The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Shattered



Jgrek!


Pintu yang tadi di masuki oleh Galang terbuka dan sosok Maya keluar dengan anggun memaki baju pengantin yang berwarna putih. Rayyan tanpa sadar membuka mulutnya, terpukau melihat perempuan yang berjalan melewati dirinya.  Seulas senyum singkat terukir di wajah rekan kerjanya itu saat berlalu dan melangkah memasuki lift. Tak lama setelah itu, Galang menyusul keluar dengan wajah yang begitu kaku.


Rayyan menelan ludah dan menyapa bosnya itu, "Kita pulang sekarang?"


"Belum."


Rayyan bersumpah ia melihat sebuah garis yang berkilau di bawah kelopak mata kiri Galang yang memerah. Menahan nafasnya, Rayyan mengikuti langkah Galang yang juga berjalan menuju ke lift. Di dalam lift, Rayyan tak berani mencuri pandang lagi pada Galang, sebab ia yakin bahwa... Galang baru saja meneteskan air mata. Mengetahui ini, Rayyan ikut merasakan sesak di dadanya.


***


Maya telah sampai pada venue wedding dan disambut oleh Giska dan Tiara, istri Arya. Giska dengan sigap merapikan gaun Maya sejenak. Ia juga menata kembali bunga yang ada di genggaman Maya. Entah kenapa, tangan Giska justru begitu bergetar.


Seperti mengetahui keadaan Giska, Maya justru menangkap tangan Giska dan mengedipkan satu mata kirinya. Sempat terpaku sesaat mencoba memahami apa maksud ekspresi Maya, Giska perlahan tersenyum dan membalas genggaman Maya. Ia lalu beranjak undur diri sambil berbisik, "See you, there."


Setelah semua dirasa siap, Tiara kemudian menggandeng siku tangan Maya saat pintu Aisle terbuka. Bersiap mendampingi adik iparnya memasuki wedding hall.


Satu, dua, tiga langkah, perlahan Maya memasuki ruangan akad itu. Tidak banyak orang tapi cukup untuk menambah berat perasaannya yang sudah sedari tadi gugup. Sementara di depan sana, sosok itu berdiri dengan jas hitam.


Ikhsan membalikkan tubuhnya menatap Maya dalam balutan gaun putih yang memukau. Wajah gadis itu menunduk, membuatnya terlihat anggun dan sempurna. Saat Maya sudah berada di hadapannya, Ikhsan baru ingat untuk menghela nafasnya yang sedari tadi ia tahan ketika pintu ruangan baru saja terbuka.


Ruangan yang sudah di hias cantik dengan nuansa putih dan emas ini begitu anggun. Terasa begitu hening karena memang hadirin yang ada di ruangan itu tidak lebih dari 20 orang. Maya menolehkan wajahnya satu persatu kepada orang-orang yang hadir. Ia mengenali hampir seluruh wajah, bahkan menatap lebih lama lagi wajah kedua orang tua Ikhsan, Mamanya dan Arya. Kemudian pandangannya beralih pada para sahabatnya yang duduk rapi di kursi bagian kiri. Mereka kompak berbalut gaun berwarna peach, membuatnya diam-diam berterimakasih bahwa para sahabatnya itu masih berusaha begitu keras untuk mengesankan Maya.


"May? Ayo kita mulai," lirih Ikhsan sambil mengulurkan tangan.


Maya mengangkat wajahnya perlahan, mulai dari ujung sepatu pantofel hitamnya, hingga ke jasnya yang begitu rapi. Meski tangan Ikhsan masih berselang Infus, tetapi tidak mengurangi ketampanan Ikhsan dalam jas pengantin yang ia kenakan. Wajah Ikhsan tampak tenang, walau masih terlihat jelas bahwa Ikhsan belum sepenuhnya pulih dan sehat.


Kemudian pandangan mata Maya terhenti pada mata Ikhsan. Mata yang selalu mampu menaklukkan Maya, Mata yang dulu selalu memandang Maya berbinar, membuatnya memimpikan selamanya bisa memandang mata itu menua. Selalu. Dulu.


Tangan Maya menyambut tangan Ikhsan yang masih menggantung di udara menunggunya. Maya menggenggam erat tangan Ikhsan, membuat pria itu mengerutkan alisnya.


"May?" lirih Ikhsan lagi, kali ini wajah Ikhsan berubah khawatir.


Maya tersenyum dan air mata menetes di kedua pipinya. Ia mengigit bibirnya yang mulai bergetar sekuat tenaga.


