
Maya berjalan menuju kamar yang di peruntukkan untuk dirinya. Masing-masing bridesmaids diberikan satu kamar untuk beristirahat sebelum ke acara berikutnya. Ia dan bridesmaid lainnya juga harus segera berganti baju lagi. Masih ada waktu beberapa jam lagi sebelum mereka akan mulai acara resepsi pernikahan dan dilanjutkan dengan resepsi dan wedding dinner . Maya berencana untuk mencoba cemilan dan wine yang sudah disiapkan di kamar seraya beristirahat sebelum mulai berdandan lagi.
Saat membuka kamarnya, Maya mencium aroma jasmine yang menenangkan. Harum itu ternyata berasal dari aroma candle yang ada di kamar mandi. Maya tahu betul bahwa aroma jasmine ini adalah wangi favorit Yrene. Sahabatnya yang baru saja menikah itu sangat perhatian sekali. Memberikan aroma terapi yang dapat menenangkan setelah lelah di acara akad tadi. Jujur saja, Maya pagi ini harus bangun jam 4 subuh. Mengantri di salon, dan harus ke venue pada jam 6 pagi.
Ia kemudian berjalan menuju sebuah meja rias mungil yang diatasnya tersedia keranjang cemilan dan wine.
Maya membuka wine dan menuangkannya ke gelas. Ia memutar wine di dalam gelas kemudian menyesapnya sambil menutup mata seakan meresapi. Ah, ini adalah wine dengan rasa favorit Ikhsan. Maya memang tidak pernah tahu secara langsung, tetapi Yrene pernah menyebut hal ini beberapa kali. Maya juga pernah melihat Yrene membeli wine ini untuk diminum bersama Ikhsan. Sial, kenapa meminum ini Maya serasa dipaksa mengingat sosok Ikhsan dari ujung kaki ke ujung kepala pria yang baru saja menikah itu.
Rasa wine itu manis dan pahit. Sama seperti kejadian yang baru saja terjadi di depan matanya. Pernikahan cinta pertama Maya yang sesungguhnya belum pernah selesai. Padahal Maya sudah susah payah menenangkan dirinya dan juga repot-repot bermeditasi beberapa hari sebelum menghadapi hari ini. Tapi ternyata ia merasa akan hancur juga. Maya mulai merasa ada tumpukan batu keras yang mencekat tenggorokannya. Matanya mulai terasa panas dan ada rasa sesak yang teramat sangat di dadanya.
Maya melepas sepatunya lalu duduk menghadap jendela kamar yang besar dengan tirai putih yang menjuntai indah. Pemandangan yang terhampar di hadapannya adalah sebuah danau yang begitu tenang dengan latar hutan lindung. Maya sudah siap untuk memeluk kesedihannya, mendekap laranya.
Ia menekuk kaki dan menyandarkan kepala dilututnya.
Lalu...
Ia menangis sejadi-jadinya. Meluapkan rasa sesak yang ia tahan sedari pagi tadi di balik senyum dan tawa di acara Akad Yrene dan Ikhsan. Ia berteriak sambil menunduk. Melampiaskan perih yang akhirnya meledak hari ini setelah bertahun-tahun hinggap dalam relung hatinya. Maya kehabisan nafas dan tenggelam oleh air matanya sendiri. Biar, biar kali ini saja dirinya puas menangis dengan keras.
Di tengah deru tangisnya, logika Maya berteriak.
"Don't be this way, Maya!
Betapa jahat nya kamu menangis di pernikahan sahabatmu sendiri.
Kamu gak boleh bertingkah palsu seperti ini.
Ikhlaskan...
Dia, Dia bukan milikmu.
Tak pernah jadi milikmu.
Usai dan hapus sajalah semua perasaan-perasaanmu."
Tubuh Maya bergetar menahan rasa yang berkecamuk di kepala dan di hatinya. Sementara di luar sana, sayup terdengar si musisi sedang asik sendiri menyanyikan lagu Melerai Lara-Aurette and The Polska.
"Merona warna-warna merah muda
Terurai indah, merekah dan mempesona
Persona terperangkap dalam sukma
Semayam tersembunyi, terkurung terjerat dalam lara
Jiwa tak senada, dan menghilanglah irama, tak bisa ku melerai lara
Akal mati rasa, taman hati layu juga, tak bisa ku meretas duka.
