The Bridesmaid's Secret

The Bridesmaid's Secret
The Bridesmaid's Dress 2



"May?" sapa sebuah suara di balik pintu. Maya kenal betul, itu suara Ikhsan. Si pengantin pria hari ini.


Maya menolehkan wajahnya, ada wajah Ikhsan menyembul di sela pintu yang terbuka sedikit.


"Lu kenapa May? Yang lain pada kemana?" Ada nada khawatir dari pertanyaan Ikhsan.


Maya mengigit bibirnya ragu tapi bahunya mulai terasa nyeri dan nyut-nyutan.


"Eh, san. Anu..."


"Wah dasar cewek-cewek gila emang ya, berantakan banget ini kamar"


Belum sempat Maya menjawab, Ikhsan sudah setengah masuk ke dalam kamar.


Maya tidak bisa menganalisa keadaan, ia tidak tahu harus berbuat apa.


Haruskah ia berbohong dan kabur saja? Tetapi gaunnya baru setengah di ritsleting dan bahu nya nyut-nyutan.


"Bahu gue keseleo pas mau nutup ritsleting" Maya menjawab sambil meringis memegangi bahunya.


Ikhsan berjalan sambil melompati beberapa barang perlengkapan dandan yang berantakan di lantai.


Ia memiringkan kepalanya lalu membantu menarik ritsleting gaun Maya sampai menutup ke leher belakang.


Suasana ini canggung sekali, Maya tidak tahu harus berbuat atau berkata apa. Maya menutup matanya dan menahan nafas, Ia sungguh-sungguh tidak tahu harus bersikap apa.


Seorang pengantin pria ada di kamar berdua dengannya dan menutup ritsleting gaunnya.


Ikhsan menarik pelan rambut yang menutup bahu Maya dan mulai memijit pelan.


Jantung Maya seperti sedang ditabuh genderang perang, berisik sampai ia bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri.


Maya berharap Ikhsan segera pergi saja dari kamar itu. Ia sudah tidak sanggup berada di suasana secanggung ini.


"Udah baikan?" tanya Ikhsan.


Maya mengangguk dengan cepat, berharap itu membuat Ikhsan segera menghilang dari kamar.


"Yang bener? May? Hey?" Ada helaan nafas seperti sedang menahan tawa dari suara Ikhsan.


"Udah lama ya kita gak ketemu, ternyata" lanjutnya lagi.


Maya mau tidak mau membuka matanya. Saat ia membuka mata, Ia melihat Ikhsan melalui pantulan cermin di depannya.


Begitu jelas di hadapan cermin, Ikhsan berdiri di belakang Maya dengan pakaian jas hitam nya yang gagah.


Rambut Ikhsan sudah rapi, wajahnya mulus menandakan ia sudah bercukur dengan baik.


Di pipi Ikhsan masih ada lesung pipi kanan yang sangat dalam, yang sangat Maya suka.


Pemandangan itu sudah selayaknya foto sebuah pre-wedding.


Lelaki itu malah tersenyum, membuat hati Maya mencelos.


Maya merasa kakinya berubah menjadi lembek seperti agar-agar.


"Lu cakep deh May, hari ini" ucapnya lagi masih dengan senyuman.


Maya tak bisa membalas perkataan Ikhsan, mulutnya seperti terkunci rapat.


Ikhsan kemudian mengangguk tanda ia pamit pergi.


Maya masih berdiri mematung di depan cermin.


Sedari tadi Ikhsan ada disini, ia hanya menatap Ikhsan melalui cermin dan tak mampu berhadapan langsung.


Terlebih lagi menatap mata teduh lelaki itu.


Mata yang pernah membuat Maya jatuh cinta.



***


20 menit sebelum kejadian Maya memelintir bahunya, Ikhsan sedang berdiri di depan pintu kamar rias pengantin.


Ia merapikan jas dan kemejanya sebentar dan mengeluarkan ponselnya untuk bercermin memastikan rambutnya sudah rapi dan on point.


Ikhsan tahu, di balik pintu sudah menunggu Yrene yang sudah selesai didandani.


Ini adalah momen dimana Ikhsan akan menyaksikan Yrene dalam balutan gaun dan riasan pengantin.


Ikhsan sebenernya agak merasa canggung jika ekspresinya harus direkam.


Yang ia tahu, ia harus terlihat terharu seperti di film atau video yang pernah ia tonton.


