
Langit malam beranjak pergi untuk memberi ruang pada pagi yang datang menjelang. Angin dingin berhembus mengantar shubuh dengan membawa percikan hangat sinar matahari. Begitu banyak kisah yang akan dimulai setiap harinya. Ada sebuah awal, juga sebuah akhir.
Yrene menggenggam tangan Ianvs yang sudah terlelap lagi setelah sempat terbagun untuk menyusu di shubuh tadi. Mulut dan bibir Ianvs maju mundur seolah ia masih mengecap asi dari sang Ibu. Raut bayi mungil itu begitu menenangkan. Dan semua yang ada pada bayi ini begitu mencerminkan segala yang dimiliki Ikhsan, suaminya. Setelah yakin bahwa Ianvs telah lelap, Yrene beranjak bangkit ke meja makan menyiapkan sarapan pagi untuk Ikhsan dan dirinya.
Trang!!
Sebuah sendok jatuh meluncur dari tangan Yrene yang bergetar tanpa ia sadari. Sontak Yrene memeluk tangannya sendiri untuk meredakan getarannya.
"Non, ada apa? Ada yang jatuh? Pecah?" tanya Mbak Ningsih yang datang tergopoh-gopoh dari dapur sambil membawa sebuah kain lap.
Yrene menarik nafas dan memaksa dirinya tersenyum, "Gak papa Mbak, cuma sendok yang jatuh."
Mbak Ningsih langsung mengganti sendok yang jatuh lalu kembali ke dapur meninggalkan Yrene yang terduduk di kursi sambil menatap nanar piring Ikhsan yang masih kosong. Suaminya masih ada di kamar sedang bersiap-siap untuk pergi hari ini. Pergi, menemui dia. Wanita lain yang ia juga puja, Maya.
Ikhsan memasuki ruang makan dan mendapati istrinya sudah duduk dan menunggu. Ia mencium pipi istrinya dan membisikkan 'Selamat Pagi, Dear!' lalu duduk dihadapan Yrene. Tangan Ikhsan sibuk menuangkan sarapan pada piring istrinya setelah itu baru ia menuangkan ke piringnya sendiri. Ikhsan lalu terlihat memasang airpods, berbicara pada rekan kerjanya mengatur beberapa hal sebab ia harus cuti kerja. Sarapan pagi kali ini terasa begitu cepat pagi Yrene. Kini, ia sedang menunggui Ikhsan bersiap menaiki motornya.
Yrene berinisiatif membantu Ikhsan mengkaitkan kunci pengaman helm, "Kamu yakin gak pakai mobil aja?"
Ikhsan tersenyum, "Kalau di rumah ada dua mobil, aku pasti bawa satu. Mobil kamu lagi di servis, aku gak mungkin ninggalin kamu di rumah sama Ianvs tanpa mobil. Khawatir ada apa-apa, sayang."
Apa yang di katakan Ikhsan masuk akal. Tapi Yrene juga masih dibayang-bayangi oleh kabar dari Tania mengenai arti mimpinya oleh Bibi Andrew. Resiko berbahaya membawa motor tentu lebih besar daripada membawa mobil. Tetapi, segera Yrene tepis ketakutannya itu. Ia harus lebih banyak melangitkan doa daripada terbelenggu oleh kekhawatirannya.
"Aku pergi dulu," pamit Ikhsan lalu mengecup kening dan bibir istrinya.
Yrene melambaikan tangannya. Mengucapkan hati-hati dan berharap Ikhsan segera mengabarkan tentang hari ini padanya. Baru saja Yrene membalikkan badannya setelah bayang Ikhsan menghilang dari matanya, sebuah mobil truk berhenti di depan rumah.
Membelalakkan mata tak percaya, Yrene hampir memekik. "Bithes*?!"
Tania yang masih mengenakan piyama turun bersama Nina, Virsa dan Adel. Kemudian disusul oleh beberapa orang yang mengenakan baju bertuliskan 'Yes Glam! Bring Salon & Spa to your home.'
