The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Exquisite



Yrene sedang mencuci tangannya bersiap untuk menyuapi Ianvs semangkuk kecil puding vanilla. Sementara bocah kecil itu sedang sibuk menggebu-gebu bermain air di kolam ikan yang baru di bangun minggu lalu. Kolam itu sekarang berisi ikan-ikan kecil berwarna-warni  yang sama bersemangatnya dengan Ianvs.


"Guu... Guu..." ucap Ianvs memajukan bibir nya dan berusaha menggapai kakinya yang basah oleh air kolam.


Ikhsan menahan nafasnya dan merasa sedikit tekanan di bagian perutnya. Ia lalu memperbaiki posisi jongkok di pinggir kolam dan tak lama kemudian akhirnya menyerah. Hup! Ia berdiri dan mengangkat bocah kecilnya yang sedikit meronta-ronta tak setuju pergi dari kolam ikannya.


"Hi baby, kenapa sayangnya ibu nih? Kok nangis?" tanya Yrene yang segera mengambil alih Ianvs dari gendongan Ikhsan.


"Lumayan juga ya ini anak ayah! Bisa sekalian latihan angkat beban buat otot ayah nih sambil gendong Ian!" goda Ikhsan pada bocah lelakinya yang sekarang sudah duduk tenang di kursi tinggi. Ianvs terlihat bersemangat melihat ada mangkuk cemilan di hadapannya. Segera tangan kecilnya menggapai-gapai udara.


Seraya terkekeh, Yrene menyuapi Ianvs dan kembali tergelak saat bocah itu berkomentar, "Yum! Yum! Yum!"


"Waduh! Ampun deh bos! Udah kaya bocah gede aja!" komentar Ikhsan saat melihat ekspresi Ians yang tengah menikmati pudingnya dengan pipi menggembung.


Saat Yrene bersiap menyuap Ianvs lagi, ponselnya bergetar tanda ada panggilan masuk. Dan ketika ia dapat melirik dengan tepat layar ponselnya, Yrene mendapati nama Tania. Ia lalu menyerahkan mangkuk yang ada ditangannya pada Ikhsan.


Melirik Yrene yang melangkah menjauh untuk mengangkat teleponnya, Ikhsan entah kenapa merasa sedikit gusar di hatinya. Hari dimana ia menebak akan mendapatkan kabar yang tidak begitu menyenangkan untuknya seperti telah mendekat tiap kali ada seseorang yang menelepon Yrene atau paket berupa kartu undangan pernikahan. Menghela nafas, ia memilih untuk kembali fokus pada bocah kecil yang sudah mulai tak sabar lagi untuk menyambut suapan puding berikutnya.


Tak lama, Yrene sudah kembali kepada dua lelaki pujaan hatinya yang kini sudah berada di kamar. Satu lelaki kecil tambun itu sudah tidur dengan posisi menyamping, membuat pipinya seperti tumpah ke kasur. Ianvs tampaknya sudah lelah bermain sepanjang pagi bersama ayahnya. Sementara itu Ikhsan, meski tidak tertidur, ia tetap memejamkan mata.


"Yang," sapa Yrene saat duduk di samping ranjang tempat Ikhsan berbaring.


Ikhsan menarik keningnya, memaksa matanya terbuka. "Hmm?" jawabnya sambil memutar badannya ke samping, memeluk Yrene.


Tangan Yrene mengelus puncak kepala suaminya itu. Menenggelamkan jemarinya pada rambut Ikhsan yang kini dibiarkan tumbuh sedikit panjang. Yrene masih diam, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu untuk dibicarakan.


Menyadari itu, Ikhsan berusaha duduk memperbaiki posisi. Setelah duduk sejajar dengan Yrene dan menggenggam tangan kanannya, benar saja, istrinya itu lalu memberikan sesuatu dari tangan kiri yang tadi tersembunyi disamping tubuh rampingnya.


"Apa itu?" tanya Ikhsan, enggan memegang amplop berwarna putih keemasan yang ada di tangan istrinya.


Manik mata Yrene menggerling sendu, paham dengan seperti apa perasaan yang akan Ikhsan alami. Rasa yang tidak nyaman tetapi harus seolah turut berbahagia. Sungguh menyesakkan.


"Maya and Galang's invitation," lirih Yrene.


Keduanya diam sejenak, larut dalam pemikiran dan perasaan masing-masing. Yrene ingin turut berbahagia, sahabatnya itu akhirnya menikah dan telah melanjutkan hidup dengan baik-baik saja. Tetapi ia dan Maya, bahkan dengan sahabat yang lain juga sudah tidak berkomunikasi satu sama lain berbulan-bulan lamanya. Apakah ini berarti Maya memilih untuk tidak lagi berada di lingkaran yang sama? Perasaan itu mengundang panas pada pelupuk mata Yrene.


Sementara itu, sambil meletakkan kepala di bahu istrinya. Ikhsan berbisik pelan, "kamu mau datang ke acara akadnya?"


Tersenyum tanpa menoleh pada Ikhsan, Yrene kemudian berkata, "Sayang, aku gak bilang ini wedding invitation loh."


Yrene menyodorkan lagi undangan yang ada di tangannya. Tetapi Ikhsan masih enggan mengambil dan melihat sendiri isi dari undangan itu.


