
Sebuah toko perlengkapan bayi terlihat lengang, hampir tidak ada pelanggan di siang ini. Satu-satunya pelanggan sedang antri di depan kasir dan setelah membayar, pelanggan itu pun pergi meninggalkan toko. Sang penjaga kasir dengan malas menguap dan menghampiri rekannya yang sedang memainkan ponselnya.
"Bosen abis deh, udah beberapa hari ini jarang banget deh datang customer," keluh sang penjaga kasir sambil duduk di samping rekannya.
Sang rekan mematikan ponselnya dan merespon, "Iya, awal-awalnya aja enak spei customer bisa santai kayak gini. Tapi lama-lama mati gaya juga. Gue malah udah tamat maraton 3 judul drama korea. Menurut lo kenapa ya jarang datang customer? Pada hemat semua kali ya orang, malas belanja gitu?"
Si kasir mengangkat bahunya, "Mungkin orang jaman sekarang malas juga kali ya menjalin hubungan, semacam enakan hidup sendiri gitu. Less-stress ceunah!"
"Wah, kalau malas menjalin hubungan pada gak nikah dong! Gak punya keturunan dong! Punah dong kita kayak dinosaur... cakep banget buset!" seru rekan si kasir. Fokus obrolannya teralihkan saat seorang lelaki bertubuh tegap membuka pintu toko. Sontak si kasir dan penjaga toko membatu memandangi customer tampan yang baru masuk.
Si kasir menyikut rekannya, "Girl, kalau cowok kayak gini dibiarin punah sayang banget! Ayo sikat!"
Penjaga toko tersebut dengan terburu-buru menghampiri customernya. "Siang, Mas! Ada yang bisa dibantu?"
Pria itu tersadar di tegur, ia menoleh sebentar lalu melempar pandangannya pada arah pintu. Sedetik kemudian seorang perempuan masuk ke dalam toko.
"Oh, iya. Kita mau cari kado bayi new born," ucapnya saat rekan wanitanya sudah ada disampingnya.
"Bayi laki-laki," imbuh rekan wanitanya.
Si penjaga toko membalik badannya dan memutar bola matanya. Mulutnya seolah berkata dari jauh ke si penjaga kasir, "Gue kira single bo'!". Kata-katanya lantas dijawab cekikikan oleh si penjaga kasir di seberang.
Sambil menarik nafas menenangkan kekecewaannya, si penjaga toko memasang senyum dan mulai memandu sepasang customernya itu.
"Sudah cukup? Gak nambah lagi kak?" tanya si penjaga toko ke customer wanitanya. Pertanyaannya dijawab dengan mengangguk saja, tapi tatapan customernya seakan tak lepas dari sebuah dress bayi perempuan lucu berwarna merah muda dengan pasangan pita kepala.
"Beli sekalian aja kak, ini limited edition loh! Kali aja anak kakak nantinya perempuan!"
Sang customer pria terkikik mendengar ucapan penjaga toko tersebut. "Gimana, Maya? Mau engga? Gue beliin! Kali aja anak kita perempuan!"
Perempuan yang di panggil Maya itu terlihat marah dan memukul bahu rekan pria nya. "Anak kita?! Galang, ih! Jangan sembarangan kalo ngomong deh lo, heran gue dari kemaren omongan lo aneh-aneh. Parah ih! Orang bisa salah sangka!" tukas Maya sambil berlalu ke arah kasir.
"Dih, sewot amat!" ucap pria yang di panggil Galang itu.
Mendapati kejadian itu di depan matanya, dengan asal si penjaga toko menasehati Galang. "Gapapa Mas, diusahakan aja dulu. Kan perkataan adalah doa, dan usaha tak akan pernah mengkhianati hasil. Beli aja dulu Mas, kali aja nanti Mbaknya mau buat anak sama Masnya!"
"Hus! Ikutan aja," ucap Galang lalu pergi menyusul Maya. Si penjaga toko terkikik sendirian.
"Aminin engga?" tanya si penjaga toko yang kemudian berjalan di belakang Galang.
Galang tersenyum jahil dan menoleh pada sang penjaga toko. "Iya, amiin! Puas?"
Mendapati respon Galang, si penjaga toko semakin terkikik. Ia segera menahan tawanya ketika rekan kasirnya melirik tajam menandakan bahwa sikapnya bisa saja membuat customer merasa tidak nyaman. Perlahan si penjaga toko kembali ke tempat istirahatnya.
Sebelum keluar toko, Galang menghentikan langkah dan berbalik arah menuju si penjaga toko.
"Berapa tadi harga dress nya?" pertanyaan Galang ini membuat si penjaga toko gugup dan segera berdiri, ia terkejut Galang mendatanginya lagi.
