
Matahari sudah menyingsing dari balik awan shubuh, menyapa hangat wajah Galang yang sudah sedari tadi berdiri di depan rumah menunggu mobil sewaannya datang. Tak lama, terdengar deru suara mobil yang disusul sebuah motor. Mereka adalah orang yang mengantarkan mobil sewaan Galang. Segera ia melakukan transaksi dan lima menit kemudian, Galang sudah menginjak pedal gas menuju rumah perempuan yang selalu ia nantikan.
Menghembuskan nafas untuk menenangkan degup keras jantungnya, Galang lalu melangkah keluar dari mobil dengan mantap. Langkahnya terasa ringan, seolah sedang berjalan diantara awan putih tipis. Tepat saat Galang hendak mengetuk, pintu justru sudah terbuka oleh Mama Maya.
"Eh, Ibu. Maya sudah siap?"
Mama Maya tersenyum, "dia ada di halaman belakang, pamitan sama tempat semedi katanya. Susul aja, Nak Galang."
Galang mengangguk dan melangkah masuk, sempat ia melirik di kursi depan sudah berdiri rapi dua koper dan sebuah tas gendong yang sudah pasti milik Maya. Tersenyum puas karena merasa yakin bahwa kali ini ia benar-benar akan membawa Maya bersamanya. Masih teringat jelas betapa perihnya ingatan-ingatan Galang tentang kegagalannya menjemput Maya ketika gadisnya hampir saja menikahi Ikhsan. Galang menggeleng, menghapus dengan cepat kilas ingatan yang tidak menyenangkan itu. Mempercepat langkahnya ke halaman belakang, ia lalu mendapati Maya sedang berdiri sendirian disana.
Gadis itu berdiri menatap langit, membiarkan hangat mentari menerpa wajahnya yang sudah terlalu lama sedih dan menyendiri. Maya dibalut oleh sweater putih yang kekuningan karena semburat cahaya matahari. Rambutnya yang mulai memanjang lagi terikat asal di belakang dengan poni samping yang sedikit berantakan di pipi. Melihat Maya seperti itu, membuatnya merasa harus susah payah menahan keinginan dirinya untuk memeluk gadis yang kini membalik badannya menghadap Galang.
"Masih betah disini? Perlu di cancel jadwal pulangnya, non?" tanya Galang sambil menahan senyum.
Maya tertawa kecil, ia lalu beranjak menghampiri Galang dan menepuk pundak lelaki tegap itu. "Yuk berangkat, keburu siang. Kasihan TechnoMedia punya bos yang datengnya jadi telat gara-gara aku," ucap Maya sembari berlalu.
Galang menyusul langkah Maya dan dengan sigap mengambil alih dua koper serta satu tas punggung yang ada di kursi depan. Layaknya kuli panggul yang riang mendapat orderan, Galang berjalan dan dengan cepat sudah memasukkan semua barang milik Maya ke mobil. Berlari kecil, ia menghampiri Maya dan Mamanya yangs ednag berpelukan di teras.
"Ma, beneran ya nanti Bi Erha dipanggil lagi kesini. Mama jangan sendirian di rumah," kata Maya saat melepas pelukannya.
"Iya, Bi Erha juga senang kok Mama panggil lagi ke rumah. Paling nanti siang dia juga dateng, syukur-syukur kalau dia bawa anaknya yang masih 3 tahunan itu. Lumayan jadi mainan Mama, keingat si centil Naomi!" ujar Mama Maya sambil mengusap lengan putrinya itu.
"Naomi anaknya Arya ya, Bu?" sahut Galang dari belakang Maya.
"Hehe, Iya. Seru kali ya punya banyak cucu, banyak hibur-
"Ehem!" Maya sengaja berdehem sambil melirik tajam Mamanya. Sementara Mamanya hanya tersenyum geli. Ia paham maksud Maya, tetapi melihat Galang yang begitu perhatian hingga mengorbankan 14 harinya didesa ini hanya untuk menunggu waktu yang tepat menjemput Maya, membuat hatinya terasa hangat. Mama Maya tidak ingin terlalu cepat menggantungkan harapannya pada Galang, ia masih paham betul bahwa beranjak dari trauma akan butuh waktu bagi Maya untuk membuka hati lagi.
"Ya sudah, kalian hati-hati dalam perjalanan ya. Kabarkan jika sudah sampai," kata Mama Maya sambil mengelus pipi putrinya itu. Ia sebenarnya sedikit sedih ditinggal oleh Maya, tetapi melihat hari-hari Maya sendirian disini juga membuat hatinya resah. Berbagai cara ia lakukan untuk menghibur Maya termasuk dengan mencoba memasak berbagai macam makanan seklaigus untuk menambah minat makan putrinya itu. Dan mungkin, dengan berada kembali pada kesibukan karirnya di sana akan justru lebih cepat memulihkan Maya.
***
Deru mobil menjadi satu-satunya suara diantara heningnya suasana di mobil. Galang berulangkali menghirup dan menghembuskan nafas, menahan gejolak gembira yang menggebu di dadanya. Sangat sulit baginya untuk tetap tenang saat ini.
