
Maya masih mendelik tajam, menatap ujung rambut Galang yang sudah di pangkas rapi, turun hingga ke ujung kaki pria itu yang memakai kaos kaki hitam. Merasa sedang dinilai oleh nona di depannya, Galang melempar senyum ramah. Senyum yang ia selalu pakai jika berhadapan dengan orang-orang paling berpengaruh dalam kehidupan suksesnya.
"Duh, kok jadi canggung begini. Biar ngobrolnya lebih santai, ajak Nak Galang duduk di pekarangan belakang saja, Maya. Suasananya enak kan, disana?" tanya Mama Maya sambil menepuk pundak Maya.
Tanpa berkata-kata, Maya membalik badannya dan berjalan ke arah belakang rumah. Usulan mamanya bagus juga, dengan begini, Maya akan bebas menuntut penjelasan dari bos TechnoMedia yang tiba-tiba ada di desa almarhum ayahnya.
"Nak Galang, gih di susul. Nanti saya buatkan minum," bisik Mama Maya sambil menarik tangan Galang dan mendorong pelan tubuh pria tukang koran itu.
Menurut saja perintah dua perempuan yang mendiami rumah ini, Galang akhirnya sampai pada halaman belakang rumah. Terpaan angin senja yang sejuk dan mulai sedikit dingin itu begitu menenangkan. Sejenak ia menghirup lega udara yang segera mengalir mengisi paru-parunya. Akhirnya, ia berhadapan dengan perempuan yang selalu ada dalam mimpinya selama 2 bulan terakhir ini.
Manik mata Galang perlahan membuka, menatap awan yang mulai sedikit kelabu, tampaknya hujan akan segera datang. Ia harus cepat menyelesaikan agendanya sore ini sebelum hujan turun. Sedikit melirik jam di pergelangan tangan, pandangannya justru teralihkan pada perempuan yang duduk di kursi rotan sambil melipat tangan di dada. Wajahnya tidak senang dengan alis berkerut, tetapi Galang tidak melihat hal itu sebagai ancaman. Wajah itu, adalah hal yang paling ia rindu untuk ia tatap dalam jarak dekat belakangan ini.
Galang kemudian duduk di sebelah Maya, "oke, kamu boleh kok nanya apapun semau kamu. Silahkan," ucapnya pelan.
Perempuan disamping nya itu tak bergeming, diam saja. Lima menit berlalu, keheningan diantara mereka dipecahkan oleh sapaan Mama Maya yang membawa dua buah cangkir teh hangat. Dan setelah Mama Maya tersenyum untuk pamit pergi, barulah ada dehem kecil dari Maya.
"Okay, sekarang, jelaskan semuanya. Semuanya, dari awal sampai detik terakhir kita salaman tadi!" perintah Maya dengan alis berkerut.
Galang mengangguk sambil membenarkan posisi duduknya. Menyesap teh hangat sejenak, berdehem, lalu bersiap membuka cerita.
"Maya, sejak kepergian mendadak kamu, aku gak bisa tidur dan gak enak makan. Aku habiskan setiap waktuku untuk terus sibuk ke pekerjaan, memperbaiki segalanya demi tidak terjebak dalam pemikiran tentang kamu terus menerus. I lost 10 kg to be honest, dan bahkan aku ga bisa berolahraga karena gak ada minat sama sekali untuk mengerjakan hal lain. Aku juga ngambil alih kerjaan kamu sebagai Chief Editor. Supaya fungsi itu tetap jalan dan membuatku merasa masih satu kantor bekerja dengan kamu. Yah, walaupun efeknya adalah, banyak banget team kamu depresi dan stress berat bekerja dibawah tekanan aku," ujar Galang sambil menghembuskan nafas pelan seolah merasa menyesal.
"Percayalah, aku gak ada niat membuat mereka stres. Ini mungkin efek domino kelelahan aku karena bekerja terus-menerus. Lalu aku disadarkan oleh Pak Wijaya, mentorku, ayah dari Ratri. Beliau bilang ini saatnya aku istirahat sejenak. Dan TechnoMedia sedang memberikan waktu terbaiknya bagiku. Waktu ini, harus ku manfaatkan dengan baik. Untuk hal yang selalu menghantui perasaanku. Benar, hal itu adalah, mencari kamu, Maya."
