
Pagi hari ini di kantor TechnoMedia Corp. berjalan lebih tenang dari biasanya dibandingkan dengan 3 bulan terakhir. Para anak magang tidak sibuk berkeliaran melainkan dengan konsentrasi mengerjakan tugas akhir mereka untuk laporan yang akan di presentasikan di kampus. Maya yang hari ini punya niatan untuk melakukan beres-beres di mejanya terpaksa melakukannya sendiri tanpa bantuan Sisil. Sebab anak didikannya itu sedang berkutat dengan naskah laporan magang yang sudah harus dikirimkan lusa.
Maya berjalan ke arah kantor HR untuk mengambil beberapa stationery miliknya yang sudah habis. Stapler, Lem, Solatip dan juga kotak karton untuk menyimpan file yang masih berguna untuk di review dan di pelajari kembali. Ketika Maya sampai di kantor HR, Bu Titik sebagai kepala administrasi karyawan langsung menanyainya.
"Mbak May, akhir bulan ini rencananya mau cuti kan?" tanya Bu Titik saat melihat Maya sedang mengambil beberapa stationery di storage. Ditanyai seperti itu, Maya jadi sedikit bingung. Tak biasanya Bu Titik menanyai soal cuti, ia jadi bertanya-tanya apakah Galang tidak menyetujui pengajuan cuti dirinya. Setelah mendapatkan semua yang ia butuhkan, Maya dengan sopan mendatangi meja Bu Titik.
"Iya Bu, kenapa ya Bu? Cuti saya ga di approve ya Bu?"
Bu Titik melambaikan tangannya seolah menandakan bahwa Maya harus lebih dekat padanya agar mendengar jawaban Bu Titik.
Maya menunduk dan mendengar Bu Titik berbisik, "Anu, soalnya Pak Galang juga cuti bersamaan dengan tanggal Mbak Maya. Kalian janjian ya?"
Hampir tersedak dengan tebakan Bu Titik, Maya segera menggelengkan kepalanya. Ia harus segera mengklarifikasi dugaan Bu Titik. Akan ada gosip aneh tersebar di kantor jika tahu bahwa ia dan Galang memang cuti dan pergi bersama-sama.
"Sa-saya sih ada urusan Bu, jenguk teman lahiran! Gak tahu deh kalau Pak Galang," jawab Maya sambil memasang muka tanpa ekspresi.
Mendapati reaksi Maya, Bu Titik terlihat kecewa. Ia tadinya berharap Maya menunjukkan ekspresi tersipu malu sehingga ini akan menjadi bahan gosip baru yang seru saat istirahat siang nanti. Maklum, sudah lebih dari 5 tahun bos mereka ini tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Dan semenjak Maya hadir, perubahan signifikan terlihat dari sikap Galang. Bahkan hanya Maya lah satu-satunya orang yang berani marah balik pada Galang yang terkenal galak. Kini, hampir semua orang di kantor bertaruh kapan waktu Galang dan Maya akhirnya menyadari kedekatan mereka dan menyerah pada ego masing-masing, lalu jadian dan menikah.
Sebelum Bu Titik berniat menggali lebih lanjut, Maya buru-buru pamit dan dengan cepat melangkahkan kaki kembali ke ruangan cubicle kaca miliknya. Sesampainya di ruangan itu, Maya segera menyibukkan diri dengan agenda bersih-bersihnya. Ia sungguh tidak mau menambah beban pikirannya dengan usaha-usaha beberapa kelompok di kantor untuk menjodohkannya dengan Galang. Ia bukan tidak menganggap Galang sebagai lelaki yang layak, masalahnya adalah Maya masih ingat tentang yang Galang pernah mengatakan bahwa hatinya terkunci hanya untuk Ratri.
"Maya?!"
Jdugg!
"Aduh! Aduh!" Maya terhuyung dan jatuh terduduk. Kepalanya terbentur meja karena kaget dengan suara seseorang yang meneriaki namanya. Segera ia bangkit dan mendapati Galang sedang berdiri melipat tangan di dada. Mata bosnya itu sungguh sangat menghakimi.
