The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Finding You



"Sudah di baca ya" ucap Ikhsan lirih saat melirik nyala layar ponsel di mejanya.


Ikhsan tengah memasukkan laptop ke dalam tasnya dan bersiap-siap untuk presentasi final jam 1 siang.


Menurut estimasi team, presentasi dan meeting di kantor Galang akan selesai jam 3 siang.


Lalu mereka dapat segera mengambil flight sore jam 17:00.


Ikhsan lalu keluar kamar dan berjalan menuju lobby hotel.


Ia memutuskan untuk melakukan check-out sendiri karena belum mendapati kedua rekannya di lobby.


Setelah check-out, Ikhsan memilih duduk di sofa lobby.


Seraya menunggu, ia membuka kembali ponselnya.


"belum di balas" bisiknya sendiri.


"di balas siapa?" ada deru nafas hangat terasa di tengkuk Ikhsan.


"Giwok ***!" umpat Ikhsan sambil terperanjat. Ia memegangi lehernya dan bulu kudunya merinding.


Giwok yang tengah terbahak itu menggelengkan kepalanya. Ia tak sanggup menahan gelak oleh tingkah Ikhsan.


"San, San. Dari kemaren gak udah-udah lo liatin chat mulu. Telfon lah!"


"Ah. Sok tau lo!"


Giwok kemudian duduk di sofa berhadapan dengan Ikhsan, "San." panggilnya


"Diem gak lo?!"


"Gak. Gue cuma mau bilang, lo gak punya waktu.


Gue yakin tuh cewek gak bakal mau hadir di meeting kita jam 1 nanti.


Dan selepas meeting, part kita selesai disini. Gak akan ke kantor itu lagi.


Paling programmer aja bakal kita tugasin stay 1 bulan untuk kasih asistensi dan service guarantee."


Giwok lalu diam.


"Lo hanya punya waktu sampai jam 3 sore nanti." lanjut Giwok lagi.


***


Maya sudah bersiap memasuki lobbi kantor saat tiba-tiba tangannya ditarik oleh Galang.


"Apaan lagi sih, Lang?" tanya Maya seraya menarik tangannya kembali.


"Ya masuk nya jangan barengan, oneng! Gue duluan!" tukas Galang sambil berjalan depat menuju lobby kantor


Maya cuma bisa menggertakkan giginya.


Ia tiba-tiba teringat Ratri.


Luar biasa juga Ratri bisa mencintai orang yang super bossy seperti Galang.


Setelah tak melihat Galang lagi, Maya kemudian berjalan menyusul memasuki lobby kantor.


Maya berniat melihat jam di layar ponselnya, namun ternyata aplikasi chat yang tadi ia buka di toko parfum masih aktif.


Maya akhirnya membaca pesan tersebut:


"Hi May? Apa kabar? Maaf menghubungi nomor kamu.


Ini aku Ikhsan. Kontakmu ada di kartu nama Pak Galang.


Nice to meet you again."


Lalu di pesan berikutnya:


"May?"


Langkah Maya terhenti. Tangannya mengepal.


***


Jam menunjukkan pukul 11:30 Siang.


Maya kini duduk di ruangannya dengan tatapan kosong.


Ia tidak tahu harus berpikir apa, sementara layar ponselnya masih membuka pesan dari Ikhsan.


Di layar komputer Maya, ada kalender dengan jadwal meeting.


Tepat dua jam lagi, Ikhsan akan berada di sini. Hanya terpisah beberapa ruangan dari Maya.


Maya memang sudah pasti tidak akan hadir dan ikut pada meeting tersebut.


Ia tidak akan tahan berada di dalam sana dan terus-terusan berusaha menghindar menatap Ikhsan.


Tidak menghadiri meeting tersebut meski Maya adalah bagian yang penting merupakan keputusan tepat.


Toh Galang juga tidak masalah dengan absennya dirinya.


Dengan ragu, Maya mengambil ponselnya dan mulai mengetik.


"Lang, gue ijin ya setengah hari aja ngantornya.


Gue ada urusan mendadak. Thanks"


Sedetik kemudian ada balasan dari Galang.


"Take your time. Bye!"


Maya segera merapikan tas nya dan beranjak keluar kantor.


Di benaknya, ia sungguh ingin menenangkan diri. Juga menjauhkan diri, lagi.


***


Ikhsan memasuki area kantor techno-media milik Galang bersama kedua rekannya.


Saat memasuki ruangan, mata Ikhsan cepat menyapu seluruh peserta meeting.


Benar saja, tidak ada Maya.


