The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Untitled



Langit menjelang sore telah memadamkan panas teriknya matahari. Membawa angin yang hangat, menyapu wajah kedua pasang anak manusia yang sedang saling menatap. Tatapan penuh arti yang menembus masing-masing dari jiwa mereka.


Ikhsan yang sedang berlutut di samping lapangan basket itu memindahkan kotak cincin ke tangan kirinya. Lalu tangan kanannya menyentuh lembut jemari tangan kiri Maya. Ia berniat menegur Maya yang masih pendar pandangannya.


"Maya?" sapa Ikhsan nya pelan. "Would you please say, yes?"


Maya masih berusaha mencari-cari nafasnya yang hilang. Tak pernah ia duga seumur hidupnya, bahkan tak pula ia berani memimpikan akan di lamar oleh orang yang selama ini ada di hatinya. Maya menatap lagi wajah Ikhsan yang memandangnya penuh harap.


Baru saja Maya berusaha membuka bibirnya perlahan, ada saut ramai dari beberapa orang yang tampak datang mendekati.  Ah, itu beberapa anak-anak yang tadi keluar dari ruang latihan band. Anak-anak itu membawa beberapa alat band portable. Mereka berjalan mendekati Maya dan Ikhsan.


Salah seorang diantara mereka mendekati Ikhsan yang berlutut dan menyerahkan sebuah gitar. Ikhsan kemudian berdiri, mengambil gitar itu dan mulai memetiknya. Sementara anak-anak band tadi itu mengiringi musik yang dimainkan Ikhsan di pinggir lapangan. Ikhsan menatap mata Maya penuh arti dan mulai membuka mulutnya, bernyanyi...



"Well, I will call you darlin' and everything will be okay


'Cause I know that I am yours and you are mine


Doesn't matter anyway


In the night, we'll take a walk, it's nothin' funny


Just to talk


Put your hand in mine


You know that I want to be with you all the time


You know that I won't stop until I make you mine


You know that I won't stop until I make you mine


Until I make you mine." Public - Make you mine.


Ikhsan menarik nafasnya dalam, "You know that I want to be with you all the time," ucapnya lirih.


Maya tak mampu mengandalikan senyumnya. Bukan hanya ia tak menyangka akan dilamar seperti ini, tetapi melibatkan anak-anak band tadi dan bernyanyi lagu romantis seperti ini, berhasil membuatnya tersipu malu.


Tak hanya itu, seseorang, dua, tiga beberapa orang datang bermunculan. Orang-orang yang mereka berdua kenal. Satu per satu datang memenuhi lapangan basket dan mengelilingi mereka. Sahabat-sahabat Maya, teman-teman Ikhsan, Ibu penjual bakso, anak-anak band, Galang, bahkan Yrene dan bayi dalam gendongannya. Semuanya datang dengan wajah-wajah yang bahagia.


Ikhsan melepaskan tali gitar dari pundaknya. Ia sudah melihat manik mata Maya mulai kembali pada titik fokus dan tidak lagi pendar pandangannya. Ia berdehem dan berniat untuk mencobanya sekali lagi. Ikhsan kemudian menekuk lututnya ke tanah dan kembali membuka kotak cincinnya.


"Will you marry me, getting old with me, until death do us apart?" tanya Ikhsan sekali lagi dengan wajah menatap penuh harap pada perempuan yang kini berdiri didepannya. Semua orang yang melihat adegan ini sama-sama menahan nafas gugup menanti jawaban Maya.


"Say yes, Maya!" ucap riuh orang-orang yang sedang menonton adegan itu.


Maya tampak menatap orang-orang yang ada disekitarnya satu per satu. Galang membawa sebuah balon berwana pink yang bertuliskan, 'She said Yes!' yang biasanya akan dipakai untuk merayakan diterimanya sebuah lamaran. Sahabatnya membawa beberapa confetti yang siap diledakkan setelah Maya menjawab 'Yes!' nanti.


Pandangan mata Maya kembali pada pria yang berlutut di depannya, pria yang sudah ia cintai bertahun-tahun lamanya, pria yang juga mendambakannya lebih dalam dari yang pernah ia ketahui. Seperti sebuah mimpi yang jadi nyata, Maya merasa semua hal menjadi lebih lambat. Maya memegang kedua pipinya yang memerah dan terasa hangat oleh air mata yang menetes, ia kemudian mengangguk pelan, "Yes, Yes!"


Dengan cepat Ikhsan berdiri lalu tanpa ragu memeluk Maya erat. Mengangkat Maya dalam pelukannya, membawanya berputar beberapa kali. Confetti diledakkan dan berhamburan di langit sore yang hangat diiringi oleh sorak tawa dan air mata bahagia semua yang menyaksikan. Prianya yang sedang tertawa bahagia itu kemudian meletakkan kembali Maya pada pijakan bumi. Ia menarik tangan kiri kekasihnya dan memakaikan sebuah cincin dengan batu permata yang indah pada jari manis Maya.


Kerumunan orang yang sedang menonton itu bersorak riuh dan mulai berhamburan mendatangi Maya dan Ikhsan untuk merayakan berhasilnya acara lamaran. Maya yang masih berderai air mata haru memeluk satu per satu orang-orang yang hadir itu. Silih berganti semua orang mengucapkan selamat, baik pada Maya dan Ikhsan.


Diantara kerumunan orang, Ikhsan yang sempat kehilangan sosok Maya kemudian mendapati gadis itu sedang di peluk oleh istrinya, Yrene. Maya dan Yrene tampak berpelukan erat dan menangis haru. Ikhsan lalu mendatangi mereka. Yrene yang menyadari kedatangan Ikhsan melepas pelukan pada Maya, kemudian tersenyum dan memberikan Maya kembali pada Ikhsan.