Sambil masih mengelus keningnya, Maya mengomel. "Gue tau lo bos disini, tapi permisi kek masuk ke ruangan orang! Kaget tau!"
Galang terkekeh melihat Maya masih mengusap-usap keningnya. "Lo lagi ngapain sih dibawah meja?" tanyanya.
"Gue tadi udah permisi, cuma lo nya gak denger. Yaudah gue panggil elo dengan nada tinggi deh. Ngapain lo dibawah meja sih? Ngelamun ya?" cecar Galang lagi seraya duduk di hadapan Maya.
"Ngga, gue gak ngelamun kok," Ah, padahal ia memang lagi melamun. Mana melamunnya tentang orang yang langsung datang kehadapannya pula. Sungguh Galang ini intuisinya kencang sekali. Pantes saja lawan bisnisnya tidak ada yang sanggup bertingkah macam-macam atau mencari masalah dengannya. Selain intuisi tajam dan mengerikan yang juga menyebabkan ia menembaki hampir seluruh tim biru pada permainan Paintball minggu lalu, relasi Galang yang ada dimana-mana itu tidak dapat diremehkan. Orang yang cari ribut dengan Galang pasti serasa menghadapi mafia.
"Trus ngapain di bawah situ, asik bener sampai gue panggil ga nyahut-nyahut?" tanya Galang lagi.
"Ini," Maya berhenti sejenak kemudian melanjutkan, "lagi niat bersih-bersih aja. Kan cuti gue cukup lama, seminggu."
Galang mengerutkan alisnya, "Siapa bilang lo bisa cuti seminggu? Gue approvenya cuma 3 hari kok!"
"Kenapa gitu?" Maya buru-buru bertanya, jangan-jangan ini ada hubungannya dengan pertanyaan Bu Titik tadi.
"Tadinya gue udah approve sih, seminggu di system. Tapi si Rayyan baru ngomong kalau ternyata gue ada jadwal penting di hari ke empat. Jadi gue minta Bu Titik buat modif cuti lo ke 3 hari aja. Biar nanti pas pulang lo juga bisa barengan sama gue."
"ASTAGA GALAAAANG! Bener-bener lo ya!" teriak Maya. Ia sangat terpancing emosi oleh penjelasan Galang barusan. Maya bahkan sudah lupa bahwa orang yang ada dihadapannya ini adalah bosnya.
"Ih, kenapa sih lo, May! Marah-maraaah melulu! Lagi period lo ya? datang bulan?"
"Susah-susah gue pasang muka datar depan Bu Titik, tenyata elo yang bikin kabar kita bakal cuti bareng?!"
Galang masih bingung dengan reaksi Maya, "Lah emang gitu kenyataanya, emang kenapa sih?"
Kesal dengan sikap Galang yang entah tidak sadar dengan rumor tentang kedekatan mereka atau justru tidak perduli, Maya segera mendorong Galang keluar dari ruangannya.
"Aduh May! Sakit-sakit!" Galang tampak menghindar dari tangan Maya yang mendorong bahu dan punggungnya.
Bingung dengan tingkah Galang, Maya mencoba mencari tahu. "Apaan sih gue dorong pelan doang juga?"
Galang mengurut-urut bahunya, "Ini bahu gue lebam, May. Ada bekas membiru. Pas main Paintball minggu lalu gue kan ada salah manuver gitu. Pas guling di tanah itu, loh. Pas lo gue pelu-" Galang segera sadar dan langsung menghentikan kalimatnya. Sebab pikirannya kembali menerawang pada saat momen dimana tubuh Maya ada dalam pelukannya, bahkan ia sempat menindih tubuh perempuan di depannya ini meski hanya beberapa detik. Mengingat adegan ini malah membuat hasratnya memanas. Galang segera menelan ludah menyudahi memorinya tentang insiden minggu lalu.
