The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
A woman I dreamed of



Perjalanan siang ini terasa begitu tenang. Bukan karena dua insan yang ada di dalam mobil tidak berbicara satu sama lain. Tapi karena keduanya, sedang larut dalam perasaan masing-masing. Dan tanpa sepatah katapun, keduanya tahu bahwa waktu yang sedang mereka nikmati saat itu adalah sangat berharga. Sebuah waktu yang merupakan titik terang dari perjalanan panjang pernah penuh luka.


Audi hitam yang melesat di tengah terik siang berbelok memasuki sebuah  jalan aspal kecil yang terlihat sepi. Di kanan dan kiri jalan terdapat pepohonan yang lumayan teduh. Maya tidak dapat menebak kemana arah perjalanan ini dan masih enggan bertanya. Hingga sampai akhirnya ia mulai melihat sebuah pagar besar yang perlahan terbuka oleh dua orang penjaga. Para penjaga itu seperti sudah tau akan kedatangan mereka. Sebelum mobil Galang melewati pagar masuk, Maya akhirnya dapat membaca sebuah papan putih bertuliskan, 'YAYASAN GATRI.'


Setelah mobil berhenti dan Galang membuka sabuk pengamannya, lelaki itu akhirnya membuka suara. "Sebelum kamu aku kenalin ke makamnya Ratri, kenalan dulu dengan kenangan dan peninggalan dia, yuk."


Maya mengangguk dan manut saja, ia juga melepas sabuk pengaman dan membuka pintu.  Begitu pintu terbuka, seolah diantarkan oleh angin semilir, ada hiruk gelak tawa anak-anak yang datang dari arah utara. Maya menolehkan pandangannya ke arah sumber suara. Dan disana, ada sekumpulan anak sedang bermain di sebuah lapangan hijau. Di belakang mereka ada sebuah bagunan satu lantai yang cukup besar dengan atap yang tinggi. Sekumpulan anak-anak itu seperti sedang di pandu oleh dua orang perempuan dewasa dan satu lelaki tua.


"Ini," kata Galang saat Maya sudah berdiri di sampingnya, "adalah Yayasan anak asuh, yang didirikan oleh Ratri. Dulu, Ratri termasuk perempuan sosialita yang mungkin tidak pernah tahu kemana lagi ia harus menghabiskan waktu ataupun uang yang ia miliki. Ratri tidak pernah bekerja semenjak menyelesaikan kuliahnya master degreenya. Semua harta dan uang melimpah yang ia miliki diberi oleh Ayahnya, Pak Wijaya. Bagi Pak Wijaya, uang merupakan pelajaran penting bagi anaknya. Melimpahkan mereka dengan uang akan mengajarkan anak-anak mereka bahwa uang tidak akan memberikan kebahagian sejati yang mereka butuhkan dalam hidup. Prinsip ini, sangat bertentangan dengan prinsip hidup aku dikala susah dan masih membangun karir."


Galang menuntun Maya untuk berjalan ke arah kumpulan anak-anak itu. Lelaki tua yang Maya pandang dari kejauhan ternyata adalah orang yang Galang sebut-sebut sebagai salah satu lelaki paling berpengaruh dalam hidupnya, Pak Wijaya. Sekarang, Pak Wijaya lebih banyak menghabiskan waktu untuk tinggal di sini bersama keluarganya. Tinggal disini bagi mereka seperti tinggal bersama Ratri sekaligus menjaga hal baik yang Ratri tinggalkan. Berharap hal baik ini menjadi sebuah jembatan penolong Ratri di alam baka sana.


