
Yrene menatap wajahnya sekali lagi dengan mata berbinar-binar.
Balutan make-up MUA-Ceu Aling pilihannya memang tidak salah. Meski ia masih memakai bridal robe, make-up Ceu Aling sendiri sudah membuatnya bak putri turun dari kahyangan.
Ceu Aling dan asistennya kini sedang merapikan peralatan make-up nya ke dalam sebuah koper berwarna pink.
"Yrene, lu cakep banget deh seneng gue! Hm, berikutnya kita poles lagi ya pas event break 2 jam lagi kan?" tanya Ceu Aling sambil merapikan rok spannya.
"Iya Ceu, makasih ya!" sahut Yrene masih terus memperhatikan hasil tangan magis Ceu Aling.
"Mbak ini temen-temen bridesmaidnya mau masuk boleh ya?" terdengar suara asisten Ceu Aling yang sedang membukakan pintu.
Belum sempat Yrene menjawab, ke lima sahabatnya itu sudah masuk dan menghambur mengelilinginya.
"Waaaa cantik banget, gilak" ujar Tania dengan mulut menganga.
"Omaigat, Ceu Aling emang paling top ya" sahut Nina sambil menepuk bahu Ceu Aling.
Pujian sahut-sahutan dari semua sahabatnya, lalu mereka memulai sesi foto sampai tak terhitung berapa banyak foto yang dihasilkan dari momen ini.
"Sudah-sudah, sudah lihat pengantinnya kan? Sana kalian siap-siap juga. Ini Yrene mau gue pakein dress dulu" tukas Ceu Aling sambil berkacak pinggang.
Mau tidak mau mereka akhirnya berpisah, Yrene akan ditangani oleh Ceu Aling sementara sahabat-sahabatnya di ruangan sebelah memakai dress sendiri.
Sesampainya mereka di kamar khusus bridemaids, Tania menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur diikuti oleh Adel.
"Ah, andai pas nikah dulu gue udah kenal si Ceu Aling" keluh Virsa yang baru saja keluar dari toilet.
"Ntar lu kalau nikah pakai si Ceu Aling aja lah, May!" tukas Nina sambil membuka bajunya dan bersiap memakai dress bridemaids. Dress bridemaids mereka berwarna merah muda yang sangat lembut, membuat segala warna kulit terlihat cantik dalam balutannya.
Maya menelan ludah dan menjawab dengan tersenyum geli, "Hehe Iya, tagihan bill Ceu Aling nya lu yang bayarin ya say!"
"Haha, bisa aja lu May. Kalau Ceu Aling ga mahal-mahal amat mah, siaaaap gue bayarin buat Maya kesayangan gue," jawab Nina sambil mencubit gemas pipi Maya.
Maya hanya terkekeh sambil mengelus bekas cubitan Nina.
Sekarang, Nina malah berdiri membelakangi Maya dan memberi sinyal minta bantuan untuk ritsleting gaunnya.
"Wah apaan nih Nin? Bekas kerokan?" tanya Maya, ia sedikit terkejut ada guratan merah di sepanjang leher dan punggung Nina.
"Hah? serius May? Ya Ampun! Mas Tio, gue udah bilangin narik kerokannya jangan panjang-panjang nanti bisa keliatan" Nina sontak heboh membalik punggungnya di depan cermin.
"Hahaha, lagian udah tau mau pakai dress elu malah kerokan! Sinting lu Nin!" sahut Tania sambil tertawa.
"Duh gimana ya? gimana nih? gimana dong?" Nina sekarang menjadi panik sambil mengelus-elus punggungnya.
"Udah, tutupin rambut dan selendang aja" Virsa langsung menawarkan sebuah selendang yang berwarna senada dengan gaun mereka.
"Ya Ampun Virsa, dengan apa gue membalas kebaikan hati lo yang murni 24 karat itu!" tukas Nina sambil memeluk Virsa dan disambut gelak tawa oleh sahabat-sahabatnya.
Jglek!
Pintu kamar para bridemaids yang ternyata tidak terkunci itu dibuka oleh seseorang. Membuat mereka sedikit terkejut dan langsung terdiam.
Itu Ikhsan.
"Ups, sorry ladies. Salah Kamar!"
