
Maya mengambil ponsel dari saku celananya dan memotret sepotong bunga daisy yang tergeletak pada lantai dengan aksen kayu milik rumah Galang itu. Sebenarnya Maya ingin sekali segera mengirimkan potret bunga ini dan bercerita bahwa ia sangat terkejut kejatuhan bunga daisy ini, sebab awalnya Maya mengira ada serangga yang jatuh ke wajahnya. Tetapi, jemari Maya terhenti mengetik. Ia tiba-tiba teringat bahwa Galang mungkin saat ini sedang ada di ruangan meeting dan tidak sepantasnya Maya mengganggu pemilik TechnoMedia karena hal remeh-temeh seperti ini. Maya menutup aplikasi chatnya dan segera menyeret koper ke arah kamar... Galang?
Di depan pintu kamar Galang yang tidak terkunci, Maya terdiam. Maya ingat terakhir kali ia ada disini adalah karena Galang yang menggendongnya saat begitu lelah menangis dan tertidur di kantor. Menangis karena Ikhsan. Sekarang pun Maya kembali kesini dengan perasaan rapuh, juga karena pria dari masa lalunya itu. Dan lagi-lagi, yang menjadi sosok penolongnya kali ini juga adalah Galang.
Maya menarik nafasnya dalam-dalam dan memutar kenop pintu. Kamar Galang yang telah ditinggal pergi selama dua minggu tampak bersih dan rapi. Kamar itu, meski terlihat tidak jauh berbeda dengan yang terakhir kali Maya ingat, tetapi sudah tidak ada lagi foto sosok perempuan yang Maya sempat lihat dahulu, Ratri. Manik mata Maya menyisir seluruh sudut ruangan Galang. Kamar itu sangat minimalis dan lugas. Sangat mencerminkan kepribadian Galang. Ah, sejak kapan pikiran Maya sekarang selalu membahas bosnya itu. Cepat-cepat Maya menggelengkan kepalanya, menghapus sosok Galang yang kini, seperti sosok berbeda yang baru ia kenal.
Menutup pintu kamar Galang, Maya mulai membuka kopernya dan mengeluarkan handuk serta baju ganti. Setelah membersihkan diri, mungkin ada baiknya Maya mulai mengecek kembali aplikasi email kantor yang sudah lama tidak ia sentuh. Dengan perasaan sedikit bersemangat, Maya memasuki kamar mandi. Dan seiring menutup pintu kaca kamar mandi, ada senyum kecil terukir di pipinya. Aneh, baru kali ini Maya mandi di kamar seorang pria, tapi rasanya seperti Maya sudah sangat akrab dan telah lama mengenal tempat ini.
***
Setelah menyelesaikan agenda mandi dan bersih-bersih, seperti yang sudah ia rencanakan pula, Maya mulai membuka laptopnya. Sembari duduk di sofa kecil ruang tamu Galang, Maya mulai mengetik username dan password untuk masuk ke halaman desktop. Jemarinya menekan sebuah gambar kecil bertajuk Microsoft Outlook. Ia mengerjap beberapa saat dan membiarkan aplikasi itu mengunduh semua email.
Dua puluh detik berlalu, angka mengunduh masih menunjukkan 10% progres. Namun, jumlah email yang sudah masuk sudah membuat manik mata Maya semakin membesar. Puluhan, lalu seratus, dua..tiga..tujuh..sembilan ratus, ribuan email, dan progres unduh masih belum selesai. Segera Maya menutup layar laptop, lalu memijit keningnya. Akan butuh waktu seharian untuk mengecek semua isi email-email itu.
Sebenarnya bisa saja Maya melupakan semua email itu dan mulai bekerja saja dari awal. Seandainya pun ia butuh informasi, maka ia tinggal bertanya. Tetapi itu merupakan tindakan yang sangat tidak profesional. Email adalah salah satu bentuk alat komunikasi, dan jika ia tidak menghargai bentuk komunikasi rekan kerjanya, maka percuma saja ada teknologi bernama email ini.
Maya lalu mengetuk-ngetuk meja, sedang memikirkan cara bagaimana mencicil email tersebut. Ia lalu berjalan ke dapur untuk mengecek cemilan apa yang ada disana. Mungkin saja sepotong coklat bisa meredam stres yang sedang hinggap di kepala bagian belakangnya.