Setelah mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan sebuah kartu nama, Galang berbisik, "Mbak, tolong itu dress baby nya dikirim ke alamat di kartu nama ini pakai box kado ya. Untuk anak saya di masa depan!"
Galang lantas berbalik dan menyusul rekan wanitanya yang bernama Maya itu, meninggalkan si penjaga toko yang menerima uang dan kartu nama Galang dengan wajah bengong.
***
Maya sudah duduk di mobil Galang sesaat sebelum Galang keluar dari toko. Begitu pintu mobil di buka, Maya langsung protes.
"Ngapain sih kok lama?"
Galang memasang sabuk pengaman dan menjawab, "Maaf Nyonya, saya ke toilet dulu tadi!"
Maya hanya melengos tak merespon jawaban Galang. Ia kemudian melirik jam tangannya seolah sedang khawatir pada waktu.
"Kenapa sih? Kayak buru-buru amat? Santai kali, lo lagi bersama orang paling tepat waktu sedunia!" tukas Galang sambil menghidupkan mesin mobilnya dan bersiap keluar dari parkiran area toko.
"Ya soalnya lo sih pake acara bilang tenang aja, besok aja belanja kado babynya, schedule keberangkatan udah gue atur. Kalau Rayyan yang atur schedule mah gue percaya, nah kalau elo?"
"Kalau gue kenapa?" tanya Galang penasaran dengan lanjutan kalimat Maya.
"Kalau elo, semua bisa lo ubah sesuka lo," jawab Maya tanpa melirik Galang. Entah kenapa ia benar-benar merasa sangat canggung cuti berdua dengan Galang yang notabene adalah bos sekaligus CEO TechnoMedia Corp., tempat ia bekerja.
"Ya emang bakalan sesuka gue, dong. Mobil, Mobil gue. Cuti yang lagi lo jalanin, atas approval gue. Terus apa lagi dong? Elo? Lo kan karyawan gue." Galang tertawa di akhir kalimatnya. Ia benar-benar akan menjahili Maya sepanjang perjalanan. Tujuannya sederhana, agar Maya tidak begitu stres dalam perjalanan untuk bertemu Yrene.
"Kalau lagi cuti, gue bukan karyawan elo tau!" tukas Maya sebal.
"Terus siapa, dong? Masa pacar?!" pertanyaan Galang hanya di respon dengan dengusan kesal dari Maya.
"May, gue mau nanya nih. Jadi penasaran gue," Galang melirik Maya sebelum melontarkan pertanyaan.
"Awas lo nanya yang aneh-aneh!" potong Maya dan Galang jadi tertawa.
"Udah kali, May! Gausah stres dan sensian gitu. Santai aja lah. Gue yakin pertemuan lo dengan Yrene gak akan semengerikan itu kok!" Ujar Galang berusaha terus menenangkan Maya. Lagipula, keberadaannya di samping Maya saat ini memang hanya ia tujukan untuk memberi diukungan psikis agar Maya lebih kuat menghadapi kenyataan yang akan ia alami nanti saat bertemu Yrene.
Maya menghela nafas panjang. Galang benar, tidak ada gunanya ia terus menerus mengkhawatirkan pertemuannya besok dengan Yrene. Seharusnya hari ini ia jalani sedikit lebih rileks. Maya juga merasa beruntung, dengan ikutnya Galang dalam perjalanan ini sudah pasti biaya akan ditanggung semua oleh bos nya itu. Bosnya itu tentu tidak akan sudi jika melihat karyawannya membiayai diri sendiri didepan matanya. Flight ke kota tujuan mereka pun bahkan sudah Galang atur. Maya bahkan belum mengeluarkan uang sepeserpun kecuali untuk membayar kado baby Ianvs.
Alis Maya tiba-tiba berkerut, ia menyadari bahwa mobil Galang berpindah jalur dari arah bandara.
"Flight? Lah yang bilang gue atur flight siapa? Kita lewat jalur darat kok! Seru, kan? Sekalian hemat lah. Belajar jadi orang kaya, lo May! Liburan itu ga mesti mahal yang penting asik dan seru." Galang setengah mati menahan tawanya, ia tahu Maya akan segera meledak.
"Galaaang!!" teriak Maya dengan kesal. Ia ingin sekali mencekik pria yang ada disampingnya. Tapi segera ia urungkan niat jahatnya itu, khawatir akan keselamatan dirinya sebab Galang sedang memegang kendali setir mobil.