Tetapi, bagaimana kalau ia tidak terharu? Ah, hal seperti ini membuat dirinya keki saja.


Ikhsan menarik nafas lalu menghembuskan pelan. Tangannya perlahan membuka dan mendorong pintu.


Ruangan kamar itu terlihat sudah rapi.


Oh tentu saja ini kan sedang direkam tentu sudah di tata dengan baik, gumamnya.


Mata Ikhsan akhirnya berhenti menelaah dan menatap sosok perempuan yang sedang berdiri di ujung ruangan menghadap ke jendela.


Tanpa Ikhsan sadari, jantungnya mulai berdegup kencang. Ia gugup, tapi juga sangat ingin melihat kekasihnya.


Ikhsan berjalan mendekat dan sedetik kemudian Yrene memutar badannya.


Ikhsan terdiam.


Yrene berbalut gaun pengantin berwarna putih tulang dengan tiara menghiasi rambutnya yang ditata sederhana sekali. Tiada kesan berlebihan ataupun konde aneh.


Bahunya terlihat indah dihiasi renda sederhana namun terkesan manis dan mewah.


Pandangan Yrene tenang dan teduh menatap Ikhsan yang air matanya mulai menggenang.


"Oh dear..." suara Ikhsan tercekat haru, tangannya secara refleks menutup bibirnya yang sedikit bergetar.


Yrene tersenyum lega, meski sudah bertahun-tahun bersama Ikhsan ternyata ia masih mampu membuat Ikhsan terpana.


Tadinya Yrene cukup penasaran apakah usaha totalitasnya ini akan benar-benar mengesankan calon suaminya itu.


Ternyata semua berjalan cukup mulus, ia senang sekaligus ikut terharu melihat ekspresi Ikhsan.


Momen itu di tutup dengan Ikhsan yang memeluk Yrene dan beberapa sesi rekaman video dan foto.


Ceu Aling, para kru video dan photographer akhirnya pamit keluar kamar untuk bersiap-siap melanjutkan sesi di wedding aisle.


Kini, tinggal Ikhsan & Yrene berdua di ruangan kamar itu.


"Ey! Jangan lama-lama ya berduaan! Jangan sampai make-up nya kenapa-kenapa!" tukas Ceu Aling sebelum menutup pintu dengan pandangan tajam ke arah Ikhsan.


Yrene tertawa melihat Ikhsan yang berkerut alisnya merasa tersinggung dengan tuduhan Ceu Aling.


"Makasih ya sayang, Aku pikir kamu akan biasa aja reaksinya tadi pas pertama kali lihat aku. Itu... gak di buat-buat gitu kan ekspresinya?" tanya Yrene malu-malu.


Sekarang dia malah baru sadar Ikhsan yang sudah berpakaian rapi ini juga terlihat lebih tampan dan segar.


Mungkin karena rambutnya lebih rapi? atau karena pakaian? Ah, Yrene tidak tahu ia sulit mengatur apa-apa yang berseliweran di pikirannya saat ini.


Ikhsan duduk di sofa dan meminum air mineral botol di atas meja untuk menenangkan dan mengembalikan ritme nafasnya.


Sebelum bicara, ia sedikit melonggarkan kerah kemejanya.


"Aku juga tadinya pikir, harus gimana ya aku pas lihat kamu nanti. Gataunya, you're so breath taking! Hampir aja aku nangis lihat calon istriku yang cantik ini"


"Dih!" Yrene rasanya ingin mencubit pipi Ikhsan seperti kebiasaannya, tapi dengan momen seperti saat ini tampaknya ia harus menjaga perilaku di depan pria yang beberapa jam lagi akan sah menjadi suaminya.


"Yaudah gih kamu siap-siap, aku nanti ditemani si adek untuk ke ruang Akad" lanjut Yrene, Ikhsan mengangguk dan segera keluar kamar.


Yrene menghela nafas beberapa kali untuk menenangkan dirinya yang mulai gugup.


Barusan bibirnya mengucap kata akad saja sudah membuat tubuhnya merinding.


Sungguh, akhirnya sebuah penantian cinta monyet dan impian Yrene saat muda akan terwujud menjadi pernikahan.


Yrene menutup matanya dan berdoa dalam diam.


Dalam doanya, ia menyebut nama Ikhsan beberapa kali.



***


Hi pembaca yang baik 🙋


Dukung karya author dengan like & comment ya 💞