
Matahari belum menyingsing ke peraduan pagi, namun semburat oranye sudah terlihat di langit. Meski tidak banyak, beberapa warga yang memiliki dan masih bekerja di sawah mereka sudah memulai hari mereka. Dari pintu ke pintu terdengar sahut salam perpisahan menuju ladang rezeki pagi ini.
Toko dan warung sarapan juga sudah mulai beroperasi. Bahkan kepulan asap dari arang pembakaran tungku tembikar serabi yang wangi juga sudah mengepul. Udara dingin pagi yang menghantarkan aroma tepung santan serabi itu membuat orang yang lewat di depan warung pasti tergoda untuk membeli.
Sepagi itu, seseorang laki-laki bercelana pendek dengan sweater abu gelap keluar dari warung serabi. Tampaknya ia yang merupakan pelanggan paling awal pagi ini telah menyelesaikan santapan paginya dan sudah siap memulai hari.
Ia berjalan menuju sebuah sepeda yang terparkir di pinggir jalan desa. Sisi kanan dan kiri sepeda tersebut terdapat sebuah tas besar. Berisi pekerjaannya pagi ini.
Seelah merasa posisi duduknya nyaman, ia menggerakkan kaki untuk mengayuh sepedanya.
Ngik! Ngik! Ngik! Seeeerrrrr...
Begitu bunyi sepeda itu berjalan. Sepeda itu terlihat masih kokoh walau telah cukup berumur. Namun karena pengendaranya bertubuh tinggi dan besar, membuat si sepeda berdecit kesusahan. Untunglah jalanan masuk menuju perumahan warga sedikit turunan sehingga si sepeda dapat berhenti berdecit sejenak.
Tetapi, ada yang aneh. Suara decit dari kayuhan sepeda itu justru menjadi sebuah pertanda bagi warga desa. Pertanda bahwa orang yang akhir-akhir ini selalu mereka tunggu kedatangannya pagi ini, akan berhenti didepan rumah mereka dan menawarkan sesuatu yang sudah lama tidak pernah ada disini. Koran dan majalah gratis.
"Kooooraaaan! Kooooraaaan! Korannya Pak! Korannya Bu! Kabarnya hari ini harga sembako lokal semakin membaik, hal ini disambut riang oleh petani lokal! Tanda ekonomi membaik!"
Ngik!
Sepeda itu kembali berdecit saat pengemudinya menarik rem untuk berhenti di depan gerbang sebuah rumah. Sudah ada seorang bapak tua gendut dengan pakaian sehabis sholat shubuh berdiri menunggu.
"Pagi, Pak RT! Silahkan korannya hari ini!" Si penjual koran menyerahkan sebuah koran ke tangan Pak RT yang tersenyum ramah.
"Nuhun, mangga masuk dulu, sarapan!" tawar Pak RT sambil menunjuk ke arah dalam rumahnya.
"Parantos sarapan Pak, nuhun!" balas si penjual koran dengan lambaian dan mulai mengayuh sepedanya lagi menuju rumah berikutnya.
***
Sebuah pintu kamar terbuka oleh langkah kaki seorang perempuan muda yang berjalan menuju dapur. Sambil menyelipkan rambut depannya ke telinga, ia menyalakan mesin kopinya.
Setelah menyesap dua tegukan, perempuan itu baru membuka kelopak mata sepenuhnya.
"Can I have very nice weekend, pleassssee..." ucap Maya pada pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela.
Maya baru saja hendak membuka pintu untuk membiarkan udara segar pagi masuk ke rumah ketika Mamanya berjalan lebih cepat dan menyerobot membuka pintu.
"Ah itu dia, Mama sudah tungguin!" ucap Mama Maya dengan girang.
Mamanya lalu membuka pintu dan dengan tergesa-gesa berjalan ke gerbang. Ia menjulurkan kepalanya ke depan seolah telah menanti seseorang. Selang beberapa detik tangan Mama Maya melambai-lambai dengan tidak sabar, membuat seseorang yang ia tunggu berhenti dengan tergelak.
"Ah, si Ibu gak sabaran pisan, Bu," jawab pria itu, tersenyum sambil menyerahkan satu gulungan koran.
Menerima dengan riang, Mama Maya sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. "Eh saya dengar dari Bu RW katanya kalau sabtu dan minggu ada disediakan majalah gratis juga ya?"
