
Maya terbangun di ruangan tidur yang tidak ia kenali.
Ia menolehkan kepalanya yang terasa berat ke samping kanan dan mendapati foto Galang memeluk seorang wanita.
Wanita itu tersenyum sumringah sampai matanya hanya tersisa segaris.
Rambut wanita itu terurai sampai ke siku, berwana hitam kecoklatan dan sangat lurus.
"Ah, itu pasti Ratri" ujarnya pelan.
Maya tidak perlu merasa panik bak adegan-adegan yang umum ada di drama yakni terkejut bangun di atas tempat tidur pria.
Jika benar dugaannya, ini pasti tempat tidur Galang. Dengan begitu, ia tidak akan perlu khawatir ada cerita apa dibalik ini semua.
Dengan tenang, Maya mencoba duduk dan mencari tas untuk mengambil ponsel.
Dari ujung mata Maya, ia menangkap sebuah surat di atas meja. Di sebelah meja pula ada segelas air putih dan 1 bungkus roti.
Maya membuka suratnya dan mulai membaca.
"Sorry I have to take you to my home.
You set your appartement key with a password and I hold myself to not wake you up to get the password.
So I take you to my home.
Drink some water, and eat the bread.
Then, call me" begitu ucap Galang dalam kertas.
Maya menurut saja, setelah menghabiskan minuman dan rotinya, ia lantas menelepon Galang.
"Lang, thank you" ucap Maya begitu mendengar nada telepon diangkat dari seberang.
"Sorry, semoga lo gak salah paham"
"Engga kok. Makasih udah repot-repot ngurusin gue, Lang"
"Gak juga, malah kalau membiarkan lo sendirian di apartement lo gue nya yang khawatir.
Rumah gue udah gue set aman lingkungannya untuk orang yang punya panic attack kaya gue" nada suara Galang sungguh menenangkan.
"Hm mh, gue udah habisin sarapannya. Ini mau pulang, gue pakai taksi aja"
"Jangan! Ng, gue anter aja. Ini lagi gak sibuk kok!"
Tepat saat Galang menjawab, terdengar suara Rayyan teriak "Lang, Awas! Jangan kabur lagi lo, woy!"
Maya tertawa kecil, ia geli sekali mendengar Rayyan sudah frustasi dan berani meneriaki bosnya sendiri.
"Ok, hati-hati. Bye" kata Maya kemudian.
"Bye" jawab Galang singkat dan segera mematikan telepon. Saat Galang mengangkat wajahnya, Rayyan sedang memelototinya.
***
Maya baru saja selesai mengikat rambutnya tinggi-tinggi saat mobil Galang masuk ke dalam parkiran rumah.
Segera Maya keluar dari kamar Galang dan berlari untuk membuka pintu.
"Ups!" keduanya kaget, Maya membuka pintu dan Galang baru saja berdiri didepan pintu sambil memegang kunci.
"Gue pikir lo masih rebahan" ujar Galang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"I'm okay, yuk pulang!" tukas Maya singkat sambil cepat-cepat membalikkan badannya, ia dengan segera mengambil tasnya.
Ini sudah pukul 10 pagi dan Maya belum mandi. Tentu Maya tidak ingin berlama-lama ada di hadapan bos nya.
"Lo udah baikan?" tanya Galang, Maya tak menjawab tapi hanya menganggukkan kepalanya.
"Hm, nanti kita lunch bareng ya? Yah early lunch sih. Nanti, Gue tungguin lo mandi" ujar Galang lagi saat Maya hendak memasuki mobilnya.
***
Matahari mulai mendaki ke puncak kedudukannya dan jam mulai menunjukkan pukul 11.
Di sebuah ruang meeting sewaan dari hotel, tampak 3 orang pria sibuk bekerja dengan laptop masing-masing.
Beberapa lembar kertas dan folder tergeletak berantakan di sebuah meja bundar di tengah ruangan.
"Okay, udah Oke nih! Lusa udah bisa lah demo prototype. Sorenya udah bisa cabut juga!" Ujar salah satu dari mereka tanpa memalingkan pandangan dari laptop miliknya, pria ini rambutnya di cat dengan warna hijau elektrik.
"Gue juga udah Ok! Udah trial di semua platform, lancar jaya!" sahut salah seorang lagi yang tampak paling tua dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya.
"Sip, udahan aja nih? Sore ini jadi main ke studio game TechnoScience kan ya. Eh besok kosong dong?" tanya pria ke tiga sambil menutup laptopnya, dia Ikhsan.
