
"Kenapa lo ada disini?"
Setelah hampir dua bulan berlalu dari insiden gagalnya pernikahan Ikhsan dan Maya, Galang benar-benar berharap tidak perlu lagi menemui pria ini. Tapi nyatanya, segera setelah semua hal mereda, ia justru bertemu lagi dengan Ikhsan. Padahal, Galang justru sangat berharap bisa menemui Maya, bukan si Ikhsan yang merupakan mantan calon suami Maya. Ah, memikirkan titel Ikhsan membuat Galang semakin merasa ingin segera pergi saja. Lelaki ini, mau tidak mau memang punya status dan nilai lebih jika berhubungan dengan Maya dibanding dengan dirinya.
Mendengar pertanyaan tak bersahabat Galang, Ikhsan menaikkan alis kanannya. "Pemilik restoran ini menginginkan jasa konsultan IT gue, just another job. Dan, lo?"
Galang membuang pandangannya, ia tidak ingin terlihat begitu jelas membenci sosok Ikhsan sebab menjadi salah satu orang yang membuatnya jauh dari Maya. "Just a casual lunch," jawab Galang singkat tanpa menoleh.
Mengangguk dua kali, Ikhsan kemudian membalik tubuhnya dan berjalan meninggalkan Galang. Ia tahu bos TechnoMedia itu sedang tidak bersahabat dan mungkin mood nya saat ini tidak baik. Kota ini adalah wilayah kekuasaannya, jadi lebih baik tidak membuatnya semakin tidak suka. Toh terakhir kali ia bertemu dengan Galang, ia selalu berakhir dengan keadaan yang tidak menguntungkan. Padahal, ia hanya berniat menyapa saja.
"Ikhsan, tunggu!" Galang langsung mengutuk dirinya. Awal tadi begitu sinis, sekarang malah ia yang memanggil Ikhsan lagi.
"Gue mau tanya dimana Maya sekarang berada," ucap Galang segera setelah Ikhsan kembali berhadapan dengannya.
"Lo gak tau?" tanya Ikhsan.
Sedikit merasa harga dirinya terluka sebab tidak mengetahui tentang keberadaan Maya, Galang memilih untuk tidak mengkonfirmasi dugaan Ikhsan.
"Sebenarnya," kata Galang kemudian. "Sebenarnya gue memilih untuk tidak mencari tahu. Gue khawatir gak bisa menahan diri gue untuk tidak mendatangi dia jika gue tahu dimana ia berada. Gue khawatir kalau dia gak nyaman jika dicari. Jadi selama ini gue hanya berharap dan menunggu dia datang."
Ikhsan mengerutkan alisnya, "After all this time, you still don't really know her, do you? Lo masih belum mengenal Maya sepenuhnya. Itu lah sebab kenapa Maya masih ragu tentang perasaan lo. Dan lo, belum mendapatkan tempat di hatinya."
Galang sudah membuka mulutnya hendak menjawab ucapan Galang. Tetapi dibanding Ikhsan, ia memang tidak terlalu mengenal sosok Maya sedalam itu. Mendadak, Galang merasakan gusar di hatinya. Ia sekarang justru merasa bahwa ia adalah 'sosok yang tidak seberapa' di kehidupan Maya.
Diam beberapa saat, Galang berusaha menutupi rasa rendah dirinya. "Gue gak paham apa maksud lo. Memangnya lo tahu dimana dia berada sekarang?"
Ikhsan tersenyum, "Bahkan jika gue bisu, tuli dan buta. Gue pasti tetap bisa tau dimana Maya berada."
Menyesal beribu kali menyesal Galang memberikan pertanyaan tadi itu Ikhsan. Tetapi, belum sempat Galang berbicara lagi, Ikhsan tertawa.
"Geli ya? Pfft, Maaf. Habisnya pandangan mata lo ngarep banget denger jawaban dari gue," kata Ikhsan sambil mengulum senyumnya. Ceruk dalam lesung pipi kananya terlihat sangat jelas.
Sial! Padahal siang tadi Galang baru saja mengerjai Rayyan. Kenapa ia langsung menerima instant karma seperti ini? Dengan orang yang paling tidak ingin ia temui sedunia pula.