"Aku mengenal Pak Wijaya dari seorang teman. Dan Pak Wijaya sangat menyukai kontrasnya perbedaan hidup yang aku jalani dibanding dengan hidupnya yang bergelimang harta dan kemudahan. Semakin ia tertarik, semakin ia ingin aku bergabung dalam kehidupannya, menjadi salah satu bagian dari keluarganya. Dia menemukan sesuatu yang menarik dari diri aku, dan dia menawarkan sesuatu agar aku tertarik pada kehidupannya. Dia tawarkan modal untuk mewujudkan sebuah kantor media yang bisa ku kelola sendiri, tempat aku berkarya. Ya, itu adalah kisah awal dimana TechnoMedia yang merupakan mimpi dan hanya tertuang dalam wacana menjadi sebuah kantor kecil dengan tiga orang team pendiri."


Galang memperkenalkan sejenak Maya pada Pak Wijaya dan beberapa orang disana. Mereka sejenak menonton anak-anak itu bermain. Ah, tidak, mereka tidak sedang bermain. Mereka sedang beraktivitas dan belajar di alam terbuka. Mereka diajarkan untuk mempelajari sumber energi alam, yaitu matahari, dan memanfaatkan energi panas matahari. Perkenalan itu singkat, Galang meminta ijin untuk membawa Maya berkeliling sejenak mengitari bagunan yayasan yang terawat dengan baik.


*"*Sebagai gantinya\, aku dijodohkan dengan Ratri. Aku sih menerima saja persyaratan itu. Toh aku tidak pernah sempat pula berkencan dengan wanita\, jadi tentu tawaran ini sangat menarik\, mendapat modal sekaligus mendapat calon istri. Tapi perjodohan itu tidak langsung terjadi\, Pak Wijaya membiarkan Ratri mengenalku terlebih dahulu. Dan seperti dugaannya\, Ratri langsung menyukai aku. Kamu tahu kenapa?" tanya Galang tiba-tiba. Maya menjawab dengan gelengan kepala pelan.


"Karena aku pekerja keras, seperti Ayahnya. Kata orang, anak perempuan selalu jatuh cinta pada lelaki yang ia hormati dan biasanya kharisma sang ayah adalah hal yang ia cari pada sosok lelaki itu. Tapi, sama seperti Ayahnya, kami gila bekerja tanpa kenal lelah. Tak pernah puas, dan terus bekerja. Ratri berusaha keras mendampingi masa-masa sulit aku. Tapi kami berdua sangat berbeda. Sulit bagi Ratri mengerti kesibukan aku mewujudkan mimpi dan membuahkan hasil dari kerja kerasku. Ratri lebih senang bersantai, berpesta, menghabiskan energinya untuk melampiaskan perasaannya. Finally, dari pada dia sibuk tidak jelas, dan terkadang, menganggu waktu kerja aku, aku memberinya ide untuk mendukung jiwa sosialitanya itu. Mendirikan yayasan ini," jelas Galang. Mereka kini berhenti disebuah aula olah raga. Ada seorang petugas pembersih sedang melambai pada Galang lalu berbalik dan melanjutkan pekerjaannya lagi.


Galang lalu melanjutkan ceritanya dan menuntun Maya menelusuri ruang tidur anak-anak itu. Ruang tidur anak lelaki dan perempuan terpisah. Lalu ada beberapa ruang ibadah, tergantung agama apa yang si anak anut pada saat ia datang kemari.


"Jadi lah Ratri banyak menghabiskan waktunya disini. Tidak lagi sibuk menganggu aku saat TechnoMedia mulai berdiri perlahan-lahan. Dan sayangnya, waktu tidak memihak. Rencana pernikahan kita saat itu berbarengan dengan masuknya tawaran investasi untuk membesarkan TechnoMedia. Aku pecah fokus, dan Ratri hilang arah." Galang berhenti sejenak di pintu keluar. Kini mereka sudah berada di lapangan hijau itu lagi. Anak-anak tadi sudah digiring masuk kembali ke dalam gedung untuk melanjutkan pelajaran didalam kelas mereka.


"Mereka gak pergi ke sekolah formal, ya?" tanya Maya menyadari bahawa ini adalah hari sekolah.


