
Maya berjalan dan berbalik arah berulang kali di kafetaria kantin rumah sakit. Tanpa ia sadari, ia juga mengigiti jempol kirinya sementara tangan kanannya sibuk membuka aplikasi wedding checklist. Saat ini ia sedang menunggu Giska, teman Ikhsan yang akan menangani baju kebaya akad dan make-up Maya. Tetapi pikiran Maya sesungguhnya saat ini benar-benar sedang sangat kacau, semua hal berputar di kepalanya.
Saat menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul satu siang, Maya akhirnya terduduk di kursi dan mengerang pelan sambil memijat-mijat kepalanya yang mulai terasa sakit. Ia memang pernah mendengar ada orang-orang yang menikah kilat, atau artis yang datang dan menikah begitu saja di depan KUA. Tapi untuk dirinya, pernikahan yang sangat-sangat singkat persiapannya seperti ini merupakan hal yang sangat bertentangan dengan prinsip hidup Maya.
Biasanya segala hal ia perhitungkan dengan baik, berbeda sekali dengan keadaannya saat ini. Mendadak, segala cerita tentang pernikahan dengan persiapan singkat yang pernah ia ketahui atau ia baca di media manapun terasa tidak nyata. Ia yang merasakan keadaan yang sama seolah melihat bahwa ini bukan seperti persiapan menikah. Hati kecilnya pelan berbisik meski dirinya juga menentang, ya, sekarang ia justru merasa seperti terpaksa menikah.
Jemari Maya mendadak gemetar, ia lalu meremas jarinya untuk meredakan panik yang melandanya. Ia ingin sekali punya teman untuk membicarakan perasaannya yang tidak wajar ini. Tetapi semua orang terdekatnya seolah sibuk membantu mengurus pernikahan ini. Tiba-tida dadanya terasa sesak, Maya segera berlari menuju toilet karena ia merasa akan memuntahkan isi perutnya.
'Hoooooek!'
Semua isi perut Maya habis terkuras. Cepat ia bersihkan muntahan dan mulutnya. Maya lalu mencuci mukanya untuk memberikan sensasi dingin dan tenang.
Kaki Maya terasa lemas saat berjalan keluar dari kamar mandi menuju sebuah kursi yang ada di balkon samping kantin rumah sakit. Maya mencengkram rambutnya dengan kedua tangan. Ia sejenak memejamkan mata dan menghirup dalam-dalam udara siang yang kering.
Tak pernah ia bayangkan bahwa seumur hidup ia akan ada di posisi seperti ini. Entah kenapa di bayangannya saat ini justru muncul kelebatan memori-memori saat pernikahan Yrene dan Ikhsan dulu. Gambaran kelebatan memori itu semakin jelas terlihat pada momen akad Ikhsan. Maya bahkan teringat momen di kamar persiapan para bridesmaid dimana pria itu sempat berdiri di depan cermin bersama Maya, berdua saja. Dulu yang Maya bayangkan adalah, andai saja Ikhsan yang sudah rapi dan tersenyum itu merupakan calon suami yang akan mengucap akad dengan namanya. Sekarang, saat momen itu sudah ada di depan mata, Maya justru merasa tidak siap menghadapinya.
Maya menghembuskan nafasnya keras-keras, berharap keresahannya keluar bersamaan dengan karbondioksida yang ia keluarkan.
"Maya, ya?" saya seorang perempuan dengan rambur pirang yang di kuncir tinggi.
Mengerjapkan matanya beberapa kali, Maya lalu tersadar bahwa sedari tadi ia sedang menunggu Giska. Dan perempuan di hadapannya ini sudah pasti make-up artist yang sedang ia nanti.
"Ah, iya, saya Maya," jawab Maya tergagap dan berdiri dengan kikuk.
Giska tersenyum dan melambaikan tangannya, "Ah santai aja, aku tadi cari-cari kira-kira yang sosoknya Maya mana gitu. Nah dari semua orang di kantin ini yang wajahnya resah-resah gitu ya cuma kamu. Kan wajah orang mau nikah gitu, resah-resah gimanaaa gitu, hihihi. Langsung deh ku samperin."
Maya menelan ludahnya, "Emang semua orang yang akan menikah pasti wajahnya resah-resah gimanaaa gitu ya?"
"Hihihi, iya atulah. Masa ada orang yang mau nikah wajahnya super sumringah. Ya ga ada lah. Semuanya pasti resah sebelum akad terucap. Eh ada kali ya, pernah lihat di youtub* sih. Ah tapi itu mah si pengantinnya pernikahan ke dua dan dia adalah jendes yang sudah lama tidak dibelay, shay!"