"Ah, lupakan. Nyesel gue nanya sama lo. Lo adalah rival yang paling mengesalkan seumur hidup gue. Udah sana, silahkan lanjutkan agenda lo!" tukas Galang lalu dengan kesal membuka buku menu lebar-lebar hingga menutupi seluruh wajahnya.
Tak lama, sebuah troley berhenti di meja Galang dan makanan pesanannya perlahan di letakkan di meja. Ketika Galang menurunkan buku menu hendak menatap hidangan yang ada di mejanya, ia kembali kesal mengetahui Ikhsan ternyata sedari tadi justru duduk menatapnya disini.
Menutup dengan kesal buku menunya, Galang melipat kedua tangan di dada. "What do you want? Lo pasti tau kan gue dan lo gak akan pernah punya hubungan baik? You broke my relationship with Maya, and I broke your head."
"No, I never broke your relationship with Maya. You don't even have it. Lo bahkan tidak punya hubungan spesial apapun."
Jawaban santai Ikhsan malah membuat Galang semakin ingin marah saja.
"Gue, benar-benar ingin tahu apa benar lo menginginkan Maya seperti gue menginginkan dia. Apa lo tahu bahwa diri lo memang menginginkan Maya?" tanya Ikhsan yang juga meniru Galang melipat kedua tangannya didada.
Galang membuang mukanya, ia benci harus mempunyai pembicaraan seperti ini dengan pria yang membuat Maya begitu mencintai dalam waktu yang begitu lama. "Untuk apa gue meyakinkan lo? Seharusnya Maya yang mendengarkan jawaban gue, bukan lo."
"Just say it," respon Ikhsan singkat. Tatapan mata Ikhsan lurus pada Galang.
Setelah beberapa saat, Galang akhirnya melihat Ikhsan dan berkata. "Gue rasa, ini kesempatan terakhir gue untuk mencintai. Jika kali ini gagal, maka gue percaya bahwa hidup gue mungkin hanya untuk bekerja saja."
Mendengar jawaban Galang, Ikhsan menggelengkan kepalanya. "Lo tahu kan jawaban semacam itu tidak akan membuat perempuan seperti Maya membuka hatinya untuk lo?"
Tahu bahwa jawabannya tidak benar, Galang menjadi semakin kesal. Ia tadi sudah mengusir Ikhsan tapi pria itu malah sekarang duduk dihadapannya bersama hidangan makanan yang ia pesan. Sekarang Galang hanya punya pilihan untuk beranjak pergi jika tidak ingin melanjutkan percakapan, dan meninggalkan hidangan menarik yang sudah ia tunggu sedari tadi dalam keadaan lapar.
"Maya," ucap Ikhsan tiba-tiba. "is an Alpha Woman. Sangat menarik, mandiri, kuat dan yang terpenting, ia mampu bertahan dengan dirinya sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Menjadi sama kuatnya bahkan lebih di hadapan Maya hanya akan membuat lo terlihat sebagai koleganya. Dia tidak akan pernah merasa bahwa kehadirannya akan mempengaruhi kehidupan lo. Dia tidak akan pernah merasa bahwa ia dibutuhkan untuk melengkapi hidup lo."
"Terus-menerus hanya menunjukkan kemampuan dan kekuatan lo justru akan dengan sempurna membuat tembok bagi perasaan Maya. An Alpha Woman like her, butuh melihat sisi lain dari diri lo. Butuh melihat lo dalam keadaan, sederhana. Sesederhana diri lo dan cinta yang lo punya. Semua hal yang lo punya sekarang, kerajaan yang lo banggakan ini, means nothing to her. Dia tidak melihat bahwa dia bisa melengkapi lo saat lo memperlihatkan kesempurnaan yang lo miliki. Penting baginya untuk tahu bahwa dia akan membuat lo semakin hebat."