Sorak sorai orang kembali riuh mendapati pasangan itu kini sedang berhadapan. Ikhsan menggenggam kedua tangan Maya lalu menariknya ke depan wajah, menciumnya dan berkata, "Thank you!"


Ikhsan kemudian mengernyitkan alisnya, ia merasa ada aliran air yang hangat menutupi matanya. Ia mengerjap beberapa kali sebab ia merasa sedang tidak ingin menangis di momen bahagia ini. Tetapi aneh, semakin ia mengerjap, pandangannya semakin kabur dan terus kabur oleh pekatnya aliran air itu. Mendadak, Ikhsan tak dapat mendengar semua suara.


***


Yrene yang baru saja menyelesaikan pijat dan lulurannya merasa badannya begitu segar. Ia masih menggunakan bath rope duduk di teras belakang seraya menikmati jahe hangat di tangannya. Sementara teman-teman lainnya masih melanjutkan perawatan hingga ke ujung kuku kaki dan tangan. Karena Yrene masih menyusui Ianvs dan tak memanjangkan kuku, ia tak mengambil pilihan untuk manicure.


"Non," sapa suster Mira dengan wajah gusar.


"Ya Sus?"


Yrene langsung segera bangkit menuju kamar Ianvs dan mendapati bayinya sudah memerah menangis histeris. Ini pertama kalinya selama menjadi ibu, Yrene melihat dan mendengar Ianvs menangis seperti ini. Dengan cepat Yrene memeluk bayinya, menimangnya serta berusaha menyusuinya.


Selang beberapa detik akhirnya Ianvs meminum asi Yrene, membuat tangis bayi kecil itu mulai mereda menyisakan hanya isak-isak pelan.


Tania, Virsa, Nina dan Adel terburu-buru menyusul Yrene ke kamar Ianvs.


"Ianvs kenapa, Rene?" tanya Tania dan Adel berbarengan, ikut panik.


Yrene menggeleng, "Gak tahu," Yrene beralih ke suster Mira, "Minta termometer, Sus!"


Suster Mira mengambil sebuah termometer digital dan menyerahkannya pada Yrene. Setelah Yrene mengarahkan termometer itu pada dahi Ianvs yang penuh keringat, suhu di layar termometer menunjukkan angka 36.4.


"Suhunya normal, kok," lirih Yrene. "Suster Mira gak ada ninggalin Ianvs, kan?"


Suster Mira cepat-cepat menggelengkan kepalanya, "Tidak Non. Dari tadi Ian adem ayem saja. Selama tidur saya temanin disini juga. Tiba-tiba dia bangun dan teriak nangis histeris."


Yrene menghembuskan nafas perlahan, paling tidak tangis bayinya bukan disebabkan oleh terjatuh. Suhu Ianvs juga normal, mungkin Ianvs cuma bermimpi buruk pada tidurnya. Tetapi, meski tangis Ianvs sudah mereda, kenapa masih meninggalkan gusar di hati Yrene? Degup jantung Yrene bahkan masih cepat tak juga mereda.


"Suster, minta tolong air minum," pinta Yrene. Ia masih duduk menyusui Ianvs yang matanya mulai sayu, jelas sekali bayi ini telah lelah menangis.


Setelah meneguk beberapa kali air putih, rasa panik Yrene masih belum reda. Ia menduga mungkin ini masih ada hubungannya dengan tangisan Ianvs dan memicu pasca trauma dari Baby Blues Syndrome yang pernah ia derita.


"Kok gue masih belum tenang, ya? Ada apa ya?" tanya yrene sambil menyeka dahinya, tak terasa ia juga berkeringat sama seperti Ianvs. Keempat sahabatnya hanya bisa saling lirik, tidak tahu harus membantu apa.


Seperti ada angin yang berbisik pada relung hati, Yrene teringat sesuatu. "Ikhsan," lirihnya.


"Suster, minta HP saya!" perintah Yrene. Entah kenapa tangannya mulai bergetar.


Suster Mira segera menghilang sebentar lalu kembali dengan tergopoh-gopoh seolah baru dikejar oleh setan.


"Non! Non! Ada 30 panggilan tak terjawab, ini masih nelfon juga!" pekik Suster Mira sambil menyerahkan ponsel Yrene yang bergetar oleh panggilan masuk. Di layar itu, tertera nama Maya.


"Maya?" alis Yrene berkerut diiringi pula dengan pandangan aneh keempat sahabat dan suster Mira yang ada disekeliling Yrene. Jari Yrene mengetuk tombol hijau dan segera ia menempelkan ponsel pada telinganya.


Terdengar suara gemerisik dan isak tangis perempuan.


"Yre...Yrene, hhh, Rene, Ikhsan," itu suara Maya yang terdengar sesak dan susah bernafas.


"Maya? Halo? Lo kenapa, May?" Nada Yrene meninggi, ia tahu ada sesuatu yang tak beres.


"Ikhsan, Ikhsan! Kepalanya, dia banyak banget ngeluarin darah. Kita lagi di jalan menuju Rumah Sakit!" ucapan Maya secepat kilat dengan nafas yang terengah-engah panik.


"Ikhsan? Ikhsan kenapa? Lo dimana? Rumah Sakit Mana?"


"Masih di jalan, Rumah Sakit Dharma Akhsa-" telepon terputus, tapi Yrene sempat mendengar suara pintu mobil terbuka dan suara dari seorang petugas rumah sakit yang berteriak khas memanggil team gawat darurat penanganan pasien.


Jantung Yrene mencelos.


***


Halo, Pembaca!


Cengkramlah jantung dan hati kalian yang kuat ya :')


Jangan lupa ya dukungan vote, like dan komentar kalian sangat berharga bagi Author.


Kiss, Author.