"Oh iya, Bu! Wah enak ya Bu RW informatif. Broadcast pesannya cepat tersampaikan! Nah karena ibu orang pertama yang menanyakan soal majalah, Ibu bisa bebas pilih mau majalah yang mana!" Ucap sang pemuda tukang koran sambil membuka keranjang tas sebelah kanan sepedanya.
Mama Maya dengan semangat melihat beberapa varian majalah. "Nak, yang banyak resep masakan ada? Saya lagi semangat masak ini. Anak saya ada di rumah. Biasanya juga masak sendiri makan juga sendiri."
"Hmm," pria itu tampak memilih-milih lalu akhirnya mengambil sebuah majalah. "Ini cocok kayaknya bu, ada rubrik masak khusus disini."
"Wah, terimakasih! Baca majalah lagi jadi teringat masa muda! Jadi punya kegiatan yang menyenangkan dan di nanti-nanti," ucap Mama Maya sambil mendekap majalah yang ia pegang ke dadanya.
Sementara itu, Maya yang masih berdiri di pintu rumah mengamati dari kejauhan. Beberapa hari yang lalu ia memang mendengar ada proyek pembangunan minat baca di desa ini. Proyek itu tidak terlihat masif, hanya berupa pembagian koran dan majalah gratis rupanya. Dan tampaknya hanya dijalankan oleh satu orang si penjual koran ini. Maya jadi penasaran, terlebih lagi ia melihat mamanya sangat senang dengan kegiatan itu.
Mama Maya telah berjalan menuju ke dalam rumahnya ketika ia sadar bahwa putri kesayangannya itu sedang terpaku di depan pintu. Ia lalu mencubit kecil pipi Maya dan berkata, "Hey, neng! Malah melamun. Nih, mau baca engga?" tanya Mama Maya sambil menyodorkan gulungan koran ke tangan Maya, sementara majalahnya tetap ia dekap sambil berjalan masuk ke rumah.
"Itu siapa sih, Ma? Orang desa sini?" tanya Maya sambil mulai membuka korannya dan duduk di sofa.
"Bukan, kalau kata Bu RW sih orang proyekan minat baca dari pemerintah itu. Tapi ya itu, penasaran juga siapa. Soalnya engga seperti tukang koran lainnya. Wawasannya luas, enak pisan diajak ngomong. Ganteng dan tegap pula. Duh jadi obrolan ibu-ibu dia mah," jawab Mama Maya dari arah dapur.
Maya mengerutkan alisnya, ia seperti sedang mendengar sesuatu yang familiar. Mungkin, ada baiknya besok pagi ia yang menunggu koran di depan gerbang.
"Hm, jam 6 pagi. Kenapa?"
"Biar Maya deh yang ambil korannya besok," jawabnya.
Mama Maya mengangguk, "Iya kayaknya cocok lah jadi teman ngobrol kamu. Oh iya, kalau kamu mau temui dia, dia tinggal di rumah sebelah gedung serbaguna desa."
"Nemuin buat apa, Ma?" tanya Maya dengan alis berkerut.
"Yah kali aja ada lowongan kerja bareng disana, katanya kamu mau mengajukan resign di kantormu," jawab Mama Maya tanpa menoleh. Ia sedang asik membolak-balik halaman majalah.
"Wah benar juga pilihan dia, hebat! Banyak ini rubrik masak-masak. Berarti hobi baca juga dia, bisa hapal isinya majalah," ucap Mama Maya setelah sempat diam beberapa menit.
Meski Maya tengah membaca paragraf kedua sebuah headline berita, entah kenapa ia susah untuk fokus. Ia jadi tidak sabar untuk menemui si penjual koran esok pagi. Atau mungkin nanti sore ia bisa sekedar lewat di depan gedung serbaguna desa?
Sabtu sore yang tenang milik Maya sedikit terusik. Saat ini Maya sedang berada diatas sepeda motor milik Sang Mama. Ia dengan perasaan sebal karena disuruh membeli kekurangan bahan makanan untuk membuat sebuah resep makanan yang ingin dicoba mamanya dari majalah. Rasanya Maya seolah kembali menjadi anak kecil yang suka disuruh-suruh ibunya membeli bahan makanan ke warung.