Menghela nafas panjang, tampaknya usaha-usahanya untuk melupakan Maya masih jauh dari kata berhasil. Kali ini mungkin bisa lebih lama dan lebih menyiksa. Sebab Maya pernah begitu dekat dengan genggamannya. Tapi kemudian ia pergi, pergi di ujung wedding aisle. Dimana Ikhsan merasa akan mengakhiri penantian dan semua mimpinya tentang hidup bersama Maya. Atau mungkin, kali ini justru lebih mudah. Karena sekarang, Ikhsan merasakan ada perasaan sedih dan kecewa yang beriringan, saat ia mengingat Maya.
Mengangkat wajahnya, Ikhsan mendapati Galang terdiam dengan pandangan kosong. Mungkin pria itu sedang menilik balik bagaimana sikapnya selama ini dihadapan Maya. Berat, tapi entah kenapa Ikhsan merasakan bahwa ada keinginan dalam hatinya agar Galang dapat memilih langkah yang tepat menuju Maya. Merasa tidak ada lagi hal yang bisa ia bagi, Ikhsan bangkit dari tempat duduknya. "Gue pamit," ucapnya pelan sambil berbalik.
Galang tersadar dari kilas baliknya terhadap bagaimana ia menganggap dan memperlakukan Maya selama ini. Apa yang Ikhsan katakan sangat masuk akal. Ia pikir ia telah cukup berusaha mengesankan Maya. Tetapi ternyata itu tidak cukup untuk membuatnya mendapatkan tempat di hati perempuan itu.
"Ikhsan," panggil Galang yang sudah berdiri di samping meja. Kali ini dengan suara yang sangat lunak.
"Kalau gue melakukan apa yang gue mampu sepenuhnya, memberikan semua yang gue miliki, menjadi diri gue seutuhnya dihadapan Maya," Galang berhenti sejenak lalu melanjutkan, "will you stay away? Bisakah lo menjauh dari Maya dan tidak pernah lagi muncul di hadapannya?"
Ikhsan menunduk lemah, mendengarkan permintaan Galang barusan seperti ada batu yang mencekat jalur pernafasannya. Dulu, dialah yang sering meminta Galang untuk menjauh dan tidak ikut campur terhadap urusannya dengan Maya. Sekarang, keadaan berbalik. Justru Galanglah yang kini mengucapkan kalimat perintah menjauh dari Maya itu padanya. Tetapi, perlahan ia mengangguk.
"Mau gimana lagi, I have lost all the chance to get her. It's your turn anyway," lirih Ikhsan sambil melangkah meninggalkan Galang.
Galang mengepalkan tinjunya, ia merasa bahwa rivalnya tidak lagi menghalangi jalannya. Seperti pula kata Pak Wijaya bahwa bahkan semesta sedang memberinya waktu dan kesempatan. Maka akan ia gunakan ini sepenuh hati untuk berusaha membuat Maya membalas cintanya. Ah, hari ini justru merupakan hari dimana perasaannya terasa begitu baik.
Menghela nafas panjang yang terasa begitu lega, Galang kembali duduk. Penampakan hidangan dan aroma makanan yang ada di hadapannya mendadak menjadi berkali-kali lipat menggiurkan. Makan enak dengan perasaan menyenangkan, ah betapa sempurnanya hari ini bagi Galang.
Sebelum ia menyentuh sendok dan garpu, ia mengetik pesan singkat pada Rayyan.
"Ray, reschedule semua jadwal gue untuk 3 hari kedepan. Mulai Jumat gue akan ambil cuti selama 2 minggu. Sampaikan ini ke Bu Titik biar dia yang urus cuti gue. Gak perlu repot nanyain dan bantu urusan travel gue. Gue akan urus sendiri semuanya. Karena ini misi, untuk mendatangi Maya."
***
Soundtrack of this episode, go check and listen :)
"To be young and in love in New York City (New York City)
To not know who I am but still know that I'm good long as you're here with me
To be drunk and in love in New York City
Midnight into morning coffee
Burning through the hours talking
Damn, I like me better when I'm with you
I like me better when I'm with you
I knew from the first time, I'd stay for a long time 'cause
I like me better when
I like me better when I'm with you" - I like me better by Lauv
***
Halo pembaca yang baik!
Sudah siap untuk ke stage baru dari cerita novel ini?
Ya! Jangan lupa like, komen dan votenya ya :)
Love, Author.