Melihat Galang mengurut-urut bahunya, Maya akhirnya luluh. "Mau gue olesin cream pereda nyeri otot di klinik?" tanya Maya dengan nada khawatir. Galang dengan cepat mengangguk, rasa nyeri otot ini lumayan cukup mengganggu aktivitasnya hari ini.
Sesampainya di klinik, Galang dan Maya sempat terdiam sejenak mendapati tanda di papan meja bahwa suster penjaga klinik sedang ke toilet. Maya mengangkat bahunya, toh mereka juga tidak butuh bantuan suster untuk sekedar mengoles cream pereda nyeri otot. Segera Maya membuka lemari P3K , mengambil cream yang ia cari dan menuliskan bukti pengambilan pada buku notes yang tersedia di samping lemari.
Galang duduk di pinggir tempat tidur dan membelakangi Maya, jemarinya cepat membuka kancing kemeja. Mendapati Galang bertelan*ang dada untuk kedua kalinya, ia segera menelan ludah dan menggelengkan kepalanya agar pikirannya kembali fokus. Perlahan, Maya mengoleskan cream ke bahu Galang.
"Udah!" ujar Maya cepat sambil mengembalikan cream ke lemari.
"Lah, gue pikir bakal sekalian dipijet, May?"
Baru saja Maya ingin mengeluarkan kalimat sewot, suster klinik tiba-tiba kembali dan memekik kaget mendapati Maya dan Galang dengan keadaan bertelan*ang dada.
"Suster, ini bukan seperti yang suster pikirkan!" jelas Maya cepat-cepat.
***
"Yang?"
Yrene menoleh pada panggilan Ikhsan yang berasal dari pintu masuk rumah. Cukup terkejut juga ia karena jam makan siang kali ini pun, Ikhsan menyempatkan diri untuk pulang dan makan siang bersama Yrene.
"Gak lah, seneng malah bisa melihat Ibu Ian sudah bisa makan. Makan yang banyak ya, Sayang!" ujar Ikhsan sambil mengelus tangan istrinya. Yrene yang tadinya belum merasa lapar segera beranjak menyiapkan piring untuk suami dan dirinya sendiri. Meski belum lapar, tawaran makan bersama tentu cukup membangkitkan nafsu makannya.
Yrene sungguh merasa beruntung dengan perubahan sikap Ikhsan semenjak menjadi Ayah. Sikapnya sangat memanjakan Yrene dan kerap kali memuji dirinya sebagai Ibu dari anaknya. Hal ini disadari oleh seluruh orang yang ada di rumahnya, tak ayal beberapa kali Yrene sering di goda oleh Suster Mira dan Mbak Ningsih tentang sikap romantis Ikhsan. Mereka berpesan agar Yrene segera KB selepas masa nifas agar jangan sampai Ianvs tiba-tiba memiliki adik.
Selesai makan siang, Ikhsan menyempatkan diri bermain bersama sang buah hati. Hari ini genap sudah sebulan usia Ianvs. Berat badan Ianvs berkembang pesat, bahkan mulai tampak gelembung pipi di wajah Ianvs.
Ikhsan merebahkan dirinya sejenak di sofa ruang keluarga saat Ianvs dibawa kembali oleh Suster Mira. Yrene kemudian duduk di karpet dan memijat bahu dan lengan suaminya. Entah ada firasat apa, Yrene merasakan bahwa ini sudah waktunya ia mengatakan apa yang ada di hatinya setelah berulang kali menunda momen ini.
"San," Yrene berhenti sejenak, mengecek apakah Ikhsan tertidur dengan matanya yang tertutup atau hanya sekedar menutup mata saja melepas lelah.
"Hmm?" tanya Ikhsan, tangannya segera mengelus kepala Yrene.
"Di hari Ianvs lahir, kerabat kamu yang bernama Galang datang menemui aku," ucap Yrene pelan. Tetapi, hal ini cukup membuat Ikhsan terkejut dan segera duduk dari tidurnya.
"Galang?" tanya Ikhsan. Terkesan jelas bahwa ia sangat terkejut.
