
Matahari hari ini tenggelam dengan damai dipelukan malam. Langit oranye mulai membiru gelap dan memunculkan bintang. Rumah keluarga Ikhsan senja ini begitu hangat. Papa dan Mama Yrene sedang datang berkunjung di akhir minggu seperti biasanya. Harusnya Papa Yrene yang juga seorang dokter memeriksa kesehatan Yrene, namun tidak untuk kali ini. Kondisi Yrene sudah membaik. Bahkan, Yrene sudah dapat menggendong Baby Ianvs dan menyusuinya dengan baik. Keluarga ini terasa sempurna, setelah selama hampir sebulan penuh dirundung suram oleh syndrome Baby Blues yang diderita Yrene.
Usai makan malam yang ceria dan penuh syukur itu selesai, orang tua Yrene berpamitan pulang. Sebelum memasuki mobil, Papa Yrene menepuk pundak menantunya dengan wajah haru.
"Terimakasih atas usaha kamu ya, San! Papa bangga punya menantu seperti mu. Ini adalah salah satu ujian sebagai seorang kepala rumah tangga sekaligus seorang ayah. Kamu sudah berhasil melewatinya. Berikutnya pasti akan ada tantangan lagi dan lagi. Jadilah seorang suami dan ayah yang hebat. Doa kami menyertai kamu, Yrene dan cucu kesayangan kami, Ianvs." Ucap Pria tua itu dengan suara berat. Ia sungguh haru atas usaha Ikhsan membantu Yrene pulih kembali.
Ikhsan mengangguk dan menjawab, "Terimakasih juga Pa, kehadiran Papa dan Mama juga turut membantu pulihnya Yrene. Hati-hati Pa, Ma. Kalau senggang sempatkan main sama Ian dan Yrene ke rumah ya!" balas Ikhsan sambil melambai. Tak lama, mobil mertuanya itu sudah melaju menghilang dari pandangannya. Segera ia masuk kembali ke dalam rumah dan langsung menuju kamar tidur.
Di kamar, Yrene sedang menimang Ianvs di pangkuannya. Tampaknya Ianvs baru selesai menyusu dan sudah diganti pakaiannya oleh Yrene dengan piyama lucu. Sekarang Ian tengah menikmati rasa kenyang yang bersambut kantuk dalam pelukan Sang Ibu yang sudah ia rindukan berminggu-minggu. Melihat pemandangan ini, Ikhsan merasakan haru. Ia merasa tenggorokannya tercekat menahan air mata. Akhirnya ia dapat meyaksikan juga istrinya menjadi seutuhnya gambaran seorang ibu, menyusui dan menimang anaknya.
Ikhsan melangkahkan kakinya pelan, khawatir membangunkan Ianvs yang mulai terlelap. Ia kemudian duduk disamping Yrene. Tangannya diam-diam mengeluarkan kamera pocket mirorless. Ia memegang kaki Ianvs dan bersiap memotret. Tangan Yrene dengan sigap ikut masuk dalam frame. Begitu terpotret dan gambar muncul pada display kamera, Ikhsan dan Yrene menahan tawa mereka. Hasil foto itu begitu lucu dan aesthethic.
Yrene kemudian meletakkan Ianvs dalam baby box dan segera menghambur pada pelukan Ikhsan. Mereka berdua hanyut dalam obrolan tentang hasil foto-foto yang sudah seminggu ini Ikhsan kumpulkan. Begitulah pasangan yang baru punya anak pertama, belum lagi anak berusia 1 tahun tetapi foto yang dikumpulkan sudah puluhan bahkan ratusan.
Selesai dengan melihat-lihat koleksi foto pada kameranya, Ikhsan melirik jam. Masih jam delapan malam, terlalu dini untuk tidur. Ia pikir ada baiknya jika malam ini Ikhsan mengajak Yrene untuk berkencan. Sudah sangat lama ia tidak benar-benar 'menyentuh' istrinya. Mulai dari Yrene memasuki bulan akhir kehamilan, Ikhsan dan Yrene sungguh tidak berniat melakukan hubungan suami istri dikarenakan perut besar Yrene. Ditambah lagi persiapan melahirkan seperti membeli kebutuhan bayi yang terlewatkan ternyata juga menguras tenaga. Kini, semua terasa begitu baik dan tenang. Hasrat Ikhsan terbangun, Ia sudah merasa butuh untuk disalurkan pada istrinya yang selalu menawan.
Ikhsan mulai menciumi leher jenjang istrinya, dengan sengaja ia menghembuskan nafas hangat yang biasanya akan memberikan sensasi geli mengundang tawa Yrene. Benar saja, Yrene sudah tersenyum menahan tawa. Ikhsan merasa Yrene merespon dengan baik. Tangan Ikhsan perlahan menelusup masuk kedalam blouse tipis Yrene, lalu naik menuju dua buah kenyal milik istrinya. Baru saja ia berniat untuk membuka kaitan penyangga dada milik istrinya itu, Yrene tiba-tiba mengigit pelan telinga Ikhsan.
"Aw! Kenapa, Yang?" tanyanya heran begitu melihat Yrene justru merapikan blouse yang sudah tersingkap ke atas.
