sudah diolesi krim pelembab mata.
Dalam hatinya berdoa semoga besok kantong matanya sudah sirna dan gurat-gurat sedih di wajahnya tidak terlihat lagi.
Maya merebahkan tubuhnya, bersiap untuk tidur.
2 hari ini merupakan hari yang sangat melelahkan baginya.
Tapi ia tak bisa pungkiri. Siang dan sepanjang sore tadi, perasaannya sudah jauh lebih baik.
Apalagi setelah membagi ceritanya panjang lebar pada Galang.
Maya benar-benar merasa ada beban yang mencair dari pikiran dan hatinya, terasa sedikit lebih ringan.
Mungkin sudah saatnya ia menganggap Galang bukan sekedar bos saja melainkan seperti kata Galang,
seorang teman. Tidak lebih. Tidak perlu jadi lebih dekat dengan mencatut titel sahabat.
Karena Maya masih percaya, tidak ada persahabatan antara pria dan wanita.
Maya membalikkan tubuhnya dan meraih tali lampu tidur, lalu menariknya pelan sehingga lampu kamarnya padam.
Ia memejamkan matanya namun sinar layar ponselnya kembali menyala.
Sebuah chat dari nomor tak dikenal masuk.
"May?"
***
Galang mematikan layar tabletnya, ia sudah mendapatkan cukup informasi walau tidak menyeluruh.
Sambil menyesap kopi dan memandangi pekarangan rumahnya yang basah oleh air hujan dari jendela, Galang memutar kembali ingatannya tentang semua cerita Maya sore tadi.
Maya saat itu membenarkan poni sampingnya dan menyelipkan di telinga kanannya.
Air mukanya sendu. Tapi ada senyum tipis di bibir Maya saat mulutnya terbuka untuk bercerita.
"Dia cinta pertama gue, waktu kelas 1 SMA.
Gue kenal dia saat gue ditugasin untuk meliput berita tentang dia.
Dia punya bakat hebat di bidang photography, sejak SMA karyanya sudah masuk majalah maskapai dan berpenghasilan USD sesekali dari karyanya yang laku terjual.
Gue juga sempat menulis beberapa kali tentang dia.
Dan tiap kali bertemu, jantung gue selalu berdebar.
Banyak banget hal yang dia miliki tak pernah gagal membuat gue kagum, ceritanya selalu bisa menghibur gue.
Tiap waktu yang gue habiskan bersama dia, rasanya seperti menguap begitu cepat.
Setelah ketemu dan berpisah sebentar, gue udah menantikan hari besok untuk bertemu dia lagi disekolah.
Klise banget, ya"
Maya berhenti sejenak dan meminum air mineralnya.
Ia menyeka setitik air mata yang menggenang ditepi matanya lalu melanjutkan cerita.
"Tapi, Dia punya sahabat sejak SMP.
Sahabatnya cantik. Super pinter, banyak teman. Banyak fans dari segala umur sampai kepala sekolah nge-fans juga.
Haha, Yrene memang hebat.
Mereka berdua itu, nempel terus kemana-mana. Selalu bersama.
Karena dia juga, gue sahabatan sama Yrene. Sahabat-sahabatnya Yrene, jadi sahabatnya gue juga. Sampai sekarang.
Selama dekat dengan Yrene, gue justru semakin kenal dia.
Dia yang selalu ada di dekat Yrene. Benar kata orang-orang, sudah seperti kembaran, kakak-adik dan lainnya.
Lambat laun gue menyadari, hubungan dia dan Yrene itu...
Mereka bahkan saat itu belum jadi sepasang kekasih.
Tapi gue gak bisa bilang perasaan gue ke dia sebab gue segan pada Yrene.
Gue gak ngerti kenapa gue memendam perasaan tapi di lain sisi gue tetap menjaga perasaan itu tumbuh.
Sampai suatu saat, kejadian yang gue tau bakal terjadi akhirnya terjadi juga.
Mereka jadian. Dan gue cuma bisa merelakan dan menjauh supaya gue bisa berdamai dengan diri sendiri.