"Iya, Galang yang juga ternyata adalah bos dari Maya." Yrene tahu bahwa Ikhsan pasti juga mengetahui hal ini. Tapi ia ingin mengesankan bahwa pembicaraan ini akan ada hubungannya dengan Maya. Terlihat jelas, suaminya tampak bingung harus bereaksi seperti apa.
Yrene tersenyum dan segera duduk di samping Ikhsan, ia memeluk lengan suaminya dan menyandarkan kepala di bahu Ikhsan.
"Kamu ketemu Maya, disana? Apa kabar Maya?" Yrene jelas merasakan Ikhsan menarik nafas dalam-dalam.
Otot-otot Ikhsan kemudian mengendur perlahan. Ia tak punya pilihan selain jujur saja dihadapan istrinya. Entah apa yang Galang katakan, namun mendengar Galang yang mendatangi istrinya di hari lahir Ianvs membuatnya gusar. Ia tak menyangka, kepala pemilik perusahaan TechnoMedia itu bisa-bisanya ikut campur sejauh ini. Ikhsan segera menduga bahwa mestilah Galang ada hubungan dengan Maya. Ah tidak, mendapati Maya masih menyimpan rasa cinta padanya, sudah pasti Galang sedang sibuk mengejar cinta Maya. Sejenak, ia simpan dalam-dalam dulu rasa gusar itu.
"Maya baik. Aku dan Maya sama-sama gak tahu akan jumpa di kantor Galang. Kantor itu yang rekrut jasa konsultan IT dari team aku untuk project pembukaan platform baru media mereka," jelas Ikhsan. Mendadak ia merasa sangat sedih menebak-nebak apakah Syndrome Baby Blues yang dialami Yrene dikarenakan kabar dari Galang tentang pertemuannya dengan Maya.
Yrene mengangguk, ia kemudian menggenggam tangan Ikhsan. Perlahan ia menarik dagu suaminya dan mencium lembut bibir Ikhsan. Tak paham dengan tingkah Yrene, Ikhsan menurut saja membalas ciuman istrinya sambil menutup mata. Saat matanya terbuka, Ia lurus menatap manik mata coklat hazel milik istrinya itu.
"Aku udah dengar semuanya dari Galang, tentang kamu, dan Maya."
Hati Ikhsan mencelos mendengar kalimat yang Yrene katakan dengan pelan. Menimbang-nimbang beberapa detik, Ikhsan menggelengkan kepalanya dan berbalik menggenggam tangan Yrene.
"Maafin aku, Yang! Aku bisa jelaskan," ucap Ikhsan. Ada nada gelisah dari suaranya.
Tangan Yrene menyentuh lembut pipi suaminya, berharap Ikhsan sadar bahwa ia tidak perlu takut dengan situasi ini.
"San, Maya udah memendam perasaan cintanya selama 15 tahun. Tak pernah benar-benar mencintai seseorang selain kamu. Aku sangat mengerti perasaan Maya, kamu memang sosok laki-laki yang sangat pantas dicintai."
Ikhsan menelan ludahnya entah sudah keberapa kali. Ia tak pernah membayangkan akan menghadapi Yrene dengan situasi seperti ini.
"Jujurlah sama aku, Sayang. Apakah benar masih ada Maya di hati kamu? Jawablah dengan sejujur-jujurnya. Kejujuran kamu akan sangat berharga buat aku," pinta Yrene dengan nada yang sangat lembut.
Ikhsan tak sanggup lagi menatap Yrene, ia sungguh merasa tak mampu mengungkap apa yang ada di hatinya pada Yrene. Diamnya Ikhsan, justru memberi kesan yang jelas pada Yrene.
"San, temui lah Maya lagi. Kejarlah dia lagi. Aku juga udah lama banget mikirin hal ini. Sebagai suami, kamu bahkan sudah menerima sosok aku dan hatiku seutuhnya. Sebagai istri, aku juga harus menerima kamu dan hati kamu seutuhnya, termasuk sosok Maya yang ada disana," ucap Yrene lagi sambil menyentuh dada Ikhsan.