Galang menggeleng, "anak asuh disini berkebutuhan khusus. Mungkin sulit melihatnya dalam sekilas. Lain waktu kita kenalan lebih dekat dengan mereka. Terkadang masyarakat atau lingkungan sosial tidak mudah menerima mereka. Contohnya, anak yang topi merah yang bercanda dengan memukul kaca pembesar ke kepala temannya tadi ingat?" Maya mengangguk pada pertanyaan Galang, "Dia adalah anak yang dicuri dan dijadikan pengemis di jalanan oleh sindikat kepart penculikan anak. Dia dan 2 anak lainnya yang dibawa kemari tinggal di rumah bordil selama 3 tahun. Tata bahasa yang anak itu keluarkan sama kotor dan kasarnya dengan nara pidana residivis di nusa kambangan. Perlu usaha keras, profesional dan kasih sayang penuh untuk memanusiakan dia lagi."


Maya bergidik ngeri membayangkan nasib anak kecil tersebut. Maya ragu ingin membahas lebih dalam lagi tentang yayasan ini. Tetapi, ia menjadi lebih memiliki rasa hormat pada Ratri. Yang Maya belum sadari adalah, hal apa yang membuat Ratri begitu mencintai pria yang ada disampingnya ini hingga mengorbankan hidupnya sendiri demi tidak mengganggu kehidupan Galang dengan aib yang ia bawa mati.


Maya berhedem lalu bertanya,  "Lalu apakah Pak Wijaya dan keluarganya tidak pernah membenci kamu?"


"Enggak juga, sih. Soalnya aku adalah saksi mata utama kejadian tersebut. Dan itu traumatis banget buat aku.  Mereka tahu aku cukup terpukul dan hancur karena tragedi itu. Bahkan semenjak kejadian itu aku jadi punya panic disorder. Cuma, yah, Kinasih, adiknya Ratri masih selalu melihat aku sebagai orang yang menyebabkan kematian kakaknya. Sebab dia tidak ingin membenci kakak tercintanya," Galang menutup kalimatnya dengan senyuman dan helaan nafas panjang. Mengingat kejadian itu serta dijadikan pelampiasan rasa sedih Kinasih tampaknya cukup berat untuk Galang.


Maya mengelus pundak Galang, mencoba meredakan getir yang pria itu pendam. "Shall we go, now?" tanya Maya lembut yang dijawab anggukan oleh Galang.


***


Sesampainya di taman pemakaman pribadi, Maya cukup terkejut. Pemandangan disini begitu indah. Benar-benar seperti sebuah taman yang menenangkan. Belum cukup rasa kagum Maya, mobil audi hitam milik Galang berhenti di tempat parkir dan tak jauh dari sana malah ada seorang lelaki penjaga kuburan terlihat sumringah menghampiri mereka. Seolah kedatangan mereka adalah hal yang menyenangkan.


Manik mata Maya membesar melihat tiba-tiba bapak penjaga kuburan itu memeluk Galang. Seakan mereka adalah kerabat dekat yang lama tak berjumpa. Galang terlihat mengobrol sebentar lalu melambaikan tangannya memanggil Maya.


Galang berjalan dan berhenti disebuah makan cantik yang ditumbuhi oleh bunga-bunga putih kecil. tanaman bunga itu sudah pasti bunga daisy, bunga favorit Ratri. Galang lalu menunduk pada batu nisan dan meletakkan bouquet bunga yang ia bawa. Sejenak berdoa, Galang lalu berdiri disamping Maya.


"Maya, dulu aku pikir aku sangat sulit berusaha untuk mencintai orang lain. Sebab aku masih terlalu mencintai hidup dan mimpi-mimpiku. Hingga saat aku mencobanya pada Ratri, aku justru gagal dan membuatnya pergi. Tetapi bertemu dengan kamu, meihatmu terluka karena cinta yang kamu miliki. Membuatku yakin bahwa ini kesempatan aku untuk membuktikan bahwa aku telah belajar dari kesalahanku yang dulu. Aku janji akan menyembuhkan luka kamu, mencintaimu sepenuhnya. Ratri pasti juga senang melihat aku belajar dari kesalahanku dan berubah menjadi lebih baik. Semua karena kamu, May," ucap Galang tanpa menoleh pada Maya.