Menghela nafas, Yrene menjawab sambil memandangi wajah suaminya. "Mereka nikah hari ini. Di Makkah, sekalian umroh. Ini dinner invitation bulan depan. Mereka justru ga ngadain resepsi, hanya undangan dinner ini, as a Mr. and Mrs. Rahardja."


***


Masjid Al-Haram pagi itu terasa tenang. Setiap insan yang berlalu-lalang berada pada jalur rotasi dan doanya masing-masing. Bermashyuk khusyuk, beribadah pada sang pencipta. Berlafadz tanpa henti, bertasbih tak kenal waktu. Tak hanya itu, berbagai macam orang juga berkumpul membentuk lingkaran kecil di beberapa tempat, dan diantara salah satu kumpulan dalam lingkaran itu, ada Galang yang duduk disamping seorang penghulu yang ditugaskan dari KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) di Jeddah.


Suasana tampak khidmat dan sakral diantara jutaan doa yang melangit pada waktu yang bersamaan. Sebagai pengantin pria, Galang menggunkaan jubah dan tudung putih. Senada dengan Galang, Maya juga di balut kain dan hijab putih mewah nan nyaman. Setiap orang yang melihat lingkaran ini, pasti langsung dapat mengidentifikasi siapa pengantin dalam lingkaran ijab pernikahan ini. Tak lupa, beberapa pihak pengamanan dari Masjidil Haram juga tampak berjaga, hal ini guna memastikan proses akad nikah berjalan tenang, aman dan khidmat.


Galang beberapa kali berdehem memastikan suaranya tidak akan bergetar saat mengucap akad suci yang akan berlangsung beberapa menit lagi. Sang penghulu yang berdiri diantara Galang dan Arya sebagai wali dari pengantin wanita, menggantikan almarhum ayahnya. Tak hanya Galang yang terlihat gugup, Arya pun juga begitu beberapa kali Arya tampak mengucapkan tanpa suara lafadz ijab dalam bahasa arab yang sudah tertera di sebuah papan kertas yang nanti akan ia baca sebagai panduan.


Selepas doa pembuka, penghulu langsung mempersilahkan proses ijab kabul dimulai. Maya mulai mendengar isak tertahan ibunya dan ibu Galang yang duduk bersimpuh mendampingi Maya. Suasana sebenarnya cukup ramai tetapi saat Arya memulai ucapan basmallah dan lafadz akad, suara Arya seakan bergaung jernih di gendang telinga kelompok lingkaran kecil itu.


Menjabat erat tangan Galang, pandangan Arya sendu. Ia seolah merasakan hangat pada pundaknya. Seperti kebiasaan sang ayah, almarhum Bapak Mahadi yang suka menggandeng pundaknya dulu semasa almarhum hidup. Seakan memberi pesan bahwa sang ayah bangga dan berterimakasih telah digantikan tugasnya menikahkan adik tercinta.


Menarik nafas dengan tenang, Arya membuka mulutnya, "Ya, Galang Rahardja, ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka Kartika Kancanamaya binti Mahadi  alal mahri min dhahab hallan.”


Galang menggenggam erat tangan Arya dan dalam satu hela nafas, bibirnya berucap, "Qabiltu nikahaha wa tazwijaha maula Kartika Kancanamaya binti Mahadi alal mahril madzkur hallan."


"Sah, Mubarak!" ucap sang penghulu yang langsung menyambut dengan doa syukur untuk kedua mempelai.


Air mata Maya menetes tanpa ia sadari, sekujur tubuhnya masih merinding mendengar namanya ada diantara lafadz ijab dan kabul tadi. Masih larut dalam perasaan haru didalam pelukan Mama Maya dan Ibu Galang, Maya sempat melihat Galang yang juga menangis tersedu dalam pelukan ayahnya.


Pagi itu, langit yang cerah menurunkan gerimis tipis mengukir pelangi kecil dia atas ka'bah, mungkin semesta ikut merayakan betapa sebuah kesabaran dan penantian akan berbuah manis. Dan betapa takdir tuhan jauh lebih baik dari pada prasangka terbaik umatnya.


Setelah pelukan-pelukan haru itu reda, Galang menarik nafas dalam-dalam. Melepaskan beban yang selama sebulan penuh ini seolah bertengger di pundaknya. Berbagai pikiran berkecamuk membuatnya semakin ingin larut dalam rasa syukur yang mengundang panas pada wajahnya. Tetapi rasa itu segera sirna saat ia melihat Maya, pengantinnya, istrinya pagi ini digiring oleh ibunya mendekat pada tempat ia berdiri.


Galang tersenyum, atas seluruh pencapaian dan perjuangannya selama ini, mendapatkan Maya sebagai pendamping hidup adalah anugerah terbaik dalam hidupnya. Perempuan berbalut hijab putih dengan tiara diatas kepalanya itu memberi senyum balasan pada Galang. Membuat Galang sejenak kehilangan nafas, tak sabar segera memeluk erat gadis ini saat beristirahat malam nanti dari lelahnya perjuangan mempersiapkan pernikahan.


***


Selamat berbahagia manusia-manusia yang telah dikaruniai orang-orang penuh kasih dalam hidupnya.


Selamat berbahagia pula orang-orang yang bersabar menanti hari mereka dipertemukan dengan orang yang menyayangi sepenuh hati.


 


Love, Author.