Dengan terkekeh, Galang memberikan penjelasan. "May, kemaren gue baru ingat tentang sesuatu. Dulu banget gue pernah buat artikel mudik jalur darat gitu loh dari kota kita ke kota tujuan. Ada banyak banget stall makanan enak dan tempat-tempat bagus yang apik banget buat jadi stop spot sekalian istirahat break nyetir. Gue pengen menyusuri jalur itu lagi, masih sama gak ya kira-kira?"
Masih kesal, tapi Maya mau tidak mau merasa jawaban Galang masuk di akal juga. Toh yang cuti saat ini bukan hanya Maya, melainkan Galang juga. Wajar saja jika ia ingin sekalian liburan juga. Tidak adil bagi Galang jika cuti kerjanya hanya benar-benar ia habiskan untuk kepentingan Maya sendiri.
Di luar pengetahuan Maya, semua yang Galang rencanakan justru benar-benar demi membantu mendukung mental Maya. Menenangkan Maya, menjauhkan ia dari kekhawatirannya, memecah fokus Maya agar tidak terus menerus memikirkan permasalahannya dengan Yrene dan Ikhsan. Perjalanan darat akan mengulur waktu meski hanya memakan waktu 5-6 jam. Tetapi itu adalah waktu yang cukup bagi Galang untuk memberikan Maya waktu menguatkan dirinya.
Dengan lagi-lagi mendengus kesal, Maya akhirnya menyetujui rencana Galang untuk melewati jalur darat. "Hm, Okay. Awas aja rencana gue kacau dan molor gara-gara kita lewat jalur darat dan kecapean."
"Okay, kalau jadwal lo sampai kacau dan molor, sebagai kompensasi dan permintaan maaf gaji lo gue naikin 2 kali lipat!"
"Hah?! Beneran?!" Maya tiba-tiba menjadi begitu antusias. Tawaran Galang barusan terdengar sangat menggiurkan. Ia malah sekarang bingung, hatinya jadi berharap jadwalnya sedikit molor sheingga tawaran Galang dapat berlaku padanya. Tetapi, jika jadwalnya molor itu artinya ia akan lebih lama terjebak di mobil bersama Galang.
"Haha, Try me! Coba aja, gak bakalan rencana gue gagal! Jadi lo gak perlu kahwatir, okay?" ucap Galang sambil memutar mobilnya dan memasuki jalur tol.
Berkisar 2 jam perjalanan kemudian, ternyata Tuhan berkata lain kali ini. Sikap sesumbar Galang di balas dengan sebuah papan baliho besar mengumungkan akan ada peralihan jalur tol disebabkan jalur yang seharusnya dipakai untuk antrian memasuki sebuah arena balapan mobil F2. Dan jadwal peralihan serta antrian itu tepat terjadi hari ini, didepan mata mereka.
Galang membuka mulutnya lebar-lebar dan berkata, "Oh **!"
Maya menelan ludahnya, tak ia sangka bahwa ternyata perjalanan darat ini benar-benar menghadapi rintangan. Ia menolehkan wajah pada Galang yang sedang mengurut-urut dahinya.
Dengan lemas Galang bertanya, "Gaji lo emang berapa sih?"
***
Maya menutup ponselnya. Ia baru saja menelepon pihak aplikasi dari pemesanan hotel dan mengabarkan bahwa Maya dan Galang akan melakukan late check-in dikarenakan masih terjebak di kemacetan yang akan memakan waktu lebih dari 3 jam. Total waktu perjalanan yang harus mereka tempuh menjadi 9 jam dari perkiraan waktu 6 jam perjalanan.
Maya kemudia membuka pintu mobil dan menyusul Galang yang tengah berdiri di pinggiran badan jalan. Antrian sudah sangat mengular dikarenakan ada pihak pemerintah yang akan memasuki arena balap. Beberapa orang juga sedang menatap iring-iringan motor dan mobil pihak keamanan yang menyusul dibelakang mobil pemerintah tersebut. Mereka terpukau dengan beberapa helikopter dan ramainya drone di atas stadium arena balap. Orang-orang yang terjebak macet itu terlihat sibuk merekam kejadian di depan mata mereka. Tak sedikit orang yang akhirnya keluar dari mobil sejenak dan justru terlihat seperti piknik dadakan dengan membeli lalu menikmati jajanan pedangang asongan yang entah dari mana mendadak muncul.
Galang sekarang terlihat sedang berinteraksi dengan seorang pedagang minuman. Begitu Maya mendatangi Galang, sang pedagang asongan langsung gercep menawarkan pada Maya.