Maya merasakan panas di matanya dan perlahan air mata menetes. Ada perasaan bersalah yang ia rasakan saat dulu pernah terucap dari bibirnya pada Galang, 'Aku bukan Ratri!' Padahal perempuan yang makamnya ada di depan Maya saat ini adalah perempuan luar biasa. Jika saja ia memilih tetap menikahi Galang dengan skandal yang ia tutupi, tentu hal itu akan menghancurkan Galang. Melukai hati pria ini, dan mengagalkan terwujudnya mimpi Galang dengan skandal yang ia bawa. Ratri juga sangat menyukai anak-anak. Ia tidak akan rela mengugurkan kehamilannya saat itu. Satu-satunya jalan yang ia pilih adalah terbang dan meninggalkan semuanya.


***


Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Maya baru saja terbangun dari tidur siangnya satu jam yang lalu. Perasaannya hari ini begitu campur aduk. Sejenak pagi tadi pusing karena email, siang tadi galau berat dan sekarang malah terbawa perasaan sedih dan haru setelah dari makam Ratri.


Maya lalu beranjak dari sofa tempat ia berbaring tadi dan memilih untuk menyegarkan dirinya lagi. Berendam di bath tub dengan air hangat milik Galang mungkin akan membuat perasaannya lebih baik. Setelah mandi, rencana Maya adalah memastikan bahwa pihak apartment telah menjadwalkan ruangannya untuk dibersihkan sore ini juga. Lalu setelah itu, mungkin ia paling tidak harus menyambut Galang pulang?


Sementara itu, di ruangan kantornya, Galang baru saja menutup sebuah file dari tumpukan disamping mejanya. Mengecek seluruh kegiatannya pada checklist to-do list di kalender email, ia tersenyum puas. Semua yang harus ia lakukan sudah selesai untuk hari ini. Namun, sebelum ia beranjak pulang dan menyiapkan makan malam berdua bersama Maya, ada satu hal lagi yang harus ia selesaikan. Jari telunjuk Galang memencet sebuah tombol di teleponnya lalu berkata, "Ray, I need to talk to you. Come on in."


Tak menunggu waktu lama, Rayyan sudah langsung masuk ke ruangan Galang dan duduk di kursi. "Yes?" tanyanya. Ini sudah mendekati jam pulang, tentu yang Galang bicarakan tidak lagi soal pekerjaan, atau begitu harapan Rayyan. Sebab ia masih punya janji untuk berkencan dengan Kinasih. Ia, telah berjanji pada Kinasih bahwa ia akan menjadi sosok pria yang berbeda dari Ayahnya maupun mantan calon ipar kakaknya yang hanyut dalam waktu bekerja. Ah, lagipula jika saja dia akan menjadi menantu Pak Wijaya, tentu bekerja bukan menjadi hal terpenting untuk menghasilkan uang dalam hidupnya.


"Sorry, this won't take your time too long. Tapi gue mau nanya. Bukannya Kinasih gak suka sama gue. Kok bisa dia lo ajak ke rumah gue?" Seperti biasa, Galang langsung to the point.


Rayyan tersenyum dan menyilangkan kakinya, "What a good question, Lang. Tapi sebelum gue jawab, berjanji lah untuk menceritakan apa maksud lo dengan percakapan di telepon tadi siang, 'Gue kan jadi malu sama Maya'."


"Okay, fair enough," ucap Galang menyetujui persyaratan dari Rayyan.


