The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
Exile



Giska berjalan menuju lantai atas galeri butik miliknya. Ia lalu membuka sebuah lemari dan mengambil sebuah dress putih dan jaket denim. Melangkahkan kakinya dengan cepat menuruni tangga, ia lalu berhenti di ruang ganti. Disana, ada Maya yang terduduk lesu sambil memeluk lututnya.


Benar, 30 menit yang lalu ia baru saja menjadi satu komplotan dengan Maya dalam misi melarikan diri dari pernikahan pagi ini. Perlahan, Giska menghampiri Maya.


"May, kita hapus make-up lo dulu ya. Trus nanti lo bisa ganti baju dengan dress ini. Masih baru kok ini. Salah satu barang jualan online gue dulu sebelum sibuk banget urusan butik," tawar Giska.


Mengangguk lemah, Maya beranjak ke meja rias yang berada tak jauh dari sofa yang ua duduki. Saat ia menutup mata, Giska mulai mengusap lembut kapas pembersih pada wajah Maya.


1 jam kemudian, wajah Maya sudah bersih. Ia bahkan sudah mengganti bajunya dengan dress putih dari Giska. Maya lalu duduk kembali seolah ia menunggu sesuatu.


"Gis, udah 3 jam sejak kejadian. Ga ada yang nelfon elo?" tanya Maya.


Giska yang sedang merapikan meja rias dan gaun pengantin bekas pakai Maya menjawab dengan gelengan kepala.


"Lo mau pakai HP gue buat ngabarin seseorang?" tanya Giska sambil menyerahkan ponsel yang sudah terbuka kuncinya.


Meski meragu, Maya mengambil ponsel Giska dan mulai mengetik rentetan nomor telepon seseorang. Setelah nomor itu lengkap, ia menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel Giska di telinganya.


"Halo," sapa suara diseberang dengan tenang.


"Arya, ini gue," lirih Maya.


Tidak ada tanggapan dari Arya.


"Lo mau dijemput, atau gimana?" tanya Arya setelah beberapa saat. Sebenernya ia sangat lega akhirnya Maya menghubunginya. Itu tandanya Maya sudah cukup tenang untuk menghadapi orang lain.


Maya menghela nafasnya, tak lama kemudian ia berkata, "gak usah, tolong antarkan semua barang-barang gue di koper ke alamat yang nanti gue kirim ke nomor lo. Maaf merepotkan."


Di ujung sana, Arya ikut menghela nafas. Tetapi abangnya itu tidak mendesak Maya dengan pertanyaan atau tuntutan penjelasan. Arya justru terdengar patuh saja terhadap permintaan Maya.


"Okay, nanti malam gue antar semua yang lo butuhkan tadi."


"Thanks, Arya. Gue berhutang banyak sama lo."


Saat telepon berakhir, Giska tersenyum sambil menepuk pundak Maya. "May, lo istirahat lah dulu. Pasti capek banget menghadapi ini semua. Gue lagi pesan delivery makanan, nanti kalau udah datang gue panggil lo lagi ya."


Maya tidak tahu lagi harus berbuat apa, ia sungguh merasa bahwa saat ini Giska seperti malaikat penyelamatnya. Baru saja Maya membuka mulutnya ingin mengucapkan rasa terima kasihnya, Giska justru memotong sambil tersenyum ramah.


"Sudahlah, yang penting saat ini lo istirahat dan menjaga kesehatan lo. Okay?! Gue pergi dulu sebentar ya."


Mengangguk dan membalas senyum Giska Maya lalu menatap kepergian perempuan yang belum lama ia kenal itu. Maya sebenarnya ingin sekali memeluk Giska dan mengucapkan banyak rasa terimakasih. Sebab Giska seperti sudah memberikan shelter perlindungan, tetapi entah kenapa Maya sulit untuk mengekspresikan rasa itu. Mungkin otak dan hatinya saat ini sudah merasa sangat kelelahan.


Maya lalu berbaring sejenak di sofa dan tak perlu menunggu lama, ia sudah terlelap begitu saja.


***


Sebuah pesawat mendarat mulus di kota tempat gedung TechnoMedia berdiri gagah. Dan ketika pesawat sudah berhenti total pada area parkir, Awak kabin segera membuka tirai bussines class untuk mempersilahkan penumpang elite nya turun terlebih dahulu.


Rayyan sudah berdiri dan melemparkan begitu saja koran yang ada di tangannya. Berita yang tercantum disana masih membuatnya muak. Nama Galang masih berseliweran dan bahkan kabar-kabar angin itu justru semakin ganas memberitakan hal yang berbau sampah. Entah siapa dalang yang membayar para penulis berita itu, yang pasti Rayyan niat sekali menelusuri dengan tuntas jalur busuk si pelaku.


"Lang!" tegur Rayyan mendapati bahwa.l bosnya itu tak juga beranjak dari tempat duduknya. Sejujurnya, Rayyan yang juga kelelahan merasa bahwa sisa stok kesabarannya hampir hilang tak bersisa. Ia terus dipaksa memahami dan menangani sikap Galang yang tak mudah diajak kompromi.