Benar, saat ini, seolah mimpi bagi Galang. Gadis yang selama dua minggu ini terus berada di dalam pikiran, hati dan tiap mimpinya benar-benar ada disampingnya, sedang duduk tenang sambil memandangi hamparan sawah. Apa, apa yang ia harus lakukan untuk memenangkan hati gadis ini? Galang mengigit bibir dalamnya berpikir keras. Terlalu banyak rencana dalam pikirannya. Tetapi apapun rencana itu, Galang tahu. ia harus terlebih dahulu menyembuhkan Maya sepenuhnya. Menerima cinta yang baru secepat ini tidak akan membuat Maya bahagia.
Galang mendecak lidahnya, pikirannya terlalu sibuk sendirian. Membuatnya kehilangan waktu untuk dinikmati selama perjalanan bersama Maya. Melirik perempuan disampingnya, Galang berbisik pelan. "May, keganggu gak kalau aku hidupkan radio?"
Maya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Galang. "Gakpapa, hidupin aja," jawabnya singkat sambil membenarkan posisi duduknya yang terlalu condong ke jendela mobil. Sedikit malu karena sudah sedari tadi diam. Mungkin Galang merasa sepi tak sepatah katapun terucap dari mulutnya sejak awal perjalanan.
Telunjuk Galang pelan menekan sebuah tombol dan menekan volume atas untuk menaikkan suara dari speaker mobil. Perlahan lantunan sebuah lagu terdengar. Dan bagai mendapat dukungan semesta, lagu yang sangat tepat berputar melantunkan apa yang sang pengemudi mobil rasakan.
"Untaian rasa yang kuselipkan
Semoga mampu tuk meluluhkan
Hati pemilik senyum itu
Berbagai cara akan kucoba
Agar aku takkan kehilangan
Pandangan dari senyum itu
Dan di saat kukatakan jadi kekasihku
Akan membuat kau jauh lebih hebat
Percaya padaku
Percaya padaku
Jiwaku untukmu
Hidup terlalu singkat
Untuk kamu lewatkan
Tanpa mencoba cintaku..." - Terlalu Singkat by Sheila on 7.
Jemari Galang mengetuk-ngetuk setir kemudi, sangat menikmati suara Duta, sang vokalis. Lantunan tiap kata dan irama lagu itu benar-benar mewakili perasaannya saat ini. hatinya terasa penuh, pagi ini terasa begitu indah bagi Galang.
"Suka banget sama lagunya? Gak usah ditahan kali, Lang. Nyanyiin aja," ucap Maya sambil menahan senyum.
"Eh," kaget dengan Maya yang tiba-tiba bersuara, Galang jadi tertawa. "Haha, sorry, May. Gak cuma lagu ini yang aku suka. Semua lagu-lagu Sheila on 7 aku suka, kok."
"Oh ya?" tanya Maya.
"Iya, beneran. Bahkan ini adalah band pertama yang kaset originalnya aku beli dengan tabunganku hasil jualan koran dulu saat SMP. Tapi sayang banget, belum pernah kesampaian nonton konser live mereka. Yah mau gimana lagi, susah ngebagi waktunya," jelas Galang sambil menghela nafas. Menyadari lagi dan lagi bahwa terlalu banyak yang ia lewatkan saat membangun dan mengurus TechnoMedia.
Maya mengangguk lalu berkata, "Yaudah, next time kita pergi bareng aja, mau?"
Kaget dan hampir saja membelokkan setir kemudia tanpa kendali, Galang menatap sekilas Maya dengan manik mata membesar. "Mau, May! Mau, mau banget!"
"Hahaha, okay. Tapi aku kalau nonton konser sukanya yang festival, berdiri, gitu. Yah, mungkin beda lah sama kamu yang mungkin sukanya duduk di seat VVIP yang-"
"Aku belum pernah nonton konser seumur hidup aku. Dan aku mau di ajakin duduk atau berdiri, apapun itu. Asal janji, tawaran itu bukan sekedar basa-basi," ucap Galang semangat.
Maya tersenyum sambil menawarkan kelingkingnya, "aku janji."
Mengaitkan kelingkingnya pada jari kelingking mungil Maya, Galang tersenyum lebar. Dihatinya ia mengeluh pelan, bagaimana ia bisa menahan laju kecepatan hatinya yang jatuh cinta pada Maya, jika gadis ini terus menerus memperlihatkan pesona yang meluluhkan dirinya.
***
Tiga jam perjalanan telah berlalu dan mobil Galang sudah memasuki kembali kota dimana ia membangun kekuasaannya dibidang teknologi dan media informasi. Ada dua buah gelas kopi yang setengah kosong di tatakan minum mobil. Perjalanan tadi, sudah sangat membekas di hati dua anak manusia itu. Bahkan gelas-gelas kopi mereka terlalu lama didiamkan oleh sahut-sahut topik tentang hidup yang tak pernah mereka masing-masing buka pada siapapun.
Mobil Galang sudah memasuki area apartment Maya, menurun lalu memasuki area parkiran. Ia lalu turun dengan cepat, membuka pintu belakang mobil dan menurunkan baang bawaan Maya. "Yuk," ajaknya singkat pada Maya yang sudah berdiri di hadapannya.