Maya menelan ludahnya, pandangannya tak lagi tajam. Ia sungguh ingin mengucapkan banyak pertanyaan tetapi tertahan di ujung lidahnya. Ia lalu cepat-cepat menyesap teh untuk mengalihkan rasa sesak yang mendadak muncul di tenggorokannya.
Galang lalu melanjutkan. "Dan disuatu siang, aku ketemu sama Ikhsan. Berbicara singkat dengannya meyakinkan aku untuk mencari dan mengejar kamu. Sekaligus sih, aku minta dia untuk tidak pernah muncul lagi di hadapan aku dan, kamu. Yah supaya jangan mendistraksi aja sih," ucap Galang sambil melirik gadis didepannya yang tiba-tiba mengalihkan pandangan.
"Lalu, aku datangi Bang Arya, please jangan marah ke dia," imbuh Galang cepat-cepat, mengetahui Maya tiba-tiba mendelik tajam lagi ke arahnya. "Pagi-pagi dia aku sogok dengan martabak hangat yang bahannya premium banget. Sumpah, May. Aku aja yang buat rasanya pengen banget nyicip. Tapi karena buatnya buru-buru ngejar flight pagi, dan porsinya pas-pasan, yasudah aku jadi gak nyicip deh. Akhirnya, aku tahu info keberadaan kamu, dan nyusul kesini," jelas Galang.
Sampai pada tahap ini, Maya mengerjapkan matanya beberapa kali. Penjelasan Galang masih masuk akal, tapi ini semua baru permulaan. Ia kembali menatap lelaki disampingnya itu, menunggu penjelasan lanjutan.
Menarik nafasnya panjang, Galang kembali berbicara. "Dua hari awal disini, aku bingung banget mau ngapain. Info yang aku tahu, kamu sama sekali gak pernah keluar rumah. Juga tidak mengobrol pada siapapun. Dan sudah dua hari itu juga aku sepuluh kali lewat didepan rumah kamu, sambil terus mencari bagaimana caranya bertemu dengan kamu. Lalu akhirnya aku sadar," Galang berhenti sejenak.
"Aku harus punya cara untuk membawa kamu ke dalam gravitasiku." Galang menghela nafas sambil bersandar pada kursi. Ada perasaan lega mengalir ke seluruh tubuhnya, cara yang ia pilih saat itu ternyata adalah cara yang tepat. Media cetak dan jurnal adalah salah satu hal yang mempertemukan mereka, salah satu hal yang juga merupakan persamaan diantara Galang dan Maya. Dan ternyata, juga merupakan cara satu-satunya yang bisa Galang tempuh kembali untuk menarik perhatian Maya.
"Aku inget, tahun ini masih ada sisa dana CSR TechnoMedia yang belum terpakai. Aku diskusi sama bagian HR untuk menyalurkan dana itu lagi ke desa ini. Proposalku diterima, yah aku sendiri juga sih yang mengajukan dan menyetujui jadi pasti diterima lah," ujar Galang sambil terkekeh sendiri.
"Lalu aku tawarkan untuk proyek pembangunan perpustakaan desa, sekaligus pemasangan wifi dan internet gratis pada kepala desa. Mereka menyambut dengan senang hati. Ternyata, partner media kita lainnya juga mau bergabung dalam CSR ini. Jadi mereka nantinya ikut menyumbangkan bahan bacaan rutin seperti koran, majalah dan sekaligus bahan bacaan khusus anak-anak. Di luar dugaan aku, proyeknya jadi seru. Aku jadi semangat ingin terjun langsung membangun minat baca warga desa. Jadilah aku tukang koran gratis. Yang sekaligus bisa sesuka hati lewat depan rumah kamu berkali-kali dalam sehari." Galang mengangkat kedua tangan dan meletakkan di belakang kepala sebagai sandaran lehernya.
"Tiap pagi ngobrol sama mama kamu, berusaha tidak memancing satu pun pertanyaan tentang kamu itu sulitnya setengah mati loh! Aku gak mau kamu tahunya aku seperti sedang menguntit kamu, May-"
"Oh, jadi itu sebabnya sengaja bikin aku penasaran trus mancing aku jadi penguntit yang lewat depan rumah kamu, gitu?" potong Maya.