Pandangan Ikhsan mengabur oleh genang air mata, segera ia menggelengkan kepalanya. Ia tak mengerti sosok istrinya saat ini, semua yang dikatakan dan dilakukan Yrene terkesan seperti ucapan dan perilaku seorang malaikat. Entah terbuat dari apa hati Yrene, istri mana yang rela mengatakan hal ini pada suaminya. Tadinya Ikhsan bahkan lebih siap menghadapi konflik dan rela bersujud di kaki Yrene memohon maaf. Tetapi situasi yang ia alami kini sangat jauh berbeda dari dugaannya.
"Aku, aku gak akan sanggup melakakukan itu. Aku gak mau ninggalin kamu, Yang! Aku gak bakalan bisa hidup tenang tanpa kamu!"
"Sssh," Yrene meletakkan telunjuknya di bibir Ikhsan.
"Hanya maut yang bisa memisahkan aku dari kamu, Sayang. Hanya maut." Ucapan Yrene barusan mengundang air mata di pipi Yrene dan Ikhsan. Sontak Ikhsan langsung memeluk erat istrinya. Berharap bahwa memang hanya maut saja yang dapat memisahkan mereka.
"Ikhsan, kamu adalah keseluruhan dari hatiku. Dan aku bahagia mencintai dan dicintai kamu. Aku juga berharap kamu bahagia seutuhnya. Datangilah Maya lagi, sayang. Tanyakan apakah ia masih mencintai kamu. Dan jika," Yrene berhenti sejenak lalu melanjutkan, "Dan jika Maya masih menyimpan utuh cintanya pada kamu...," Yrene tampak kesulitan melanjutkan kalimatnya, sungguh nafasnya tercekat oleh air mata di tenggorokannya.
"Yang, aku ga sanggup..," Ikhsan mendekap erat pipi Yrene yang basah dan mencium kening istrinya.
Yrene menggeleng, "Aku gak bisa hidup mengetahui bahwa hati suamiku tidak seutuhnya berbahagia mencintai aku. Jika memang kamu mencintai Maya juga, aku ikhlas kamu mengejar kepingan hati kamu yang lain. Dengar sayang, kejar lah Maya. Jika memang tuhan mengizinkan cinta kalian bersatu, nikahilah Maya. Kamu juga berhak mengejar dan memperjuangkan cinta yang kamu pendam."
Yrene kemudian melanjutkan, "Diterima atau tidak oleh Maya, itu urusan hatinya. Aku, Aku selalu menerima kamu apa adanya. Seutuhnya."
Ikhsan memeluk istrinya dengan erat, mereka berdua larut dalam tangis. Meski hatinya terasa seperti disayat ribuan luka, tetapi Yrene yakin bahwa hanya takdir tuhan yang bisa menghadirkan Maya di hati suaminya. Juga hanya dengan izin Tuhan pula, Maya juga berjodoh dengan suaminya. Ia hanya harus bersabar, karena jika ternyata Tuhan menggariskan takdir yang lain yaitu Maya tidak berjodoh dengan Ikhsan setelah Ikhsan mengejarnya, maka Yrene telah berhasil melewati ujian pernikahan yang menunjukkan ketulusan mencintai Ikhsan seutuhnya.
Siang itu suasana ruang keluarga rumah Ikhsan sungguh menyesakkan dada pasangan suami istri yang baru saja dikaruniai bayi lelaki. Tetapi, ada hal yang tidak mereka berdua ketahui. Di balik tembok ruang keluarga yang bersebelahan dengan teras rumah itu, berdiri seseorang dengan membawa kado untuk bayi laki-laki. Seseorang itu tampak begitu kaget sehingga menjatuhkan semua barang yang ia pegang. Ia terlihat bergetar atas kabar dari percakapan yang ia tak sengaja dengar dari Ikhsan dan Yrene di ruang keluarga.
***
Bagaimana kesan di episode kali ini?
Tolong sampaikan di kolom komentar, ya!
Jangan lupa like dan votenya ya, pembaca yang baik hati!
-Love, Author