Membuka pintu kulkas, Maya sangat terkejut. Isi kulkas itu penuh dengan bahan makanan dan tertata rapi. Seolah bukan seperti milik seorang lelaki single namun justru lebih mirip isi kulkas sebuah keluarga lengkap. Pandangan Maya menelusuri kompartemen kulkas itu satu-persatu, semua yang ia butuhkan mungkin sudah tersedia disini. Kulkas ini, sangat kontras perbedaannya dengan kulkas yang ada di apartemen miliknya. Ia lalu memutuskan untuk mengambil satu kotak susu rasa pisang. Selain rasanya enak, kandungan kalium yang tinggi pada pisang sangat cocok untuk meredakan stres Maya dengan melancarkan pengiriman oksigen ke otaknya.
Ketika pintu kulkas tertutup, Maya melirik ke arah kabinet dapur Galang. Ia meletakkan kotak susu pisang yang baru ia minum sedikit itu di meja, lalu berjinjit sedikit membuka pintu kabinet. Disitu ada jejeran rapi bahan makanan kaleng dan botol-botol saus serta beragam jenis minyak. Maya membaca tulisan-tulisan pada badan botol. Ada berbagai macam jenis saus dan minyak yang Maya tidak kenali.
Maya bergeser ke kanan dan membuka kompartemen berikutnya, ada berbagai jenis pasta dan tepung. Mendecak kagum, Maya tertarik pada sebuah lemari kayu antik yang berdiri diantara kulkas dan kitchen set Galang. Maya menarik pelan gagang besi lemari tersebut, tetapi sayang, lemari itu terkunci.
Mengangkat bahunya, Maya lalu memilih untuk kembali menikmati susu pisangnya di sofa. Sambil menyeruput susu dari sedotan kecil, Maya membuka layar ponselnya dan tersedak.
"Uhuk!" Maya lalu menepuk dadanya sendiri dan segera mengambil tissue untuk mengelap mulutnya.
Sebuah pesan singkat Galang lah penyebab Maya tersedak barusan. Di pesan itu Galang berkata akan menjemput Maya makan siang, dan pesan itu sudah dikirim sejak 20 menit yang lalu. Maya melirik jam di bagian atas layar ponselnya dan mengutuk akan waktu yang begitu cepat berlalu.
"Assalamualaikum, May?"
Ah, itu pasti Galang, batin Maya.
Maya bangkit dari sofa dan membuka pintu. Benar saja, Galang sudah berdiri disana sambil memainkan kunci mobilnya.
"Yuk?" ajak Galang.
"Yuk? Ah, makan siang ya?" tanya Maya sedikit canggung.
Galang menaikkan alisnya, "kamu belum baca chat aku ya?"
Tersenyum dengan cengiran bersalah, Maya menjawab, "baru satu menit yang lalu aku baca, hehe. Sorry."
"Terus gimana?" tanya Galang lagi.
"Hm, kamu buru-buru ya?" Maya balas bertanya.
Melirik sekilas jam di pergelangan tangannya, Galang tersenyum. "Enggak sih, meeting tadi pagi berjalan lancar. Jadi hari ini gak ada pekerjaan urgent."
Maya mengangguk lalu tanpa kesadaran penuh, ia berkata, "kalau gitu makan siang di rumah aja."
"Hah?" alis Galang berkerut. Sejenak terpaku, ia lalu menelan ludah. "Jangan-jangan kamu udah masak ya, May?"
"Hah?!" Maya malah terkejut atas pertanyaan Galang. Buru-buru ia menjelaskan maksud ucapannya tadi. "Ah, itu. Tadi aku buka kulkas kamu dan banyak banget bahan makanan. Masih segar semua pula. Jadi, kalau ga buru-buru kenapa gak masak dan makan di rumah aja, gitu."
"Ah, begitu..." ucap Galang sambil menahan senyumnya. "Lalu?" tanyanya.
"Lalu apa?"
"Lalu, siapa yang masak?" ucap Galang melengkapi keseluruhan kalimat tanyanya.