Tawa Galang meledak, "hahaha! Asli, itu aku kaget banget lagi meeting sore-sore di depan rumah ada yang ngebut di jalan. Waktu neriakin kamu, aku tuh baru sadar saat itu juga pas memperhatikan dengan benar dari kejauhan. Malamnya langsung aku naik sepeda lewat lagi depan rumah kamu memastikan benar itu motor dan helm kamu. Eh, ternyata benar! Senang banget aku, jadi pertemuan hari ini sudah sangat aku duga dan aku tunggu, Maya."
"Senang rasanya bisa memulai semuanya dari awal, kenalan sama kamu, sama mama kamu, main ke rumah kamu, yah kurang bawain martabak aja sih," ucap Galang menutup ceritanya sambil tersenyum puas.
Maya mengigit bibirnya, ingin ikut tersenyum tetapi ditahan, "kenapa martabak melulu sih?"
Bangkit dari duduknya dan menatap Maya dengan serius, Galang bertanya, "loh, masa kamu gak tahu sih? Martabak itu kan khas banget. Makanan yang paling tepat dibawakan ke orang yang kita suka. Seolah martabak itu punya makna romantis, jadi memang paling cocok dibawa saat main ke rumah gebetan, gitu."
Tak dapat menahan geli, Maya akhirnya ketawa. "Yaudah, gih beliin martabak dan bawa kemari," tantang Maya
"Oke," jawab Galang singkat dan langsung beranjak berjalan ke arah dalam rumah.
Kaget, Maya berteriak memanggil Galang. "Hey, aku bercanda!"
"Gak papa kok, aku serius ini!" ucap Galang sambil menunduk dan tersenyum singkat pada Mama Maya yang terlihat keheranan di dapur.
Galang berjalan ke arah pintu keluar rumah, memakai sepatu dan sudah menanggalkan sandaran sepedanya saat Maya buru-buru mencomot sweater di kursi tamu lalu segera memakainya.
"Mau ikut, May?" tanya Galang polos ketika mendapati Maya berdiri di teras rumah.
Maya yang kaget ditanyai seperti itu mau tidak mau mengangguk ragu. Ia mendadak bingung kenapa harus seolah ikut bersiap pergi.
Tersenyum senang, Galang menepuk sadel sepedanya. "Naik sepeda aja, ya? Biar romantis!"
Tidak menjawab, Maya berjalan menunduk. Ia merasakan panas di pipinya. Untung saja angin semilir mendung yang dingin meniup rambut yang menutupi wajahnya. Menyembunyikan pias merah, yang merona disana.
'Terimakasih Tuhan karena berbaik hati membalas kerja keras selama dua minggu ini. Tetapi sungguh, ini adalah hari penentuan atas semua hal yang telah ku lakukan untuk bertemu Maya kembali. Kali ini, bukalah hatinya..."
***
Langit semakin mendung saat akhirnya dua pasang anak manusia itu sampai didepan rumah Maya lagi. Kali ini angin sudah tidak bersahabat, untung Maya sudah memakai sweaternya. Maya kemudian turun dari sepeda Galang dengan membawa dua buah kantong berisi 2 kotak martabak coklat yang masih panas.
"Udahan ya, May. Pamit dulu. Udah mau magrib juga," ucap Galang.
Maya menyodorkan satu plastik dengan satu kotak martabak yang ia pegang. "Nih, masa kamu ngga nyicip lagi martabak kali ini."
Tersenyum menahan tawanya, Galang menerima pemberian Maya. "Makasih," ucapnya singkat.
Meski ditengah deru angin yang dingin, ada hening diantara mereka. Lalu, sambil menghela nafas panjang, Galang berbicara, "May, sebenarnya, sudah total 2 minggu aku ada disini. Dan ini hari terakhir, besok pagi aku harus pulang dan kembali bekerja, kembali ke TechnoMedia."