Mengambil langkah mundur, Maya cukup shyok dengan sikap Giska. Tapi cepat-cepat ia tepiskan pikirannya. Toh saat ini Maya memang sedang tidak stabil baik emosi dan jiwanya.
"Hm, jadi yang aku dengar dari Ikhsan, kamu meragukan eh maksudku, membutuhkan pembuktian diriku dan kemampuan make-up ku, kan? Nah, dengan senang hati akan aku tunjukkan, dong! Yuk, ikut ke studio aku!" Giska tanpa basa-basi menarik tangan Maya untuk ikut ke studio miliknya. Sebenarnya, ia lebih tepat menjalankan perintah dari Ikhsan. Sebab Ikhsan sudah berpesan bahwa perempuan yang sedang ia gandeng ini akan terlihat 'sangat butuh panduan' dalam persiapan akad nikah.
Di mobil, pandangan mata Maya terlihat kosong dan susah fokus. Ia benar-benar merasa kehilangan dirinya sendiri. Kemandiriannya, kekuatannya, seolah kini ia hanya berjalan mengikuti waktu saja. Semua orang bergantian saling menyusun balok-balok yang seperti terpaksa ia langkahi. Ia kehilangan kendali atas hidupnya. Sudah terlalu banyak orang yang kini terlibat dalam jalan hidupnya.
"Mbak Maya, tenang saja. Nanti setelah akad perasaan itu akan lebih baik kok. Memang gitu rasanya kalau mau jadi pengantin. Godaan dan tantangannya banyak," jelas Giska tanpa menoleh kepada Maya yang duduk di kursi penumpang.
Maya menghela nafasnya, entah sudah yang keberapa kali hari ini. Ia tidak tahu harus menebak apa. Tetapi yang pasti Giska mugkin tidak punya gambaran utuh pernikahan seperti apa yang Maya hadapi ini.
Tanpa terasa, mobil Giska sudah berheti di parkiran sebuah ruko, Giska keluar dari mobilnya sambil mengangkat alis menandakan ajakan pada Maya.
"Ini studio aku, May. Nah itu, disana ada banyak banget pilihan baju pengantin. Modern dan minimalis semua, loh. Kata Ikhsan kamu bukan orang yang akan menyukai hal-hal glamor kan? Jadi kamu pasti suka deh sama koleksi aku! Hihihi pede banget ya!"
Menanggapi ocehan Giska, Maya hanya bisa tersenyum. Meski ia tidak yakin apakah senyumnya ini lebih mirip dikatakan dengan meringis.
"Tahu ngga sih, saat Ikhsan ngasih tunjuk foto kamu, aku seneng banget. Soalnya kamu cantik banget! You're a perfect portfolio for my work of art, May!" oceh Giska lagi sambil menepuk sebuah kursi dan mengibaskan kip make-up di hadapan Maya. (Kip Make-up: kain penutup bahu dan dada saat sedang di dandani)
Maya pasrah saja dan duduk di kursi yang ada di depannya itu. Ia memejamkan matanya lalu dengan segera merasakan percipan air pembersih wajah yang di semprotkan Giska. Dengan ligat, wajahnya merasakan sentuhan yang berganti-ganti oleh Giska. Maya sedikit merasa ngantuk dan sejujurnya, ia merasa tidak begitu penasaran dengan hasil karya Giska. Bukan karena Maya meragukan Giska, hanya saja ia tidak punya ekspektasi apapun saat ini.
"Hihihi, ngantuk yah, May? Sabar ya, sebentar lagi selesai nih. Sementara rambutnya aku cepok ke atas dulu aja ya," ujar Giska yang disusul oleh suara semprotan hair vitamin dan hair spray.
"Udah nih, May. Buka boleh kali, matanya," kata Giska semangat.
Maya menoleh dan mendapati pantulan dirinya di cermin.
Giska memang berbakat, riasan tangannya tidak norak dan tidak menor. Terlihat sederhana, dan sangat cocok dengan warna kulit Maya. Sayang, aura Maya saat ini memang sedang tidak bagus sepenuhnya. Membuat guratan magical yang seharusnya ada pada wajah para pengantin hilang di wajahnya. Ya, riasan Giska bagus, hanya saja kecantikan yang ada di hadapan Maya ini terasa begitu tidak sempurna.
