The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Rahasia di dalam buku



Maya mengaduk-aduk mie instannya yang sudah dingin. Mengingat kejadian saat pertama kali ia mengenal Yrene & Ikhsan membuatnya kehilangan selera. Sudah lama ia melupakan kenangan itu. Terkadang benar-benar lupa dan membuat Maya heran kenapa dirinya begitu sulit membuka hati.


Benar memang, momen makan mie ayam sepulang sekolah dari traktiran Ikhsan adalah momen dimulainya persahabatan Maya dan Yrene. Yrene yang pintar dan cantik membawa Maya kedalam dunianya. Memperkenalkan Maya ke sahabat-sahabatnya.


Namun, Maya kini sadar betul. Yang Yrene saat itu lakukan bukanlah sebuah ajakan persahabatan melainkan sebuah pengaruh kontrol. Dia seolah punya kekuatan untuk membuat orang-orang disekitarnya tertarik padanya. Yrene seperti pusat gravitasi. Awalnya Maya merasa sangat senang punya sahabat baru yang dikenalkan Yrene. Tapi sesungguhnya yang terjadi adalah, Maya telah masuk ke dalam dunia yang sangat dikontrol Yrene.


Maya ingat betul, di masa ia tidak bisa lagi menolak fakta bahwa ia jatuh cinta terhadap Ikhsan dan ingin menyatakan perasaannya Maya justru berusaha untuk berhenti menyukai Ikhsan. Tanpa paksaan apapun, dari siapapun. Karena Maya tahu betul, tanpa perlu sepatah kata pun Yrene takkan pernah membiarkan Ikhsan tak bergantung padanya.


Seperti semesta sudah menetapkan, Yrene dan Ikhsan tak terpisahkan.


Yrene yang selalu ada di dekat Ikhsan, dan Ikhsan yang selalu butuh bantuan Yrene.


Maya menyerah soal perasaan yang tak pernah terungkap.


Demi apa? Ia juga tak tahu.


Apakah demi persahabatannya dengan Yrene?


Bukankah antara Yrene dan Ikhsan tidak ada hubungan antar kekasih?


Sampai pada saat itu, Ia ingat betul.


Kala itu setelah pengumuman kelulusan yang ramai dan riuh di sekolah, Maya memutuskan paling tidak Ikhsan cukup tahu bahwa ia menyukai Ikhsan lebih dulu sebelum ia mengenal Yrene.


Maya menyiapkan sebuah surat yang akan ia minta Ikhsan baca saat tiba di rumah.


Surat itu hanya berisi kesan Maya saat pertama jumpa Ikhsan. Juga sedikit pengakuan Maya tentang bagaimana perasaan senang Maya jika menghabiskan waktu bersama Ikhsan. Maya tak butuh jawaban apapun, paling tidak Ikhsan hanya perlu tahu bahwa Maya mempunyai rasa sayang pada diri lelaki itu. Entah berbalas atau tidak, Maya hanya ingin menyampaikan saja perasaan dari hati yang terdalam.


Maya mencari Ikhsan ke ruangan kelas, ke perpustakaan, ke ruang Audio, ke semua tempat yang biasanya ada Ikhsan di sana.


Sampai Maya terhenti di ruang UKS.


Angin siang menjelang sore itu rasanya sedikit dingin, seolah ingin memberi tanda suasana sendu yang akan terjadi didepan mata Maya.


Maya hapal hampir semua tentang Ikhsan, sebab profile lelaki yang pernah Maya tulis itu selalu menari-nari di kepala dan hati Maya. Ia juga hapal bahwa sepatu yang terparkir di depan pintu ruangan UKS adalah milik Ikhsan. Sepatu itu pernah Ikhsan pinjamkan padanya saat sepatu Maya basah karena tidak sengaja menginjak kubangan air hujan. Saat itu, Maya sudah menolak tawaran pinjaman sepatu Ikhsan. Tetapi Ikhsan yang baik memaksa Maya memakai sepatunya. Ikhsan justru bilang, jika Maya masih menolak memakai seoatunya dan masih ingin memakai sepatu yang basah, Ikhsan terpaksa akan menggendong dirinya. Maya akhirnya memakai sepatu milik Ikhsan, sementara Ikhsan dengan senyum jahilnya berjalan tanpa alas kaki.