"A wonderful woman like you, don't deserve a day with full of tears, dear!" ucap Tania dengan bergaya menyandarkan sebelah tangannya pada badan truk sambil mempersilahkan staf layanan portable spa dan salon itu masuk ke rumah Yrene membawa perangkat milik mereka.
Kelima sahabat itu saling berpelukan erat, seolah tak memberikan ruang pada retak di hati Yrene.
"Oh, Only God knows how deep I love you, guys!" ucap Yrene dengan air mata haru yang menggenang.
***
Maya menatap dirinya yang masih menggunakan bath rope di depan cermin. Ia tak pernah menduga bahwa dalam hidupnya, ia akan menghadapi hari ini. Terlebih lagi, ia tak membawa cukup pilihan baju. Di rencananya, hari ini ia akan berlibur usai menghadapi Yrene. Menghibur dirinya, entah ke sebuah club dan minum-minum hingga melupakan dirinya sendiri, atau menceburkan dirinya di tengah lautan dan menyelam bersama makhluk-mahkluk laut yang akan membawa dirinya sejenak hilang dari permukaan bumi.
Maya mendengus, seharusnya ia membawa lebih banyak pilihan pakaian. Tetapi sedetik kemudian, ia ingat apa yang di katakan oleh Galang. Maya harus menjadi dirinya sendiri hari ini. Mengikuti kata hatinya. Dan menemukan pilihan yang nantinya tak akan ia sesali.
Menghembuskan nafas, Maya memilih untuk tidak ambil pusing dan mencoba menganggap hari ini juga bagian dari liburannya. Maya mengeringkan rambutnya, memakai baju dan mengulas make-up sederhana lalu menatap layar ponselnya. Menunggu.
***
Galang memasang headphone pada telinganya dengan wajah serius menatap layar laptopnya. Ia sedang berada pada sebuah teleconference meeting membahas kesuksesan performa awal platform baru perusahaannya dengan sejumlah dewan direksi. Di sela meeting, Galang melirik layar ponselnya. Pesannya masih belum di baca oleh Maya.
'May, kabarin kalau lo udah berangkat. Gue akan susul. Just send me your location at any time, will be there around you.'
Galang menduga pasti Maya begitu gugup pagi ini sampai tak menghiraukan pesan singkatnya. Ia kembali menatap layar laptopnya nanar saat chat Rayyan dari ruang direksi muncul dengan komplain agar Galang serius menatap kamera dan fokus pada meeting.
***
Sebuah motor sport berhenti di lobby. Pengendaranya membuka helm dan tampak berbicara pada ponselnya. Tak berapa lama, orang yang ia ajak berbicara pada ponsel tadi muncul di hadapannya.
"Hi, May!" sapa Ikhsan berusaha memberikan senyum untuk menutupi rasa gugupnya. Ah, selalu saja seperti ini, tak pernah tak gugup saat berhadapan dengannya.
Sementara itu Maya menelan ludahnya, ia tak menyangka Ikhsan menjemputnya dengan sebuah motor. Itu artinya, jarak duduk antara Ikhsan dan Maya akan sangat begitu... dekat. Maya mencengkram tali tas yang melintasi bahu dan dadanya. Degup jantung Maya membuatnya lupa untuk membalas sapaan Ikhsan.
"Sorry, gue bawa motor soalnya mobil di rumah sekarang cuma satu. Gapapa, kan?" tanya Ikhsan hati-hati. Jika Maya menolak, Ikhsan berencana akan mencari sewa mobil saat itu juga. Untungnya, Maya segera tersenyum dan mengangguk. Ikhsan menghela nafas lega dan memberikan sebuah helm untuk Maya kenakan.
"Udah siap?" tanya Ikhsan sambil melirik kaca spion pada penumpang cantik yang sudah duduk dibelakangnya.
"Udah. Kita mau kemana?" Maya balas bertanya. Di dalam helm, Maya mengigit bibirnya. Tangannya kaku menyentuh punggung Ikhsan. Ia sangat bingung harus bagaimana duduk nyaman dan aman. Apakah ia harus memeluk pengemudi di depannya ini? Ah! Maya seketika merasa pusing dan kekurangan oksigen. Cepat ia buka kaca helmnya. Bukannya malah lebih tenang dengan menghirup lebih banyak udara, matanya malah menangkap wajah Ikhsan yang tersenyum di kaca spion menatapnya.