"Minum apa mba? Ada mijon, estrajos, ali-ali, kopiku, amua dingin, amua biasa, tisu basah, tisu kering, yang gak ada tisu magic ya gak, Mas?" dan entah karena jokes yang dilontarkan si pedangang asongan ini tak terduga, Galang justru tertawa. Sementara Maya yang memahami jokes picisan si pedangang asongan hanya melirik Galang tajam.
"Sorry, lucu soalnya si abangnya. Ya kali ada yang nyari tissu magic disini," ujar Galang membela dirinya pada Maya.
Maya terlihat tak ambil pusing, ia segera mengambil air mineral dingin dan duduk di pinggir trotoar. Ia lalu mengamati kedip-kedip lampu drone yang sibuk lalu-lalang. Entah apakah itu drone stasiun TV yang sedang meliput acara atau bisa jadi meliput kemacetan yang juga dialami Galang dan Maya.
"Kok bisa sih, lo gak aware ada acara ini di jalur tol yang rencananya bakalan lo lewatin?" tanya Maya saat menyadari Galang sudah duduk disampingnya.
Galang menyodorkan sebuah jagung bakar yang membuat Maya semakin terkejut dan tak habis pikir. Jagung itu Galang goyang-goyangkan didepan hidung Maya, membuat aromanya keluar dan menyeruak. Menjelang sore menikmati jagung bakar sudah pasti menggiurkan. Maya akhirnya mengalah, ia mengambil jagung bakar yang ditawarkan Galang.
Usai menikmati gigitan pertamanya pada jagung bakar, Galang kemudian menjelaskan pada Maya. "Gue tahu bakal ada acara ini, tapi gue gak aware akan ada peralihan jalur yang bikin kemacetan gini. Yah mana gue tau kalau area jalur antri arenanya ada yang amblas tadi pagi sehingga harus pakai sebagian jalur jalan tol. Udah nikmatin aja, ntar lagi antreannya palingan selesai. Sabar ya!"
Galang melirik Maya, gadis itu tak merespon. Matanya sibuk melihat drone yang berjalan kesana kemari di atas langit sore yang tempias berwarna orange. Meski sesekali ia masih mengigit jagung bakarnya, tapi air wajah Maya terkesan nanar, Galang menduga tentu saja gadis ini sedang terpikirkan rencananya yang terpaksa molor disebabkan insiden ini.
"May, jangan ngambek dong! Kan gaji lo bakalan naik dua kali lipat," ucap Galang menebak-nebak apakah diamnya Maya adalah memang karena sedang kesal.
Mata Maya kemudian kembali fokus dan menatap Galang, tiba-tiba ia tersenyum lebar. "Hehe iya juga, ya! Gaji gue beneran bakalan naik dua kali lipat, kan?!"
Galang menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia memang tidak tahu detail berapa gaji Maya saat ini. Ia bahkan sedang berpikir apa alasan tepat saat ia harus merubah gaji Maya sebanyak dua kali lipat pada kepala HR.
"Iya, iya! Nanti gue usahakan!" ucap Galang singkat.
Maya tersenyum riang, "Senangnya! Betah deh gue jadi karyawan lo, Lang!"
Melihat Maya yang sudah berubah mood menjadi lebih baik, Galang ikut tersenyum. "Yaudah, yang betah ya kerja sama gue! Jangan pergi ke lain hati! Eh, maksud gue jangan pergi ke prusahaan lain!" Galang buru-buru meralat jawabannya.
Maya hanya membalas dengan mengacungkan jempol dan masih memasang senyum riangnya.
Di dalam hati, Galang mengutuk tindakan tanpa perhitungannya. Tak biasanya ia ceroboh berkata seperti tadi terkait soal kenaikan gaji Maya. Tak ia sangka pula, beberapa jam bersama Maya justru banyak hal yang terjadi padanya. Pada perasaannya. Awalnya, ia benar-benar berniat memberi dukungan psikis bagi mental Maya. Tetapi lama-lama, kenapa ia terus menerus berusaha mengesankan dan membuat Maya senang?
Galang menelan ludahnya. Ia tiba-tiba merasa gerah, cepat ia teguk habis air mineral yang ada di tangannya. Bukan, bukan karena cuaca. Tetapi karena ia merasa resah. Resah akan perasaan tak menentu di saat ia sedang bersama Maya. Ia tak berani menduga, tetapi mau tidak mau ia harus tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini. Apakah hatinya sedang terpaut pada sosok Chef Editornya ini?
***
Dear pembaca yang baik hati.
Mohon maaf menghilang beberapa saat.
Author sedang mengalami beberapa masalah yang memakan banyak waktu :')
Doakan agar cepat membaik ya!
Mohon bersabar untuk updatenya ya. Mohon dinikmati sajian yang ada :D
Ditunggu like dan komen serta vote nya :)