Kalimat yang barusan Maya dengar itu lebih dingin dan menusuk seluruh kulitnya dibanding dinginnya angin saat itu. Tanpa sadar, ia mengigit bibir dalamnya, menahan pertanyaan bernada sedih yang ingin ia lontarkan. Rasanya seperti baru saja mendapat teman baru yang menyenangkan, mengenal Galang yang lebih sederhana tanpa singgasana TechnoMedia dan segala kerumitan disana. Tetapi, ia malah harus langsung berhadapan dengan kalimat perpisahan. Maya masih menahan nafasnya, tidak mampu merespon kalimat Galang.
Galang kemudian mengambil sesuatu dari tas yang ada di keranjang depan sepeda. Sebuah kotak karton. Ia lalu menyerahkan kotak itu pada Maya yang masih diam.
"Ini, ada kumpulan sticky notes yang di tempelin setiap orang yang baru keluar dari ruangan aku di pintu kaca ruangan kamu. Stres karena kena marah sama aku, dan berharap kamu cepat kembali dan ambil alih kerjaan lagi. Kamu sudah dipanggil seperti arwah, May. Jadi cobalah kamu lihat ucapan dan doa-doa di sticky notes itu. Selain lucu dan manis, ada banyak juga ucapan menyayat hati mereka," berhenti sejenak, Galang melanjutkan lagi, "mereka ingin kamu kembali bekerja, May. Aku juga menginginkan kamu lagi, di TechnoMedia."
Maya menatap Galang dengan alis yang berkerut, lalu mengalihkan pandangannya pada kotak yang sedang ia pegang. Saat membuka kotak itu, Maya langsung tersenyum. Kertas warna-warni itu cukup banyak dan ia sudah langsung bisa mengenali beberapa tulisan tangan yang sekilas terbaca olehnya.
Galang berdehem, memecah perhatian Maya pada kotak yang tadi ia berikan. Gadis didepannya itu mengulum senyum dan menatap Galang lagi.
"Itu sih, seluruh keinginan dan harapan rekan-rekan di TechnoMedia untuk kamu balik lagi, May. Tapi kalau yang ini, ini semua keinginan dan harapan aku untuk kamu," Galang setengah berteriak, untuk mengalahkan deru angin dan gerimis yang mulai jatuh dari langit.
Mendadak, ada suara 'biip... biip... biip' yang khas terdengar saat sebuah truk bangunan sedang mundur. Dan benar saja, Maya sampai membuka mulutnya karena terkejut. Sebuah truk besar yang biasanya diperuntukkan untuk mengangkut barang bangunan sedang mundur dari arah jalan depan rumah Maya. Galang yang juga menyaksikan hal itu lalu segera membuka lebar-lebar gerbang rumah Maya, seolah mempersilahkan truk itu untuk memasuki pekarangan rumah Maya. Mendengar keributan di pekarangan depan rumahnya, Mama Maya juga terburu-buru keluar dan berakhir dengan menutup mulutnya karena sangat terkejut dengan kedatangan truk yang tiba-tiba.
Dengan aba-aba lambaian tangan Galang, truk itu mengangkat bak belakang dan menurunkan ratusan, tidak, ribuan kertas warna-warni di pekarangan rumah Maya. Kertas-kertas yang turun dari bak belakang truk itu berjatuhan sampai tingginya ke pergelangan kaki Maya.
"Ini, ini harapan aku untuk kembalinya kamu ke TechnoMedia, Maya! Ada ribuan alasan yang aku tulis satu-satu untuk kamu. Maya, Kamu bisa baca satu-satu sampai kamu puas, dan kalau semuanya sudah kamu baca dan kamu tetap tidak ingin kembali, kamu boleh saja melakukan itu." Galang lalu berjalan ke hadapan Maya yang masih terkejut. Gadis itu tampaknya tidak menggubris air hujan yang mulai berjatuhan ke wajahnya.
"Sebelum aku pergi, aku juga ingin mengungkapkan keinginan aku yang terdalam pada kamu, May. Ini bukan lagi soal kembalinya kamu pada TechnoMedia, melainkan aku menginginkan kamu kembali ada seperti dulu. Saat-saat dulu ketika kita banyak menghabiskan waktu bersama," ucap Galang sungguh-sungguh.
Maya menelan ludah dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia lalu menggeleng pelan. "No, Galang You don't want me. You deserve someone better. Kamu berhak mendapat perempuan yang lebih baik. Bukan perempuan gagal move on seperti aku."