"Ayolah, Lang!" ajak Rayyan lagi, kali ini nada suaranya tak lagi membujuk. Rayyan bahkan tidak lagi menoleh pada Galang, mata dan jemarinya sudah sibuk membaca email kantor. Terlalu banyak hal yang harus ia urus begitu sampai di kota ini, terutama sejumlah urusan TechnoMedia yang telah tertunda.


Galang menyadari bahwa Rayyan sudah mulai muak dengan dirinya dan permasalahan cintanya ini. Untuk tidak menambah rumitnya konflik hari ini, Galang akhirnya bangkit berdiri dan mengikuti Rayyan keluar dari pesawat.


Saat menjejakkan kakinya yang baru turun dari tangga pesawat ke tanah kota ini, Galang merasakan sesak di dadanya.


"Maya," batinnya.


Dipikiran Galang sekelebat muncul wajah Maya yang menatapnya marah. Tak pernah Galang lihat Maya yang seperti itu. Sambil terus berjalan melangkahkan kakinya ke gedung bandara, Galang terus melayangkan pikirannya pada Maya.


"Apa perbuatan gue yang salah, Maya? What did I do? What should I do? What should I do to get to you again? How to fix everything? please let me know, please..."


***


Tiin!!


Sebuah mobil baru saja sampai dan parkir didepan studio Giska. Maya berlari ke arah pintu dan ternyata Giska sudah menunggu disana.


"Itu, abang lo?" tanya Giska yang dijawab anggukan oleh Maya.


Perasaan Maya bercampur aduk harus menghadapi Arya. Tetapi, gundah itu segera sirna ketika Arya adalah orang yang justru berjalan cepat menghampiri Maya. Tak ia duga, Arya lalu memeluk Maya erat. Seolah mereka tak bertemu satu dekade lamanya.


"Maaf ya, May. Maaf lo harus menghadapi hari seberat ini. Bisa gue bayangkan betapa beratnya menanggung beban mental terhadap hari ini," bisik Arya di telinga Maya.


Merasakan peluk yang ia butuhkan hari ini, Maya menenggelamkan wajahnya pada dada Arya dan mulai menangis. Terus menangis. Sampai kakinya tak mampu lagi menopang tubuh Maya sendiri. Untung Arya dengan tanggap memapah Maya masuk kembali ke ruangan studio.


Maya tidak tahu kenapa tiba-tiba ia tidak dapat mengontrol perasaannya. Mendadak ia meledak dan menangis seperti itu. Tampaknya Maya masih belum stabil. Dan meski ia kini sudah tenang tak menangis lagi, ia yakin sewaktu-waktu pasti ia bisa kacau seperti ini lagi.


Arya mengelus puncak kepala Maya. Ia lalu berlutut hingga wajahnya sejajar dengan wajah adiknya itu.


"Lo mau pergi kemana?" tanyanya pelan.


Manik mata Maya tak bergerak, ia masih lurus menatap karpet bulu Giska di lantai.


Menghela nafas lagi, Arya akhirnya berkata, "yasudah, yang penting gue udah bawa barang yang lo minta. Tapi gue gak mungkin melepas lo yang kayak gini sendirian."


Dari balik tubuh Arya, muncul sosok yang membuat mata Maya kembali terasa panas.


"Ayo kita pulang dan istirahat sejenak, Nak. Barangkali kamu lelah dengan bingarnya hidup dan rindu ketenangan, mari kita kembali ke rumah."


***


Sudah seminggu berlalu sejak kejadian bersejarah bagi Maya. Kejadian dimana untuk pertama kalinya ia menggunakan gaun pengantin yang tak ingin ia kenang.


Maya beranjak keluar dari pintu belakang rumah peninggalan almarhum kakek dan neneknya. Rumah yang dulu sering ia kunjungi bersama sang papa di akhir pekan.


Rumah ini unik dan menyenangkan, banyak jendela dan pintu-pintu nya merupakan pintu kaca. Menyebabkan rumah ini begitu terang karena banyak sinar yang masuk serta sangat adem karena sirkulasi udara yang baik. Tatanan perabotan serta denah rumah yang sangat lega, membuat rumah ini begitu nyaman untuk ditinggali dan berkumpul bersama anak cucu. Papa Maya seorang arsitek, itulah sebabnya kenapa sang papa sangat menyukai dan mengangumi rumah ini.


Cahaya matahari sore hangat menyapa pipi Maya. Angin semilir yang meniup lembut rambutnya ternyata menghantarkan suara-suara tawa anak-anak kecil yang bermain layangan di tepi kebun. Layangan itu berwarna-warni, ada warna merah, hijau dan... satu itu unik sekali, berwarna putih dan berbuntut panjang, layaknya sebuah gaun pengantin.


Mendadak Maya teringat sesuatu. Benar saja, perasaannya kini sudah jauh lebih baik dari pada minggu lalu. Ia belum berterima kasih dengan layak atas kebaikan Giska yang telah banyak menolongnya. Bahkan Maya belum menebus harga dress dan jaket denim yang ia kenakan sepulang dari studio Giska. Cepat Maya merogoh sakunya untuk mencari ponsel dan segera ia hubungi Giska.