Sampai kemudian Yrene nikah. Gue pikir gue akan cukup tegar menghadapi pernikahan cinta pertama yang belum pernah gue ungkapkan.
Tapi gue salah.
I swear to God, Lang. Gue adalah sahabat yang buruk.
Gue jahat banget dihari pernikahan Yrene.
Gue adalah salah satu bridesmaid pilihan Yrene.
Tapi gue gak bisa bohong, hati gue gak sepenuhnya berperan sebagai bridesmaid untuk Yrene.
Di saat dia memasuki Aisle dengan jas hitamnya...
Gue justru berharap dia datang untuk gue.
On that day, I did pray deep inside my heart he used to be the one for me.
Pengantin pria gue, laki-laki yang akan menyebutkan nama gue dalam akad.
Menerima gue sebagai istrinya"
Maya menarik kedua kakinya dalam pelukan.
Ia kini meringkuk dan menundukkan kepalanya.
Suaranya serak tapi ia memutuskan untuk melanjutkan cerita.
"Di hari pernikahan mereka.
Gue tau betul, salah satu hantaran nikah dari Yrene untuk dia adalah sebuah action camera.
Action camera yang akan dia bawa berpetualang saat mengambil foto-foto yang menabjubkan.
Itu yang pernah dia bilang ke gue dulu semasa SMA.
Mimpinya tentang mendokumentasi perjalanannya mengambil foto-foto karyanya.
Lalu dia juga menyelipkan lagu band favoritnya di hari pernikahan.
Dia yang menyanyikan sendiri.
Ob-La-Di, Ob-La-Da by The Beatles.
Anehnya, gue merasa lagu itu dia nyanyikan untuk gue.
Haha, dia ga sedih sama sekali. Malah datang-datang bawa gitar dan menyanyikan lagu itu dengan senang.
Dia bilang dia ga ada waktu buat sedih atau marah untuk hal semacam itu.
Dengan tengilnya dia main gitar di depan gue dan nyanyi..."
Maya menyeka air matanya, dia tersenyum getir.
Maya lalu mengambil air mineralnya yang tinggal separuh penuh.
Ia lalu menepuk botolnya seperti memulai sebuah irama dan Maya bernyanyi dengan suara serak yang lemah...
"Ob la di, ob-la-da, life goes on, brah
La-la, how the life goes on
Ob la di, ob-la-da, life goes on, brah
La-la, how the life goes on
If you want some fun, Say Ob-la-di-bla-da..."
- Ob-La-Di, Ob-La-Da by The Beatles
"Sejak dengar lagu itu, gue jadi sering membayangkan.
Andai Desmond dan Molly Jones di lagu itu adalah dia dan gue."
Maya terdiam beberapa saat, dia kemudian menarik nafas dan melanjutkan lagi.
"Lo pasti mikir gue sakit jiwa, menusuk sahabat gue sendiri dengan menyukai suaminya"
Galang dengan cepat menggelengkan kepala. Untuk saat ini Galang memilih bersikap kooperatif.
"Beberapa mini cakes di pesta mereka, hampir semua punya garnish almond.
Almond, itu rasa favoritnya dia.
Pernah gue tulis juga di artikel tentang karya dia yang masuk majalah maskapai di bulan februari dengan tema valentine.
Dia pernah bilang ke gue, 'Lo kudu nyoba Almond Crispy, Itu makanan lebih enak dari pada narkoba. Kalau lo niat ngasih gue coklat valentine, kasih yang rasa Almond ya! Pasti gue terima coklatnya!'.
Gue cuma ketawa. Bocah ini kaya tau aja rasanya narkoba pikir gue saat itu.
Dan saat dia dan Yrene pergi dengan newly married car meninggalkan venue.
Disitulah gue memutuskan untuk berhenti berpura-pura baik-baik saja.
Gue sampai harus mudik ke rumah orang tua gue untuk menenangkan diri.
Gue pikir gue harus mulai hidup baru. Jauh dari mereka berdua.
Then, Gue melamar ke kantor lo and get accepted.