Maya membuka mulutnya, menyadari situasi serta makna sinyal komunikasi dari pertanyaan Galang barusan. Pria itu, atasan sekaligus bos TechnoMedia, sedang menanyakan kemampuan masak dirinya.
"Ah, emang kalau aku masakin... kamu mau makan masakan aku?" tanya Maya sambil menggaruk telinga belakangnya. Merasa sangat tidak percaya diri dengan kemampuannya mengolah bahan makanan.
Galang tertawa sambil melewati Maya dan masuk ke dalam rumah. "May, May, kamu masak apapun pasti akan aku makan, kok."
Menyusul langkah Galang, Maya kembali memastikan ucapan pria itu bahwa kalimat tadi bukan sekedar gombalan belaka. "Beneran? Yakin?"
Galang berbalik menghadap Maya, dengan senyum jenaka ia berkata, "aku bilang, aku akan makan makanan apapun yang kamu masak. Makan loh, ya. Bukan aku habisin. Jadi kalau gak enak, aku makan seujung sendok aja, hahaha!"
Ikut tertawa dengan gurauan Galang barusan, Maya dengan sebal mendecak. "Iya deh, untuk urusan ini aku gak bisa mendebat keahlian kamu."
"Urusan apaan?" tanya Galang yang kini sudah berjalan ke arah dapur mewah kebanggaannya itu.
"Urusan dapur," ucap Maya. Ia bersandar di dinding pembatas sambil melipat tangan di dada. Memperhatikan Galang yang tengah membuka kancing atas kemejanya lalu melipat lengan baju hingga ke siku.
"Masih banyak 'urusan' lain yang merupakan keahlian aku dan gak akan kamu bisa debat, May."
Ucapan Galang barusan terdengar pelan bernada santai. Tapi tentu kalimat tadi bermakna ganda, menyebabkan pikiran Maya terpancing untuk memikirkan hal-hal lain yang membuat pipinya memerah. Segera Maya menggelengkan kepalanya, menghapus godaan setan yang bermunculan di otaknya.
Maya lalu berjalan menghampiri Galang, memperhatikan lebih dekat apa yang sedang pria itu ambil dan racik dari kulkas. Tiba-tiba ia jadi terpikir untuk menanyakan apa isi dalam lemari kayu antik di samping kulkas.
"Lang, lemari ini, isinya apa?" tanya Maya sambil mengetuk pelan pintu kayu kemari itu.
"Oh itu," Galang tersenyum. Tangannya tampak membuka salah satu laci kecil yang letaknya dibawah kompor, lalu mengeluarkan sebuah kunci. Galang lalu memasukkan dan memutar kunci pada lubang kecil di pintu kayu itu. Ia lalu menarik pintu lemari, menyebabkan bunyi decit yang terdengar cukup keras.
"Meet my guilty pleasure," ucap Galang sumringah, memperlihatkan jejeran koleksi botol-botol wine miliknya.
"Wah," respon Maya sambil mendecak kagum.
"Let's have a proper dinner this afternoon, okay?" tanya Galang sambil menutup pelan pintu lemari kayu miliknya itu.
Maya menjawab hanya dengan senyuman dan anggukan.
Tak menungu lama, Galang sudah larut dalam aktivitas memasak. Sesekali Maya membantu mencicip, mengambilkan beberapa bahan tambahan, menaruh pan ke westafel, dan terakhir, membawa makanan ke meja makan. Sekarang, mereka sudah duduk dan siap menyantap makan siang bersama.
***
Tepat setelah Maya meneguk air putih menyelesaikan makan siangnya, ia melihat Galang tersenyum memandanginya. Cepat-cepat Maya berkaca pada layar ponselnya. Khawatir ada secuil makanan yang menempel di wajahnya.
"Enggak, gak ada yang nempel kok di wajah kamu, May," kata Galang, menyadari pemikiran dan tindakan Maya. "Aku cuma mau bilang makasih buat waktu makan siangnya."
Alis Maya berkerut, "kok kamu yang makasih sih. Rumah ini rumah kamu, dapurnya dapur kamu, bahan makanan dan yang masak juga kamu. Justru aku dong yang harus berterima kasih?"
