
Malam sudah hampir menuju puncaknya dan Maya baru saja sampai di kamar hotel. Ia disuruh pulang saat rombongan Giwok datang dengan beberapa teman Ikhsan lainnya. Menurut Giwok, lebih baik Maya istirahat, ia juga sudah mengabarkan Yrene akan menggantikan Maya berjaga semalaman.
Maya menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Ia tiba-tiba teringat kilasan obrolan Giwok dan temannya sesaat sebelum pergi meninggalkan ruangan Ikhsan. Obrolan itu ada sangkut pautnya dengan project platform milik TechnoMedia. Mereka seperti membicarakan tentang keburukan sekaligus kebusukan yang terjadi dibalik project itu. Sayang, Maya tak punya cukup energi untuk berfikir lebih lanjut akan hal itu. Dipikirannya saat ini justru hanya ingin istirahat dan memulihkan tenaganya. Agar ia bisa fit kembali dan berpikir jenih menghadapi masalah pribadinya.
Sebelum menutup matanya, Maya menyempatkan diri untuk berdoa. Dia tidak menyebutkan nama siapapun selain dirinya sendiri. Ia berharap apa yang Arya katakan tentang pilihan itu benar. Bahwa selamanya Maya akan selalu punya pilihan. Saat kantuk menjemput Maya dalam pelukan, ia memutuskan akan segera check-out dari hotel dan tinggal di rumah Arya. Lebih dekat dengan Arya mungkin akan membantunya lebih waras dan berpikiran jernih.
***
Tok! Tok! Tok!
Yrene yang baru saja selesai menyusui Ianvs pagi itu memperbaiki bajunya dan segera berlari membuka pintu. Ia sangat terkejut saat mendapati seseorang yang ada di balik pintu.
"Bimo?" sapa Yrene dengan senyum. Selain tidak menduga kedatangan Bimo, Yrene juga terkesan dengan bouquet yang ada di tangan Bimo. Bouquet bunga itu berupa bunga krisan putih yang segar.
"Ini, buat lo. Buat lo kasih ke Ikhsan maksudnya," ujar Bimo sambil menyerahkan bunga tersebut pada Yrene.
Yrene mengambil bouquet bunga dari Bimo dan mempersilahkan sepupunya itu duduk di ruang tamu. Setelah memerintahkan untuk membuatkan minum pada Mba Ningsih, Yrene duduk dihadapan Bimo.
"Ada apa? Tumben lo dateng kesini?" tanya Yrene.
"Sebenernya tadi gue gak ada niatan kesini. Pas mau berangkat kerja, gue nemenim nyokap buat beli bunga. Ada rekan nyokap baru buka toko gitu. Di toko bunga gue lagi lihat status lo di social media, 5 minutes ago. Jadi gue pikir ada baiknya juga gue mampir ke rumah lo buat ngasih support. Sekaligus mau ngajakin lo berangkat bareng ke Rumah sakit, yuk. Biasanya kan lo naik taksi," jelas Bimo.
Yrene tersenyum, " Thanks ya."
"Oh iya, Bunga Krisan biasanya dibawa pengunjung untuk pasien. Lo tau artinya?" Saat Yrene menggeleng terhadap pertanyaan Bimo barusan, ia melanjutkan, "Bunganya melambangkan harapan panjang umur."
"Ah, I see," ucap Yrene sambil memandangi bunga itu.
"Rene, gue boleh ngomong sesuatu?" tanya Bimo pelan setelah diam beberapa saat.
***
Rayyan berjalan mondar-mandir di luar ruangan meeting dewan direksi TechnoMedia dengan ponsel yang ia dekap di dada. Ia kesal terhadap sepupu sekaligus bos nya yang seharusnya masih dalam intensif perawatan di rumah tetapi lebih memilih hadir di rapat dewan direksi secara virtual. Bukan hanya Rayyan khawatir akan kondisi Galang yang belum kembali sehat total, tetapi Rayyan tahu betul saat begini adalah momen yang empuk untuk menggulingkan Galang dari kursi CEO.
Sementara itu dirumahnya, Galang sedang duduk di meja kerja. Perawat baru saja membuka perban di telinganya dan penampilannya kini sudah hampir seperti semula kecuali sedikit memar biru yang belum sepenuhnya hilang. Galang menutup matanya dan menghirup napas dalam-dalam. Ia berdiam diri dengan sangat tenang layaknya sedang bertapa. Begitu sebuah notifikasi tanda meeting dimulai berbunyi pelan dari laptop yang ada di hadapannya, matanya membuka dengan tajam.
"Try me," desis Galang pelan saat memandang kamera laptopnya membuat dewan direksi di ruangan rapat TehcnoMedia tiba-tiba merasa gerah dan tidak nyaman memandangi display besar di tengah ruangan.