Pelan, tapi Maya mendengar jelas kalimat yang Ikhsan ucapkan. "I always dream about this day. You're so beautiful today, Maya. Pegangan ya, kita berangkat ke tempat yang pasti lo suka."
Maya mengangguk dan buru-buru menutup kaca helm demi menyembunyikan wajahnya yang panas memerah. Dengan satu hentakan gas di tangan Ikhsan, motor itu melaju cepat meninggalkan pusat kota menuju tempat yang damai dan tenang bagi mereka untuk bicara. Dari hati, ke hati.
***
Setelah hampir 1 jam berkendara, kecepatan motor Ikhsan melambat di sebuah dataran yang landai. Hanya angin yang ada di antara hening mereka. Ikhsan kemudian membuka kaca helmnya dan mengajak Maya bicara.
"Disini ada taman bunga, baru dibangun 3 tahun yang lalu." Suara Ikhsan dapat terdengar jelas meski bersaing dengan angin dari laju motornya.
"Oh ya? Kenapa ke taman bunga?" tanya Maya ingin tahu alasan Ikhsan.
"Cocok aja sama lo, May. Sama-sama indah!" tubuh Ikhsan sedikit bergetar menahan tawa. Jujur saja, ia memang sedang berusaha bercanda agar melarutkan suasana yang kaku tetapi malah geli sendiri pada kalimatnya.
"Dih!" cela Maya pada ucapan Ikhsan barusan, "payah banget gombalan lo, San!" Meski terdengar kesal, ada tawa kecil di bibir Maya.
"Yah lo tau sendiri, gue ga bakat nge gombal. Kalau gue bakat, pasti gue gak akan gugup kalau ngajak lo bicara." Ikhsan menghentikan mesin motor pada parkiran taman bunga itu. Dengan sigap, ia mengulurkan tangan membantu Maya turun.
Mengangkat helmnya, Maya terpana dengan pemandangan didepan matanya. Taman bunga yang Ikhsan maksud lebih tepat dibilang sebagai padang bunga. Ada hamparan jutaan bunga putih yang begitu indah.
"Ini..., bunga apa?"
Ikhsan membuka helm dan turun dari motornya. "Baby's breath. People said it symbolizes everlasting love. Lambang cinta abadi, cantik kan?" tanya Ikhsan tanpa menatap Maya. Ia juga sama terpukaunya dengan Maya menatap hamparan putih bunga-bunga putih kecil itu.
Maya berjalan di tengah hamparan bunga, angin semilir pelan membuat bunga-bunga itu bergoyang seolah sedang menari riang. Tangan Maya menyentuh pelan para bunga di kanan-kirinya. Sungguh sebuah pemandangan yang mencuri nafasnya. Sejenak Maya bahkan lupa akan kegugupannya.
Tanpa Maya sadari, ia sudah cukup lama menikmati pemandangan hamparan bunga. Ia melirik sekelilingnya mencari sosok Ikhsan. Matanya kemudian terhenti mendapati pria yang ia cari masih berada di ujung taman dan sedang melambaikan tangannya. Maya kemudian memutuskan untuk menghampiri Ikhsan.
"Cantik banget, ya! Ini pertama kalinya dalam hidup gue menyaksikan sendiri pemandangan seperti yang ada di wallpaper layar komputer gini!" ucap Maya sambil mengeluarkan ponselnya untuk mengambil beberapa gambar dan mengabadikannya.
Sambil berjalan mendekati posisi Maya, Ikhsan berdehem. "Mau gue fotoin? Gini-gini kemampuan gue masih lumayan lah walaupun ga jago-jago banget," tawar Ikhsan tanpa menatap wajah Maya.
Maya mengulum senyumnya lalu memberikan ponselnya. "Ambil yang bagus ya, awas kalo engga bagus!"
"Kalo ga bagus emang kenapa?"
"Traktir gue bakso!" tukas Maya asal sambil mencari posisi yang cocok untuk berfoto. Dibelakangnya Ikhsan berjalan mengikuti langkah Maya.