Persona terperangkap dalam sukma
Semayam tersembunyi, terkurung terjerat dalam lara"
***
Maya terbangun saat cahaya matahari menelusup dari tirai jendela. Siang sudah hampir terlewat. Rupanya ia sudah tertidur sejenak saat tenggelam dalam hiruk di kepala dan bingar di hatinya.
Sambil menatap langit-langit kamar, ingatan Maya sembarangan memutar kejadian-kejadian tadi pagi. Kelebat memori itu bergantian memenuhi kepalanya.
Saat tangan Ikhsan menyentuh punggungnya, memijat bahunya.
Ikhsan yang berdiri dan tersenyum di depan cermin, tertawa kecil dan memujinya cantik.
Ikhsan yang berdiri berjalan lurus menuju wedding isle.
Ikhsan, ia tampak tenang namun raut wajahnya serius.
Ah, apa ia sebenarnya gugup? Apa yang ia khawatirkan kira-kira?
Ketika Ikhsan duduk dimeja Akad, Ia masih memakai jam tangan sporty berwarna hitam kesukaannya.
Jam itu sedari dulu masih Ikhsan pakai dan rawat, sebegitu sukanya dia dengan jam itu rupanya.
Wajah Ikhsan dengan pandangan tajam, mengucap serius lafadz akad.
Di sudut ruangan kamarnya, logika Maya memakinya untuk segera sadar dari lamunan.
Namun nyatanya logika itu tak banyak memberontak, justru ia semakin larut.
Oh Andai...
Seandainya saja nama yang Ikhsan ucapkan adalah namanya.
Seandainya saja...
Seandainya yang dijemput oleh tangan Ikhsan adalah tangannya.
Seandainya yang Ikhsan cium dan pakaikan cincin adalah jemarinya.
Seandainya yang memeluk tubuh tegap Ikhsan adalah dirinya.
Maya menghela nafas.
Ini tak adil baginya, kenapa ia masih memiliki perasaan seperti ini.
Kenapa hatinya terus-menerus masih menyimpan perasaan yang sama?
Kenapa, ia masih cinta?
Kenapa bagi sebagian orang melupakan adalah hal yang tak begitu sulit? Ingin rasanya Maya menukar segala yang ia punya agar ia dapat melupakan cinta yang saat ini masih bermukim di lubuk hatinya. Sudah begitu banyak hal yang ia lalui dan tempuh untuk melupakan Ikhsan dan merelakan cintanya yang ia pendam sendiri. Pergi menjauh bahkan sejauh mungkin, menyibukkan diri, menghindari apapun tentang Ikhsan, bahkan menghadapi sesi-sesi konsultasi pada psikolog.
Maya bahkan pernah beberapa kali mencoba membuka hati pada sosok-sosok pria yang baru. Sekeras apapun Maya mencoba, nanar mata dan perilakunya tetap saja tak dapat ikhlas mencintai sosok-sosok itu. Bukan hanya mereka yang mencoba merasa lelah, Maya sendiri tak mampu membela diri saat menyadari tak pernah ada kasih dan cinta yang muncul dari rentang waktu hubungan-hubungan yang ia coba. Bukan teralihkan pada sosok dan cinta yang baru, Maya justru menambah daftar mantan yang justru tidak memberikan pengaruh baik bagi keadaan hatinya, juga nama baiknya.
Pada akhirnya, Maya lebih memilih sendiri dan ternyata masih rapuh. Mencintai dalam diam dan patah hati lalu bersedih sendirian. Ah, kenapa ia sangat tidak beruntung dalam hal urusan hati?
Maya membuka matanya. Nuraninya memutuskan, malam ini adalah malam terakhir ia menatap mata milik Ikhsan pada wedding dinner. Kalau hidup memang memihak Maya, seharusnya ia tak perlu lagi bertemu suami Yrene itu barang sekalipun. Saat pagi menyingsing nanti, Maya akan pergi dan pindah dari kota ini. Meski kota ini menjanjikan karir yang sangat cemerlang bagi profesi dan mimpi masa kecilnya, Maya sudah tak berhasrat lagi. Bukankah Maya sudah rela untuk menukar segalanya agar dapat melupakan Ikhsan?
***
Hi pembaca yang baik 🙋
Mohon dukungannya terus atas karya author dengan like dan comment 💞