Rayyan lalu mengeluarkan sebuah kartu nama seorang dokter kejiwaan. "Dia teman gue, dan gue disarankan untuk lebih banyak mengenalkan cerita kebaikan yang telah lo lakukan. Termasuk memperlihatkan kesuksesan TechnoMedia dan betapa banyaknya lapangan pekerjaan yang lo buka karena kerja keras lo. Gue juga sering bawa dia ke rumah lo sekaligus juga menceritakan banyak hal tentang lo. Tentang bagaimana rumah ini sengaja lo bela-belain untuk di desain agar aman saat lo punya panic attack karena masih trauma tentang tragedi kematian Ratri. Yah, sekaligus juga jadi bahan pedekate gue ke Kinasih, sih. And it works very well. Dia perlahan membuka pikirannya, dan termasuk menganggap gue juga cukup banyak membantu hidup lo back on track."


Galang mengambil kartu yang dilempar oleh Rayyan di atas meja dan mengangkat alis kanannya. "Kok bisa berefek secepat itu? 2 minggu?"


"Ah, itu," wajah Rayyan memerah.


"I got you man! Jujur aja deh, apa rahasianya?"


Rayyan melempar pandangannya, merasa sedikit malu. "Lo yakin mau dengar?"


"Apaan sih! Udah ngomong aja," sahut Galang tidak sabar.


"Errr... itu*\, you should do it with love\, man.* Dengan sepenuh hati. Konsisten\, ikhlas dan yang terpenting ulet!"


"Ulet?" tanya Galang heran, ia masih memperhatikan lekat-lekat kartu nama yang ia pegang.


"Iya," jawab Rayyan semangat. Senang mengakui sendiri bahwa dirinya menjadi sosok percontohan bagi Galang.


"Ulet? Hewan?"


Rayyan memutar bola matanya, "Ulet! Tekun, tekun! Tekun, ngerti gak lo?"


"Oh, tekun! Bilang dong! Salah fokus nih gue, soalnya desain kartu nama dokternya juga aneh banget. Pakai ada gambar ulet dan kupu-kupu!" ucap Galang membela diri.


"Ulat itu mah!" timpal Rayyan kesal. "Sekarang giliran lo cerita! Did you bring Maya back?"


Galang menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menahan senyumnya. Ia lalu berkata dengan suara berat dan tenang,  "I did, man. We will have our Chief Editor back."


"Wooohooo!" sorak Rayyan sambil meninju udara. "Gila! Keren banget lo. Gak sia-sia usaha lo going mad selama dua minggu ya! I am so glad, bro. I am so proud of you! Wah kita sama-sama sukses nih dua minggu ini," celoteh Rayyan dengan muka memerah karena rasa senang.


"Belum selesai nih cerita gue," imbuh Galang, masih dengan menahan senyum.


"Say it bro, I am so ready," ucap Rayyan sambil mengusap-usap telapak tangannya.


"We are officially dating now!" ujar Galang, tak mampu menyembunyikan kegembiraannya.


Kini, kedua saudara sepupu itu sedang mengeluarkan suara yang terdengar seperti dua orang monyet hutan yang berteriak bersahut-sahutan. Beberapa karyawan sampai harus berhenti bekerja, melirik ke arah ruangan bos mereka itu dan menggelengkan kepala.


***


"Hey, I'm home," sapa Galang pada gadis didepannya yang masih menunduk menatap layar ponselnya. Sesekali angin sore membelai tipis helai rambut Maya.


 


 



Tidak ada jawaban, sepertinya Maya menggunakan airpods di telinganya. Galang lalu berjalan mendekat perlahan, khawatir mengejutkan wanita cantik didepannya itu. Ia lalu berjongkok, berusaha untuk masuk pada frame penglihatan Maya.


Maya menyadari ada bayang yang mendekat di layar ponselnya lalu mengangkat wajah. "Ah, udah pulang, ya. Sorry, I was on my phone," jawab Maya sambil menepuk kursi disampingnya mengundang Galang untuk duduk. Ia lalu melepeaskan airpods dari telinganya, tepat seperti dugaan Galang.