Galang menggeleng, "inget kan yang aku bilang bahwa aku udah kehilangan banyak banget berat badan karena gak enak makan dan ga enak tidur? Kamu tahu, May? Tidur semalam sebelum menjemput kamu adalah tidur paling damai yang pernah aku rasakan sejak dua bulan terakhir. Dan makan siang ini, adalah makanan yang paling enak yang pernah aku masak selama dua bulan terakhir ini juga. Itu semua karena ada kamu. Mungkin terdengar gombal atau sangat klise buat kamu. But that's the truth, that's how impactful you are to my life now."
Maya mengembuskan nafasnya, khawatir wajahnya memerah lagi karena ucapan Galang. Maya semakin yakin, sosok Galang yang ada didepannya memang seperti sosok baru dibanding Galang dua bulan yang lalu. Apa benar cinta bisa mengubah seseorang secepat ini, sejauh berbeda ini?
"'So, thank you, Maya, terimakasih sudah memperbaiki kehidupan dan perasaan aku, " ucap Galang sekali lagi.
"I thank you, too, Galang," lirih Maya lalu cepat-cepat ia meneguk lagi sisa air putih di gelasnya untuk menyembunyikan rasa panas di wajahnya.
Maya sedang berdiri di depan pintu, menunggu Galang yang sedang merapikan kemeja dan menurunkan lengan bajunya setelah selesai mencuci piring bersama. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, mungkin ada baiknya ia tanyakan sekarang daripada ia nanti terlupa.
"Oh iya, Lang. Tadi pagi, aku kejatuhan kelopak bunga. Rada aneh sih, ada bunga dari langit-langit. Ini bunganya," Maya menunjukkan layar ponsel yang menampilkan potret bunga daisy tadi pagi.
Galang mendekat untuk melihat layar ponsel Maya, ia lalu terlihat begitu kaget dan mundur satu langkah. "Mana bunganya, May?" tanyanya sedikit berteriak.
Galang memperhatikan lekat-lekat bunga itu, mencium aromanya, lalu memperlihatkan wajah gusar sambil memandang Maya. "Kamu gak kenapa-kenapa, kan?" tanyanya sambil membalik dan memutar badan Maya.
Maya menggeleng dengan heran, "gak kenapa-kenapa, kok. Emang kenapa sih?"
Galang tampak berpikir keras, lalu menjawab pelan. "Sejauh yang aku tahu dalam hidupku, bunga daisy selalu terkait pada Ratri. Ya, Ratri sangat menyukai bunga daisy."
Bersamaan dengan penjelasan Galang, Maya langsung berjingkat ngeri. Ia sontak merapatkan tubuhnya pada Galang.
"Serius, Lang? Jangan bercanda! Gak lucu ih!" keluh Maya dengan manik mata yang membesar.
Seketika wajah Galang berubah, ia malah terkekeh melihat perubahan sikap Maya. Baru kali ini ia melihat sisi Maya yang ketakutan tentang hal mistis.
"Hahaha, ih parah deh kamu, May. Kamu takut? Ini kan siang bolong!" kata Galang masih sambil tertawa.
"Ya jelas lah. Aku mah ga bakal takut kalau siang bolong atau bahkan tengah malam sendirian! Yang aku justru takutin adalah, kalau aku pikir aku sendirian tapi ternyata aku ga sendirian! Ih jangan ketawa!" Maya memukul bahu Galang yang masih berguncang karena menahan tawa.
"Duh, sorry, sorry. Sebentar, kita jangan main asal tebak dulu. Rumah ini kan yang ngurus si Rayyan tuh. Gue tanya dulu sama dia ya, kapan terakhir kali dia ngunjungin rumah ini."
Maya mengangguk, manut saja pada ide Galang. Tetapi, ia tetap mengintil di belakang pria itu saat bosnya mulai menghubungi Rayyan dengan ponsel.
"Halo Ray," ucap Galang saat telepon terhubung.
"Gue mau nanya nih soal rumah. Kapan terakhir kali lo kesini?" tanya Galang langsung ke intinya.
"Tadi malem? Hah? Kok bisa? Cepet banget! Wah gila ya lo berdua?!! Trus lo make out di rumah gue? Wah, awas aja kalau ada bukti lo macem-macem di rumah gue! Iye, gue emang gak kasih peraturan dan syarat tapi kan, gue jadi malu sama Maya! Eh-" kalimat Galang yang sedang marah-marah entah disebabkan oleh apa mendadak berhenti. Wajahnya langsung memerah.
