
Galang memicingkan mata menatap lekat-lekat sosok Maya yang berada 5 meter didepannya.
Galang berada pada ruangannya yang dilapisi kaca tembus pandang satu sisi.
Gadis itu tentu saja tidak sadar sedang diperhatikan oleh sang bos.
Akhir-akhir ini Galang banyak mendengar desas-desus dari karyawannya perihal Maya.
Semua desas-desus itu merujuk pada satu topik yakni, Maya adalah perempuan single yang artinya bisa digebet oleh siapapun.
Beberapa orang merasa Maya merupakan calon jodoh yang tidak boleh dilewatkan untuk dicoba ambil hati dan perhatiannya.
Sebenarnya Galang tidak ada masalah soal ini, tapi ia sudah dijadikan tempat curhat dua rekan dekatnya.
Jika saja terjadi suatu kesalahan, ia yakin para rekan ini bisa jadi bertengkar bahkan baku hantam.
"Arrrghh..." Galang menjambak rambutnya sendiri.
Maksud hatinya mau mendatangkan suasana baru dengan merekrut Maya malah timbul masalah baru.
Chief Editor sebelumnya adalah Ibu Joko yang galak dan sangat old fashioned.
Tak jarang Bu Joko membuat frustasi para karyawan lain, dan mempengaruhi sebagian besar mood di kantor.
Saat bu Joko resign dan digantikan Maya, tentu saja suasana langsung berubah drastis.
Selain Maya begitu expert dibidangnya, Maya lebih flexibel diajak mengeksplore ide dan setiap sudut pandang.
Sangat sedikit keluhan tentang penolakan pengajuan ide dari Maya. Dampaknya karyawan malah lebih produktif dan kreatif.
Tanpa disadari, Galang sekarang malah mengigit-gigit bibirnya.
Ia tak bisa bayangkan kalau 2 rekan dekatnya, Mas Abi sebagai kepala development dan Suryo kepala pemasaran akan resign karena bertengkar atau patah hati berebut Maya.
Tuk!
Sebuah pesawat kertas menabrak kening Galang.
Galang terkejut saat ia sadar didepannya sudah ada Maya yang berdiri melipat tangan dengan alis mata berkerut.
"Are you okay?" tegur Maya yang cukup sebal sedari tadi mengetuk pintu dan memanggil Galang tapi tak juga dibalas.
"Sorry gue terpaksa masuk, tapi Lang gue punya hal penting dan butuh diskusi"
"Apa itu?"
Maya menarik kursi dan duduk tanpa perlu menunggu permisi dari Galang.
"Ini" Maya meletakkan sebuah amplop surat berwarna cream dengan kertas tebal yang terlihat mahal.
Galang mengangkat alisnya.
"Masa iya, gw ditembak sama Mas Abi. Yang bener aja dong"
"Ini surat cinta?" tanya Galang hampir tak percaya.
"Iya!" jawab Maya pula tak kalah histeris.
"Dan ini! Ini lagi! Ini pula!" Maya terus mengeluarkan surat-surat cinta entah dari siapa pengirimnya.
"Wah gila. Pakai susuk ya lo karyawan gue pada ngebet banget gitu sama lo?
Mana surat-suratan pula!" Galang nyaris tak bernapas membaca satu per satu nama di depan amplop yang ditulis oleh Maya.
Maya pasti menamai surat-surat ini agar mudah ia baca.
"Kesel gue, Lang. Dipikir gue ini barang rebutan apa ya? Ih!
Lo punya karyawan yang bener dong!
Gue kesini tuh mau kerja!
Bukan mau cari jodoh!
Kerja Lang, cari duit!
Lunasin apartemen yang baru gue beli.
Kesel gue!" Maya tak dapat lagi menahan amarahnya.
Surat-surat itu awalnya ia diamkan tapi lama-lama ia jadi risih juga.
Belum lagi perlahan-lahan nama yang mengirimkan berbeda dan semakin banyak.
Ia jadi curiga ada permainan dibalik surat-surat ini.
"Ya.. Ya Maaf lo jangan marah ke gue dong.
Kaget juga gue. Yah, mana ini si Mas Abi ikutan pula." Galang sebenarnya ingin ikut-ikutan mengeluh tapi ia yakin bukan itu respon yang Maya harapkan.
Galang menyandarkan dirinya ke kursi untuk menenangkan diri.
Dengan cepat pula ia memesan minuman dingin pada Office Boy untuk disediakan pada Maya yang sedang mengamuk diruangannya ini.
"Hm..." Galang cukup bingung memilih kata.
Seumur hidup profesionalnya, tak pernah ia menghadapi permasalahan sepele namun menjadi cukup mengganggu seperti ini.
"Lo beneran marah May? Bukannya senang punya banyak fans?" tanya Galang hati-hati.
Galang sudah menyiapkan diri kalau-kalau Maya yang sedang bersungut-sungut ini mendadak marah lagi.
"Ya, seneng aja sih. Tapi kalau ada sampai 4 orang gini kan... mencurigakan gak sih?
Ini pada bersekongkol rebutan gue ya?" tiba-tiba saja Maya terpikirkan sebuah dugaan.
"Hm, pasti lo udah tau kan soal ini?" Maya tidak segan menuduh Galang terang-terangan.
Galang ingin sekali membalikkan meja yang ada didepannya.
Salah apa dia jadi tempat semburan kemarahan Maya siang ini.
"Hadeeeeh, lo tau gak? Dikepala lo sekarang itu lagi ada Api gede banget.
Ga bakal bisa dipadamin sama es jeruk nya Pak Ridwan.