"Maaf, Ikhsan. Maaf Aku gak bisa melanjutkan ini semua. Maafin aku, Ikhsan. Maaf," ucap Maya akhirnya dengan suara parau di tengah isak yang ia tahan.


Dibelakang sana, mulai terdengar suara berbisik-bisik. Juga suara isak tangis yang pecah dari arah tempat duduk dimana para sahabatnya berada.


Ikhsan terlihat mematung meski pandangannya begitu dalam menatap Maya, mencoba memahami apa maksud Maya melakukan ini di saat-saat terakhir menuju akad. Menuju waktu diamana cinta mereka yang telah begitu lama hadir dan terpelihara akan berbalas tuntas.


"San, ini, ini bukan kehidupan yang aku mimpikan. Ini bukan yang aku inginkan. Keadaan ini begitu sulit buat aku dan kamu. Kita berdua sudah berada dan terpisah jauh sekarang, bukan lagi seperti dulu. Sekeras apapun kita memaksa ini semua terjadi, hidup yang nantinya kita jalani tidak akan seperti apa yang aku dan kamu inginkan dahulu."


Maya menyeka air matanya, membuat celak matanya mulai luntur di pipinya. "Maafkan aku, aku tidak akan sanggup menjalani hidup yang kamu tawarkan untuk saat ini. Aku tidak akan sanggup bertahan diantara pernikahan yang telah kamu miliki sebelumnya. Yrene adalah perempuan yang selalu ada untuk kamu dan aku. Dan aku tidak punya rasa tegar untuk mencuri kebahagiaan yang ia miliki."


"Terimakasih, Ikhsan. Terimakasih sudah berjuang mewujudkan cinta yang kamu miliki untukku. Terimakasih telah mewujudkan mimpi dan anganku menjadi pengantin kamu. Tapi, maafkan aku, San. Aku tahu aku tidak akan bertahan pada hidup yang kamu janjikan pada pernikahan ini. Maaf aku terlalu egois, tetapi aku juga tidak ingin mencintai mu seumur hidup tetapi sebenarnya mati dan kehilangan kebahagian karena cinta itu."


Rahang Ikhsan mengatup keras, ia berusaha menahan dirinya agar tidak hilang kendali. Gadis yang ia cintai di hadapannya saat ini telah menghancurkan perasaannya.


"May, kita udah ada di langkah terakhir. Aku, kamu dan Yrene sudah banyak berkorban untuk mewujudkan ikatan cinta ini menjadi nyata, Maya. Selama ini kita masih saling menunggu dan berandai-andai untuk saling memiliki. Lalu kenapa di saat terakhir kamu justru tidak percaya dengan apa yang akan aku berikan?" tanya Ikhsan dengan suara yang dalam, membuat tubuh Maya semakin bergetar dan melemah. Maya dapat melihat mata Ikhsan mulai berair dan memerah.


"Kamu benar, San. kita memang sudah banyak berkorban. Tapi pengorbanan itu tidak akan berhenti sampai disini. Kita akan terus menerus berkorban, menyisihkan kebahagiaan yang pernah kita impikan. Ini, bukan salah kamu, juga bukan salah siapapun, San. kali ini, Aku menyerah menginginkan keberadaan kamu dalam hidupku." Maya menyelesaikan kalimatnya dengan derai air mata. Tidak ia duga bahwa seperih ini menyatakan perpisahan pada orang yang selama ini ada di hatinya, untuk kedua kalinya.


Arya sudah berdiri dan berencana untuk mengucapkan sesuatu pada adiknya, namun tangannya di tahan oleh bapak penghulu yang memberi tatapan tajam pelik.


Maya menunduk, lalu berjalan ke arah Mamanya, ia berlutut dan menangis sendu. "Maafin Maya, Ma..."


Merasakan sesak yang teramat sangat, Mama Maya tak mampu berkata-kata. Ia hanya mampu memeluk erat putrinya. Ia memang baru mengerti kisah yang ada diantara Ikhsan dan Maya. Namun, melihat Maya menyerahkan cinta, mimpi dan harapannya di saat terakhir membuatnya merasa begitu pilu.


Maya kemudian berjalan pelan kearah Ayah dan Ibu Ikhsan. Ibu Ikhsan tampak begitu terguncang, ia menutup mulutnya dengan satu tangan, seolah tak percaya bahwa Maya telah membatalkan akad yang baru saja akan dimulai.


Dengan suara pelan dan lirih, Maya berucap, "Bunda, Maafkan Maya. Terimakasih sudah melahirkan Ikhsan. Pria yang begitu baik. Sayang, Maya tak berjodoh dengannya. Maafkan Maya, Bunda. Maafkan Maya, Pak."