"Mas Ikhsan?" Galang menegur Ikhsan, ada rasa jengkel sebab tangannya dibiarkan menggantung tidak kunjung disambut salaman oleh Ikhsan.


Giwok dengan cepat menyadari suasana dan ambil alih menggenggam tangan Galang.


Seraya menepuk bahu Ikhsan dan mengajaknya ke tempat duduk, Giwok berbisik "Si Kampret ini beneran nyari cewek itu lagi!"


Seperti dugaan Ikhsan, meeting berjalan lancar.


Membangun platform web dengan konten berita dan informasi ini sudah menjadi keahlian mereka.


Bahkan jika Galang mau mengembangkan ke tahap yang lebih besar seperti mempunyai fitur forum diskusi dan levelling membership, mereka dapat dengan mudah mengembangkan platform tersebut.


Galang benar-benar puas dengan service yang diberikan oleh team Ikhsan.


Timeline mereka tampak jelas dan menjanjikan.


Terlebih lagi, mereka menawarkan service gurantee development dalam masa bertahap.


1 bulan awal semua fitur yang ada boleh diajukan modifikasi dan jaminan semua bug akan dapat ditangani.


Setelah meeting selesai, Galang mendatangi Ikhsan secara personal.


Diam-diam ia memperhatikan Ikhsan dari ujung kaki hingga menatap wajah Ikhsan.


"Ada apa, Pak Galang?"


"Oh, tidak. Jam tangan Mas Ikhsan, saya seperti kenal?"


"Oh ya? Ini model lama banget kok Pak. Bukan apa-apa." jawab Ikhsan sambil tersenyum dan memegangi jam tangannya.


Galang mengangguk lalu mengantar team Ikhsan keluar.


Setelah berjabat tangan ke semua peserta meeting, masing-masing team itu membubarkan diri.


***


Dugaan Ikhsan tak sepenuhnya tepat, meeting justru selesai lebih cepat.


Galang hari ini tampaknya mudah dipuaskan. Ia tak banyak bertanya dan cepat sekali melanjutkan topik meeting ke topik berikutnya.


Giwok dan si rambut elektrik tentu saja senang. Mereka dengan cepat mengganti schedule flight menjadi lebih awal.


Sedangkan Ikhsan, justru bingung. Sebab ia menjadi punya peluang.


Peluang untuk menemui dia.


Sesuai kesepakatan, Ikhsan mau tidak mau langsung berangkat ke Bandara untuk mengantarkan kedua rekannya.


Sementara ia, berdalih ada sesuatu yang harus dibeli.


Si rambut elektrik tentu saja tidak ambil pusing, sementara Giwok langsung membuat spekulasi.


Sesampainya di parkiran bandara, Giwok turun dari mobil lalu menyandarkan sikunya pada jendela kemudi mobil sewaan Ikhsan.


Ia lalu menurunkan kacamata hitamnya dan berlagak akan memberikan nasehat.


Ikhsan yang melihat hal ini mau tidak mau menurunkan jendela kemudinya dengan muka enggan.


"Apa lagi?" tanyanya.


Giwok tersenyum.


"Semesta tampaknya mendukung sesuatu yang mungkin sedang lo rencanakan, nih."


"Apaan sih, Wok?" Ikhsan masih dengan malas menanggapi omongan Giwok.


Tiba-tiba Giwok memasang muka serius.


"Ah, makasih ya San! Kita berdua jadi izin pulang duluan.


Lo malah jadi repot ngurus sisa-sisa administrasi kontrak projectnya.


Kita pulang duluan, ya!" ujar Giwok sambil berlagak memberi isyarat dengan tangannya di bibir seolah-olah mengunci bibirnya dan membuang kuncinya ke langit.


"Ch!" dengus Ikhsan.


"Thank you!" teriak Ikhsan setelah Giwok berjalan agak jauh.


Giwok tak menjawab tak pula membalikkan badannya, ia hanya mengangkat tangannya seolah pamit pergi.


Ikhsan dengan segera menutup kaca mobil sebab panas matahari begitu menyengat.


Setelah menarik nafas beberapa kali, ia lalu membuka ponselnya, mencari nama dalam contact list dan menekan tombol call.


***


"Halo?"


"Halo."


"May, ini gue. Ikhsan"


Suara disebrang sana tidak merespon. Hanya terdengar sahut suara yang tidak begitu jelas.


"Gue, udah selesai meeting dengan Galang.


Lebih cepat satu jam."


Yang diajak bicara masih diam tak memberi respon apapun.


"Punya waktu?"


***


Hi pembaca yang baik 🙋


Mohon dukungannya terhadap karya author dengan klik like dan berikan komentar 💞