Bunyi nada sambung cukup lama, membuat Maya penasaran apakah Giska sedang sibuk atau tidak. Saat Maya hendak mengakhiri panggilannya, Giska justru menjawab telepon Maya.


"Halo, Maya?! Apa kabar? Kebetulan banget, gue lagi kepikiran tentang lo, nih!" sapa Giska dengan girang.


Maya tersenyum, hubungannya dengan Giska ini, apakah bisa dibilang seperti dipertemukan oleh takdir?


"Gue baik, Gis. Semoga telepon gue gak ganggu lo, ya. Gue cuma mau tanya, Gimana cara gue nebus semua kebaikan lo. Termasuk dress dan jaket yang gue bawa pulang itu."


Di seberang sana, Giska tertawa senang. "Kan udah gue bilang, jangan khawatir soal itu. Kalau lo masih bahas hal itu juga nanti gue minta bayarannya mahal loh! Seharga sebuah kontrak kerja jadi model gue, mau lo?!"


Ikut tertawa dengan candaan Giska, Maya menolak dengan halus. "Jangan deh, bisa bawa sial ke usaha lo. Masa model pengantinnya aja gagal nikah!"


"Hush, jangan ngomong gitu. Percobaan sekali gagal kan masih ada kesempatan berikutnya! Jangan lupa kabarin gue ya, May. Kalau lo nikah, gratis deh make-up dan gaunnya."


"Gak mau gue, Gis," tolak Maya lagi. "Kebanyakan hutang budi nanti gue ke elo!"


Berbicara cukup lama, Maya akhirnya mengakhiri teleponnya dengan Giska. Perasaannya sedikit lebih ringan dan riang. Mungkin karena aura menyenangkan yang Giska bawa. Luar biasa perempuan kuat satu itu, bahkan aura positif nya begitu terasa walau hanya lewat panggilan telepon.


***


Begitu panggilan telepon diakhiri oleh Maya, Giska memeluk tubuhnya seindiri seakan ia mengigil kedinginan. Alih-alih kedinginan, ia sebenarnya sedang merinding.


Saat membalik tubuhnya, Giska berbicara pada seseorang.


"Gila ya, kalau bukan takdir, apa sih namanya? Bisa-bisanya Maya nelepon saat lo lagi bahas dia disini, San?!"


Ikhsan hanya tersenyum sambil berjalan menatap langit sore di balkon lantai atas studi Giska.


"Gue bersyukur mempercayakan elo sebagai filter terakhir keputusan Maya untuk menikahi gue saat itu. Itu adalah keputusan yang tepat. Memberikan pandangan paling nyata pada Maya seperti apa pernikahan dan hidup yang bisa gue berikan padanya."


Giska yang menyusul Ikhsan dan kini berdiri sejajar mengerutkan alisnya, "Kalau lo memang menyayangi dan ingin memiliki Maya, kenapa lo sampai harus menguji dia lagi di titik akhir."


Lama terdiam, Ikhsan mengambil nafasnya dalam-dalam. "Gue bisa lihat bagaimana Maya akan pergi lagi dari gue seperti sebelumnya. Bukan karena dia gak mencintai atau menginginkan gue. Tapi, itu karena... sejak awal, dia tidak pernah bisa menerima gue seutuhnya."


Ikhsan kemudian melanjutkan, "berbeda dengan Yrene. Seburuk apapun gue, gak pernah gue merasa ragu bahwa Yrene akan selalu punya tempat penerimaan untuk gue. Itulah sebabnya saat itu gue memutuskan untuk melabuhkan hati pada Yrene."


Giska mengangguk paham, ia lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Ikhsan.


"However, terimakasih banyak atas payment ini semua. Sungguh ini harga yang besar banget buat gue."


Ikhsan tersenyum dan membalik badannya ke arah pintu. "Terimakasih sudah membantu Maya saat itu. Semoga semuanya bisa terlunasi dengan pembayaran ini ya, Gis. Thanks a lot!"


"Ini bahkan lebih!" jawab Giska riang sambil memeluk amplop coklat yang ia terima dari Ikhsan setengah jam yang lalu.


***


Disepanjang perjalanan pulang, entah kenapa hujan bisa serempak beriringan dengan lagu yang di putar pada radio mobil Ikhsan. Sambil menikmati lagu itu, Ikhsan banyak berdoa menyebut nama perempuan itu. Agar ia bahagia, apapun jalan yang ia tempuh nanti.


"*Little did I know, love is easy


But why was it so hard?


It was like never enough


I gave you all still you want more


Can't you see?


Can't you see?


That you want someone that I'm not


Yes, I love but I can't


So I am letting you go now and baby one day


When you finally found what you want


And you're ready to open your heart to anyone


Don't push people away again


Easier, I know, but it's also very lonely, yeah


I love you but I'm letting go


I love you but I'm letting go


I love you and I'm letting go


It is the only way, you know*?"


Pamungkas - I love you but I'm letting go.


***


Halo pembaca yang baik!


Jangan lupa like, komen dan votenya ya!


Love, Author.