Ayo ikut gue!" Galang langsung berdiri dan menarik tangan Maya, mengajaknya keluar kantor menuju parkiran.
Ada baiknya ia berusaha untuk menenangkan Maya terlebih dahulu sebelum mencari tahu keseluruhan jalan cerita.
Sepeninggal mereka, ada Pak Ridwan yang terdiam dilewati begitu saja dengan nampan dan segelas air jeruk.
"Jyah" begitu kata yang keluar dari mulut Pak Ridwan. Sejenak ia bingung mau dikemanakan es jeruk pesanan Pak Galang itu.
Ah, dia minum saja sendiri sambil duduk di pantry dan streaming video trending.
"Cobain dulu, baru nanti ngobrol lagi" tukas Galang sambil duduk disamping Maya.
Mereka berdua sedang berada di sebuah resto fastfood yang berlokasi tak jauh dari kantor.
Keduanya diam sambil menikmati es krim mereka.
"Kenapa sih kayaknya lo marah banget?" Galang hati-hati memulai percakapan.
Maya menghela nafas.
"Gue lagi ga bisa buka hati, Lang."
Mendengar ini Galang melirik Maya dengan alis berkerut.
"Lagipula, kenapa mereka semua niat banget ya ngejar gue? Padahal udah gue tolak semua ajakan mereka.
Ketemuan, kencan, telfon, chat, semua udah gue cuekin. Harusnya mereka berhenti aja" lanjut Maya lagi.
"Hm, pantesan.
Lo nge blok semua cara yang mungkin mereka ambil.
Surat yang mereka tinggalkan dimeja, could be the most possible way to talk to you about their feeling.
Don't you think so?" Galang masih berusaha menjaga intonasi bicaranya.
Ia menatap Maya yang berdiam diri saja tak merespon Galang.
Galang mendorong kursinya dan berjalan kembali ke counter order. Ia kembali memesan 2 buah es krim.
Setelah mendapatkan orderannya, Galang kembali ke kursi mereka dan menyerahkan 1 es krim pada Maya.
Maya mengambil es krim tanpa melihat Galang dan mulai memakannya.
"Gue gak mau membuka jalan komunikasi itu, karena gue gak mau nyakitin mereka dengan penolakan gue" jawab Maya akhirnya.
Galang mendengus. "Gimana caranya mereka tahu kalau lo nolak mereka kalau lo cuma diam aja May?"
"That's so typical of you. Too focus on only you. You're not the center of this life, Maya.
Yang punya perasaan dan pendapat bukan cuma lo.
Dan bukan begitu cara dunia bekerja.
Bukan berarti lo gak mau nerima mereka jadi lo tutup semua jalur komunikasi.
Cara lo nolak mereka, lo harus bicara kepada mereka, that is communication.
Orang mungkin gak paham apa arti diam milik lo, Maya."
Kini giliran Maya yang menghela nafas.
"Setiap orang berhak mendapatkan jawaban atas perasaan mereka.
And whatever the answer is, we should honor it"
"What if, mereka ngejauhin gue karena gue nolak mereka?"
"Well, itu masalah mereka. Dan jika ini menghambat profesionalisme dikerjaan, mereka bermasalah sama gue."
Maya perlahan mengangguk. Ia sebenarnya berat juga harus menolak mereka para fans Maya secara verbal.
Menurutnya, dari caranya menghindar, dan mendiamkan semua aksi mereka, mereka akan paham dan berhenti sendiri.
Tapi apa yang disampaikan dengan Galang benar juga. Maya harus mengutarakan perasaannya yang tidak sejalan dengan para fans nya.
Bukan diam saja bahkan menganggap tidak terjadi apa-apa.
Melihat Maya yang sudah baikan, Galang berfikir mungkin ada baiknya ia coba menghibur Chief Editornya ini.
"What if...
I invite you to a dinner. I will cook."
Maya menatap Galang dengan ekspresi seolah berkata, "beneran nih?"
Galang memberikan Maya Es krim yang ke tiga yang sedari tadi ia diamkan.
"Call me Chef Galang"
Dan Galang pikir itu terdengar cool.
***
Malam itu Maya cukup ragu untuk memencet bel rumah Galang.
Ia sekali lagi menatap pintu gerbang kayu yang sudah tertutup.
Belum terlambat untuk membatalkan hadir pada undangan dinner Galang, dia bisa memesan taxi online lagi dan kembali ke apartemennya lalu melakukan apapun agar ia lupa dengan konflik tadi siang.
Maya mengigit bibirnya, tidak sopan menolak kebaikan hati CEO satu ini pikirnya.
Dengan ragu jarinya memencet bel.
Sedetik kemudian suara Galang terdengar dari dalam.
"Hey May, masuk aja!" sahut Galang.
Maya membuka pintu dan masuk.
Sejenak ia kehilangan nafasnya. Ruangan rumah ini sungguh bukan seperti dugannya.
Ruangan ini, bukan ruang tamu. Seluruh ruangan ini, adalah meja makan dan dapur eksklusif.
Layaknya sebuah restaurant pribadi.
"Welcome to my kitchen, hope you're impressed" ucap Galang tanpa menoleh.
Ia sedang melakukan finisihing pada hidangan dinner malam ini.
Saat Maya menoleh, Ia hampir saja mengumpat.
Sial, kenapa si Galang suka pamer ketampanan dan keahlian begini ya akhir-akhir ini.
***
Hi pembaca yang baik 🙋
Mohon dukungannya terhadap karya author dengan klik like dan berikan komentar ya 💞