
Tania mengetuk pelan pintu kamar yang di peruntukkan untuk Maya. Di belakangnya ada Virsa, Nina dan Adel yang meringkuk. Ke empat sahabat itu sebenarnya tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Tetapi, ketika pintu terbuka, mereka bersamaan menarik nafas.
Maya saat itu sedang duduk di depan cermin sendirian, baru saja menyelesaikan base make-up. Pandangan matanya kosong, bahkan ke empat sahabatnya harus saling berpandangan beberapa saat sampai akhirnya ia menyadari kedatangan mereka. Maya dengan gugup berdiri sambil menggenggam erat kedua tangannya, tidak tahu harus berbuat apa. Mulutnya begitu kaku, bahkan tidak seulas senyumpun mampu ia paksa berikan saat ini.
Adel tidak dapat menahan air matanya yang tanpa sadar menetes. Ia lalu berlari memeluk Maya. Memeluk sahabatnya itu erat. Akhirnya, air mata perih Adel keluar juga. Ia menangis sambil sekuat tenaga menahan suaranya dalam pelukan Maya. Adel begitu sesak menahan perasaannya, mengetahui bahwa Maya juga tak siap menghadapi kenyataan yang akan ia hadapi ini.
"You are so beautiful, Maya," isak Adel, "I wish you a happy life." Akhirnya Adel memilih untuk tidak memperkeruh suasana dengan membuka apa alsan dibalik tangisnya.
Tak mampu membalas, Maya hanya mengangguk pelan.
Khawatir suasana semakin lepas kendali, Tania akhirnya memutuskan untuk menyudahi pertemuan singkat yang biasanya mereka lakukan pada sahabat yang akan menikah itu. Ia menyentuh lembut pipi Maya dan berkata, "Maya, kita akan selalu ada untuk lo. Kita pergi dulu ya, kita tunggu di venue."
Masih tak mampu mengeluarkan suaranya, Maya hanya mampu menatap teman-temannya pergi dan menghilang dari balik pintu. Lamunannya terpecah saat Giska kembali datang dari pamitnya ke toilet beberapa waktu yang lalu.
Menatap pandangan Maya yang begitu aneh seolah pikiran gadis itu tidak sedang berada disana, Giska menjadi khawatir. Ia mendekap pipi Maya dan melembutkan suaranya.
"Maya, ada apa?" tanyanya pelan.
Begitu Maya mengedipkan matanya, ada bulir air mata yang jatuh. Ia lalu menunduk dan menggeleng. "Gue gak tau, Gis. Perasaan gue saat ini aneh banget. Gue merasa gamang dan sesak."
Giska menhela nafasnya dengan wajah sedih. "Hey," tegurnya. Ia lalu menggenggam tangan Maya. "Lo mau gue panggilin siapa? Mama lo? Atau Ikhsan? Ikhsan sudah tidur disini dari semalam. Jadi dia pasti bisa datang kesini kalau lo mau."
Maya menggeleng, "Justru saat ini gue rasa, Ikhsan, adalah orang yang paling gak sanggup gue temui. Gue gak tahu dia akan berpikiran apa kalau melihat keadaan gue justru begini sekarang."
Mendengar getar di suara Maya, Giska tersenyum lemah. "May," sapanya lagi. "Gue rasa lo perlu banget mendengarkan hal ini."
"Gue yakin, ini juga pasti merupakan alasan utama kenapa Ikhsan memilih gue untuk mendandani lo. Tahu kenapa?"
Maya hanya menggeleng, tetapi anehnya, genggaman tangan Giska terasa hangat. Seolah perempuan yang sekarang ada didepannya itu sangat bersungguh-sungguh untuk menenangkan perasaan Maya.
"May, gue adalah perempuan yang merupakan istri ke dua dari pernikahan siri dengan suami gue."
Hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan, Maya mengangkat kepalanya.
"Iya, lo gak salah dengar. Gue punya pengalaman yang sama seperti yang lo rasakan saat ini," lirih Giska.
Menelan ludahnya dengan susah payah, Maya akhirnya bersuara juga. "Do you happy?"