Galang menahan nafasnya, ia tidak menduga Maya akan selugas itu melontarkan kalimat pahit barusan. Sejenak terdiam, Galang kemudian menatap Maya dengan yakin. Telunjuknya mengarah ke belakang Maya, menunjuk Mama Maya yang sedari tadi terdiam mengamati mereka dari kejauhan.
"Enggak. Kamu gak gagal move on, kamu hanyalah seorang perempuan yang mempunyai cinta yang begitu besar, tulus dan setia. Lihat ibumu, setelah ayahmu meninggal sejak kamu kecil, ia tidak menikah lagi dan tidak mencintai pria lain. Apakah kamu juga menyebut seseorang seperti ibumu itu adalah orang yang gagal move on? Kamu adalah orang yang setia pada cinta yang kamu miliki. Hanya saja cinta itu terjebak pada waktu yang salah. Di lain dimensi waktu, mungkin kamu bisa mencintai Ikhsan dengan sempurna." Menyebut lagi nama pria yang paling Galang tidak sukai itu membuatnya harus menarik nafas ulang.
"Dan sekarang Maya, di dimensi waktu ini, aku, aku menginginkan cinta yang kamu miliki. Aku menginginkan cinta yang pernah kamu pendam lama selama bertahun-tahun itu. Aku ingin dicintai seperti cara kamu mencintai, Maya. Dan satu lagi, jangan pernah merendahkan diri kamu. Kamu tidak tahu betapa berharganya kamu dimata seseorang." Suara tegas Galang terdengar jelas meski di akhir kalimatnya disusul oleh bunyi gemuruh petir di langit, membuat suasana menjadi begitu dramatis.
Galang kemudian mengambil tangan Maya dan tersenyum. "Aku sudah terlalu banyak bicara, Maya. Aku takut salah lagi, aku begitu takut salah ketika berada di hadapan kamu. Aku pamit, ya. Besok pagi aku pergi. Kamu punya waktu seluas samudra, kembalilah saat kamu siap. Sampai kamu puas membuatku menunggu, aku akan tetap sabar menanti."
Gerimis mulai lebih sering jatuh ke bumi, membuat perpisahan itu semakin melankolis. Galang kemudian menuntun sepedanya keluar pekarangan rumah Maya. Ia berbicara sebentar pada pengemudi truk yang perlahan menjauhkan kendaraannya, lalu ia pergi ditengah gerimis dan langit kelabu.
Kemudian, dua orang lelaki turun tergopoh-gopoh dari kursi kemudi truk, memasukkan semua tumpahan kertas itu pada beberapa kantong plastik besar dan meletakkan kantong-kantong itu di teras rumah Maya. Mereka lalu pamit dan segera berlalu dengan gemuruh suara truk dan petir.
Maya masih terdiam memandang ke arah jalan yang tadi di lewati Galang pergi. Ia begitu terkejut dengan kedatangan, pertemuan singkat sekaligus kepergian pria itu. Saking terkejutnya, ia hampir tidak percaya dengan apa yang ia alami barusan.
"Maya," tegur Mama Maya. Suaranya terdengar khawatir, ia datang dengan membawa payung. Prihatin dengan segala hal dramatis yang kerap terjadi pada putri kesayangannya itu, Mama Maya tak lagi mau menanyakan lebih lanjut. Ia hanya akan bicara jika Maya yang membuka cerita.
Mengerjap beberapa kali, Maya baru sadar bahwa hujan telah turun begitu deras dan mulai membasahi sekujur tubuhnya. Dengan dipayungi oleh sang mama, Maya dituntun untuk berjalan masuk ke dalam rumah. Dan bersamaan dengan tertutupnya pintu rumah Maya, langit dan kabut malam perlahan turun menyelimuti desa.
***
Halo pembaca yang baik!
Episode ini adalah hadiah episode terpanjang dari novel ini. Hampir 2500kata.
Anggaplah penghibur hati bagi yang telah menanti lama bagimana pertemuan sekaligus perpisahan Galang dan Maya.
Nah, tunggu lah episode kembalinya Maya pada Galang ya!
Stay Safe!
Love, Author.