"Bakso?" tanya Ikhsan sambil menahan senyum. "Tanpa lo minta gue juga bakal bawa lo ke tempat makan bakso kok." Ikhsan lalu kembali bertanya, "Terus kalau bagus, gimana?"
Maya yang sudah dapat posisi berfoto terdiam sesaat memikirkan jawaban. "Apa ya?" tanyanya.
"Kalau fotonya bagus, lo sering-sering kesini ya. Berterimakasih sama bunga-bunga disini udah membantu ngebuat fotonya jadi bagus! Sering-sering tengokin kabar mereka, sehat engga? Gitu ya!"
Maya sontak tertawa. "Lo pikir gue sakit jiwa ngomong sama bunga?"
"Haha, dih gak gitu! Nanti gue temenin deh lo kesininya, biar gak malu sendirian!"
Maya makin tertawa, di pikirannya ia membayangkan akan rutin mengunjungi taman bunga ini, menanyakan kabar para bunga, mengajak mereka berbicara dan berpesan pada mereka untuk selalu menjaga kesehatan.
"Udah? Di situ?" Ikhsan bertanya tentang posisi foto yang dibalas anggukan oleh Maya.
"Bagus engga?" tanya Maya setengah berteriak sebab jarak Ikhsan agak jauh.
"Fotonya!"
"Belum. Sabar, gue lagi setting kamera hape lo." Wajah Ikhsan terlihat serius menatap layar kamera yang menunjukkan sosok Maya dengan latar taman bunga.
Ikhsan terlihat menggerakkan jemarinya, lengannya, maju beberapa langkah mendekat dan menahan tarikan nafas saat tampilan di layar ponsel menunjukkan komposisi gambar yang sempurna. Ikhsan menekan tombol shutter di layar ponsel.
"...so breath-taking," suara Ikhsan pelan, tetapi Maya dapat mendengar dengan jelas. Membuat mereka sama-sama menundukkan pandangan sebab malu.
"Hm, mau coba sekali lagi?" tawar Ikhsan.
"Udahan kali ya? Cukup lah itu, aja." Maya berjalan mendekati Ikhsan untuk melihat hasil foto dirinya.
Ikhsan tampak berfikir sambil melihat sekitarnya. "Tunggu, berhenti disitu!" katanya pada Maya.
"Di sini?"
"Iya, coba lo jongkok deh. Kalau lo berdiri, susah melihat persamaan antara bunga-bunga ini dengan lo, May. Tapi kalau lo sejajar, lo bisa liat gimana lo diantara bunga-bunga ini."
Meski jantung Maya mulai berdegup cepat, ia menurut saja apa kata Ikhsan. Maya menekuk lututnya dan sekarang ia berada diantara bunga-bunga putih nan mungil. Lahan pijakan kaki Maya sedikit sempit membuatnya sulit menjaga keseimbangan.
"Sini pegangan sama gue," Ikhsan mengulurkan tangannya.
Wajah Ikhsan yang serius menatap layar ponsel membuat Maya enggan menolak. Ia menyambut tangan Ikhsan yang terulur, dan menggengamnya.
"May, senyum bisa kali. Kalah cantik lo sama bunga-bunga nya!" keluh Ikhsan masih dengan serius menatap layar ponsel Maya.
Maya spontan tersenyum mendengar keluhan fotografer dadakannya itu, dan senyuman itu diabadikan dengan sangat tepat oleh kamera di tangan Ikhsan.
Ikhsan berniat untuk segera berdiri sekaligus menarik tangan Maya, sayang sekali urat pinggang yang biasa ia tekuk seharian bekerja protes oleh gerakan mendadak membuat pria ini kehilangan keseimbangan. Ikhsan terhuyung lalu terjatuh kebelakang. Tangannya refleks menarik tangan Maya. Berat tubuh Ikhsan ikut menarik limbung tubuh Maya.
Brukk!
Tubuh Maya berada diatas menimpa tubuh Ikhsan
"Duh!" keluh mereka bersamaan.