"Lagi apa? Nonton drama korea ya?" tebak Galang usil.


"Haha, enggak lah. Hidup aku udah penuh drama juga sih, jadi rasanya I don't need more drama. Ya, gak tahu juga kalau nanti-nanti. Katanya, sih, semua orang pasti akan nge-drakor pada waktunya." Maya dan Galang tertawa bersamaan.


"Hahaha, apaan sih. Udah kaya pepatah aja. Jadi lagi apa kamu, hm?" tanya Galang lagi sambil melirik layar ponsel Maya.


"Ini, aku lagi video call sama pihak cleaner apartment, mereka lagi bersihin semua ruangan dan bisa aku tonton live. Untuk memastikan kemanan dan kebersihannya juga," jelas Maya sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Galang.


"Wah, hebat! Canggih juga ya service mereka, " respon Galang sambil mengelus dagunya.


Tak lama, Galang lalu menoleh pada Maya, "eh, iya. Aku kan ngajakin kamu proper dinner ya, sore ini. Aku mandi dulu deh, biar setelah itu bisa siapin dinnernya. Kamu santai aja dulu, merhatiin proses cleaningnya," tukas Galang sambil beranjak pamit.


Maya mengangguk dan kembali memperhatikan layar ponselnya. Tetapi, entah kenapa ada senyum yang tiba-tiba terukir di pipi Maya. Ia bertanya-tanya, seperti apakah proper dinner yang dimaksud Galang tadi?


***


Memasuki kamarnya, Galang dengan cepat melucuti kemejanya. Ia menyambar handuk yang terlipat rapi dari sebuah rak putih lalu melesat masuk ke dalam kamar mandi. Setelah melucuti seluruh sisa pakaian yang ia kenakan, Galang menyalakan shower dan menutup matanya. Merasakan alirah air hangat mengalirin seluruh jengkal kulitnya. Mendadak, ada bayang Maya dalam benaknya. Entah beberapa waktu yang lalu, gadis itu juga mandi disini. Mandi, tanpa sehelai benang pun.


Membayangkan liuk tubuh gadis itu membuat Galang menahan nafas. Ia mulai meraskan sensai geli di pinggang bagian bawahnya. Cepat-cepat Galang mematikan shower dan menyelesaikan mandinya. Ini bukan saatnya ia tenggelam dalam fantasi fana khas pria miliknya. Jika benar menginginkan gadis itu seutuhnya, masih banyak hal yang harus ia lakukan. Ya, tepat seperti apa yang ia dengar dari Rayyan di kantor tadi, tekun. Ia harus tekun menunjukkan perasaannya pada Maya. Tekun, bukan hal yang sulit baginya. Sebab itu adalah hal yang ia lakukan sepanjang hidupnya di TechnoMedia.


Tak lama, Galang sudah sibuk di dapur untuk memasak makan malam dibantu oleh Maya. Mengeluarkan semua keahliannya, Galang memilih untuk memasak steak daging untuk menemani mereka menyesap wine merah. Kali ini Galang juga akan membuka botol wine Bruno Giacosa Dolcetto D'alba. Tak memakan waktu lama, Galang dan Maya kini duduk berhadapan di meja teras belakang yang sudah mereka berdua siapkan.



"Thanks ya dinnernya, Lang. Heran, apa sih yang kamu gak bisa?" puji Maya saat mengelap tangannya dengan sapu tangan. Ia dan galang baru saja selesai mencuci piring makan malam mereka tadi.


Galang mengangguk dan tersenyum. "My pleasure. Hm, hal yang gak bisa? Saat ini sih semua list keinginanku sudah terpenuhi. Tapi masih ada satu yang on progress. Membuat kamu mencintai aku, May," ucap Galang sambil memberikan sebuah gelas  bersih dan menuangkan wine sisa makan malam mereka tadi.


Maya mengulum senyumnya, "you have treated me very well, so far. I might fall into you faster than you think."