"Sini, biar gue bawa satu kopernya," ucap Maya. Dan setelah mengenggam pegangan koper, Maya berjalan ke arah gate masuk menuju lift. Galang menurut dan menyusul Maya di belakang.
Tak lama, mereka berdua sudah berada di depan pintu apartment Maya. Memencet beberapa kali tmbol-tombol yang ada kunci, akhirnya pintu terbuka.
"Hahaha!" tawa Maya dan Galang lepas bersamaan. Ruangan yang di tinggal begitu saja oleh Maya tampak berdebu dan akan butuh cukup banyak usaha bersih-bersih seharian penuh.
Galang dengan sigap mengangkat lagi koper Maya yang tadi ia letak disamping kakinya. "Panggil aja service cleaner dari apartment. Barang berharga sudah diamankan, kan?" tanya Galang yang dijawab anggukan oleh Maya.
"Trus kita mau kemana?" tanya Maya kemudian saat menutup kembali pintu apartmentnya.
Galang melirik jam di pergelangan tangannya, "ngopi di cafe?"
Maya mengangkat bahunya, "kan tadi baru ngopi di mobil. Lagian kamu ga jadi ngantor?"
Meletakkan lagi koper yang ia genggam, Galang menggaruk pelipisnya. "Atau mau ke rumahku dulu? Besok baru kesini? Rumahku sebelumnya di urus Rayyan selama aku cuti. Jadi sudah pasti bersih. You know him right? The most clean, fragrant and organized person we ever met? Jadi pasti ga ada debu barang secuilpun di rumahku," tawar Galang.
Berpikir sejenak, Maya lalu menerima tawaran Galang. Menginap hanya semalam di hotel tentu hanya akan membuang uang. Terlebih lagi, dia bisa memanfaatkan waktu untuk mengobrol dengan Galang tentang keadaan TechnoMedia serta mencari tahu status terakhir pekerjaannya yang sudah diambil alih Galang selama dua bulan ini.
Galang menekan kembali pedal gas mobil untuk keluar dari area parkir. Di perjalanan, ponsel Galang bergetar tak henti. Baru saja mengabarkan kembali bahwa ia sudah di kota membuat jadwalnya kegiatannya otomatis diaktifkan oleh Rayyan. Sedikit gusar, Galang mematikan ponselnya.
"Kenapa dimatiin?" tanya Maya yang mendapati gerakan Galang barusan. Sebab setelah gerakan oenyentuh ponsel pada jaket Galang, ponsel pria itu tak lagi bergetar.
"Gak papa, aku urus kamu dulu. Hal lain bisa belakangan. Kamu pasti capek hari ini dan butuh istirahan sebelum besok kembali kerja lagi, kan?"
Maya mengangguk, meski sebenarnya ia ragu apakah akan sangat aneh jika tiba-tiba ia kembali ke kantor tanpa pemberitahuan apapun. Maya tiba-tiba teringat pada surat resign yang masih tersimpan di laptopnya ia bersyukur tidak terburu-buru dan masih penuh pertimbangan saat berencana mengirim surat itu
"May, ini kunci rumah. Aku gak bisa masuk, udah buru-buru banget. Kasihan Rayyan yang udah nge back-up meeting pagi ini. Kulkas pasti selalu full bahan makanan kok. Atau kamu bisa delivery juga. Aku usahakan pulang awal. Biar sekalian bantu kamu mastiin apartment kamu lagi. Okay?" jelas Galang saat mereka sudah berdiri di depan pintu rumah Galang.
Maya menerima pemberian kunci dari Galang dengan ragu. Tapi jika ia mengganti rencananya saat ini, tentu itu terkesan sangat jahat untuk menolak niat baik Galang. Maya lalu mengangguk, "okay, hati-hati ya," ucapnya lirih.
Galang kemudian berlalu dari hadapan Maya dan kembali ke mobil. Dalam hitungan detik, mobil itu sudah melesat pergi. Dengan satu tangan kiri, ia mengaktifkan kembali ponselnya dan segera menyambungkan pada perangkat audio mobil. Tepat saat koneksi jaringan terjalin, dering dari Rayyan langsung masuk, menenggelamkan ia pada kesibukan pekerjaan seperti biasanya di TechnoMedia.
Sementara itu, Maya yang baru saja memasuki ruang tamu Galang sedikit kesusahan menyeret dua kopernya sekaligus. Dengan nafas ter-engah, Maya membanting tas punggung yang ia bawa. Maya lalu duduk sejenak dan memejamkan matanya. Ruangan ini, pernah beberapa kali ia datangi. Dan rasanya seperti bukan tempat yang asing baginya.
Baru saja Maya hendak beranjak membersihkan diri, ia hampir saja berteriak. Ada sebuah kelopak bunga jatuh diwajahnya. Sontak, Maya melihat ke arah langit-langit. Tidak ada apapun disana, dan saat Maya mengarahkan pandangan ke lantai, ada sebuah bunga daisy disana.
***
Halo pembaca yang baik!
Jangan lupa like, komen dan vote nya ya!
Love, Author.