Maya dengan cepat menyadari situasi, ia mengangkat tubuhnya dari tubuh Ikhsan. Tapi, tangan pria yang ia tindih itu memegangi pinggang Maya, mengunci tubuhnya. Percayalah, Maya mengutuki dirinya saat ia tak bisa menahan godaan untuk tidak menunduk menatap wajah Ikhsan.
Manik mata mereka bertemu, nafas mereka dekat.
"Lo gak papa?" tanya Ikhsan lembut dan Maya hanya menggeleng. Maya tak mampu bersuara, degup jantungnya yang begitu kencang membuat mulutnya kaku. Maya bahkan dapat merasakan deru nafas Ikhsan di wajahnya.
Tangan Ikhsan melepas pinggang Maya dan menyentuh rambut samping Maya, ia lalu menyelipkan rambut itu di telinga Maya.
"I have been waiting for you, for so long," ucap Ikhsan lirih. Pandangan Ikhsan teduh, membuat Maya tertegun. Detak jantung Maya yang sedari tadi susah tenang kini bekerja sama dengan pipinya yang merah padam. Ikhsan yang meyadari perubahan rona merah pipi Maya semakin menarik senyumnya, membuat ceruk lesung pipinya terlihat begitu dalam dan sempurna
"Ada tempat lain yang ingin gue datangi bareng lo, May. Yuk?" ajak Ikhsan menyudahi momen canggung itu dan Maya mengangguk. "Bangkit dulu dong," ucap Ikhsan kemudian sambil tertawa.
Gugup dan salah tingkah, cepat Maya berdiri. Mereka lalu membersihkan diri, menepuk-nepuk tubuh mereka dari debu yang menempel. Maya menunduk menggosok lututnya yang sedikit terdapat noda tanah. Saat ia mengangkat wajahnya, Ikhsan mengulurkan tangan.
"Yuk!" Tangan Ikhsan menggenggam tangan Maya.
Dua insan itu berjalan berdandengan tangan di tengah taman bunga yang sepi. Tak ada yang saling bicara, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing, juga sibuk mengatur deru nafas dan detak jantung yang riuh.
Tak lama, Maya sudah berada di atas motor Ikhsan lagi. Seolah semesta sedang bekerja sama, langit menurunkan tetesan air dan mendatangkan angin yang dingin.
"Hujan," lirih Maya.
Ikhsan menatap langit, untungnya masih ada sedikit cahaya matahari dan langit belum begitu gelap.
"Pegangan, May. Gue bakalan ngebut sedikit biar kita cepat sampai dan gak kehujanan."
Belum sempat Maya bersiap, Ikhsan benar-benar sudah memacu gas motornya membuat hentakan yang cukup keras. Maya terhuyung kebelakang sedikit dan dengan rasa terkejut, tubuhnya refleks menubruk punggung Ikhsan.
"Pegangan, May!" tegur Ikhsan lagi tanpa menoleh. Jalanan menjadi sedikit licin karena rinai gerimis yang mulai turun membasahi jalanan aspal. Tangan Ikhsan memutar kebelakang seolah mencari tangan Maya. Begitu tangan mereka bersentuhan, Ikhsan menarik tangan Maya lalu menempatkan tangan penumpangnya itu di pinggang, tidak menyisakan jarak diantara tubuh mereka.
Sekarang, meski deru angin dari laju motor dan udara dingin hujan mengusik Maya dan Ikhsan, keduanya tak merasa terganggu. Sejenak mereka sepakat, untuk menikmati waktu selagi masih ada.
***
Hujan gerimis ternyata hanyalah permulaan. Tepat saat Ikhsan menghentikan motornya di sebuah lokasi yang tak asing bagi keduanya, air bagai tumpah dari langit. Maya dan Ikhsan berlarian turun dari motor untuk segera berteduh.
"Bakso kantin?" tanya Maya sambil tertawa. Tak menyangka bahwa Ikhsan membawanya ke kantin belakang SMA mereka dulu.
Ikhsan membuka helmnya, lalu ikut tertawa. Tempat ini, hujan dan dingin berkomplotan hadir menjebak mereka berdua pada kenangan masa sekolah dulu. Saat dimana mereka masih bisa bebas memandang manik mata masing-masing dengan rasa suka, dengan rasa kagum.