"Nanti gue jelasin. Bye!" ucap Galang singkat seperti sengaja memaksa mengakhiri percakapan di telepon.
Maya yang sedari tadi berdiri di belakang Galang mencolek bahu pria itu dan bertanya, "hey, ada apa?'
Galang menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu tersenyum malu. "Ehehehe, itu..."
***
Detik berikutnya, Maya justru sudah berada di dalam mobil Galang. Kali ini ia sudah duduk di audi hitam mewah milik bos TechnoMedia. Mobil sewaan Galang sudah di jemput dan di kembalikan pagi tadi di kantor sebelum meeting di mulai.
"Kok mendadak pergi sih? Kita mau kemana? Kamu belum jelasin, aku bingung, tau!" keluh Maya sambil melirik tajam ke arah Galang yang sedang memasang seat bealt.
"Iya, tenang aja. Ini juga bakal aku jelasin. Tapi pakai dulu sabuk pengaman kamu, sayang," ujar Galang sambil menepuk sabuk pengaman yang ia pakai.
Maya hendak protes terhadap kata terakhir yang Galang ucapkan, tetapi mesin mobil sudah menyala dan Maya tidak ingin mengganggu konsentrasi pria disampingnya saat mengeluarkan mobil dari garasi parkir.
"Jadi," Galang mulai membuka percakapan. "Selama aku cuti, aku minta Rayyan sering-sering ke rumah. Ganti bahan makanan, panggil cleaner ke rumah. Yah pokoknya mastiin kalau rumah selalu dalam keadaan bersih rapi dan langsung bisa aku tinggalin."
"Lalu, cecunguk satu itu, ternyata, semalam baru aja kencan di rumah aku dan jadian sama Kinasih. Dia adalah putri kedua dari Pak Wijaya, mentorku sekaligus ayah dari Ratri."
Kalimat Galang barusan membuat Maya menoleh dengan alis berkerut.
"Ternyata, bunga kesukaan Kinasih sama persis dengan bunga kesukaan kakaknya, Ratri. Jadi, Rayyan nembak Kinasih dengan membawa bunga daisy. Dan setelah Rayyan di terima, ia lempar lah bouquet bunga daisy itu. Mungkin ada satu kelopak yang nyangkut di langit-langit rumah. Begitu," jelas Galang.
Maya mengangguk, lalu ia terpikir sebuah pertanyaan. "Mereka udah lama kenal?"
"Nah itu dia, May! Cepet banget mereka jadian! Padahal baru kenal dua minggu yang lalu, mungkin. Uh sial. Bisa-bisanya aku kalah sama si Rayyan," keluh Galang sambil memukul setir kemudinya.
"Kalah?"
"Eh, itu... Maksudnya, lebih dulu berbalas gitu perasaannya pada orang yang ia sukai. Rayyan udah lama banget suka sama Kinasih. Cuma gak pernah berani ngedeketin ya karena dia anak Pak Wijaya. Tapi, sebelum aku cuti 2 minggu yang lalu, Pak Wijaya dan Kinasih justru mengundang Rayyan buat datang ke rumah mereka. Makanya aku kaget banget mereka udah jadian, ck ck," kata Galang sambil menggelengkan kepalanya.
Maya mengangguk paham dengan penjelasan Galang, sekaligus merasa lega bahwa tidak ada hal mistis yang terjadi seperti dugaan mereka. Apalagi jika hal itu ada kaitannya dengan Ratri, uh, Maya sangat tidak minat berurusan dengan arwah.
"Terus, sekarang kita mau kemana?" tanya Maya, teringat akan pertanyaannya yang belum Galang jawab.
"Kita, mau ke toko bunga. Beli bunga daisy, sekaligus nyekar ke makam Ratri. Yah aku juga pengen ngenalin kamu ke dia, May. Sekaligus minta maaf sudah salah duga soal siang tadi," jelas Galang.
"Tunggu, ngenalin dalam rangka apa?" tanya Maya heran.