Ikhsan membuka sweaternya dan menyisakan kaos oblong putih dan celana jeans.
"San, lucu juga ya lo. Udah mau jadi bapak tapi kaga keliatan ke-bapakannya" Si rambut ubanan terkekeh sambil membereskan kertas yang berantakan.
"Ya gue kan baru Mas usia kepala 3. Mending lah masih keliatan muda, dari pada Mas Giwok usia masih 35 rambut udah 55" jawab Ikhsan.
"Udah-udah. Cabut yuk, lapar! Nge-sego pecel deket SMA gue dulu aja ya! 15 menit lagi gue pesan taxi online!" ajak si rambut elektrik.
Ikhsan dan Giwok mengangguk, mereka bertiga berpisah untuk kembali ke kamar hotel dan bersiap untuk pergi makan siang.
Di dalam lift, hanya ada Giwok dan Ikhsan. Si rambut hijau elektrik mungkin pergi entah kemana, tapi mereka bertiga sudah berjanji akan bertemu di lobby.
Giwok tampak memperhatikan lekat-lekat Ikhsan. Sedetik kemudian Mas Giwok mencolek siku Ikhsan.
"Ck. Apaan sih Mas?" keluh Ikhsan sambil berdecak.
"Lagak lo, San! Masih belum buka mulut juga lo? Siapa cewek yang duduk di samping Pak Galang kemaren? Mata lo ga lepas ngeliatin dia! Haha" Giwok terkekeh geli menangkap ekspresi Ikhsan.
"Ah, siapa? Itu? Itu temen SMA gue dulu. Kaget aja gue dia ternyata kerja disitu lama gak ada kabar. Temen istri gue juga kok itu" ujar Ikhsan berusaha agar nada suaranya normal.
"Alah, *** kucing. Temen doang mah kaga mungkin. Wong, dia nya juga gak berani ngeliat ke arah lo kok pas lo presentasi! Hahay!"
"Ah, banyak omong dah lo Mas! Gue cabut!" Ikhsan berjalan cepat keluar begitu pintu lift terbuka.
"Hahay! Eh cetekan kompor! Kamar lo arah sini! Hahaha" Mas Giwok tertawa puas melihat Ikhsan berjalan ke arah yang salah dan segera kabur setelah digoda lagi oleh Giwok.
***
Sesampainya di kamar, Ikhsan melemparkan laptopnya ke tempat tidur dan mengacak-acak rambutnya.
"Ah, sial! Giwok kampret banget tuh orang!" umpat Ikhsan kesal dengan godaan Giwok.
Ia kemudian berbaring di tempat tidur dengan siku menutup matanya.
Rasa hangat menjalar ke seluruh matanya membuat otot-otot mata yang sedari tadi kencang menatap layar laptop perlahan mengendur.
Sepintas, terbayang olehnya suara dia kala itu.
"Selamat Pagi, selamat datang di..."
Ya, itu suara Maya.
Maya yang saat itu sama terkejutnya dengan Ikhsan ketika mereka bertatapan di ruangan meeting tidak dapat menyelesaikan kalimat sapanya.
Untungnya diruangan itu banyak orang sehingga mudah untuk memalingkan pandangan dan fokus pada pekerjaan mereka.
Maya terlihat cukup shock, tapi ia dapat menyesuaikan dengan baik.
Ikhsan ingin sekali menyapa dan bertanya tentang pertemuan yang kebetulan ini.
Juga tentang kenapa Maya tiba-tiba pindah kota dan beberapa pertanyaan lainnya yang tiba-tiba muncul di benak Ikhsan.
Tapi ia urungkan sebab waktunya tidak tepat.
Ikhsan, seperti kembali pada masa dimana ia pertama kali bertemu Maya di jaman SMA dahulu.
Maya dengan lanyard merah nya sebagai reporter sekolah.
Maya dengan kuncir rambutnya yang tinggi. Maya yang energik dan menyenangkan.
Menghabiskan waktu berbicara dengan Maya seperti menghabiskan sebungkus keripik kentang favorit Ikhsan. Begitu cepat nan singkat seperti air panas yang menguap.
Memori Ikhsan sejenak memutar momen dimana ia pertama kali berbicara dengan akrab pada Maya.
Di ruangan perpustakaan sekolah yang sudah cukup sepi di sore hari.
Dari sejak awal masuk SMA, Ikhsan mendapati gadis itu selalu menarik perhatiannya.