"Eh Mas Ikhsan?" sapa seorang perempuan dari balik sebuah gerobak stainless.
"Ibu? Sehat bu? Mi ayam bakso dua ya," pinta Ikhsan yang disambut senyum ramah oleh Sang Ibu penjual. Belum sempat Maya meredakan senyumnya, tubuhnya di tarik oleh Ikhsan dan di sodorkan pada Ibu penjual bakso. "Bu, masih ingat ini siapa?" tanyanya.
Si ibu yang sedang sibuk menyiapkan pesanan Ikhsan itu tampak mengerutkan alis, "Siapa ya?"
Ikhsan masih kekeh menahan bahu Maya agar tak bergerak melipir dari hadapan ibu penjual bakso. Sedetik kemudian, Si ibu memekik. "Neng Maya, ya? Iya?!"
Ikhsan lalu mengangguk dan tertawa, serempak bareng sama Ibu penjual itu. Mereka lalu melakukan tos seolah memenangkan sesuatu, meninggalkan Maya dengan ekspresi bingung.
"Haha! Duh, sorry," ujar Ikhsan lelah tertawa. Ia seperti terhuyung kebelakang dan mendudukkan dirinya di kursi terdekat. Tangannya berayun seolah memanggil Maya untuk duduk.
"Ada apa sih? Kok kalian ketawa-ketawa kompak gitu?" tanya Maya sedikit mendesak Ikhsan.
Lelaki di depan Maya itu menghapus sedikit air mata sebab tawanya tadi. Tiba-tiba, Ibu penjual bakso hadir dengan membawa pesanan mereka. Tangan Sang Ibu itu menepuk pundak Maya dengan pandangan mata berbinar.
"Neng Maya, tambah cantik ya! Bertahun-tahun, si Ikhsan ini hampir setiap hari datang makan mie ayam bakso disini. Katanya kalau merindukan Neng Maya pasti dia akan makan disini. Katanya lagi, kalau makan disini dia masih serasa ditemani Neng Maya. Saya sampai khawatir dia bisa gila, sampai bosen juga dengar cerita dia. Tapi dia bilang dia yakin suatu hari dia akan bisa makan bakso lagi disini bareng Neng Maya!"
Bagai jatuh dari sebuah lantai yang amblas, kaki Maya terasa melemah. Manik mata Maya nanar beralih menatap Ikhsan yang memalingkan mukanya ke arah lain sambil masih tersenyum menang.
Maya menundukkan kepalanya, mata dan wajahnya terasa hangat. Dia tak pernah menyangka akan mendengar perkataan Ibu penjual bakso tadi tentang perasaan rindu yang Ikhsan pendam. Dengan suara tertahan, Maya bersuara, "Setiap hari?"
Ikhsan mengatupkan bibirnya lalu ikut menunduk, "Almost everyday if it's possible. Tapi terkadang disini terlalu ramai anak-anak SMA nongkrong.Atau kadang kantin tutup karena sekolah libur."
"This is the only place where I can still see your around inside my mind. This place reminds me of you always whenever I miss you. Sekolah, tempat dimana dulu gue bisa melihat lo hampir setiap hari. Kantin, tempat dimana dulu gue bisa ngobrol berdua dengan lo dan mendapati rasa kagum lo ke hasil-hasil foto gue."
Maya mengepalkan tangannya. Ternyata bukan hanya dia sendirian saja yang begitu menderita menyimpan perasaan cinta 15 tahun lamanya ini. Apa rasanya terus-terus datang ke tempat dimana semua kenangan bermula, hanya untuk menemukan serpihan kisah-kisah yang pernah terjadi.
"Ayo, makan. Mumpung ini adalah hari libur anak sekolah setelah ujian kenaikan kelas, jadi pasti sekolah sepi. Kita sempetin jalan ke dalam area sekolah, ya!" ajak Ikhsan sambil mengaduk mie ayam masih dengan tersenyum.
***
Mohon dukungannya untuk terus vote, like dan jangan lupa tinggalkan kesan kalian di kolom komentar ya!
Love, Author.