"Ya, ngenalin kekasih baru aku, lah," jawab Galang singkat.
"Kekasih? Sejak kapan?!" Maya mengerutkan alisnya, heran tak berkesudahan.
"Sejak siang ini," jawab Galang sambil mengentikan mobilnya telat di parkiran sebuah toko bunga.
"Maya, izinkan aku jadi pacar dan kekasih kamu, ya? Kamu mau bunga apa? Nanti aku belikan di dalam," ucap Galang sambil melempar pandangan ke arah toko di depan.
"Hah?"
"Bunga apa? Kamu mau bunga apa?" tanya Galang sekali lagi.
"Uh," Maya mengigit bibirnya. Kewalahan dengan pertanyaan Galang. "Mawar putih," lirihnya.
"Okay, kalau aku balik lagi dengan mawar putih, kamu jawab ya pertanyaan dan permintaan izin aku tadi." Galang lalu keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam toko dengan tenang.
Sementara itu, di mobil Maya mencengkeram dadanya dan menghembuskan nafasnya. Kedua tangan Maya mendekap pipinya yang terasa panas. Apa, apa jawaban yang harus ia berikan? Maya menjadi semakin panik saat melihat sosok Galang sudah keluar dari pintu toko dan berjalan ke arah mobil.
Galang membuka pintu dan duduk di kursi kemudinya. Ia langsung menoleh pada Maya dan bertanya, "gimana, May? Diizinkan kah aku jadi pacar dan kekasih kamu?"
Maya menutup mata, mengigit bibirnya, merasakan darah yang berdesir keseluruh tubuhnya. Ia membiarkan tubuhnya merespon dan bergerak sesuai naluri. Perlahan, Maya mengangguk pelan. Bibirnya membuka dan berbisik pelan, "iya, aku izinkan."
Galang menghembuskan nafas lega, ia lalu menyerahkan bouquet bunga mawar putih. "Terimakasih," ucapnya.
Maya menerima bunga pemberian Galang masih dengan menunduk malu. Tidak ia duga hari ini bisa begitu banyak kejadian aneh.
"May," sapa Galang lembut. "Aku tahu kamu masih belum mencintai aku. Dan mungkin masih ragu dan butuh waktu. Aku sabar kok menanti. Jadi, nanti tiap hari aku akan ngecek perasaan kamu. Apakah kamu sudah cinta atau belum ke aku. Di jawab jujur, ya," pinta Galang yang dijawab anggukan pelan oleh Maya.
"Aku janji, aku akan berusaha keras dan melakukan apapun itu untuk membuat kamu jatuh cinta dan yakin sama aku, May. Doakan dan iringi langkah aku, ya," kata Galang lagi sambil tersenyum.
Maya tidak hanya kehabisan kata, ia juga merasa sangat malu dihadapan Galang. Pria itu begitu sopan dan lembut memperlakukan Maya. Meminta izin untuk segala hal yang akan ia lakukan dan perbuat pada Maya. Ah, ia mulai merasakan perutnya bergejolak. Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan didalam sana.
Tanpa Maya ketahui, Galang yang tengah memegang kendali kemudi menggenggam erat setir. Kalau saja tidak ada orang di dekatnya, sudah pasti ia akan berteriak puas dan merasa lega. Langkahnya semakin dekat dengan kemenangan yang telah lama ua nantikan.
Susah payah menahan diri untuk tidak tersenyum sepanjang jalan, Galang perlahan juga membatin.
'Dear Ratri. Aku yakin kamu pasti akan sangat senang mengenal Maya. Dia perempuan baik dan seperti kamu, ia memiliki cinta yang sangat luar biasa. Suatu saat nanti ia akan mencurahkan cinta itu hanya untukku. Bunga daisy yang Rayyan lempar ke langit-langit itu, apakah juga tanda bahwa kamu juga menerima Maya? Ah, Ratri, Aku saat ini sedang bahagia. Aku telah sangat jatuh cinta pada perempuan yang duduk malu di sampingku."
***
Halo pembaca yang baik!
Semoga sehat-sehat selalu ya.
Episode ini tembus 3000 kata. Yey! Puas menulis dan membaca tuntas ya.
Jangan lupa like, komen dan vote ya!
Love, Author.