Karyanya selalu muncul di mading sekolah. Ia satu-satunya anak kelas 1 SMA yang masuk jajaran tim majalah sekolah. Salah satu tim elite yang berprestasi.
Beberapa alumni SMA dari team majalah sekolah berseliweran di TV nasional. Ada yang menjadi reporter TV terkenal, news anchor, bahkan mempunyai acara show sendiri.
Dan Maya, tidak kalah berprestasi. Ia sekarang menjadi chief editor di perusahaan techno-media tempat Ikhsan menawarkan jasa IT nya.
Di usia semuda itu dan jabatan sepenting itu.
Ah... Maya memang hebat. Ia sungguh konsisten dalam karir dan hobinya, gumam Ikhsan.
Gaya kuncir kuda nya masih sama seperti saat Maya mewawancarai Ikhsan untuk pertama kalinya.
Warna lanyard yang menggantung di leher Maya, masih berwarna Merah. Itu pasti warna kesukaan Maya.
Tapi lanyard merah memang cocok untuk Maya, membuatnya lebih energik dan menyenangkan.
Apalagi jika Maya dengan lanyard merahnya ada dalam sebuat potret, potret itu pasti akan hidup dan dapat bercerita tentang karakter Maya.
Tanpa Ikhsan sadari, bibirnya mulai terangkat tipis. Ia tersenyum.
Mengingat kisah potret Maya saat masa SMA dahulu.
Potret itu, bukankah masih ia simpan?
Kening Ikhsan berkerut mengingat-ingat dimana lokasi folder tempat ia menyimpan beberapa foto Maya.
Ah ya, beberapa.
Ikhsan ingat beberapa momen dimana ia mengambil candid potret Maya.
Saat Maya menjadi panitia pemilihan ketua osis, saat Maya menjadi perwakilan media sekolah untuk pertukaran pelajar ke New Zealand, saat Maya dikerjain tim majalah kampus dengan lemparan telor dan tepung di hari ulang tahunnya, dan banyak lagi.
Tapi, Ikhsan sangat ingat foto Maya yang paling berkesan.
Yaitu, foto saat pengumuman kelulusan sekolah.
Maya tidak seperti anak lainnya yang heboh berpelukan dan berisik seraya berfoto sana-sini.
Ia duduk tenang, matanya nanar memandang kerumunan tim majalah sekolah yang sedang berkumpul tertawa-tawa dari jauh.
Ah, apa yang saat itu Maya fikirkan? Apakah saat itu Maya sedang sedih akan berpisah dengan teman-teman tim majalahnya?
Ikhsan ingat, saat itu ia dengan cepat mengambil kamera dari tas nya dan memotret Maya untuk terakhir kalinya.
Justru ekspresi Maya pada potret terakhir itulah yang tak pernah ia lupakan.
Ikhsan tiba-tiba mengerjap, ia teringat sesuatu dan cepat membuka dompetnya.
Jari-jarinya cepat menelaah beberapa kartu dan berhenti disebuah nama.
Galang Rahardja.
(Chief Executive Officer)
Dibawah nama Galang, ada list nama dan nomor kontak lain:
Rayyan Akhmad, Asst.
Kartika Kancanamaya, Chief Editor.
Astuti, Marketing.
Ikhsan mengigit bibir bawahnya dan memutar kartu nama Galang di sela-sela jarinya.
Tok! Tok! Tok!
"San! Ayo, Taksi nya udah datang" Teriak Giwok dari luar pintu kamar hotel.
Ikhsan sedikit terkejut. "Iya! Coming! Sabar!" ujarnya seraya mengetik sebuah nomor dan dengan segera menyimpannya.
***
Galang mengetuk jemarinya ke meja makan sebuah restoran outdoor yang pemandangannya air sungai buatan dengan beberapa pohon bambu yang asri.
Di depannya ada Maya yang sedang memandangi buku menu.
"Lang.." desah Maya.
"Nope! You should eat" tukas Galang acuh tanpa menunggu kalimat penuh dari Maya.
Maya sudah berulang-kali melihat deretan menu makanan dan tidak ada satupun yang menarik minatnya.
"Okay. I will pick one for you" lagi-lagi Galang mengambil keputusan tanpa menunggu Maya. Ia lalu mengangguk tanda bahwa ia akan memesan makanan pada pelayan yang sedari tadi menatap Galang dari meja order.
Galang memesan 2 beef stroganoff with mushroom sauce, dan 2 cool honey lemon.