Giska tersenyum sambil mengalihkan pandangannya. Ia tak langsung menjawab melainkan justru terdiam memandangi jendela dengan mata nanar.
"What is happy, Maya? Saat ini gue hidup sendiri, mengurus bisnis gue, menyibukkan diri dari rasa sepi. Gue punya segalanya, tapi tetap merasa kurang. But that's life, we will never get enough won't we?"
Maya mengerutkan keningnya, kepalanya tiba-tiba memutar nasehat papanya saat ia bermimpi semalam.
"Do you still love him? Apakah lo menyesal?" tanya Maya lagi.
Tersenyum, Giska menjawab, "I do, I love him and I will always love him. Dan, soal menyesal atau tidak, what's the point to talk about that? I already don't have options, dear. Tapi, berbeda dengan gue, lo masih punya pilihan saat ini, sampai nanti nama lo terucap di ikrar akad."
Perlahan, rasa hangat di tangan Maya mengalir ke pipi dan wajahnya. Dengan bibir bergetar, Maya berkata, "Thank you, Giska. It means everything to me."
Giska mengangguk dan beranjak berdiri. "Jadi, apakah lo sudah yakin memilih?"
Menarik nafasnya dengan muka tegang, Maya mengangguk. "Tapi," lirih Maya kemudian.
"Tapi?"
"Tapi gue masih ingin mencoba gaun pengantinnya. Is it okay?" tanya Maya takut-takut.
Giska mengulum senyumnya, entah kenapa rasa sesak yang sedari tadi ia rasakan perlahan hilang melihat rona pucat pada wajah Maya kembali memerah. Ia lalu mengangguk menjawab pertanyaan Maya. "Lo pasti bakalan cantik banget dengan gaun itu."
Dengan sigap dan cepat, Giska membantu memakaikan Maya gaun pengantin berwarna putih yang sangat cantik. Tak lama kemudian, photographer yang Ikhsan sewa untuk mendokumentasikan acara datang mengetuk pintu kamar untuk memotret Maya.
"Permisi ya," ucap pria itu sopan saat memasuki kamar.
Giska menatap Maya sesaat lalu berbisik pada sang photographer, "Abe, she don't want you."
Hampir salah tingkah dan mematung, Abe menatap Maya dan Giska bergantian.
"It's okay. Gue pengen punya satu. Karya bagus lo akan sangat disayangkan untuk dilupakan begitu saja, kan? Lo bilang lo butuh dokumentasi?"
Tersenyum dan hampir menangis, Giska tertawa, "Bisa-bisanya lo masih ingat hal itu. Thanks, dear," ucap Giska sambil merapikah tudung kepala Maya.
Maya membuka pintu balkon kamar, mentari pagi sudah mulai naik meski langit masih biru pekat. Ia kemudian tersenyum ke arah kamera. Sebuah senyum yang akan selalu ia kenang nantinya.
"Hey, kenapa sih?" protesnya saat sudah berada di luar pada Giska.
"Apanya yang kenapa, ya kan tugas lo dan gue udah kelar," jawab Giska sambil masuk kembali ke kamar dan menarik koper make up nya sambil berpamitan pada Maya.
Saat mendapati Giska lagi, Abe melanjutkan protesnya, "Udah selesai gimana sih, gak paham gue."
Giska kemudian melotot. "Udah deh, lo kebawah aja sanah. Pastikan aja lo dapat semua momen yang lo mau. kalau disini. Udah cukup satu itu aja," kata Giska sambil melirik tajam ke kamera Abe.
Malas berdebat panjang, Abe dengan kesal berjalan meninggalkan Giska. "Terserah deh," keluhnya sembari pergi.
Giska menarik nafas dalam-dalam dan menatap pintu kamar Maya yang tertutup,"Good luck, Maya."
***
Di dalam mobil yang sebentar lagi sampai di Hotel Royale, Rayyan berkali-kali mencuri pandang kearah Galang yang duduk disampingnya. Pria yang berjas dan berdandan rapi itu masih diam seribu bahasa. Rayyan bahkan kini tak berani menegurnya. Juga tak mampu menebak apa isi kepala sepupunya itu.