"Good Morning. Please silent your phone and turn down your laptop. The meeting will last for 30 minutes. Let's start as per the agenda," ucap Rayyan membuka meeting pagi itu.
"Pak Galang, your update please," kata Rayyan lagi, mempersilahkan Galang untuk berbicara terlebih dahulu selaku pimpinan.
"Sorry, Galang. We have urgent update related to our platform that has been down for 3 days. We should determine our response," ujar salah satu dewan direksi dengan perawakan paruh baya dan rambut hitam klimis yang tampaknya baru saja di cat kembali di salon professional.
Galang mengeraskan rahangnya, "Cecunguk ini. Sudah tidak mengizinkan gue membuka suara untuk menjelaskan situasi, dia bahkan tidak berusaha berbasa-basi untuk menanyakan kabar. Sudah pasti merasa menang ya, rupanya," ucap Galang dalam hati.
"Let's just pay all of whatever they claim as their loss. Freeze the platform program until my allegation status is clear. We can do that right?" tanya Galang dengan nada sengit.
"Absolutely," sahut Rayyan. Ia kemudian mengusulkan, "Pak Galang, let me arrange a meeting with all of shareholders and get their approval."
"They will not approve a request from a criminal," sahut salah seorang lagi. Membuat semua mata tertuju pada Galang untuk melihat reaksinya.
Galang tersenyum sinis, "And? Who is the criminal? Can you name it? Because I haven't even heard anything from the court"
***
Maya sudah selesai mengepak semua barangnya di rumah Arya. Meski sementara waktu ia akan berbagi kamar dengan keponakannya, Maya merasa tidak terganggu. Toh anak Arya masih berumur 5 tahun dan terkadang masih memaksa untuk ikut tidur bersama orangtuanya.
"Tante," sapa Naomi, keponakannya yang sudah memakai princess. Hari ini di TK Naomi akan ada pertunjukan hobi. Yup, hobi Naomi adalah menjadi princess.
"Hey, princess. Kenapa kamu hobinya jadi princess ya?" tanya Maya iseng sambil menunggu Arya mengeluarkan mobil dari teras rumah. Maya akan menumpang mobil Arya untuk ke rumah sakit.
"Hm, soalnya bajunya bagus," jawab Naomi sumringah.
"Tante juga mau dong baju princess," kata Maya pura-pura menginginkan baju ala putri istana itu.
Naomi menggeleng tapi terkikik. Ia lalu melambaikan tangannya seolah memanggil Maya untuk menunduk sebab ia ingin membisikkan sesuatu.
Saat Maya sudah menunduk, Naomi mengucap pelan dengan senyumnya, "I think tante cocoknya pakai baju bride. Hihihi..."
Menelan ludahnya, Maya tak sangka ia akan digoda oleh ponakannya yang piyik itu. Godaan Naomi mungkin bukan sesuatu yang sangat aneh, tetapi menjadi sangat relatable dengan konflik yang saat ini Maya sedang alami. Bulu kuduk Maya bahkan meremang mendengar kata baju pengantin yang diucapkan Naomi.
"May? Ayo! Kok melamun sih," tegur Arya dari dalam mobil di kursi kemudi. Di belakang sudah duduk rapi Naomi yang masih tersenyum geli melihat Maya.
Menarik nafasnya dalam-dalam, Maya menepiskan dugaan pemikirannya. Ia lalu lebih memilih untuk menebak bahwa Naomi hanya asal bicara. Ya, memikirkan itu lebih baik daripada harus berfikir bahwa apakah perkataan Naomi barusan adalah sebuah firasat bahwa ia benar akan segera berpakaian baju pengantin.
Maya membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang di samping Arya. Mobil itu kemudian melaju, membawa Maya pada kenyataan yang sebenarnya akan ia hadapi.
***
Yrene sudah sampai di depan pintu ruangan rawat Ikhsan saat Bimo akan berpamitan untuk ke ruangan kerjanya.
"Eh Rene, soal sesuatu yang gue tanyain ke lo tadi pagi sebelum kita berangkat. Lo mau mau kan memikirkan hal itu sekali lagi? Terutama nanti saat Ikhsan bangun. Gue paham sekarang fokus lo pasti hanya untuk kesembuhan Ikhsan," ujar Bimo dengan nada suara segan.
Yrene hanya bisa mengangguk, pertanyaan Bimo yang terkesan sebagai permintaan itu justru membuat Yrene malah sedikit kesal. Kenapa Bimo bisa melemparkan pertanyaan semacam itu pada Yrene? Apakah dia tidak punya pengertian tentang keadaan Ikhsan saat ini?
Mendapati situasi sudah semakin canggung, Bimo segera pamit pergi. Tak lama bayang Bimo berlalu, Giwok tiba-tiba keluar dari ruangan Ikhsan.