Setelah mampir membeli bahan yang mamanya pesan, Maya sengaja memutar jalan melewati gedung serbaguna. Entah untuk tujuan apa, ia tidak tahu. Ketika motornya mendekat ke rumah di samping gedung serbaguna desa, ia justru menjadi gusar.
"Kenapa gue jadi yang penasaran begini," keluhnya sambil berbisik didalam helm.
"Itu dia!" batin Maya. Ya, pria itu terlihat sedang duduk di teras rumahnya. Ia terlihat sedang asik menunduk menatap laptopnya. Benar, ia tidak terlihat seperti tukang koran biasa.
Mendadak jantung Maya berdegup cepat. Dengan segera ia menarik gas lebih kencang saat melewati jalan depan rumah si penjual koran itu. Dan tanpa Maya sadari, suara ngebut knalpotnya mengejutkan pria yang sedang menikmati sorenya di teras tadi.
"Woi! Jangan ngebut, bahaya!" teriak suara di belakang Maya.
Maya melirik ke arah kaca spion, di belakang sana ada pria yang ia intai tadi sedang berkacak pinggang. Tampaknya kesal karena suara ngebut motor Maya tadi.
Sesampainya di pekarangan rumah, Maya yang sudah memarkirkan motor dan membuka helmnya menghela nafas panjang. Ah, semoga esok pagi si pria itu tidak mengenalinya sebagai orang yang ngebut tadi.
***
Alarm pagi berdering, membuat Maya yang sedang berada di kamar mandi menggosok gigi berlarian menuju ponselnya. Tumben memang minggu pagi ini. Biasanya ia harus menunda beberapa kali alarmnya. Maklum, Maya hanya mendapat dispensasi bangun siang di hari Sabtu dan Minggu saja. Selebihnya, sang Mama akan mengajukan protes lalu meminta Maya untuk berolahraga agar sehat dan lebih cepat proses self healing nya.
Memakai sweaternya, Maya berjalan ke arah dapur untuk meneguk teh hangat dan bersiap untuk keluar rumah.
'Kring! Kring! Koooooooran-koraaaan! Koran-majalah gratis, Pak! Bu!' terdengar saup teriakan memecah minggu pagi milik Maya itu.
Mama Maya yang sedang ada di halaman belakang berjalan cepat menuju ke dalam rumahnya. "May, itu orangnya datang!" Tidak ada jawaban. Ia berjalan ke arah ruangan depan. Ah ternyata putrinya itu sudah berada di gerbang rumah menunggu si penjual koran. Karena baru saja memperoleh majalahnya, Mama Maya merasa tidak ada yang ia perlu minta pada pria tukang koran itu. Ia kembali ke halaman belakang rumahnya.
Maya meniup telapak tangannya yang mulai kedinginan saat menunggu sepeda si penjual koran terhenti. Ia menjadi lebih gusar dan merasa sangat gugup. Jantungnya berdetak lebih cepat. Entah karena takut ketahuan perkara ngebut sore kemarin, atau karena Maya begitu penasaran dengan si penjual koran ini.
Sepeda si tukang koran akhirnya berhenti, membuat alis Maya semakin berkerut. Ada respon yang cukup jauh berbeda dari yang ia amati kemarin.
'Hm?!' batin Maya. Si penjual koran ini memang memakai topi yang hampir menutup seluruh wajahnya kemarin. Itulah sebab kenapa Maya tidak merespon saat Mamanya bilang bahwa pria ini ganteng. Toh ia tidak bisa melihat dengan jelas. Dan lagi, sangat berbeda sikap dengan kemarin yang begitu ramah, kali ini si penjual hanya diam saja saat berhenti. Ia bahkan tidak turun dari sepedanya dan hanya menyodorkan koran ke arah Maya.
Maya melipat tangan ke depan dadanya, menolak mengambil koran yang disodorkan pria yang bahkan tidak menoleh ke arahnya. Gugupnya tadi telah berubah menjadi penasaran akut.
"Maaf, kamu kok kayak orang yang saya kenal ya?" tanya Maya, akhirnya membuka suara memulai percakapan.
"Maaf Mbak saya sibuk, mau atau tidak ini korannya?"
Manik mata Maya membesar. Suara itu!!
***
Halo pembaca yang baik 🙋
Jangan lupa like, komen dan votenya ya!
Love, Author.