I started everything new. Enjoyed with my new settled life.
I though I have started right moves until yesterday"
Maya berhenti dikalimat itu. Matanya kini basah oleh air mata yang deras mengalir dipipinya.
Ia sesenggukan namun masih berusaha menyelesaikan ceritanya.
Galang menggenggam tangan Maya. Seolah memberi kekuatan pada Maya untuk menumpahkan beban kesedihannya.
"Jantung dan nafas gue berhenti waktu gue lihat dia lagi.
Padahal sudah beberapa bulan berlalu sejak dia nikah dan gue memutuskan untuk move on.
Gue pikir gue udah berhasil sampai saat gue melihat senyum dia lagi.
Gaya rambut dia, masih sama.
Jam tangan favorit dia, tampaknya udah ganti baru tapi masih juga dengan model yang sama.
Dan pandangan mata dia, juga masih sama.
Setiap inch dari dirinya, tampak sama seperti yang selalu gue kenal.
Lang, gue sungguh merasa bersalah.
Dia udah bukan cowok SMA yang gue sukai dulu.
Dia udah jadi suami orang lain. Bahkan suami sahabat gue sendiri.
Tapi kenapa rasa ini masih ada?
kenapa semua perasaan yang gue punya ke dia dulu, masih sama?"
Maya menyeka air matanya dengan tissue pemberian Galang. Entah sudah habis berapa helai tissue, Galang tak menghiraukan.
"Gue harus gimana supaya perasaan ini hilang?
Masa iya gue utarakan ke dia? Ke suami sahabat gue sendiri, Lang?
Gue harus gimana lagi?"
"Lo dari tadi menyebut dia dengan 'dia'.
'Dia' itu siapa?" Galang bertanya dengan suara sepelan mungkin.
Maya mengangkat wajahnya dan menatap nanar kedepan.
"Ikhsan Al-Hakim, Lead Consultant project terbaru lo."
Galang mengerjapkan matanya, ia tersadar dari lamunannya.
Percakapan mereka sore itu diakhiri dengan dentuman suara petir dan cahaya kilat pertanda hujan deras.
Meski Galang tak dapat memberikan respon yang tepat pada pertanyaan-pertanyaan sedih Maya, namun Galang merasakan ada kelegaan dari raut wajah Maya setelah bercerita.
Maya juga sudah berterimakasih pada Galang yang telah mendengarkan kisah yang ia kubur dalam-dalam.
Galang menyesap kopinya yang sudah tidak hangat lagi.
Untuk mengakhiri pertemukan mereka, Galang memeluk Maya tanpa mengucapkan sepatah kalimat apapun.
Galang juga bingung harus berkata apa.
Ia tidak bisa membayangkan, masih memiliki rasa sayang pada Ratri yang sudah tiada memang perih tapi memiliki rasa cinta pada orang yang sudah dimiliki orang lain sudah pasti lebih menyakitkan.
Galang meletakkan gelas kopinya yang sudah kosong dan bersiap ke kamar mandi untuk ritual sebelum tidurnya.
Ia memutuskan untuk berhenti berpikir sejenak.
Galang sudah terlanjur mendengar beban Maya dan masalah Maya belum selesai.
Sesaat sebelum menutup matanya untuk tidur, Galang bersumpah ia akan membantu Maya menyelesaikan masalahnya.
Entah bagaimana cara dan hasil yang akan didapatkan, ia pun juga belum tahu.
Tapi ia yakin, ia ingin melihat Maya bahagia.
Melihat Maya dengan cinta yang begitu besar dan dalam.
Bukankah Maya juga seperti Ratri yang punya cinta lebih besar daripada nyawanya sendiri?
Menolong Maya, akankah membantunya mengikhlaskan kepergian Ratri?
***
**Hi pembaca yang baik 🙋
Gimana menurut kamu pada perasaan cinta yang tidak hilang dan tidak berubah meski telah 15 tahun berlalu?
Say it in the comment section ya 💞
Mohon dukungannya terhadap karya author dengan klik like dan berikan komentar 💞**