"Mbak Yrene?" sapaan Giwok terasa bersemangat, membuat Yrene tersenyum namun alisnya berkerut.
"Ikhsan sudah sadar! 30 menit yang lalu! Dia mencari kamu-"
Yrene melewati Giwok yang belum menyelesaikan kabar gembira tersebut. Ia langsung membuka pintu dan berlari menuju tempat tidur Ikhsan. Rekan Giwok lainnya langsung memahami situasi, mereka segera keluar ruangan menyusul Giwok.
Langkah Yrene terhenti saat Ikhsan terlihat menolehkan kepalanya pelan ke arah kedatangan Yrene. Ia menahan nafasnya menyaksikan mata Ikhsan mengerjap beberapa kali sebab silau dari arah jendela. Jantung Yrene seolah berhenti berdegup, benar... mata itu terbuka kembali. Bibi Andrew benar, belum tentu mimpi pertanda kematian Ikhsan itu sepenuhnya benar.
"Yang," pelan tapi Yrene dapat mendengar jelas panggilan Ikhsan padanya.
Perlahan Yrene mendekat ke tempat tidur Ikhsan dan menyentuh tangan suaminya itu. "Syukurlah, syukurlah... Iya Sayang, Aku disini," ucap Yrene disela derai air mata yang sudah membasahi pipinya.
Yrene mengambil tangan Ikhsan, membawanya ke pipi dan mencium punggung tangan Ikhsan beberapa kali.
Ikhsan terlihat menarik nafasnya panjang lalu mengerang seperti kesakitan. Matanya terpejam sesaat.
"Kenapa, Yang? Sakit?"
Mengangguk lemah, Ikhsan menutup matanya lagi. Yrene menyadari silau cahaya matahari mungkin mengganggu Ikhsan. Dengan cepat ia menutup sebagian tirai lalu kembali ke samping tempat tidur suaminya.
"Gimana? Enakan?" tanya Yrene dan Ikhsan memberikan anggukan lemah.
"Syukurlah kamu sudah sadar. Semangat pulih ya, Sayang. Ianvs udah kangen banget sama Ayahnya. Kita semua selalu ada disini gantian jagain dan doain kamu supaya segera sembuh," Yrene memelankan suaranya sebisa mungkin agar membuat Ikhsan lebih nyaman mengolah informasi dari suara.
Ikhsan perlahan membalas genggaman tangan istrinya membuat Yrene tersenyum. Respon kesadaran Ikhsan sudah sangat membaik. Yrene lalu mendekatkan kepalanya untuk lebih jelas mendengarkan suara Ikhsan yang tampak seolah ingin mengucapkan sesuatu.
"Yang, udah... berapa... lama." Kata-kata Ikhsan langsung dimengerti oleh Yrene.
"Ini hari ke tiga. Tapi kamu gak perlu khawatir. Yang penting kamu sembuh dulu aja, Sayang. Take your time," ucap Yrene sambil mengecup lembut genggaman Ikhsan lagi.
"Kamu istirahat lagi ya. Aku akan kabarin semua keluarga," kata Yrene kemudian.
Ikhsan mengangguk dan kembali tertidur. Yrene lalu mengetik pesan dan memberikan kabar bahagia bahwa Ikhsan sudah sadar. Ia juga berpesan agar jika berniat membesuk suaminya, maka sebaiknya bergantian, tidak ramai dan tidak berisik. Ikhsan tampaknya masih merasa kesakitan pasca hilangnya efek anestesi.
Satu jam setelah mendapat pesan dari Yrene bahwa Ikhsan telah sadar, Maya sudah berdiri di lobi Rumah Sakit. Entah kenapa perasaannya semakin resah, padahal ia sudah sengaja mengulur waktu dengan menyempatkan diri mampir ke sekolah Naomi.
Maya melangkahkan kakinya ke kantin Rumah Sakit dan membeli sebuah kopi panas untuk menghangatkan tangannya yang mulai mendingin. Dalam hati ia menerka, ucapan Naomi tadi pagi bisa jadi pertanda. Juga tentang sadarnya Ikhsan pagi ini. Benar, ini adalah pertanda bahwa Maya, akan harus mengungkapkan jawabannya pada lamaran Ikhsan hari ini.
***
"Arrrghh..." desis Ikhsan saat perawat menyuntikkan kembali obat melalui selang infus di punggung tangan kirinya. Seluruh tubuhnya terasa begitu nyeri namun sesaat kemudian, ia mulai merasa sedikit tenang.
Yrene meringis ketika perlahan genggaman Ikhsan mengendur pada jemarinya yang tadi diremas Ikhsan. Setelah Ikhsan terlihat lebih tenang dan lebih baik lagi tingkat kesadarannya, Yrene mulai mengajak Ikhsan berbicara pelan-pelan. Rasa bahagia menjalari seluruh pembuluh darah Yrene ketika ia melihat Ikhsan yang mulai tersenyum.