Pengantin pria yang sudah berpakaian lengkap itu langsung kabur meninggalkan pintu kamar yang setengah terbuka.
"Ih, si Ikhsan. Ada-ada aja!" Tania yang sedari dulu selalu sewot sama Ikhsan langsung berkacak-pinggang.
Maya yang masih terkekeh segera menutup dan mengunci pintu. Maya baru saja mau membuka bajunya saat Tania menerima telpon.
"Eh, guys anak-anak kita udah pada nyariin emaknya" sahut Tania setelah telpon dimatikan.
Tania, Nina dan Virsa sontak terburu-buru merapikan tas mereka dan bersiap pergi dari kamar.
Sepersekian detik kemudian 3 ibu muda itu sudah tancap gas keluar kamar meninggalkan Adel dan Maya yang bengong.
"Deuh, dasar emak-emak. Rempong banget dah! Nanti kamu kalau kondangan yang santai dan selow aja gitu sama si papa ya Nak!" Adel mengelus perutnya, Ia sedang berbicara dengan janin di dalam kandungannya yang masih berusia 4 bulan.
Maya yang melihat adegan itu menjadi geli, ia kemudian ikut-ikutan berbicara pada janin di kandungan Adel.
"Iya, nanti kamu jadi anak yang santai, selow dan calm ya nak. Jangan hobi banget ngegosip dan ngestalking orang yang Nak" Maya langsung tertawa melihat alis Adel yang berkerut.
"Gue, udah tobat ya! Jangan dengerin auntie Maya ya Nak. Kalau adek punya bakat jadi presenter meski acara gosip, mama dukung kok setiap bakat kamu, hihihi!" Lah, si Adel malah ada-ada saja.
Maya kemudian memakai gaunnya dan memberi sinyal butuh bantuan Adel untuk meritsleting gaunnya.
Setelah Adel meritsleting gaun Maya, Adel memegangi perutnya.
"Duh laper banget gue May, gue duluan aja lah ya. Bye!" Adel berpamitan tanpa menunggu jawaban dari Maya yang masih sibuk merapikan gaunnya. Dia sebenarnya ingin menemai Maya sampai selesai tapi apa daya, sebagai Ibu hamil memasuki trimester yang kedua membuat Adel lapar terus-menerus dan tak tertahankan.
"Dih!" keluh Maya, namun ia mengerti kondisi Adel sebagai Ibu Hamil yang tidak bisa terlambat makan.
Jika saja Adel terlambat memenuhi rasa lapar, Adel pasti akan kacau sekali moodnya.
Maya menghela nafasnya dan memandangi dirinya di depan cermin. Ia merapikan lagi beberapa helai rambut disela telinganya. Sedari tadi ada gurat lelah di wajahnya disebabkan oleh Maya harus terus menerus memaksa memasang wajah gembira dan senyum palsu. Tubuhnya gembira dapat berkumpul bersama para sahabatnya namun hatinya tidak bisa begitu, sebab bukan hanya pernikahan Yrene, melainkan ini juga merupakan pernikahan Ikhsan. Sekali lagi, Maya mencoba memasang senyum yang lebih baik pada ekspresi wajahnya agar benar terlihat natural.
Saat gaun Maya sudah tampak sempurna di depan cermin, Maya memutar bahunya dan terkejut.
"Adel!" pekiknya.
Adel ternyata tidak mengancing penuh bagian ritsleting gaun Maya, meninggalkannya terbuka di bagian punggung.
Maya mencoba menggapai ritsleting gaunnya, tidak berhasil.
Sekali lagi, ia harus bisa.
Masalahnya, tidak ada orang yang bisa di minta bantuan. Ia sendirian di kamar ini.
Maya membengkokkan tangannya dan berusaha sekuat tenaga menggapai ritsleting, dan...
Kluk!
"Aw! Aduh duh! Aduh!" Maya meringis kesakitan berputar-putar di depan cermin, ia baru saja cedera otot.
Maya memegangi bahunya, rasanya seperti ada besi yang menjepit otot bahunya.
Duh, gak lucu banget keseleo saat jadi bridemaids begini. Mungkin ini kualat sudah menertawakan bahu Nina yang ada bekas kerokan.
"May?" sapa sebuah suara di balik pintu.
***
Hi Pembaca yang baik 🙋
Dukung selalu author dengan like & comment ya 💞