"Maya," lirih Ikhsan lagi.


Air mata Maya menetes lagi mendengar suara Ikhsan memanggi namanya. Ia yakin, ini mungkin adalah saat terakhir dalam hidupnya mendengar suara dari pria itu.


"Ikhsan, Maaf. Aku pamit. Yrene will take care of you, like always," ucap Maya dengan suara dan nafas yang tersengal.


Maya lalu berlajan perlahan sendirian di aisle menuju pintu keluar. Langkahnya terasa ringan, tapi ia menghabiskan seluruh energinya untuk meninggalkan pria yang beberapa menit  lalu akan menjadi pendamping hidupnya. Setiap langkah menjauh, Maya semakin merasa hampa. Setiap bagian dirinya tercabik sempurana menjadi serpihan yang rapuh di udara. Dengan keluarnya Maya dari ruangan itu, maka semuanya sudah usai. Selesai.


Ya, kisah cinta yang terpendam lama itu selesai. Di selesaikan oleh tangan dan mulutnya sendiri. Disaksikan oleh orang-orang terdekatnya. Dan mungkin juga di amini oleh malaikat yang mengawasi dari langit.


Maya masih memaksa kakinya melangkah meski ia tak lagi punya tenaga. Begitu sampai di dalam lift, Maya ambruk jatuh dan menangis sejadi-jadinya. Seluruh perasaan sedih, hancur, malu, benci, pasrah mengungkung nya seketika. Membuatnya seperti tidak menginginkan dirinya lagi. Maya tengah larut dalam kekacauan dan kesedihannya. Ia bahkan sungguh tidak punya nyali membayangkan apa perasaan Ikhsan ditinggalkan di depan meja akad sendiri tanpa pengantin yang telah pria itu tunggu sepanjang pagi, ah tidak, Ikhsan yang malang telah menunggu bertahun-tahun lamanya.


***


Ada dua pasang mata di tubuh yang tengah membeku tepat di pintu luar ruangan akad. Salah satu tubuh yang mematung itu milik Galang. Sejenak, Galang merasa ia telah kehilangan seluruh nafasnya, mendengar apa yang tengah dan telah terjadi di ruangan akad. Juga melihat Maya yang tengah hancur berjalan pergi sendiri, entah kemana.


Galang berusaha mencari-cari udara yang ia butuhkan untuk bernafas dan berpikir. Tapi ia tidak bisa menemukan apapun di kepalanya. Otaknya terasa kosong.


Ingatan Galang berputar dan memaksa dirinya memahami keajadian barusan. Maya tenyata tidak menginginkan pernikahan ini. Dan satu-satunya yang mampu membatalkan pernikahan itu bukanlah dirinya, melainkan Maya seorang diri. Benar, hanya Maya lah yang mampu melakukan ini. Sebab pernikahan itu merupakan hidup yang ikhsan tawarkan padanya. Hanya ia yang berhak memutuskan untuk berlayar bersama Ikhsan, atau tidak.


Sekarang, kemana pula perginya gadis itu? Kemana dia akan membawa semua beban perasaan yang sangat menyakitkan itu? Kemana ia akan meluapkan kesedihan melepas cinta dan impiannya dahulu?


Mendadak rasa takut menjalari tubuh Galang. Ia seperti tidak asing dengan keadaan ini. Perlahan, mata Galang meredup, ia melihat bayangan Ratri yang tersenyum dan melambai menuju lift yang tadi dimasuki oleh Maya.


"Maya," lirih Galang pelan disela bibirnya yang mendadak kaku.


***


....


Let's we all have moment of silence where a woman could bravely decide the life that she wanted by saying good bye to her loved one.


Saya berdoa pada orang-orang yang pernah terluka lalu bisa bangkit kembali.


Orang-orang yang penuh cinta dan meski ia penuh luka, tetap mencintai.


Saya juga berdoa pada orang-orang yang memiliki cinta yang begitu Ikhlas dan berbahagia menerima pasangannya apa-adanya, menjalani hidup dengan syukur atas akda yang terucap pada pernikahan mereka.


Berbahagialah, dan bersyukurlah memiliki apa yang kamu miliki sekarang.


Kita mungkin tidak perlu merasakan apa itu rasanya menyerah terhadap sesuatu yang begitu kita inginkan.


Karena menyerah pada cinta yang ada di hati, juga ego yang bertahta di jiwa, bukanlah hal yang mudah.


Karena menyerah, mungkin, adalah salah satu jalan menuju kebahagian yang hanya mampu dilakukan oleh seorang berjiwa besar.