"Aku... kaya mumi ya?" tanya Ikhsan dengan suara serak.
Yrene menggeleng sambil mengulum senyum, "lebih mirip kaya zombie."
Senyum Ikhsan mengembang lagi dan kini mengundang rasa panas pada wajah Yrene. Air mata Yrene kembali menetes.
"Udah... jangan nangis, Yang," lirih Ikhsan. Ia berusaha mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Yrene.
Yrene mengerti maksud Ikhsan, Ia mendekap tangan Ikhsan di pipinya. "Sayang, lain kali kalau kamu benar-benar menginginkan sesuatu. Bilang sama aku. Aku akan berusaha mewujudkan itu semua. Jangan susah payah berantem sampai mengancam nyawa kamu lagi ya. Aku dan Ianvs ga sanggup kehilangan kamu, jangan kayak gini lagi," pinta Yrene sambil terisak.
"Berantem ya..." Ikhsan memejamkan matanya, "Itu kecelakaan. Kalau berantem doang kayaknya aku, masih bisa menang, Yang."
Yrene tahu Ikhsan berusaha bercanda, tapi ia masih berurai air mata. "Ih kamu mah, sempet-sempetnya..." ujar Yrene akhirnya tertawa juga.
Wajah Yrene kemudian berubah serius. "Yang, kamu inget kenapa kamu disini?"
Ikhsan mengangguk pelan meski ada rona keraguan dari ekspresinya.
"Apakah kamu masih inget ada sesuatu yang kamu tunggu?" tanya Yrene pelan.
Pandangan Ikhsan menerawang menatap langit-langit. Ia kemudian membuka suaranya.
"Aku, memang rasanya masih seperti menunggu," jawab Ikhsan.
Yrene mengangguk, pandangannya berubah sendu. "Tunggu sebentar ya. Aku panggilkan dia..."
Ikhsan mengerutkan alisnya menatap Yrene yang beranjak pergi keluar sambil menghubungi seseorang dengan ponselnya.
Begitu tangan Yrene membuka kenop pintu, ia terkejut. Maya ternyata sudah sedari tadi berdiri menunggu di luar.
"Gue baru aja mau hubungi lo. Masuklah. Dia udah nungguin lo, May."
Maya menelan ludahnya, ia dapat memastikan bahwa Ikhsan pasti sudah sadar sepenuhnya. Sebab ada bekas air mata pada wajah Yrene dan rona bahagia masih membekas disana.
"Rene, gue..." Maya meremas jemarinya.
Yrene menggeleng, "Dia baru aja sadar. Please jangan lukai perasaanya."
Maya mengembuskan nafasnya panjang dan menunduk. Maya tiba-tiba berlutut. "Rene, maafin gue."
Cepat-cepat Yrene mengangkat Maya bangkit berdiri lagi. "Lo ga salah. Jangan meminta maaf, Maya. Ini hanya takdir yang harus kita jalani."
Yrene meremas pundak Maya. "Masuklah, jangan buat dia menunggu dan kecewa."
Maya masih menunduk, jantungnya berdegup begitu kencang. Seharusnya saat ini adalah saat yang melegakan baginya sebab Ikhsan sudah sadar kembali. Tapi, situasi berikutnya inilah yang membuat Maya seolah tak sanggup menghadapinya.
Mendapati Maya masih diam, Yrene membantu membukakan pintu. "May, masuklah..."
Maya memejamkan matanya, ia tidak bisa lagi mengulur waktu. Pelan, ia melangkahkan kakinya masuk ke ruangan Ikhsan. Disitu, ia dapat melihat tubuh Ikhsan masih tertutup selimut hingga ke dadanya. Tubuh Maya bergetar mendekati tempat tidur Ikhsan. Perlahan ia mengangkat wajahnya.
Saat manik mata mereka bertemu, Maya menelan saliva keringnya. "Hi San?"
Tidak ada jawaban dari Ikhsan, ia masih diam mengamati.
"Apa kabar?" tanya Maya sambil melangkah lagi lebih dekat. Kini ia bisa melihat wajah Ikhsan tak lagi sepucat semalam. Rona biru pucat itu telah memudar berganti dengan gurat-gurat sedikit cerah di wajah Ikhsan.
Maya sudah hendak duduk saat ia melihat Ikhsan membuka bibirnya.
"Maaf... Anda, siapa?"
***
Halo pembaca yang baik 🙋
Mohon dukungannya ya, doakan agar author selalu ada waktu mengupdate cerita ini.
Meski sudah mempunyai kerangka hingga akhir cerita, ternyata hidup author buanyak bgt tantangannya. Terutama tantangan ngetik novel ini Hahaha 🤭😂
Jangan lupa like like like, vote vote vote dan komentarnya ya ♥️♥️♥️