"Siang-siang pasta?" tanya Maya, meski ia sebenarnya tidak protes. Toh, ia juga tidak tahu harus memesan apa.
Galang hanya tersenyum, "Try first. Thank me later" jawabnya singkat.
Angin berhembus pelan, meski mentari cukup terik namun suasana di restoran itu cukup sejuk.
Barisan pohon bambu menambah teduh area outdoor. Daun-daun pohon bambu baru saja pada berganti, semuanya berwarna hijau segar.
Suara air yang mengalir di sungai membuat perasaan Maya menjadi lebih tenang.
Di ujung aliran sungai buatan tersebut ada genangan kolam dan bebatuan yang cukup besar.
Tampaknya lokasi ini bisa dimanfaatkan untuk spot foto.
Prewedding mungkin?
"Tempatnya bagus ya" ujar Maya membuka pembicaraan. Ia memalingkan pandangannya, tak sanggup melihat Galang yang duduk didepannya dengan pakaian kerja.
Bagaimana ia sanggup? Saat ini... oh bukan, dari kemarin hingga saat ini ia begitu merepotkan Galang.
Membuat Galang menanggung amarah dan depresinya, membuat Galang harus menggendongnya dari kantor ke apartment yang terkunci lalu membopongnya lagi ke rumah Galang.
Sekarang, Galang ada disini berusaha memastikan Maya agar makan siang dan kembali sehat serta baik-baik saja.
"You owe me a story, by the way. Nothing in this life is free" ujar Galang sinis. Sedetik kemudian ia tertawa, menandakan kalimat tadi hanyalah bercanda.
"Hm..." Maya menghela nafas.
"Makan dulu aja" tukas Galang tepat saat pelayan membawa makanan mereka.
"Wah!" kata itu meluncur begitu saja dari Maya saat melihat pasta yang diletakkan pelayan di atas meja mereka.
"Mouthwatering isn't it?" tanya Galang puas.
Maya mengangguk dengan semangat. Entah dengan mantra apa, rasa lapar menjalari lidah dan perut Maya.
Pilihannya tepat untuk menyerahkan menu pada Galang.
Galang mengambil penjepit pasta, mengambil pasta secukupnya dan meletakkan di piring Maya.
Maya tampak antusias mencicipi beef stroganoff yang masih hangat. Maya menyuap satu sendok pasta stroganoff ke mulutnya.
Harum creamy pasta yang masih sedikit berasap merebak di mulutnya. Potongan daging yang lembut dan gurih menambah sensasi nikmat dari gigitan ke gigitan berikutnya.
Disela tiap gigitan, ada rasa mushroom sauce yang lumer dan meleleh, menjadi pelengkap rasa yang begitu menggugah selera.
Galang tersenyum bangga ia cukup senang dengan reaksi Maya.
Sejujurnya, ia juga merasa tidak keberatan berada disamping Maya dan mendampinginya melewati masa sedih yang entah disebabkan oleh apapun itu.
Masih banyak potongan informasi yang Galang belum pahami.
Tetapi, ia toh tidak ada hak untuk mendesak Maya bercerita.
Memaksa Maya membuka cerita sedih saat ia belum siap hanya memperburuk suasana hati Maya saja.
Saat ini yang penting adalah mengembalikan semangat Maya yang tampaknya sudah runtuh menjadi abu.
Benar, Galang dengan sukarela sedang mengambil peran menjadi pendamping masa-masa sedih Maya.
Tugasnya hanya satu dan harus fokus pada satu itu, yakni membuat Maya bahagia dan melupakan kesedihannya.
Saat nanti Maya sudah kuat lagi seperti biasanya, Maya boleh memutuskan akan membagi kisahnya pada Galang atau tidak.
Semua terserah pada Maya.
Jika Maya kembali seperti sedia kala, Maya akan banyak membantunya dalam pekerjaan.
Beberapa project bahkan sangat membutuhkan kehadiran dan keputusan Maya.
Ia harus bersabar menunggu Maya ceria kembali.
Galang hendak mengambil satu porsi stroganoff untuknya saat tiba-tiba sebuah chat dari nomor yang tidak dikenal muncul di ponsel Maya yang terletak di atas meja.
Sekilas terbaca isi pesan tersebut, "Hi May? Apa kabar? Maaf..."
***
Hi pembaca yang baik 🙋
Mohon dukungannya terhadap karya author dengan klik like dan berikan komentar 💞