Ia lalu berjalan melewati Galang dan duduk di teras belakang. Meninggalkan Galang yang sekarang merasakan perasaan bahagia yang memenuhi rongga dadanya.


Menyusul Maya, Galang diam-diam mensyukuri malam ini. Segalanya tenang hari ini begitu sempurna. Dia bahkan tidak bisa membayangkan malam yang lebih baik daripada malam ini, untuk sekarang. Sejenak, mereka sama-sama terdiam, menikmati suasana malam yang tenang sambil menikmati aroma blackberry dan blackcherry di lidah.


"Malamnya indah, sayang gak banyak bintang," ucap Maya mengomentari langit malam.


Galang yang tengah menyesap wine dari gelas mengangkat jarinya. Setelah meneguk dan menuntaskan wine di gelasnya, Galang berkata, "tunggu disini sebentar, aku akan membakan kamu jawaban, kenapa malam ini indah walau tidak banyak bintang."


Mengerutkan alis, Maya memandangi punggung Galang yang bernajak pergi ke arah dalam rumah. Lima menit kemudian, Galang keluar membawa sebuah alat pemutar musik modern mirip gramofon klasik yang biasanya dikenal dengan turntable. Pria itu lalu membuka sebuah kotak tipis besar mirip sebuah amplop. Ia lalu mengeluarkan sebuah kaset piringan hitam dan mulai menyalakan lagunya. Galang lalu berbalik dengan senyum puas.


Piringan hitam vinyl itu mulai berputar dan mengeluarkan nada-nada indah. Suaranya begitu jernih seakan mereka berdua sedang berada di dalam sebuah ruangan bar bersama dengan live musik di depan mereka. Galang berjalan ke arah Maya dan mengulurkan tangan, memberi sinyal untuk meminta tangan perempuan itu. Mengundangnya, untuk berdansa.


Maya tertawa malu dan menggelengkan kepalanya. "I can't," kilahnya sambil membuang muka. Khawatir wajahnya sudah mulai memerah sekarang, entah karena merah atau karena Galang.


"Yes, you can, Maya. Please," pinta Galang sekali lagi.


Menghela nafasnya, Maya akhirnya mengalah lalu meletakkan gelas winenya di meja. Ia lalu berbalik dan memberikan tangannya pada tangan Galang yang masih menggantung di udara. Dengan satu hentakan pelan, Galang menarik tubuh Maya lebih dekat. Mengikuti alunan nada yang indah, kaki mereka mulai bergerak seirama.


Malu-malu di awal, Galang mulai merasakan Maya sudah lebih percaya pada gerakan tubuhnya. Sekarang, keduanya benar-benar menikmati suasana malam bersama nada yang  dilantunkan dari sang vokalis dari piringan hitam yang terus berputar.


Maya mendadak tersenyum dan menunduk saat tiba ia mendengar lantunan lagu yang tengah dibawakan oleh sang penyanyi. Ia akhirnya mengerti apa maksud Galang dengan malam ini indah walau tidak banyak bintang. Memejamkan mata, Maya berbisik pada hati kecilnya. Sudahkah ia benar-benar beranjak dari kesendiriannya dan membiarkan ia yang rapuh, jatuh dalam pelukan pria yang medekapnya saat ini?


"Tak terasa gelap pun jatuh


Diujung malam menuju pagi yang dingin


Hanya ada sedikit bintang malam ini


Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya


Lalu mataku merasa malu


Semakin dalam ia malu kali ini


Kadang juga ia takut


Tatkala harus berpapasan ditengah pelariannya


Di malam hari


Menuju pagi


Sedikit cemas


Banyak rindunya..." Untuk perempuan yang sedang dalam pelukan by Payung Teduh.


***


Halo pembaca yang baik !


Jangan lupa coba dengarkan lagu pengiring dansa Galang dan Maya, ya.


Rasakan juga bagaimana larut dalam perasaan kedua insan pada saat itu.


Berikut linknya: 


Love, Author.