Begitu mobil terparkir, Galang cepat membuka pintu dan langsung berjalan tegap memasuki hotel.
"Lang, tunggu!" Rayyan berlari mengejar Galang yang kini tengah berada di depan lift menunggu pintu lift terbuka.
"Lo mau kemana, hey?" tanya Rayyan lagi. Kali ini ada nada khawatir yang jelas di suaranya.
Saat pintu lift terbuka, tangan Galang lugas menggesek sebuah kartu dan menekan nomor lantai pada tombol di dinding lift.
Menganga melihat apa yang Galang barusan lakukan, Rayyan sampai tergagap bertanya. "Lang, ddd..dari mana lo dapat kartu akses itu?! Dan bukannya tujuan kita ke lantai 5, venue nya Ikhsan?"
Galang masih diam tak bersuara, rahangnya ia katup keras.
Menyadari situasi, Rayyan memejamkan erat matanya dan segera menutup mulut dengan satu tangan. "Oh God, Oh God," lirih Rayyan.
Ting!
Pintu lift terbuka dan masih dengan tegap, Galang melangkah menuju sebuah kamar. Rayyan mengikutinya dari belakang.
"Lo tunggu disini aja, Ray," perintah Galang. Ia lalu melangkah lagi dan berhenti di sebuah pintu. Tanpa mengetuk, Galang dengan yakin menarik kenop dan masuk ke dalam kamar itu.
Menatap dari kejauhan, Rayyan yang berwajah susah berdoa dalam batinnya. Ia sungguh ingin berdoa agar Galang tidak menciptakan maslaah yang justru membahayakan dirinya ataupun Maya. Tetapi entah kenapa doa yang terucap justru, "Semoga berhasil, Lang."
***
"Maya," sapa Galang.
Bagai disambar petir karena begitu terkejut, Maya yang saat itu sedang duduk hampir memekik. Ia sampai menjatuhkan bouquet bunga yang tadi ia pegang.
"Let's just stop this, Maya. Gue tahu lo gak menginginkan ini semua. Come back to me, Please," lirih Galang lagi sambil mendekat satu langkah.
Tidak seperti yang Galang duga, Maya justru membalik tubuhnya dengan tenang dan tersenyum. "Lang, Lang. Sampai kapan lo akan menyerah? Gue sudah akan menikahi Ikhsan pagi ini, bahkan 30 menit dari sekarang, Galang,"
Menggeleng keras, Galang merasa lututnya melemah. "Gak, gue tahu lo gak menginginkan pernikahan ini. Gue tahu lo gak akan tega. 15 tahun lo menyiksa diri dengan memendam perasaan cinta lo, tidak mungkin sekarang lo memilih untuk mengambil semua resiko yang sudah lo hindari bertahun-tahun lamanya."
Maya beranjak berdiri, meski sedikit kesulitan, ia berjalan perlahan mendekati Galang.
"Sejak kapan ya lo mulai begitu sering terlibat dengan gue, Lang. Dan sejak kapan pula perasaan lo berubah, ya. Yang jelas, semua perasaan yang lo punya sekarang belum cukup untuk meyakinkan gue, Lang. If you know me, you will understand that."
Maya kemudian melanjutkan dengan suara yang lembut, "Sudah cukup. Lo jangan lagi menyusahkan diri lo karena gue. Karena bukan itu hal yang gue inginkan dari lo. Lang, if you love me, you should let me go."
"Terimakasih karena masih menginginkan gue di kesempatan terakhir yang lo punya, Lang. I wish I can turn back the time and rewrite everything," lirih Maya lagi.
"May, please," Galang tak dapat menahan dirinya lagi untuk tidak memohon di depan Maya.
Berjalan pelan melewati Galang, tangan Maya menyentuh pundak pria itu.
"Good bye, Galang."
***
Halo pembaca yang baik!
Nantikan The Wedding Day besok ya!
Love, Author.