Tepat di sebelah sepatu Ikhsan, ada sebuah sepatu ramping yang sudah pasti milik perempuan. Hati Maya sedikit ngilu menebak apa yang terjadi di dalam ruangan UKS.


Di situ, ia melihat Yrene yang sedang menangis, memeluk seekor kucing yang tampaknya sudah tidak bergerak. Ah! itu adalah kucing kantin yang sering Yrene beri makanan kucing dari dalam tasnya. Kucing itu biasanya berkeliaran di kantin sekolah. Mungkin kucing itu sudah mati keracunan atau mati ditabrak, entahlah.


Yrene memang sangat menyukai kucing kantin itu. Tak ayal ia tampak begitu sedih meski di momen kelulusan yang bahagia seperti saat ini.


Ikhsan yang sedari tadi berdiri di samping Yrene, tiba-tiba memeluk Yrene.


Ikhsan menunggu reaksi Yrene namun Yrene tak mereda. Ia lalu mengelus punggung Yrene yang masih saja menangis.


Kemudian, adegan berikutnya membuat Maya membeku. Ia dengan jelas melihat, tatapan Ikhsan yang sangat teduh mentap mata Yrene yang masih meneteskan air mata.


Perlahan Ikhsan mencium lembut bibir Yrene, membuat gadis itu perlahan berhenti mengeluarkan suara tangis. Mata Yrene kemudian menutup, menyisakan hanya aliran air mata di pipinya. Yrene menjadi lebih tenang dan pelan membalas ciuman Ikhsan.


Maya mencoba mengerti, mungkin saat itu Ikhsan bermaksud menenangkan Yrene yang sedang sedih.


Tapi kenapa?


Kenapa harus Maya menyaksikan Ikhsan yang perlahan mencium lembut bibir Yrene.


Kenapa harus Maya menyaksikan runtuhnya persahabatan Yrene dan Ikhsan.


Kenapa harus saat Maya ingin melepaskan perasaannya, justru di saat itu pula Maya mengakui bahwa...


Tidak ada persahabatan antara pria dan wanita.


Jika bukan cinta, maka sia-sia saja.


Bukankah seharusnya Maya bahagia bahwa Yrene yang merupakan sahabatnya akhirnya jadi kekasih Ikhsan?


Bukankah Maya seharusnya senang bahwa Ikhsan akhirnya bisa memiliki kekasih yaitu sahabatnya sendiri?


Lalu, sekarang...


Di tengah riuh para pelajar yang merayakan kelulusan dan diantara ciuman Ikhsan pada Yrene...


Di mana semesta menempatkan perasaan Maya?


Maya tersenyum perih.


Ia dengan tenang meletakkan surat cintanya kedalam buku reportase ditangannya.


Di mana ia menempatkan perasaan cintanya ke Ikhsan? Tidak dimanapun.


Lalu kemana dan kepada siapa ia sampaikan perasaan cintanya? Tidak kepada siapapun.


***


Maya tersadar dari lamunannya.


Hey, semesta...


Kenapa tiba-tiba pusaran kenangan menghampirinya?


Ia bahkan sudah lama menutup rapat kisah cinta pertamanya.


Ia sudah menyibukkan dirinya dengan perkerjaan yang ia sukai, dengan hidup yang ia inginkan.


Kenapa kisah itu kembali lagi?


Maya menelan ludahnya yang sekeras batu, menahan air matanya yang sudah akan jatuh.


Sejujurnya saat ini ia sedang berusaha tidak mengasihani dirinya sendiri.


Maya mengambil ponselnya, memasang ear phone dan memutar lagu yang melarutkan perasaannya.


"Hey man upon the hill, up here


I used to write you


You loved the way I watch the sun


Through my, finger


We spent sometimes to the day we met.


Can I fall into your consellation arm?


...


We drove in the wind...


Opened the window


Waved to nothing...


Just keep us awake


We drove under the heavy rain


Soaking wet yes


We laughed at it yet


And tell me more your constellation arm...


...


And we danced in the room


Grew our heart a bloom


I stop right there!


You've found a new home


And I should be happy


...


Uhhh...


I should be happy...


- Man Upon the Hill by Starts and Rabbit


***


Hi pembaca yang baik 🙋


Gimana perasaan kamu tentang rasanya jadi Maya? Coba dengarkan Man Upon the Hill by Starts and Rabbit untuk lebih mengerti perasaan Maya.


Dukung author terus berkarya dengan memberikan like, komen dan vote ya 💞