"Gimana, lo suka dengan tone seperti ini?"
Pertanyaan Giska membuyarkan lamunan Maya. Dengan cepat Maya mengangguk. Khawatir jika Giska salah arti terhadap ekspresi Maya.
Giska tersenyum, ia lalu menepuk pundak Maya dan berkata, "Sekarang yuk lihat-lihat kebaya dan gaunnya."
***
"Ih, kok di reject video call nya? Kan aku juga mau lihat hasil make-up Giska di kamu itu gimana?" tanya Ikhsan.
"Ya, ya jangan dulu, dong!"
"Haha, kenapa? Takut aku gak surprise dan gak pangling gitu ya?"
Jantung Maya berhenti berdegup dan wajahnya terasa panas. Ia sungguh merasa malu sekali di goda oleh Ikhsan saat itu, meski hanya di panggilan telepon. Maya lalu sengaja menjauh dari Giska agar percakapannya tidak terdengar.
"Ih, bukan gitu. Ini.. ini justru make-up nya lagi setengah di hapus. jadi ya gak layak untuk diperlihatkan," jawab Maya sambil berbisik.
Ikhsan justru semakin terkekeh, "Bohong kamu mah, orang Giska udah kirim kok ke aku hasil fotonya dan dia bilang dia gak tega menghapus karya nya di wajah cantik kamu."
Lagi-lagi Maya hampir kehilangan nafasnya. Ikhsan benar-benar sudah merasa begitu luwes memberikan godaan-godaan iseng pada Maya.
"Yasudah, yang penting kamu sudah puas sama pilihan gaun dan kebaya disana. Hati-hati nanti pulangnya ya. Siapa yang jemput? Arya?"
Maya buru-buru berbohong dengan mengiyakan, "Iya." Sejujurnya ia ingin sebentar saja menyendiri menjernihkan serta menenangkan pikirannya.
"Hm, udahan dulu ya. Nanti aku kirim aja foto gaun dan kebaya yang aku pilih, ok?" ucap Maya lagi.
"Gaun dan kebayanya doang? Jadi semalaman ini sampai akad nanti aku cuma bisa membayangkan di angan tentang cantiknya kamu di gaun dan kebayanya, gitu?"
"Ikhsan!" pekik Maya yang justru membuat Ikhsan semakin terkekeh.
"Iya, yaudah. Sampai nanti. Bye!"
"Bye!"
Segera setelah percakapan itu berakhir, Maya menyandarkan tubuhnya ke dinding. Energinya terasa seperti terkuras. Ia oun memutuskan untuk segera pulang dan beristirahat. Mengingat lepas shubuh esok ia sudah harus berangkat ke hotel Royale untuk memulai proses make-up akad.
Setelah pamit dari Giska, Maya langsung memesan taksi online. Untungnya cuaca tidak begitu panas saat Maya melangkah keluar dari ruko studio Giska untuk menunggu kedatangan taksinya. Tak lama, taksi pesanannya datang dan dengan cepat ia masuk kedalam mobil.
"Neng, model ya?" tanya si supir taksi ketika baru saja menginjak gas.
Ah, Maya lupa membersihkan wajahnya dahulu sebelum pulang. Ia terpaksa hanya melempar senyum tipis pada supir. Saat ini ia terlalu leah untuk diajak bicara bahkan oleh siapapun.
"Siang-siang begini melihat gadis cantik kaya bidadari itu sangat mengobati hari, Neng. Terimakasih ya sudah cantik!"
Maya sangat menahan dirinya untuk tidak memutar bola mata. Sudah sedari tadi ia di goda oleh calon suaminya, jangan sampai ada tambahan dosis godaan lain hari ini.
"Pak, maaf. Boleh tolong jangan ajak saya bicara dulu? Saya pusing sek..."
"Astaga!"
TIIIINNN!!!!!
Mobil taksi yang Maya tumpangi ini baru saja menabrak sebuah mobil mewah di belokan jalan. Ini diakibatkan karena sang sopir yang gagal fokus dan malah mengoceh saat mengemudi.
"Tck!" Maya mendecak kesal ketika sang sopir buru-buru keluar mobilnya menghampiri mobil yang ia tabrak.
Saat mengangkat wajahnya untuk memastikan tidak ada perkelahian antara si sopir dan pemilik mobil mewah didepan, manik mata Maya membesar.
***
Halo pembaca yang baik!
Mohon dukungan Like, Komen dan Vote nya ya!
Stay Safe.
Love, Author.