Yrene kemudian pura-pura memasang muka marah sambil memeluk dadanya sendiri dan berkata, "Gak boleh ih! Ini asetnya Ianvs, tau. Kalau mau sentuh, cuci tangan dulu biar steril. Tangan kamu tadi habis pegang apa coba? Kenop pintu? Gerbang? Teralis? Kunci? Kamera? Nanti terkontaminasi loh murninya asi ini."
Ikhsan memutar bola matanya, ah ini dia rasanya menikahi seorang dokter. Mereka selalu punya perspektif detail soal hygiene. Ikhsan sudah mau beranjak dari tempat tidur untuk mencuci tangannya saat tawa Yrene meledak. Yrene sangat geli dengan tingkah Ikhsan yang menurut saja dengan kemauannya. Ia lalu menarik tangan suaminya itu hingga mereka berdua berbaring di tempat tidur dengan posisi tubuh Ikhsan menindih Yrene.
"Aku bercanda," ucap Yrene sambil mendekap pipi suaminya itu.
Ikhsan kemudian mengecup kedua telapak tangan Yrene dan bertanya, "Have fun, yuk?"
Mendengar pertanyaan Ikhsan, sekarang Yrene yang memutar bola matanya. "Yang," tegur Yrene dengan nada kesal.
"Aku masih nifas, ingat?" sahut Yrene, yang langsung disambut ekspresi Ikhsan menutup mata seolah baru teringat akan hal itu. Ikhsan langsung menjatuhkan badannya kesamping tubuh Yrene. Ia mengusap wajah dan menarik rambutnya.
"Belum 40 hari ya?" tanya Ikhsan masih sambil menutup mata, juga sambil menenangkan diri dari hasrat yang ada di pinggang bawahnya.
"Belum. Bahkan bisa lebih loh. Kadang ada kondisi yang bisa sampai 60 hari. Sabar ya, sayang," ucap Yrene.
Degup jantung ini, seharusnya hanya bisa didengar melalui alat yang bernama stethoscope. Tetapi hanya dengan tanpa jarak seperti ini, dengan meletakkan kepala dan telinganya pada dada suaminya inilah, Yrene dapat mendengar degup jantung Ikhsan. Ia tahu Ikhsan dalam keadaan cukup baik dari ritme detak jantung Ikhsan. Tetapi, yang ia tidak tahu adalah... ritme dalam hati Ikhsan. Apakah benar, masih ada seseorang lain disana? Seseorang yang tak lain adalah sahabatnya sendiri, Bridesmaid single yang menghadiri pernikahan mereka. Seseorang bernama, Maya.
***
Minggu pagi ini begitu cerah. Ikhsan baru saja kembali ke rumah setelah berlari mengitari kompleks perumahannya sebanyak empat putaran. Meski peluh membanjiri tubuhnya, Ikhsan merasa sangat segar. Ia memang berenca melampiaskan adrenalin yang tak tuntas semalam tadi dengan berolahraga pagi ini. Begitu sampai di rumah, cepat ia membersihkan diri agar bisa bermain bersama Ianvs. Ah, rutinitas baru ini sungguh Ikhsan sukai. Ia tak menyangka, memiliki bayi membuatnya serasa memiliki kekasih baru lagi. Tiap kali menemuinya harus mandi biar wangi.
Begitu Ikhsan sudah rapi, Ia langsung menghampiri Ian yang berada di ruang keluarga bersama Yrene dan Suster Mira. Betapa terkejutnya dia saat mendapati ternyata Ianvs sudah terlanjur tidur lagi.
"Yah! Kok udah tidur sih, Ian?" tanyanya setengah kesal.
Yrene mengangkat bahu dan memberi sinyal pada Suster Mira agar membawa bayinya ke baby box.
Ikhsan langsung mencegat Suster Mira dan berkata, "Bentar Sus, sini saya cium Ian dulu!"
"Awas kebangun, loh yang! Susah itu nidurinnya, dia dari tadi melek loh." Yrene memperingatkan Ikhsan.
Ikhsan menjulurkan lidahnya mengejek, "Melek nungguin bapaknya itu tuh, Ian." Ikhsan lalu mencium pipi dan kening Ian. Bayi itu tak bergeming sebab sudah terlelap. Ikhsan jadi gemas dan saat berusaha untuk mencium lebih dalam, tubuhnya sudah ditarik kebelakang oleh Yrene. Dengan sigap, Suster Mira melarikan Ian ke kamar tidur meninggalkan Ikhsan dan Yrene yang bergulat di sofa sambil cekikikan.
Lelah tertawa, keduanya kini terduduk lemas di sofa. Sejenak hening, Yrene menolehkan wajahnya menatap Ikhsan. Dengan sebuah hembusan nafas panjang, Yrene tampak bersiap membuka sebuah pembicaraan yang lama ia simpan di lubuk hatinya yang terdalam. Kini, Yrene sudah menemukan dirinya dan apa yang ia inginkan. Sambil menggengam erat tangan Ikhsan, Yrene membatin. Saatnya untuk memberi Ikhsan kesempatan untuk meraih apa yang hati suaminya itu inginkan.
***
Yak! Sampai disini dulu ya.
Digantung dulu, diangin-anginkan dulu sampai sabtu minggu ya.
Hihi, Author akan lanjutkan minggu depan ;)
Jangan lupa alirkan dukungan kalian dengan selalu berikan kesan episode ini di kolom komentar.
Juga like dan votenya jangan sampai ke skip ya!
Kiss, Author.